The Other Side

The Other Side
[Season 2] Sebuah Kalung?


__ADS_3

"Sandy," panggil suara yang sangat ia kenal. Namun, entah kenapa Sandy merasa tidak enak dengan nada bicaranya itu.


PLAK.


Netra muncul di hadapannya, menghampirinya dan menamparnya.


"Aku berusaha melindungimu agar kau dan Radit hidup baik-baik saja. Tapi sekarang apa? Kau membahayakan kondisi Radit." Setelah berbicara itu, sosok Netra menghilang.


"Ra..." panggil Sandy pelan.


"Sandy, Sandy, Sandy..." panggil seseorang dari arah belakangnya. Itu Radit. Pisau menancap di perutnya. Radit melepaskan pisau itu dan segera menghampiri Sandy. Pelan-pelan Sandy mundur, namun Radit tetap mengejarnya.


"Kamu harus merasakan apa yang aku rasakan, Sandy." Terlihat Radit yang sudah siap menancapkan pisaunya di dada Sandy.


"Aaaa..."


*****


"Radit, gimana kabarnya ya, apa sudah ada pendonor. Ah iya benar, kalau aku tidak boleh mendonor, aku pelajari saja caranya," kata Sandy yang terbangun dari tidurnya.


Ia memang bercita-cita menjadi dokter, namun tidak pernah terlintas di pikirannya alasannya menjadi dokter adalah untuk temannya ini.


"Tinggal beberapa hari lagi waktuku, setelah ini aku harus belajar dengan benar dan meraih cita-cita itu," katanya dengan tekad yang kuat. Ia segera bersiap pergi ke toko buku di sekitar kompleksnya itu.


"Den Sandy? Mau kemana?" tanya Mang Parman.


"Oh ke depan sana, ke toko buku di seberang. Cuma sebentar," jawab Sandy sambil melanjutnya langkahnya.


"Oh iya Den, tadi polisi datang kemari dan menanyakan soal kejadian Radit. Mereka memeriksa TKP dan kebetulan mamang menemukan ini," kata Mang Parman sambil memberikan benda yang dipegangnya ke Sandy.


"Mungkin Den Sandy mengenali pemilik benda ini," lanjutnya.


Sandy tertegun melihat benda itu. Itu benda yang sangat ia kenali. Sebuah kalung dengan liontin berbentuk air mata berwarna hijau. Kalung yang selalu digunakan Netra kemana-mana.

__ADS_1


FLASHBACK


"Ra, ini kalung dari siapa sih? Kayaknya ini ga pernah kamu lepas deh," tanya Radit.


"Oh ini, kata Nenek ini kalung Ibu. Ibu suka sekali sama kalung ini dan kalung ini juga merupakan hadiah dari ayah. Nenek pernah bilang kalo kalung ini juga pemberian dari ibunya ayah yang harus ayah berikan ke wanita yang akan menjadi ibu bagi anak-anaknya. Karena ibu sudah tiada, kalung ini aku yang pakai. Aku merasa seperti ayah dan ibu selalu bersamaku setiap aku memakai kalung ini," jelas Netra.


"Hmm," Radit mencoba mencerna penjelasan Netra yang menurutnya cukup rumit.


"Haha seperti ini, ibu ayahku alias nenekku itu memberikan kalung yang harus diberikan ke wanita yang menjadi istrinya alias ibuku. Nah semenjak ibuku tiada, kalung ini aku yang pakai dan kalung ini selalu mengingatkanku pada kedua orangtuaku itu," Netra menjelaskan ulang.


"Iya iya aku paham kok. Sandy kenapa diem aja?" tanya Radit.


"Boleh aku liat kalungnya, Ra?" tanya Sandy ke Netra mengabaikan pertanyaan Radit. Netra segera membukanya dan memberikannya ke Sandy.


"Kalau dilihat lebih dekat, aku seperti pernah melihat kalung ini. Argh," Sandy tiba-tiba mengerang. Seperti ada yang memukul kepalanya.


"Sandy? Ada apa?" tanya Netra yang dengan segera mengambil kalung itu dari Sandy dan memakainya.


"Den Sandy? Den Sandy baik-baik aja? Kok diem, Den?" tanya Mang Parman.


