The Other Side

The Other Side
Masa Lalu Sandy


__ADS_3

"Kamu belum mandi ya?" tanya Radit.


"RADITT..." teriak Netra.


"Haha, bau nih. Gimana Sandy mau sadar kalo ada bau begini," Radit tertawa.


"Huh, aku ga mau ngomong sama kamu lagi," kata Netra sambil membelakangi Radit.


*****


"Dit," panggil Sandy.


"Eh Sandy udah sadar," kata Netra sambil melihat ke arah Sandy.


"Kalian gapapa kan?" tanya Sandy.


"Harusnya kamu mikirin kondisi kamu, San. Liat nih luka kamu," kata Radit sambil menunjuk ke luka Sandy.


"Udah gapapa kok," kata Sandy.


"San, apa kemaren benar-benar Tante Ira?" tanya Netra.


"Entah, aku juga bingung. Sebenarnya dia juga ga kasih tau siapa dia dan mau apa. Tapi kalo kalian perhatikan lebih jelas dia menggunakan syal Tante Ira untuk mengikatku kemarin," jelas Sandy.


"Ah iya, aku ingat. Pantas saja seperti tidak asing. Jadi apa orang itu Tante Ira? Atau orang terdekatnya? Atau jangan-jangan Tante Ira punya seorang anak?" tanya Radit.


"Sepengetahuanku, Tante Ira selalu bergerak sendiri. Tapi aku tidak pernah tau apa dia memiliki kerabat bahkan anak di sisinya," kata Sandy.


"San, kamu masih belum cerita kelanjutan Tante Sarah waktu itu dan waktu kamu sakit, aku nagih nih sekarang," kata Netra.

__ADS_1


"Iya, iya. Yasudah biar aku ceritakan," kata Sandy.


"Sehari sebelum ujian itu, aku dapat telepon dari seseorang, tapi aku juga tidak tahu itu siapa. Dari suaranya aku bisa tahu kalau itu Tante Ira. Tapi aku masih ga bisa mencernannya kalau Tante Ira masih hidup. Jam 2 malam aku akhirnya baru bisa tidur setelah memikirkan tentang telepon tadi sore. Tapi saat aku baru saja terlelap, aku mendengar suar gebrakan pintu yang cukup kencang. Tiba-tiba orang yang kemarin menjebak kalian itu sudah ada di depanku dan aku dibius menggunakan obat yang aku tidak tahu itu apa. Pengelihatanku kabur tapi aku masih bisa melihat dengan samar orang itu tersenyum." Sandy menceritakan semua kejadiannya dengan jelas.


"Lalu apa kamu melihat wajahnya?" tanya Netra.


"Aku tidak dapat melihat wajahnya dengan jelas karena tertutup masker, aku hanya melihatnya ketika aku mulai pingsan, itu pun samar-samar," kata Sandy.


"Apa dia mirip Tante Ira?" tanya Radit.


"Aku ga bisa pastiin mirip atau ngganya," kata Sandy.


"Oh ya, mengenai syal, apa hubungan syal yang dikirim ke rumahmu waktu itu dengan Tante Ira?" tanya Netra.


"Ra, syal itu, syal terakhir yang digunakan tante Ira. Dan syal itu adalah penyebab kematian Tante Ira.


FLASHBACK


"Aku ga akan mati di sini. Radit, Tante Anna, dan Om Pras akan menemukan dan menyelamatkanku," kata Sandy.


"Diam bocah, mereka ga akan bisa apa-apa. Karena kalau mereka datang aku akan melepaskan tali penahan ini dan kau akan terjun bebas dari bangunan 50 lantai ini. Hahaha," kata Tante Ira.


"Jangan begerak Sandy, jangan bergerak. Itu hanya akan menambah beban dan semakin membunuhmu," batin Sandy.


Tali penahan mulai bergerak karena sudah tidak mampu menahan berat Sandy. Sesekali Sandy menahan dan mengatur napasnya agar tidak semakin menambah bebannya.


"Berhenti, Ira. Sandy tidak punya salah apa pun denganmu. Ia hanya anak kecil dan kau tidak bisa menjadikannya korban atas perbuatan kedua orang tuanya." kata Bunda Anna.


"Tante Anna, Om Pras, Radit," seru Sandy.

__ADS_1


"Sandy diamlah, kau akan jatuh jika bergerak berlebihan," kata Om Pras.


"Berhenti di sana Anna, atau aku akan melepaskan tali ini dan membiarkan anak ini terjun bebas," kata Tante Ira.


"Ira, aku mohon lepaskan Sandy," kata Bunda Anna.


"Berhenti. Aku akan lepaskan tali ini jika kami bergerak satu centi lagi," kata Tante Ira.


Bunda Anna tidak mau berhenti maju dan Tante Ira mulai melepaskan tali itu perlahan. Sandy mulai turun sedikit demi sedikit.


"Ira, Stop. Kau tidak boleh melakukan ini," kata Bunda Anna.


Tante Ira mulai melangkah mendekati Sandy dan ia tersandung tali yang ada disana. Tante Ira terjatuh dan tali penahan mulai terlepas. Untungnya tali itu segera dipegang oleh Om Pras dan Bunda Anna sehingga Sandy tidak terjatuh dari ketinggian itu. Namun, Tante Ira harus menerima balasan perbuatannya. Syalnya tersangkut di salah satu balkon bangunan dan membuatnya meninggal tercekik syalnya.


"Seram sekali. Aku ga percaya ada orang sejahat Tante Ira. Dan kematiannya, hiyy aku merinding sekali," kata Netra.


"Aku masih ingat dengan jelas kejadian itu. Sampai akhirnya Bunda Anna memutuskan untuk merawatku dan semenjak itu aku memanggil Bunda Anna dengan sebutan Bunda. Karena ia seperti seorang ibu bagiku," kata Sandy.


"San, aku benar-benar berpikir kalo itu bukan Tante Ira. Kematiannya setragis itu dan kecil kemungkinannya untuk dia hidup. Bahkan saat itu, evakuasinya sulit karena ia terjebak di lantai yang cukup tinggi. Dan ia sudah pasti tidak selamat. Menurutku orang yang meneror kita bukanlah Tante Ira," kata Radit.


"Kamu benar, Dit. Ayo kita cari tahu siapa orang itu," kata Sandy.


"Aku juga mau ikut," kata Netra.


"Huh, anak kecil ga perlu ikut-ikutan," kata Radit.


"Aku ga ngomong sama kamu. Huh," kata Netra.


"Sandy, aku ikut ya," katanya lagi memohon ke Sandy.

__ADS_1


"Iya-iya, Ra," kata Sandy sambil tersenyum.


__ADS_2