
"Datanglah kesana, nenek harap, kalian akan menemukan titik terang," lanjutnya.
"Kami turut bersedih akan hal itu, Nek. Dan terima kasih sudah memberikan kami info yang cukup penting ini," kata Bunda Anna.
"Baiklah, kalau begitu sekarang nenek yang minta bantuan kalian," kata Nek Sari.
"Bantuan apa nek?" tanya Bunda Anna.
*****
"Nenek perlu kalian untuk menjaga Rara. Dan nenek akan beritahu rahasia terbesar Rara. Tapi kalian harus berjanji untuk menutup hal itu rapat-rapat dari Rara. Oke?" kata Nek Sari.
"Oke, baik, Anna janji, Nek," kata Bunda Anna.
"Saya juga berjanji," kata Om Pras.
Nek Sari segera memberitahu Bunda Anna dan Om Pras rahasia terbesar Netra. Mereka berdua terlihat cukup ketakutan dan tidak percaya dengan omongan Nek Sari.
"Benarkah seperti itu, Nek?" tanya Bunda Anna masih tidak percaya.
"Terserah kalian mau percaya atau tidak. Tapi nenek yakin waktu nenek tidak lama lagi, jadi nenek mau kalian menjaga Rara, terutama dari Sinta," kata Nek Sari.
"Nek, kenapa nenek bisa bilang seperti itu? Rara cuma punya nenek, setidaknya nenek harus selalu ada di sisi Rara," kata Om Pras.
"Iya, nenek akan berjuang untuk selalu berada di sisi Rara, namun kematian nenek adalah hal yang pasti. Setidaknya sebelum nenek meninggalkan Rara, dia sudah punya pelindungnya, kalian," kata Nek Sari.
"Baiklah, Nek. Kami mengerti, kalau begitu lebih baik nenek pulang. Seperti sebentar lagi Rara dan Radit akan pulang ke rumah. Kami tidak ingin mereka curiga dengan apa yang kita lakukan," kata Bunda Anna.
"Baiklah, terima kasih atas kerja sama kalian, Anna, Pras. Nenek pamit pulang," kata Nek Sari sambil menuju ke luar gerbang.
"Nenek?" kata Radit yang baru saja tiba di depan rumahnya.
"Nenek sedang apa di sini? Tadi Rara mencari nenek di rumah," katanya lagi.
__ADS_1
"Oh, Nenek tadi ingin meminjam pemanggang kue bundamu, kebetulan pemanggang kue di rumah nenek sepertinya rusak. Kamu ingat kan 3 hari lagi Rara berulang tahun?" tanya Nek Sari yang berusaha menyembunyikan apa yang ia lakukkan tadi.
"Oh iya, bertepatan dengan acara pensi, aku dan Sandy perlu menyiapkan hal spesial nih untuk Rara," kata Radit.
"Oh iya,tapi tadi kata nenek, nenek ingin meminjam panggangan, tapi kenapa Radit ga liat nenek bawa panggangan itu?" kata Radit kembali curiiga.
"Tadi kata bundamu ia akan mencarinya dulu, baru akan memberikannya ke rumah nenek," kata Nek Sari.
"Kalau begitu nenek pulang dulu ya," kata Nek Sari lagi.
"Iya, baiklah, Nek," kata Radit sambil masuk ke dalam.
"Nenek kemana saja? Kenapa Nenek selalu berpergian tanpa memberitahu Rara sih? Rara takut," kata Netra melihat neneknya baru pulang.
"Tadi Nenek hanya mampir ke rumah bundanya Radit aja kok, Nenek kan juga bosan di sini terus," kata neneknya itu.
"Lain kali Nenek beritahu Rara dulu ya, jadi Rara ga perlu khawatir sama keberadaan Nenek," kata Netra lagi.
"Iya, Nek," kata Netra yang kemudian pergi ke kamarnya.
"Apa Nenek tahu tentang apa yang terjadi padaku belakangan ini, aku merasa ada yang aneh dengan diriku sendiri," kata Netra.
"Lebih baik aku tidur saja deh," katanya lagi sambil memejamkan matanya dan tertidur.
"Lagi-lagi mimpi gelap ini, pasti setelah ini akan datang anak kecil itu," kata Netra yang sudah berada di alam mimpinya.
Namun, ternyata prediksi Netra salah. Bukan anak kecil yang ia lihat di depannya, melainkan dirinya sendiri yang mengenakan pakaian bela diri dan memegang senjata seperti golok di tangan kanannya dan rantai di tangan kirinya.
Netra yang melihat itu sontak mundur perlahan, namun sosok yang ia lihat tidak bergerak sama sekali membuat Netra memberanikan diri untuk maju dan melihatnya dari dekat.
"Siapa dia? Mengapa dia mirip sekali denganku? Apa ini adalah aku? Tidak-tidak, tidak mungkin ini aku. Penampilan kami begitu berbeda," kata Netra.
"Tunggu, dia sedikit bergerak, apa yang ingin dia lakukan?" kata Netra takut.
__ADS_1
"Tunggu itu, itu Radit dan Sandy. Tunggu kau akan melukai mereka, jangan," kata Netra berteriak dan terbangun.
"Hosh hosh, apa itu tadi? Siapa orang itu? Kenapa mimpi ini semakin parah?" batin Netra.
Ia tidak bisa tidur karena memikirkan hal itu, ingin sekali Netra menghubungi Radit atau Sandy, namun ia pikir sepertinya mereka sudah tidur. Jadi ia hanya melamun sendiri mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.
Keesokan paginya, neneknya membangunkan Netra untuk sarapan. Ternyata sudah ada Radit di sana.
"Loh, kok Radit bisa ada di sini, Nek?" tanya Netra.
"Radit semalam menginap di sini, dia bilang kedua orang tuanya ingin pergi, jadi dia izin menginap di sini," kata neneknya.
"Dasar menyusahkan saja kamu ini, Dit," kata Netra.
"Nenek saja tidak mengomel, kenapa jadi kamu yang ribet, Ra," kata Radit.
"Sudah sebaiknya kalian makan. Dan kalian ingin latihan kan? Nenek ingin mendengarnya juga," kata neneknya.
Mereka akhirnya makan bersama dan setelah itu segera berlatih. Tidak lupa juga Radit selalu menghubungi Sandy untuk memastikan kondisi Sandy baik-baik saja.
Dua hari sudah lewat dan hari esok adalah hari dimana acara pensi diselenggarakan. Selama dua hari ini ancaman Tante Ira tidak datang, sehingga Radit menganggap bahwa mungkin memang Tante Ira sudah berhenti meneror Sandy.
"Ternyata percuma merancang renana, Tante Ira tidak mengancammu lagi kan, San?" tanya Radit.
"Kamu jangan berpuas hati begitu dulu, Dit. Selama orang itu masih belum ditemukan, Keadaan Sandy masih terancam," kata Netra.
"Benar kata Radit, Ra. Mungkin memang semenjak itu Tante Ira sudah menyerah dan tidak mengancamku lagi," kata Sandy.
"Tapi hatiku berkata lain, San, Dit, kita harus terus waspada," batin Netra.
"Baiklah kalau begitu. Oh iya, semangat ya buat besok, semoga kita bisa menampilakan yang terbaik," kata Netra.
"Iya, semangat juga," kata Sandy.
__ADS_1