
"Huhuhu, huhuhu, aku takut huhu," Terdengar tangisan anak kecil dari kejauhan. Pengasuh itu segera mendatanginya.
"Astaga, Non Rara. Non Rara gapapa," kata pengasuh itu yang melihat Netra berada di sebelah supir truk yang sudah tidak bernyawa.
"Itu," Netra menunjuk ke arah depan truk.
"Aaaaa," teriak pengasuh itu segera pergi ke rumah untuk memanggil bantuan. Ibu dan ayah Netra segera datang ke lokasi kejadian.
"Ah kejadian hari itu, tidak akan pernah kulupakan," kata seseorang.
*****
"Rara, ada di dalam?" panggil Radit dari luar rumah Netra.
"Iya sebentar," Netra keluar dari rumahnya.
"Ada apa, Dit?" tanyanya.
"Loh kok ada apa sih? Kita jadi kan latihan hari ini?" tanya balik Radit.
"Oh iya, yaampun aku lupa. Yaudah ayo masuk," ajak Netra.
"Tunggu, aku ambil gitar di rumah dulu," kata Radit namun Netra mencegahnya.
"Di rumahku ada gitar kok," kata Netra.
"Wah, ternyata Rara suka main musik ya, aku baru tau," kata Radit. Netra hanya diam saja dan masuk ke dalam.
"Nenek mana, Ra?" tanya Radit.
"Nenek sedang keluar tadi, sebentar ya biar aku ambilkan gitar," kata Netra. Ia segera pergi ke kamarnya dan mengambil gitar itu. Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Drrtt...Drrtt...
Ra, hari ini bisa keluar denganku?
"Loh itu pesan dari Sandy, mau ngapain ya dia ngajak aku keluar," pikir Netra.
Maaf, San, aku dan Radit ingin berlatih untuk penampilan pensi nanti.
Setelah menjawab itu, Netra meninggalkan handphonenya di kamar dan segera keluar menemui Radit.
__ADS_1
"Nih," kata Netra sambil menyodorkan gitar.
"Yuk kita mulai latihan," kata Radit.
"Aku udah siapin semuanya, ini liat," kata Netra sambil menunjukkan catatannya.
"Nanti lagu ini masuk di sini, lalu ini aku sedikit ganti kuncinya supaya menyesuaikan dengan lagu berikutnya, ini..." Netra berhenti menjelaskan karena ternyata sedari tadi Radit memandangi Netra dan menghiraukan penjelasannya.
"Aww, Ra, kebiasaan deh," jerit Radit karena Netra memukul wajahnya dengan catatan tadi.
"Makanya perhatikan, nanti lama tau ga," kata Netra. Ia segera mengulangi penjelasan tadi. Radit memperhatikan penjelasan Netra dengan sesekali mencuri-curi pandang ke wajahnya.
"Aku baru sadar kalo Rara memang cantik," kata Radit sambil tersenyum memandai Netra.
"Udah paham kan sekarang?" tanya Netra membuyarkan lamunan Radit.
"Iya, paham, tenang aja," kata Radit.
Mereka akhirnya mulai latihan. Tidak lama berselang neneknya Netra pulang dan melihat mereka berlatih.
"Wah, kalian akan tampil di acara pentas seni itu? Semangat ya. Tadi nenek dengar arransementnya bagus sekali. Siapa yang buat?" tanya Nek Sari.
"Eh nenek, ini yang buat Rara, Nek," jawab Radit.
"Umm, iya nek, ini sebenarnya Rara buat iseng aja sih," kata Netra.
"Isengmu aja sebagus ini, Ra. Kenapa kamu ga masuk sekolah musik aja sih?" tanya Radit.
"Ih, aku gamau tekunin dunia musik, aku cuma pake musik buat refreshing aja. Aku juga emang udah bertekad buat masuk ke SMA Internasional Tunas Bangsa itu dari dulu tau," kata Netra.
"Haha, iya nenek paham. Yaudah kalian lanjutkan ya berlatihnya, nenek akan buatkan minuman di dapur," kata Nek Sari.
"Makasih banyak, Nek," kata Radit.
"Yaudah yuk, latihan lagi," kata Netra.
"Ternyata jiwa seni kalian menurun dengan baik ke anak kalian," gumam Nek Sari yang pergi ke dapur.
Sementara di kamar Netra, ponselnya terus bergetar karena telepon dari Sandy.
"Ahh, capenya, padahal baru satu hari latihan," kata Radit.
__ADS_1
"Duh kamu banyak banget ngelakuin kesalahan loh, DIt. Gimana sih, kan aku udah jelasin tadi di awal," keluh Netra.
"Iya, iya maaf, nanti aku akan latihan sendiri deh di rumah," kata Radit.
"Ini kubawa ya, hihi," kata Radit sambil mengambil buku catatan milik Netra.
"Ih jangan, nanti kamu foto aja," kata Netra.
"Haahh, mana enak, Ra baca dari ponsel," kata Radit.
"Oh iya, ponselku," kata Radit sambil memegang kantong celananya.
"Aku lupa bawa sepertinya, Ra," katanya lagi.
"Dasar menyusahkan, yaudah sebentar aku ambil ponselku dulu di kamar," kata Netra.
"Loh kenapa banyak missed call dari Sandy, tunggu ini ada pesan," kata Netra.
Temui aku di taman kompleks. Penting.
"Dit, Dit, lihat ini Sandy mengirim pesan. Dan juga tadi dia banyak missed call ke tempatku, pasti dia juga banyak missed call di tempatmu," kata Netra.
"Sandy, kira-kira apa yang terjadi dengannya, apa dia sedang dalam bahaya?" katanya lagi.
"Tante Ira," ucap mereka berdua. Sontak mereka langsung pergi ke taman kota.
Di sana mereka melihat Sandy sedang diikat di pepohonan di taman itu. Kebetulan kondisi taman itu sedang sepi. Sandy terlihat tidak sadarkan diri di sana. Mereka tau ada sesuatu yang tidak beres.
"Tiba-tiba seorang dengan pakaian serba hitam mendatangi Sandy dengan membawa pisau yang tajam. Melihat hal itu, Netra dan Radit tidak bisa tinggal diam, mereka harus segera menyelamatkan Sandy. Namun, mereka harus berhati-hati karena mereka berpikir bahwa yang mengirim pesan tadi bukanlah Sandy melainkan orang itu.
"Kita harus gimana?" tanya Netra.
"Tunggu, Ra. Aku pikir orang itu sengaja menunggu kita datang lalu menghabisi Sandy. Lihat saja, daritadi ia hanya mengelilingi Sandy tanpa menyakitinya." kata Radit.
"Tapi kita ga bisa diam saja, Dit. Atau gini, aku bakal maju duluan sebagai umpan dan kamu menolong Sandy ya," kata Netra.
"Segitu besarnya pengorbanan kamu buat Sandy ya, Ra, sampe mau jadi umpan cuma buat nolongin Sandy," batin Radit.
"Aku pergi ya," kata Netra.
"Hahaha, akhirnya datang juga. Apa kamu kekasih Sandy?" tanya seseorang itu.
__ADS_1
"Jangan apa-apakan temanku," kata Netra. Mendengar suara Netra, Sandy akhirnya sadarkan diri. Radit yang melihat itu segera mengendap menyelamatkan Sandy. Namun, tiba-tiba...