
"Rara ini kemana ya, udah setengah jam lebih masa dia masih belom kembali, apa jangan-jangan dia beneran kabur," pikir Tante Sinta dan ia memutuskan untuk mencari Netra.
"Itu dia, siapa yang sedang ia perhatikan?" tanya Tante Sinta.
"Sandy?!" Tante Sinta agak berteriak hingga Netra mendengar dan orang tersebut melihat Tante Sinta.
"Astaga tante, kurang keras teriaknya," kata Netra sambil menepuk dahinya.
*****
Seseorang yang mirip Sandy itu melihat ke arah Tante Sinta dan segera menghampirinya.
"Tante manggil saya? Ah iya tapi nama saya bukan Sandy," kata pria itu. Memang setelah diperhatikan ia terlihat berbeda dengan Sandy. Postur tubuhnya lebih tinggi dan lebih berisi jika dibandingkan dengan Sandy. Sesaat Netra segera menghampiri Tante Sinta.
"Ah maaf nak, tante tadi manggil anak tante, namanya Sandyna Amara," kata Tante Sinta sambil merangkul Netra. Netra yang heran hanya melirik ke arah Tante Sinta dan mengerti yang harus ia lakukan.
"Iya maafkan ibu saya, dia memang selalu seperti itu. Memanggil saya dengan suara yang keras tanpa mengenal tempat," kata Netra disahuti lirikan kesal Tante Sinta.
"Iya nak, emang anak ini perempuan tapi sifatnya sangat tomboy. Ia lebih suka dipanggil Sandy. Maaf ya nak sekali lagi," kata Tante Sinta ingin mengakhiri situasi memalukan ini.
"Oh, oke gapapa Tante dan Sandy," lelaki itu menekankan pada kata Sandy karna menurutnya itu agak aneh untuk nama seorang perempuan.
"Perkenalkan, saya Pasha. Sebenarnya tadi saat ada yang memanggil saya Sandy, walaupun itu hanya kebetulan, saya merasa senang. Sandy itu nama adik saya. Namun, saya sudah lama tidak bertemu dengannya karna ia memang sudah tidak mau bertemu dengan saya," kata Pasha sambil bercerita.
"Pasha? Kakak dari Sandy? Tapi, bukannya Sandy anak tunggal? Mungkin Sandy yang lain," pikir Netra.
"Ah maaf, saya malah jadi curhat masalah hidup saya. Sudah ya tante saya harus pergi sekarang. Bye tante dan Sandy, aku harap kita bisa bertemu lagi di lain waktu," kata Pasha sambil berlalu.
"Tante apa-apaan sih ganti-ganti nama aku," kata Netra jengkel setelah melihat Pasha cukup jauh dari mereka.
"Kamu sendiri, kenapa ngejelek-jelekin tante begitu," Tante Sinta ikut kesal karena perbuatan Netra tadi.
"Ah sudahlah, apa kamu belum selesai mencari pakaian?" tanya Tante Sinta.
"Sudah, biar aku ke ke kasir dulu," kata Netra ingin pergi.
"Tunggu, biar tante saja. Kamu tunggu sini," kata Tante Sinta mengambil black card miliknya.
"Oh, baiklah," jawab Netra. Netra segera mencari tempat duduk yang sepi dan mulai membuka cerminnya.
__ADS_1
"Kamu tau, tadi ada orang yang mengaku kakak dari Sandy," celoteh Netra pada cerminnya.
"Apa? Benarkah? Setauku Sandy adalah anak tunggal, kamu juga tau itu kan?" kata bayangannya di cermin.
"Ya ya, bagian itu aku tau, tapi mungkinkan Sandy menyembunyikan hal itu pada kita? Dan bukan hanya Sandy, tapi Radit juga menyembunyikan hal itu darimu jika orang itu benar kakak Sandy," Ucap Netra.
"Pasti ada alasan mengapa mereka menyembunyikan hal itu," jawab bayangan itu.
"Tapi,..." Netra langsung menutup cerminnya karena Tante Sinta sudah datang memghampirinya.
"Sudah?" tanya Netra.
"Iya, ayo kita pergi cari tempat makan," kata Tante Sinta.
Sementara itu di ruang rawat Radit, Bunda Anna dan Ayah Pras masih menunggu hingga Radit sadar. Tiba-tiba, jari-jari Radit bergerak. Bunda Anna yang menyadari hal itu segera memberitahu suaminya dan segera memanggil dokter. Dokter masuk dan memeriksa kondisi Radit.
"Syukurlah, kondisi pasien sekarang sudah membaik. Kalian boleh mengajak pasien berbicara agar kondisinya cepat membaik dan pasien cepat sadar," kata dokter.
