
"Kamu inget..."
Kriett... Suara pintu kamar terbuka. Ternyata itu adalah perawat yang membawakan makanan untuk Sandy. Di belakangnya juga ada Mbok Yati yang mengantarkan perawat itu.
"Sandy, dimakan ya makanannya. Saya senang melihat anda sudah sehat kembali," kata perawat itu dan langsung pergi keluar.
"Suaranya ga asing, tapi siapa," pikir Sandy.
*****
Saat sampai di depan pintu, perawat itu berbalik dan menatap Sandy dalam.
"Tatapan itu, tidak salah lagi," batin Sandy.
"Sandy," panggil Netra.
"Ada apa?" tanyanya lagi.
"Ah tidak, tidak ada. Hanya saya. Aku seperti ga asing sama perawat itu," kata Sandy.
"Oh Suster Dessy? Dia yang selama ini rawat kamu bareng Mbok Yati. Mungkin kamu familiar karna sering denger suaranya pas koma," jawab Netra.
Sandy mengambil makannya dan ingin memakannya. Namun, tiba-tiba...
__ADS_1
PRANG! Sebuah gelas yang awalnya berada di atas meja kini jatuh dan berserakan. Semua terkejut dengan suara gelas yang cukup nyaring itu.
"Duh maafin Mbok ya, Den Sandy ga kena serpihan kacanya kan?" tanya Mbo Yati sambil mengecek keadaan Sandy.
"Ngga kok, Mbok.Ini biar dibersihkan oleh petugas kebersihan aja. Nanti tangan Mbok kenapa-napa," ucap Sandy.
"Gapapa, Den. Ini kan juga karna Mbok. Oh iya makanannya biar Mbok ambil ya, Den. Mbok takut ada serpihan kacanya," kata Mbok Yati. Ia membersihkan seluruh kekacauan yang diperbuatnya tadi dan mengganti makanan Sandy dengan nasi goreng yang dibelikan Radit untuknya. Sandy sangat senang karna itu adalah makanan favoritnya.
"Terima kasih, Mbok," ucap Sandy. Mbok Yati hanya mengangguk sedangkan Radit dan Netra melarang Sandy untuk makan itu karna ia baru saja baikan.
"Sandy, makan yang bener. Masa kamu malah makan nasi goreng sih," kata Radit.
"Iya, kali ini aku setuju sama Radit. Kamu itu baru sembuh, San. Masa udah makan yang aneh-aneh." Netra ikut memarahi Sandy. Radit dan Netra seperti pasangan orang tua yang sedang memarahi anaknya yang nakal.
"Sandy..." teriak Radit dan Netra. Tapi Sandy tidak menghiraukan mereka dan tetap makan nasi goreng itu.
"Hah sebel. Udahlah gausah peduliin dia lagi," kata Netra sebal.
"Huh kemaren padahal khawatir setengah mati sampe marah-marah ke aku," ucap Radit.
"Eh Rara marah kenapa?" tanya Sandy.
"Tanya aja sama orangnya tuh," ucap Radit.
__ADS_1
"Dasar ember," kata Netra sambil mencubit Radit.
"Ga, ga peduli lagi. Biarin aja," ucapnya lagi.
"Den, Non, Mbok pergi ke belakang sebentar ya. Ini udah selesai bersihin pecahan kacanya," kata Mbok Yati. Semua mengiyakan dan mempersilahkan Mbok Yati pergi.
"Untung Den Sandy ga makan makanannya," ucap Mbok Yati.
FLASBACK
"Suster Dessy, saya Mboknya Sandy, pasien dari kamar Anggrek. Sandy sudah sadar dan ingin segera makan, Sus. Bisa tolong disiapkan?" tanya Mbok Yati.
"Oh iya baiklah, silahkan tunggu," kata suster itu yang kemudian pergi dan masuk ke dapur rumah sakit. Mbok Yati mengikuti suster itu dan menunggu di luar ruangan. Karena Penasaran sesekali Mbok Yati mengintip ke dalamnya.
"Dapur rumah sakit tuh kayak apa ya?" tanya Mbok Yati.
"Wah ternyata lebar dan steril keliatannya. Eh tapi tunggu, itu Suster Dessy kan yang harusnya nyiapin makanan ke Sandy," batin Mbok Yati.
"Loh kok mencurigakan banget, dia abis masukin apa ya ke dalam situ? Bukannya makanan rumah sakit udah lolos standar untuk makanan orang sakit ya, apa perlu ditambahkan bahan tambahan seperti itu ya?" Mbok Yati bertanya-tanya.
"Tapi Suster Dessy itu mencurigakan, masa dia harus lihat kanan kiri dulu sebelum memasukan bahan tambahan itu. Mbok ga bisa biarin Den Sandy makan makanan itu, Mbok harus lakuin sesuatu," kata Mbok Yati. Tak lama kemudian Suster Dessy keluar dari dapur membawakan makanan untuk Sandy di troli. Mbok Yati hanya mengikuti Suster Dessy menuju kamar pasien.
"Bagaimana caranya Mbok hentikan ya?" batin Mbok Yati. Mereka sudah berada di kamar Sandy. Mbok Yati kebetulan melihat tatapan mata Suster Dessy yang mencurigakan ke Sandy. Firasat buruknya yang muncul sedari tadi seakan benar. Mbok Yati melihat minuman di meja pasien dan akhirnya mendapat ide.
__ADS_1
"Iya, itu saja, Den Sandy ga boleh makan makanan itu," pikirnya. Ia segera berpura-pura menjatuhkan gelas air minumnya. Dan rencananya berhasil. Sandy tidak jadi makan makanan itu. Ia langsung membersihkan kekacauan yang ia buat dan membuang makanan Sandy. Ia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikannya dari kejauhan.