The Other Side

The Other Side
Obrolan Para Hantu


__ADS_3

Aku mundur beberapa langkah, si hantu tanpa kepala terus saja berjalan melewatiku. Ah syukurlah tidak terjadi apa-apa.


Aku meneruskan langkahku ke ruang berikutnya, dan itu dia! Si pirang tampak terbaring di atas tempat tidur di tengah ruangan, kaki dan tangannya terikat di tepi pembaringan.


Rupanya si Angela sedang tidak sadar tapi masih hidup, darah kering tampak membekas di kedua matanya. Mungkinkah gadis ini sudah kehilangan matanya? Aku masih mengamati Angela saat kurasa beberapa bayang-bayang menghampiriku.


Aku menoleh ke belakang dan wow! Sesosok hantu wanita berambut panjang tanpa mata merayap di atas plafon, turun ke arahku. Sesosok hantu bayangan muncul di balik pintu, bayangan yang semula kecil itu semakin mendekat dan semakin membesar.


Aku mengambil langkah mundur tapi kakiku tertahan oleh hantu wanita yang tubuhnya hancur, dia bergerak mirip laba-laba. Aku semakin terpojok karena semakin banyak yang datang.


"Hei hantu baru! Berani-beraninya kau masuk ke sini!" hardik si hantu rambut panjang


"Maaf ... aku tidak bermaksud mengganggu wilayah kalian, aku hanya ingin menolong gadis ini," Aku menunjuk Angela


"Tidak bisa! Jiwa gadis itu milik kami, dia harus mati di sini!" seru si wanita laba-laba di iringi seruan hantu-hantu yang lain, sebuah ide terpikir olehku.


"Tapi dia tidak bersalah, dia hanya korban. Aku rasa sebagian besar dari kalian juga korban dari pengelola rumah sakit inikan?" hantu-hantu itu terdengar saling berbisik


"Aku rasa aku benar, kalian adalah korban. Itu sebabnya kalian hidup seperti ini, kalian menjadi roh yang tidak tenang karena masih punya urusan yang belum terselesaikan." hantu-hantu itu terdiam mendengarkanku


"Kalian tahu? Kita bisa membalas dendam pada pengelola rumah sakit ini!" ucapku bersemangat


"Omong kosong! Kita tidak mungkin berhasil! Orang-orang ini lebih kejam dari kita, mana bisa kita mengalahkan mereka!" ujar hantu bayangan


"Itu karena kalian melakukannya sendiri-sendiri, coba kalian atur strategi dan melakukannya bersama-sama. Aku yakin kalian pasti berhasil!" para hantu itu kemudian riuh berkomentar.


Si hantu laba-laba sibuk berjalan mondar mandir, begitu juga hantu lain sibuk melayang-layang.


"Baiklah, kalau begitu apa usulmu hantu baru?" tanya si wanita berambut panjang


"Menurutku, karena kita hantu maka kita akan melawan mereka dengan apa keahlian kita,"


"Yaitu?"


"Memberikan ilusi penglihatan, membisikkan hal-hal yang bisa membuat mereka saling mencurigai kalau perlu memasuki tubuh mereka,"


"Kami sudah pernah melakukan hal-hal itu tapi tidak berhasil!"


"Itu karena kalian tidak kompak! Susun dulu strateginya baru kita bergerak,"


"Lalu ... anggaplah kita berhasil, itu hanya membuat mereka ketakutan, tidak ada hukum yang bisa menjerat mereka! Mereka orang kaya, dengan uang mereka bisa lolos,"


"Oh tidak! Aku sudah memikirkannya. Pertama aku akan mencari di mana mereka menyimpan berkas-berkas rahasia yang bisa kita jadikan bukti."


"Kemudian sahabat manusiaku akan menyerahkan berkas itu pada polisi! Aku yakin kali ini mereka tidak akan bisa lolos, bagaimana?"


"Baiklah aku ikut!" ujar si rambut panjang di susul suara hantu-hantu yang lain.


Malam itu kami para hantu menyusun strategi, mereka terlihat sangat antusias dengan rencana ini.


"Ingat, ini adalah kerjasama tim jadi kita harus saling dukung demi terbalasnya dendam kita!" seruku penuh semangat

__ADS_1


Urusan dengan para hantu sudah selesai, aku bergegas menemui Ramona yang masih menunggu di depan rumah sakit.


"Kenapa lama sekali?" tanya Ramona


"Ada sesuatu yang terjadi, bila ini berjalan sesuai rencana aku yakin kita akan berhasil," jawabku sambil tersenyum


"Yup, aku harap begitu karena dari luar semua tampak normal,"


"Tidak masalah, sekarang biarkan para hantu itu melakukan tugas mereka, nanti kau tinggal menghubungi sembilan satu satu,"


"Kau melibatkan hantu-hantu rumah sakit ini? Kau percaya pada mereka?"


"Oh ayolah Ramona! Kau mungkin tidak percaya pada mereka karena kadang mereka melakukan sesuatu yang licik tapi percayalah mereka juga ingin beristirahat dengan tenang,"


"Hmm ... yah kurasa kau benar." gumam Ramona


Malam ini rencana mulai di jalankan, pertama yang bergerak adalah hantu-hantu yang bertugas memanipulasi penglihatan orang-orang Peter.


Aku dan beberapa hantu bergegas ke ruangan Peter di dalam tampak Peter sedang berbicara dengan Lana.


"Dia sudah makin lemah," ucap Lana


"Kalau begitu bereskan dia malam ini, ambil jantungnya," perintah Peter


"Tapi bagaimana dengan berita kehilangannya, polisi bisa melacaknya sampai ke sini,"


"Tenang saja Lana, dia itu gadis nakal! Dia bisa lari dengan siapa saja, tidak harus denganku kan?"


