
"Apa? Ga mungkin. Ah lupakan sejenak. Aku juga ingin memberi tahumu sesuatu," kata Radit.
"Kamu tau? Ternyata Rara punya kakak, atau lebih tepatnya kembaran. Mereka emang ga terlalu mirip untuk ukuran kembar, tapi mereka benar-benar kembar. Dan kamu mau tau siapa kembarannya itu? Dia adalah Putri," kata Radit. Sandy seolah tidak percaya dengan perkataan Radit. Namun, ia tau bahwa Radit tidak mungkin berbohong kepadanya.
"Kamu ga bohong kan?" tanya Sandy.
*****
"Ga, ga mungkin, kamu tau darimana kalo Netra dan Putri kembar?" tanya Sandy lagi.
"Kamu mungkin ga akan percaya omonganku, San. Dan aku dulu berbohong mengenai alasanku sakit. Sakit itu, bukan karena kelelahan. Tapi..." Radit memotong perkataannya karna ia sedikit ragu.
"Tapi apa, Dit?" tanya Sandy penasaran.
Tapi aku dirasuki, oleh Putri," ucap Radit pelan.
"Apa? Lalu apa yang terjadi selanjutnya?" tanya Sandy yang kaget dengan omongan Radit.
"Malam itu dia gagal merasukiku, atau mungkin bisa kukatakan gagal menguasai tubuhku. Itu yang menyebabkan aku sakit," kata Radit.
__ADS_1
"Lalu, sejak saat itu, aku sering melihatnya di rumah sakit. Ia seperti merasa bersalah karna membuatku sakit seperti itu. Ia sepertinya hanya ingin menyampaikan pesan," tambahnya.
"Pesan? Apa yang ingin disampaikannya?
"Aku juga penasaran dan malam itu aku langsung bertanya kepadanya. Tidak aku sangka ternyata aku bisa berkomunikasi dengannya. Ia hanya ingin aku menjaga Rara. Ia juga ingin kita merahasiakan rahasia Rara dari dunia luar,"
"Rahasia? Oh aku ingat, kejadian waktu itu?" kata Sandy.
"Tapi kenapa Rara ga inget apa-apa soal Putri. Maksudku, bahkan saat dulu kita membicarakannya ia tidak seperti tidak mengenal Putri, tanyanya.
"Itu lah yang juga aku bingungkan, mengapa Rara bahkan seperti tidak tahu mengenal kakaknya itu. Feelingkku, Rara mengalami amnesia atau semacamnya," ucap Radit.
"Iya, kita harus bicara dengan Nek Sari, oh ya mengenai Tante Ira, coba kau selidiki dengan benar, San. Mungkin saja itu hanya orang yang mirip dengannya," kata Radit.
"Umm, iya," ucap Sandy
"Dit? Kok bengong? Ayo ikut," ajak Netra.
"Hah? Kemana?" tanya Radit yang kebingungan karna ia tadi melamun.
__ADS_1
"Makanya jangan melamun terus, kita kan mau masak-masak. Gimana sih? Itu Sandy udah nungguin di dapur," kata Netra.
"Oh iya iya, sebentar," Radit segera berdiri dan ikut Netra ke dapur.
"Kita mau buat apa hari ini?" tanya Netra.
"Ya yang sederhana aja lah, gausah yang berlebihan," kata Radit.
"Oke, kita masak pasta aja hari ini. Oh ya, San. Aku belum melihat Mbok Yati dari tadi," kata Netra.
"Oh Mbok Yati, iya sih aku juga belum lihat, mungkin sedang ke pasar," Kata Sandy.
"Oh," ucap Netra.
Mereka mulai memasak bersama, sesekali Radit menjahili Netra. Sandy selalu menjadi penengah ketika Netra kesal dan marah ke Radit. Mereka semua menikmati kegiatan itu. Selesai memasak, mereka segera pergi ke kebun untuk menikmati masakan yang mereka buat.
"Umm, aku masih ga nyangka bakal diterima di sekolah ternama itu. Rasanya seperti mimpi. Dan bisa bersama kalian lagi, aku merasa sangat beruntung," ucap Netra dengan senang.
"Iya, aku harap semua hal buruk yang pernah kita lalui berakhir sampai disini aja," ucap Radit.
__ADS_1