"Syukurlah, itu kabar baik dok. Kami akan lebih sering mengajak Radit berbicara karena kami yakin ia akan segera pulih dok," kata Bunda Anna senang. Dokter itu keluar dari ruang rawat Radit.
"Syukurlah, bun, Radit sudah siuman sekarang. Mungkin kita harus beritahu Sandy akan hal ini," kata Ayah Pras. Bunda Anna terdiam.
"Sayang? Ada apa? Apa kamu ...," Omongan Ayah Pras terhenti karena dipotong Bunda.
TRING!! TRING!!
Ponsel Sandy berdering. Nama Bunda Anna terpampang di sana.
"Bunda Anna!" Sandy langsung mengangkat panggilan itu.
"Ha..halo Bunda?" jawab Sandy terbata.
"Sandy, Bunda mau beritahu kamu sesuatu," kata Bunda serius.
"Apa itu bunda?" tanya Sandy yang penasaran.
"Jadi, Radit sudah melewati masa kritisnya," kata Bunda Anna.
"Benarkah Bunda? Syukurlah. Ini berita baik," kata Sandy senang mendengar hal itu.
__ADS_1
"Iya, bunda juga turut senang mendengarnya. Dan dokter memberi saran kalau kita perlu banyak mengajaknya berbicara. Jadi bunda mau kamu datang ke sini, menjenguk Radit," kata Bunda Anna.
"Bu..bunda serius? Apa Sandy benar-benar boleh menemui Radit?" tanya Sandy yang masih merasa tidak enak dengan orang tua Radit. Secara tidak langsung, dia yang sudah membuat Radit seperti ini.
"Iya sayang, kamu sahabat baik Radit dan sudah bunda anggap seperti anak bunda sendiri. Bunda mau kamu kesini dan mengajak Radit berbicara. Bunda harap setelah berbicara denganmu, kondisi Radit akan membaik. Bunda tunggu kamu di sini ya," kata Bunda Anna lembut.
"Baik bunda, Sandy akan kesana dalam 10 menit," Sandy sangat bersemangat untuk bertemu dengan sahabatnya.
"Baiklah bunda tunggu," kata Bunda sambil mengakhiri panggilan itu.
"Ini pilihan yang benar kan, Yah. Bunda harus mencoba menerima bahwa Sandy dan Radit tidak seharusnya dipisahkan," ucap Bunda Anna ke suaminya.
"Iya sayang, aku bangga karena kamu sudah mengalahkan egomu demi kebaikan anakmu sendiri," ucap Ayah Pras sambil memeluk dan mencium kening istrinya.
Sementara itu Sandy sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit.
"Den Sandy mau kemana? Ini sudah gelap, Den," tanya Mbok Yati.
"Mbok, mungkin malam ini Sandy akan bermalam di rumah sakit tempat Radit dirawat. Sandy titip rumah. Jangan terima tamu ya Mbok sebelum Sandy sampai di rumah," kata Sandy ke Mbok Yati.
"Baik, Den. Den Sandy mau diantar Mang Supri? Biar Mbok yang panggilkan," kata Mbok Yati.
"Ngga perlu Mbok, Sandy bisa minta sendiri ke Mang Supri. Mbok istirahat aja ya. Mbok kan udah kerja dari pagi," kata Sandy lembut.
"Tidak biasanya Den Sandy berbicara lembut seperti ini. Biasanya Den Sandy ini dingin sekali. Mungkin semenjak kehadiran Non Rara, Den Sandy jadi seperti ini. Tapi sangat disayangkan ternyata Non Rara harus meninggalkan mereka dengan cepat," batin Mbok Yati.
"Mbok? Kok bengong?" tanya Sandy sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Mbok Yati.
"Ah tidak, ya sudah Mbok pergi ke kamar Mbok dulu. Den Sandy hati-hati ya," kata Mbok Yati. Sandy segera pergi keluar dan mencaru Mang Supri.
"Den Sandy? Den Sandy mau kemana malam-malam begini Den," tanya Mang Supri.
"Mang tolong antar Sandy ke rumah sakit tempat Radit dirawat ya," kata Sandy. Mang Parman segera menyalakan mobil dan mengantar Sandy.
Di sisi lain, Tante Sinta dan Netra sedang makan malam. Netra sengaja membuka cerminnya dan meletakkannya di atas meja.
"Tante, ada yang mau aku tanyakan," ucap Netra sambil mengambil potongan daging di depannya.
"Ya, tanyakan saja," jawab Tante Sinta sambil memegang gelasnya dan siap meminum.
__ADS_1
"Apa tante menyukai ayahku?" tanya Netra. Tante Sinta tersedak mendengar pertanyaan itu dan pantulan Netra di cermin pun juga kaget mendengarnya.
"Uhuk, maksud kamu apa?"