"Baik Dokter." Lana kemudian berlalu meninggalkan ruangan Peter menemui dua pria anggotanya


"Bereskan gadis itu, ambil jantungnya saja, ginjalnya kurang bagus," perintah Lana kemudian berlalu meninggalkan mereka.


Keduanya lalu bergegas ke lantai dasar di mana Angela di sekap, salah satunya memukul jidat rupanya dia melupakan sesuatu.


"Ada apa Erik?" tanya temannya


"Aku lupa kotak jantungnya Mark,"


"Ya sudah sana cepat ambil! Biar kubedah jantungnya sambil menunggumu,"


"Okey." Erik pun berlalu.


Saatnya kami beraksi, dua hantu berubah wujud menjadi Erik dan Mark. Mark manusia berjalan menuju ruangan Angela, dia menghampiri meja peralatan operasi, memastikan alat-alatnya lengkap. Dia kemudian berbalik ke arah Angela.


"Ah sayang sekali gadis secantik ini harus mati secepat ini." gumam Mark sambil menggelengkan kepala.


Dia kemudian kembali berbalik ke meja peralatan dan terkejut karna alat-alat itu hilang! Tentu saja dia tidak bisa melihatnya karena ada hantu yang duduk di atas meja itu. Mark manusia lalu sibuk mencari alat-alat itu di bawah meja yang di kiranya terjatuh.


Mark melonjak kaget, terkejut saat berdiri dan tiba-tiba hantu yang berupa Erik berdiri di dekatnya.


"Kau mengejutkanku! Aku tidak mendengarmu datang." hantu Erik hanya diam

__ADS_1


"Mana kotaknya?" sekali lagi hantu Erik hanya diam tak menjawab, Mark kembali sibuk mencari alat di bawah meja.


"Ah sudahlah, sebaiknya bantu aku mencari alat-alat ....," kalimat Mark menggantung karena saat mendongak hantu Erik menghilang.


Berapa detik kemudian Erik manusia tiba di depan pintu dengan kotak di tangannya.


"Hei ada apa?" tanya Erik pada Mark yang menatapnya tanpa berkedip


"Apa kau baru saja tiba?"


"Yup! Ada apa denganmu? Kenapa kau tidak mulai menbedahnya?" tanya Erik sambil menunjuk Angela


"Peralatannya hilang," jawab Mark


"Hilang?" tanya Erik sambil menunjuk meja dengan alat yang lengkap di atasnya.


Yup! Alat-alat itu terlihat kembali karena hantu yang tadinya duduk di sana sudah bergeser. Dua hantu lain kemudian menghampiri Erik.


"Dia hanya berpura-pura bingung, sebenarnya dia ingin kau yang mengerjakan semuanya." bisik hantu yang kanan


"Apa gunanya punya rekan kalau semuanya harus kau lakukan sendiri?" bisik hantu yang kiri


Wajah Erik terlihat memerah menahan marah. Hantu lain yang berwujud Lana memasuki ruangan lalu menghampiri keduanya.


"Perubahan rencana, dokter ingin kita membawa gadis itu ke rumah perahu." ujar hantu Lana, sesaat Mark dan Erik saling berpandangan.


"Tunggu apa lagi? Lakukan sekarang!" bentak hantu Lana.


Keduanya lalu sibuk melepaskan ikatan di kaki dan tangan Angela. Saat berpaling hantu Lana sudah tidak ada di sana.


"Kau urus gadis ini, aku akan menyiapkan mobil." ujar Erik yang masih kesal pada Mark akibat bisikan hantu-hantu.


Dia berniat mengerjai Mark sesampainya nanti di rumah perahu. Erik memarkir mobil di depan pintu baseman, tidak berapa lama Mark muncul sambil menggendong si gadis.


Setelah menempatkan Angela di jok belakang Mark lalu ke depan, duduk di samping Erik. Mobil pun melaju menuju rumah perahu. Saat mobil itu keluar dari halaman rumah sakit aku memberi tanda pada Ramona untuk segera mengikuti mereka.


"Sebaiknya kita hubungi sembilan satu satu sekarang, supaya polisi bisa tiba tidak lama setelah kita sampai," usul Ramona


"Tidak, jangan dulu! Biarkan dua pria itu berkelahi dulu, aku ingin mereka lengah dan tidak menyadari kedatangan polisi,"


"Hmm ... terserah kaulah!"


Kami membuntuti mereka dari jarak yang cukup aman, hantu-hantu yang ikut di mobil mereka tak henti membisikkan hasutan agar mereka bertengkar.


Setelah empat puluh lima menit perjalanan mereka pun tiba di danau flaminggo. Erik mematikan mesin mobil, Mark yang bersiap menggendong Angela berteriak pada Erik, memintanya menarik tali tambat rumah perahu.


Erik yang sedari tadi menahan emosi langsung melayangkan tinju ke wajah Mark.


"Apa ini Erik?" tanya Mark, tapi Erik tidak menjawab, terus menghujani Mark dengan pukulan. Perkelahian pun tak terelakkan, keduanya saling pukul dan berguling di tanah.


Polisi yang kebetulan sedang berpatroli di daerah itu tiba tidak lama setelah Ramona menghubungi operator panggilan darurat. Mereka menangkap Mark dan Erik juga menyelamatkan Angela.

__ADS_1


Yeah! Ini keberhasilan kami yang pertama, aku berharap rencana selanjutnya bisa berjalan mulus.


__ADS_2