
"Nenek mau beli apa?" tanya Netra.
"Biar Rara yang belikan," katanya lagi.
"Ga perlu. Rara istirahat aja ya, nenek cuma mau beli telur dan gula. Nenek baru ingat tadi persediaannya terakhir. Oh iya Nenek udah buatkan susu untuk Rara di kulkas. Jangan lupa diminum ya," kata neneknya.
"Kenapa nenek mencurigakan ya," batin Netra.
*****
"Ah sudahlah lebih baik aku coba berlatih lagi buat pensi nanti. Awas aja Radit sampai mengacaukan penampilanku nanti," katanya lagi.
Oh iya Radit belum kukirimkan foto kunci-kuncinya. Pasti anak itu tidak berlatih selama ini. Hah, karena memikirkan kondisi Sandy kami jadi lupa untuk berlatih. Padahal udah tinggal seminggu lagi," katanya lagi sambil mengirimkan foto ke ponsel Radit.
"Astaga salah foto," Rara justru mengirimkan fotonya saat iseng berselfie di kamar.
"Ahh harus cepat-cepat ku hapus" kata Netra.
Haha. Kenapa kau mengirimkan fotomu. Balas Radit.
"Aduh Radit udah keburu baca lagi. Dia ini fastresp sekali," katanya.
Maaf salah foto, ini foto kunci lagu yang akan kita bawakan. Balas Netra.
"Semoga Radit belum sempat menyimpan foto itu," gumam Netra.
Sedangkan di sisi lain, Radit ternyata sudah lebih cepat menyimpan foto itu sebelum Netra menghapusnya.
"Cantik," gumamnya.
"Kau berbicara dengan siapa, Dit?" tanya Sandy yang baru selesai mandi.
__ADS_1
"Tidak-tidak ini Rara baru saja mengirimkan kunci musik yang akan kita bawakan," kata Radit.
"Oh ternyata kalian akan bernyanyi juga?" tanya Sandy.
"Ya, dan suara Rara juga bagus ternyata. Kita belum pernah mendengarkannya bernyanyi sebelumnya ya. Oh iya ngomong-ngomong kamu juga akan membawakan musik kan? Ku dengar Tari juaranya vokal di sekolah kita," kata Radit.
"Ya," kata Sandy.
"Mereka semakin dekat ya," batin Sandy.
"Hah, sudahlah apa sih yang kupikirkan," batinnya lagi.
"Aku tidur duluan ya, Dit. Kamu bisa pake kamarku, nanti aku bisa tidur di kamar tamu," kata Sandy.
"Loh, San, biar aku aja yang tidur di sana," kata Radit.
"Ga mungkin dong aku biarin tamu tidur ga nyaman," kata Sandy.
Sandy langsung pergi ke kamar tamu, sedangkan Radit masih memperhatikan foto Netra yang tadi ia simpan.
"Aku baru sadar, Ra, aku hanya bisa mengagumi dari jauh," kata Radit. Ia segera memejamkan mata untuk tidur. Ia tidak menyadari kalau Sandy memperhatikannya dari luar pintu kamar yang belum tertutup rapat.
"Mungkin emang seharusnya aku ga merasa seperti ini,"
Di sisi lain Netra seperti orang yang sedang mencari sesuatu di kamar neneknya. Mungkin saja dia bisa menemukan siapa anak kecil yang selalu datang di mimpinya itu, pikirnya. Netra mulai curiga ke neneknya. Jangan-jangan memang benar ada rahasia besar yang disembunyikan darinya. Ketika ingin membuka laci lemari yang paling bawah, tiba-tiba..
KRIETT..
Pintu terbuka. Neneknya sudah ada di belakangnya.
"Rara, cari apa?" tanya neneknya.
__ADS_1
"Ah itu, Rara cari selimut nek. Selimut Rara kan kemarin dicuci," kata Netra.
"Dasar kamu, masa cari selimut di laci. Ini biar nenek ambilkan," kata neneknya sambil membuka pintu lemari sisi lainnya.
"Nih, selimut kamu, tadi udah nenek cuci sampai bersih dan wangi," katanya lagi.
"Wahh, makasih nek. hmmm... memang wangi seperti biasanya," kata Netra.
"Yaudah, Rara ke kamar dulu ya, Nek," lanjutnya.
"Ga salah lagi pasti ada yang nenek sembunyikan, raut wajah nenek saat aku masuk ke kamarnya selalu seperti itu. Seperti orang takut dan khawatir akan suatu hal," piikir Netra sambil berjalan ke kamarnya.
"Huft, untung saja Rara ga membuka laci ini. Atau kebenaran tentang dirinya akan terungkap dan dia tidak akan bisa menerimanya," batin Nek Sari.
"Andai, dulu aku berani memberitahu Rara lebih awal. Mungkin aku tidak sampai harus menutupnya seperti ini. Tapi, semua yang kulakukan adalah demi kebaikan Rara. Sosok dalam dirinya pasti hidup kembali cepat atau lambat," pikirnya lagi.
"Maafkan Ibu, Nira. Bahkan sampai sekarang, ibu masih belum benar mengurus Rara," tangis Nek Sari sambil memegang foto Nira kecil.
"Apa aku harus minta tolong Anna, sepertinya dia tulus menyayangi Rara," pikirnya lagi.
Tiba-tiba terdengar suara gitar yang berasal dari kamar Netra. Iringan melodi dan irama yang dimainkan Netra membuat neneknya teringat akan masa lalunya. Ia selalu suka saat Nira memainkan lagu khusu untuknya. Sampai saat ini lagu itu masih terus terngiang di kepalanya.
"Rara?" panggil neneknya dari luar kamar.
"Iya Nek? Suara gitar Rara mengganggu Ne..." Kata-kata Netra terhenti.
Tiba-tiba neneknya memeluknya dengan hangat sambil meminta maaf padanya karena belum bisa menjadi nenek yang baik untuk dirinya.
"Nenek ngomong apa sih? Sampai kapan pun, nenek itu adalah neneknya Rara yang baik sejagat raya," kata Netra.
"Udah nenek jangan nangis lagi ya, Rara gamau liat nenek sedih," katanya lagi sambil menyeka air mata neneknya.
__ADS_1