
"Anna sepertinya nenek butuh istirahat. Kamu datang lagi nanti ya," kata Nek Sari sambil masuk ke kamarnya dan meninggalkan Bunda Anna sendirian di ruang tamu.
"Maaf Anna. Ini demi kebaikan Rara," ucap Nek Sari dari balik pintu kamarnya.
*****
"Mbok, mbok bisa ceritain ga ke kita awal mulanya Sandy jadi begini," tanya Radit.
"Umm, sebenernya Mbok ga inget banyak Den. Yang Mbok inget itu ada seseorang yang tiba-tiba masuk ke dalam rumah. Mbok Yati kaget karna harusnya ada Mang Parman yang jaga di depan. Mbok coba nyari Mang Parman. Nah disitu Mbok ketauan dan akhirnya dikasih obat bius. Mbok gatau kelanjutannya gimana," cerita Mbok Yati.
"Mbok inget ciri-cirinya, mungkin cewe atau cowo gitu?" tanya Netra.
"Kalo dari posturnya, menurut Mbok itu cewe, tapi Mbok ga bisa pastiin soalnya Mbok ga bisa liat wajahnya. Wajahnya ditutup masker hingga yang terlihat cuma matanya aja," jelas Mbok Yati.
"Hah... Sandy bangun dong. Kangen banget main bertiga lagi," ucap Netra sambil mendekati ranjang Sandy. Sandy terlihat sangat damai, seperti tidak merasakan sakit sedikitpun.
"Ra, mungkin aja Sandy emang butuh istirahat dari semua ini," ucap Radit yang ikut menghampiri Sandy dan merangkul Netra.
"Radit, apa-apaan sih kamu, kamu ga sedih Sandy kayak gini? Kenapa tenang banget sih. Dulu pas kamu sakit Sandy yang paling khawatir. Sandy emang dingin tapi dia perhatian sama kamu. Kenapa kamu malah santai begini sih?" Netra tiba-tiba emosi.
__ADS_1
"Ra, maksudku bukan begitu. Di kondisi seperti ini kita harus tenang, Ra," ucap Radit.
"Betul kata Den Radit, Non. Kita ga boleh panik menghadapi situasi ini, apalagi emosi. Non Rara mungkin butuh istirahat sekarang. No Rara sepertinya akhir-akhir ini kurang tidur karna terus mencemaskan Den Sandy," ucap Mbok Yati.
"Duduk dulu ya Ra. Jangan emosi dulu. Tenangin diri kamu," ajak Radit.
"Dit, apa kita bisa berkumpul bertiga lagi?" tanya Netra.
"Tenang, Ra. Aku yakin cepat atau lambat, Sandy pasti bakal sadar kokk," ucap Radit.
"Aku tau kamu ada perasaan ke Sandy, Ra, sampe kamu jadi seemosi tadi. Tapi kenapa rasanya sakit buatku melihat kamu sekhawatir itu sama Sandy," batin Radit.
"Aku keluar dulu ya, Ra. Aku mau belikan makanan buat kita dan Mbok Yati. Mbok pasti belum makan dari pagi kan?" tanya Radit ke arah Mbok Yati. Mbok Yati hanya menundukkan kepalanya.
"Dit," panggil Netra. Radit langsung berbalik.
"Maafkan sikapku tadi ya," ucap Netra dengan raut muka sedih.
"Iya, gapapa. Aku tau kok kamu khawatir sama Sandy," jawab Radit sambil tersenyum dan berlalu. Senyumnya seketika hilang ketika ia keluar ruangan.
__ADS_1
"Andai kamu tau, Ra. Sakit banget liat kamu begitu khawatir sama Sandy. Bahkan kamu ga memperhatikan kondisi kamu sendiri," batin Radit.
Tidak lama berselang, datanglah kedua orang tua Radit.
"Rara, ngapain kamu disini? Udah berapa kali saya bilang saya ga mau Sandy deket-deket sama kamu. Anak saya bisa langsung mati kalo berhadapan sama kamu," bentak Tante Sarah. Netra yang kaget karena kedatangan Tante Sarah dan Om Herman yang tiba-tiba langsung berdiri dan menghampiri Tante Sarah.
"Tante, maafin Rara kalo Rara ada salah sama, Tante. Tapi, Rara bener-bener ga inget apa-apa, Tante. Rara gatau apa yang udah terjadi. Tante tolong jangan pisahkan Rara sama Sandy," ucap Rara sambil berlutut di kaki Tante Sarah.
"Saya ga bisa maafin kamu atas semua kesalahan yang pernah kamu perbuat," kata Tante Sarah.
"Yati, kamu kan udah saya peringatin buat jangan asal masukin orang ke sini. Apalagi anak ini. Anak ini dilarang keras dekat sama Sandy," bentak Tante Sarah ke ART nya itu.
"Maaf, Bu, maafkkan saya. Tapi, Non Rara dan Den Radit ini teman baik Den Sandy. Den Sandy pasti bakal lebih senang kalo dijenguk sama kedua temannya," bela Mbok Yati.
"Tante, Tante ga bakal bawa Sandy pergi dari sini kan?" tanya Netra.
"Saya akan bawa Sandy berobat ke luar negeri. Saya ga peduli sama kalian. Keselamatan Sandy lebih penting buat saya. Jadi sebaiknya kamu pergi," perintah Tante Sarah.
Tiba-tiba, terlihat pergerakan pada tangan Sandy. Jari-jarinya bergerak. Matanya membuka perlahan.
__ADS_1
"Ra," panggil Sandy. Orang pertama yang Sandy cari bukanlah kedua orang tuany. Tapi Netra.
"Biarin Rara tetep disini, Ma. Sandy mau sama Rara sama Radit. Mama sama Papa ga perlu khawatir sama Sandy. Khawatirkan aja bisnis kalian di luar negeri itu. Kalian udah meninggalkannnya cukup lama dari sejak Sandy sakit. Maaf Sandy jadi merepotkan kalian berdua. Kalian boleh pergi," ucap Sandy yang baru tersadar dari komanya. Ia mengucapkan itu dengan tenang seakan memang tidak membutuhkan kedua orang tuanya. Namun, sebenarnya di hati kecil Sandy, ia senang kedua orang tuanya masih peduli saat ia sakit dan sangat teriris ketika harus mengusir kedua orang tuanya seperti tadi. Namun, ini harus Sandy lakukan karna ia tahu bisnis kedua orangtuanya itu lebih penting darinya.