"Den Sandy sakit? Kalo Den Sandy ga kuat, Mamang bisa anter Den Sandy ke toko bukunya," kata Mang Parman.


"Sandy sendiri aja, Mang Parman bisa urus kerjaan lain yang belum selesai," jawab Sandy dingin dan segera pergi.


"Kasihan Den Sandy. Setelah kehilangan dua sahabatnya, ia kembali menjadi seperti dulu," kata Mang Parman sambil melihat Sandy yang menjauh.


"Kenapa kalung Rara bisa ada di sana, harusnya kalung itu ada di rumah Nenek Sari karena pada hari itu Rara ga menggunakan kalung itu," ucap Sandy dalam hati.


"Apa jangan-jangan orang ini sengaja ngasih Rara kalung dan menyuruhnya untuk memakainya di hari itu," Sandy terus berjalan.


"Aww," kata seseorang di depan Sandy yang terjatuh.


"Maaf," kata Sandy ke perempuan di depannya. Sandy tidak terbiasa menjulurkan tangannya untuk membantu orang lain.

__ADS_1


"Eh Sandy? Kebetulan banget baru aku mau ke rumah kamu," kata seorang perempuan itu yang terjadi Tari.


"Riri? Ada apa?" tanya Sandy.


"Aku ingin menanyakan kabar Radit, aku dengar Radit kecelakaan ketika berada di rumahmu. Aku cuma mau tau keadaannya dari kamu sih kan kamu teman baiknya," kata Tari.


"Radit baik," jawab Sandy singkat.


"Umm, kamu mau kemana?" tanya Tari sambil berbasa-basi.


"Ke seberang," jawab Sandy.


"Kalau sudah tidak yang ingin dibicarakan, aku akan segera pergi," lanjutnya.


"Umm, oke. Hati-hati," kata Tari.


Sandy melanjutkan perjalanannya sedangkan Tari hanya memperhatikannya dari belakang. Tidak dapat dipungkiri bahwa wajah tampan Sandy mampu membius semua kalangan perempuan. Namun, sikap dinginnya kepada orang lain melebihi kutub es Antartika sehingga banyak perempuan yang segan mendekatinya. Tari adalah satu dari sekian ratus perempuan yang menyukai Sandy dan juga merupakan orang yang beruntung karena bisa 'lebih dekat' dengan Sandy ketimbang perempuan lainnya.


Sandy tiba di toko buku yang tujunya. Ia berkeliling mencari buku yang ia ingin beli. Setiap lorong ia lewati demi mendapatkan buku yang ia cari itu. Ia sampai di lorong yang berisi buku-buku Self Development. Entah mengapa ada satu buku yang menarik perhatiannya. Ia hendak mengambil buku itu dan ternyata tangannya berpapasan dengan tangan seseorang yang juga hendak mengambil buku tersebut. Tangan yang halus dan berwarna kuning langsat mengingatkannya pada seseorang.


Sandy hanya terdiam. Ia menatap wajah perempuan di depannya yang mengenakan topi hitam dan masker sehingga wajahnya teralingi. Ia seperti mengenali perempuan di depannya ini bahkan sangat mengenalnya. Tapi ia tidak tahu siapa perempuan ini.


"Ma, maaf, saya akan cari buku lain," kata seorang perempuan yang menggunakan masker sehingga hanya terlihat matanya. Perempuan itu segera pergi dengan sedikit berlari dari tempat itu dan meninggalkan Sandy sendirian.


"Suara itu," Sandy tersadar dari lamunannya dan segera berlari mencari perempuan itu. Ia mencari di setiap lorongnya, namun nihil. Ia tidak dapat menemukan perempuan itu. Sandy mencoba mencari di luar toko buku tersebut, namun tidak ada perempuan yang dicarinya itu.


"Kenapa cepat sekali ia pergi. Apa itu benar dia? Rara. Apa perempuan itu benar-benar Rara?" kata Sandy sambil mengatur napasnya karena berlarian tadi.


Perempuan itu memperhatikan dari dalam mobil dari kejauhan.


"Untung aku tidak ketahuan," ucapnya dalam hati dengan lega.


"Ayo pulang, Pak," katanya ke supir yang membawanya ke tempat ini.

__ADS_1


"Baik, Non," jawab pak supir sambil pergi menjauhi tempat itu.


__ADS_2