
"Sandy, Sandy," panggil seseorang.
"Ngghh." Sandy melenguh. Ia membuka matanya.
"Rara? Ini, ini beneran kamu? Kamu, kamu ga kenapa napa kan? Kamu baik baik aja?" tanya Sandy yang melihat Netra ada di depannya. Kaget, khawatir dan rasa senang bercampur aduk.
"Sandy, aku ga punya banyak waktu buat ceritain semuanya. Aku, aku masih hidup, San. Tolong temukan aku," kata Netra.
"Ra, Ra, Rara. Jangan pergi lagi. Ra," Sandy berteriak dan terbangun dari tidurnya.
"San, kamu gapapa?" Radit ikut terbangun mendengar teriakan Sandy.
"Rara, Rara masih hidup," kata Sandy ke Radit.
...*****...
"San? Itu ga mungkin, kamu mau kemana?" tanya Radit yang melihat Sandy bersiap-siap.
"Rara masih hidup, aku akan jemput dia," kata Sandy sambil melepaskan tangan Radit yang memegangnya.
"Sandy, jangan konyol, ini udah larut. Lagi pula mau kemana juga kamu cari Rara? Rara udah gaada, San," kata Radit sambil tetap menahan Sandy.
"RADIT!" bentak Sandy ke Radit.
"Kamu ga pernah tau rasanya jadi alasan kematian seseorang," lanjutnya.
"Sandy, kamu kenapa sih?" tanya Radit yang masih berusaha menenangkan Radit.
"Dit, aku mau sendiri," kata Sandy.
"Yaudah, aku bakal pulang sekarang, kamu baik-baik di sini ya, San," kata Radit sambil mengambil hoodienya.
__ADS_1
Sandy hanya menatap ke arah Radit yang makin lama makin jauh. Tidak pernah ia semarah ini kepada temannya itu. Bahkan bentakan tidak pernah keluar dari mulutnya.
"Hah... ada apa denganku sih?" kata Sandy.
Malam sudah berlalu dan berganti pagi. Sandy masih belum memejamkan matanya dari terakhir kali ia bangun. Ia sibuk memikirkan cara menemukan Netra. Ia tetap pada pendapatnya bahwa Netra masih hidup.
"Andai saja kamu ga pernah hadir di hidupku, Ra. Apa aku akan tetap seperti ini?" Sandy bertanya pada dirinya sendiri.
"Den Sandy. Buka pintunya, Den. Ada yang gawat," kata Mang Parman.
"Apa lagi sekarang," kata Sandy sambil bergegas keluar ruangan.
"Ada apa Mang?" tanya Sandy.
"Di luar, Den. Ada ramai orang, katanya kemarin malam ada peristiwa pembunuhan," kata Mang Parman yang panik.
"Apa? Pembunuhan? Siapa korbannya Mang?" tanya Sandy yang juga menjadi sangat panik. Ia sangat berharap nama yang keluar dari mulut Mang Parman bukan nama yang dipikirkannya saat ini.
"Apa?" Sandy tersungkur. Ia terduduk lemas. Kata-katanya kemarin ternyata menjadi kata-kata terakhir yang diucapkannya ke sahabatnya itu. Bahkan ia tidak sempat mengucapkan selamat tinggal.
"Minggir, Mang," kata Sandy sambil berlari menuju keluar rumahnya. Benar saja, ada banyak sekali orang mengelilingi jasad korban. Sandy masih tidak percaya dengan omongan Mang Parman. Ia ingin membuktikannya sendiri. Namun, ia tau, itu benar-benar Radit tanpa melihat wajahnya. Hoodie yang dipakai korban sama persis dengan hoodie yang dikenakan Radit kemarin.
"Aaaaaa..." Sandy berteriak dan sontak orang-orang langsung melirik ke arahnya. Ia segera berlari menuju temannya itu. Radit sudah terbujur kaku tidak bernapas. Seandainya semalam ia tidak mengusir temannya itu untuk pulang, pasti kejadian ini tidak akan pernah terjadi.
Ambulans akhirnya datang dan membawa jasad Radit. Sandy segera ikut ke dalam ambulans itu. Ia sangat ketakutan. Ia takut menghubungi orang tua Radit. Selama ini, mereka telah menganggap Sandy sebagai anaknya. Tapi, bagaimana pendapat mereka sekarang, setelah anak yang sudah dijaga mati-matian ternyata menjadi alasan kematian anak kandung mereka?
"Bodoh, bodoh, bodoh. Aku benar benar sangat bodoh," Batin Sandy yang mengutukin dirinya sendiri sepanjang perjalanan.
"Kemarin Rara, sekarang Radit, apa memang aku ini ditakdirkan untuk selalu menjadi alasan kematian seseorang? Mengapa? Mengapa aku harus hidup kalau seperti ini?" Sandy menangis. Ia merasa hidupnya sudah tidak berguna lagi. Ia menyesal. Penyesalan untuk kedua kalinya. Mengapa ia tidak belajar untuk menjaga temannya itu setelah kehilangan Netra. Mengapa ia sia-siakan temannya yang sudab ia anggap seperti saudara sendiri.
Tring... Tring...
__ADS_1
Ponsel Radit berbunyi. Sandy segera mengambilnya.
"Bunda," batinnya. Ia ragu untuk mengangkatnya. Namun, ia harus menjawab panggilan itu. Ia harus mengatakan yang sebenarnya. Biarlah jika memang Bunda harus membencinya.
"Halo Bunda," jawab Sandy.
"Oh halo Sandy, kenapa ponsel Radit ada di kamu?" tamya Bunda Anna dari seberang. Sandy terdiam, dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Halo?" panggil Bunda Anna.
"Bunda, maafkan Sandy. Sandy benar-benar minta maaf Bunda," kata Sandy menangis.
"Sandy? Apa yang terjadi sayang?" tanya Bunda Anna yang menjadi sedikit cemas.
"Maaf Bunda. Sebenarnya.... sebenarnya Radit..." Sandy tidak kuat melanjutkan ucapannya.
"Radit kenapa?" tanya Bunda Anna semakin cemas.
"Radit... Radit sudah tiada Bunda, " kata Sandy.
"Apa? Bagaimana mungkin?" Bunda Anna syok.
"Maafkan Sandy, Bunda. Maafkan Sandy," kata Sandy.
Tut..tut..tut
Sambungan itu terputus. Bunda Anna yang mengakhiri panggilan itu.
"Iya, aku harus siap menerima konsekuensinya," kata Sandy.
"Radit mengapa kamu ikut meninggalkanku seperti Netra. Apa aku memang orang yang tidak pantas memiliki teman baik sepertimu sekarang? Maafkan aku, Dit. Aku benar-benar menyesal," kata Sandy sambil memegang tangan dingin Radit.
__ADS_1