
"Radit, makasih ya, udah nyelametin pertemanan kita," kata Netra lagi.
"Apapun akan kulakukan buat ngejaga kamu Ra," ucap Radit dalam hati.
"Iya. Nah karna aku udah berbuat baik sama kalian, traktir aku makan ya. Sekarang kita bakalan makan bareng beneran loh. Jangan ga jadi lagi kayak waktu itu hehe. Perutku udah lapar nih," kata Radit sambil menarik kedua tangan temannya itu.
"Iya," kata Netra dan Sandy berbarengan.
*****
"Duh dimana ya kemarin aku taro kartu peserta ujian," kata Netra yang sedang mencari-cari kartunya.
"Nek, nenek liat kartu peserta Rara ga?" tanya Netra ke neneknya.
"Oh iya Ra, kemaren nenek liat tergeletak di lantai jadi nenek simpan di laci kamar nenek," kata neneknya dari dapur sedang memasak makan malam.
"Rara ambil sendiri ya nek," kata Netra menuju kamar neneknya. Netra mulai mencari-cari kartunya itu di laci meja kamar neneknya. Ia membuka satu persatu dan mencarinya perlahan. Tapi justru bukan kartu peserta yang ia lihat. Ia mendapati foto kedua anak perempuan yang masih kecil.
"Mereka lucu sekali. Ini siapa ya? Kok nenek ga pernah cerita," gumam Netra. Ketika ia sedang melihat foto itu, neneknya masuk.
__ADS_1
"Ah Rara, apa Rara udah ketemu kartunya? Sini biar nenek carikan ya," kata neneknya sambil menyelak Netra dan mengambil foto di tangannya.
"Umm, nek," panggil Netra.
"Itu siapa nek?" Lanjutnya.
"Oh ini? Nenek nemu foto ini di sini, nenek ga bermaksud buang sih. Takutnya nanti orang sebelum kita di sini bakal dateng dan minta fotonya kan," jawab neneknya.
"Oh gitu nek," kata Netra sambil mengambil kartu peserta yang sudah disodorkan neneknya dan pergi ke kamarnya.
"Huft, untungnya Netra percaya," kata Nek Sari.
"Iya ma," kata Sandy malas menanggapi ibunya itu.
"Sandy kamu udah makan? Mama rencananya akan pulang sebulan lagi. Kamu pasti ga sabar kan nunggu mama sama papa," kata ibu Sandy.
"Iya. Udah ya bu. Sandy mau siap-siap buat besok ujian. Mama sehat-sehat. Sandy tutup ya," kata Sandy sambil menutup teleponnya.
"Kenapa kalian harus kembali? Kalian tau aku udah terbiasa tanpa kalian. Kalo perlu gausah pulang aja sekalian. Aku ga butuh harta kalian," kata Sandy sambil emosi.
__ADS_1
"Den Sandy. Ini ada telepon lagi," kata Mbok Yati.
"Dari mama lagi mbok?" tanya Sandy.
"Bukan, ini gatau dari siapa tapi dia pengen ngomong sama Den Sandy," kata Mbok Yati segera memberikan teleponnya ke Sandy.
"Halo," ucap Sandy.
"Sandy? Kamu masih ingat suaraku?" kata suara di seberang.
"Kamu siapa?" tanya Sandy.
"Kamu ga mungkin ga inget aku Sandy Arya Putra atau lebih tepatnya mungkin kesebut Randy Armana Putra. Haha," kata suara itu tertawa.
"Aku, aku ga tau siapa kamu," kata Sandy tergagap.
"Ya, cepat atau lambat kamu harus mengakui kalo kamu pasti mengingatku. Aku sudahi sampai disini dulu. Oke. Bye Sandy. See you soon." Sambungan telepon terputus. Sandy masih gemetar mendapat telepon tadi. Tidak ia sangka orang itu akan kembali. Salah satu orang yang membuat hidupnya berantakan.
"Ga mungkin itu dia kan. Jelas-jelas aku liat sendiri kalo dia udah gaada. Gimana ini bisa terjadi. Hahh, sekarang gimana aku bisa fokus sama ujianku besok," kata Sandy sambil masih memandangi telepon itu.
__ADS_1