The Other Side

The Other Side
Sandy


__ADS_3

"Aku, aku ga tau siapa kamu," kata Sandy tergagap.


"Ya, cepat atau lambat kamu harus mengakui kalo kamu pasti mengingatku. Aku sudahi sampai disini dulu. Oke. Bye Sandy. See you soon." Sambungan telepon terputus. Sandy masih gemetar mendapat telepon tadi. Tidak ia sangka orang itu akan kembali. Salah satu orang yang membuat hidupnya berantakan.


"Ga mungkin itu dia kan. Jelas-jelas aku liat sendiri kalo dia udah gaada. Gimana ini bisa terjadi. Hahh, sekarang gimana aku bisa fokus sama ujianku besok," kata Sandy sambil masih memandangi telepon itu.


Semalaman Sandy tidak bisa tidur karna memikirkan orang yang tadi menelponnya.


"Apa mungkin ada yang memanipulasi kematiannya? Hah tapi buat apa?" batin Sandy.


"Lebih baik aku pikirkan ujian besok aja deh." Sandy tidak bisa tidur dan akhirnya memutuskan untuk mereview materi ujian besok. Ia baru bisa tidur jam 2 malam karna kelelahan belajar.


*****


"San? Sandy? Sandy bangun. Sandy," kata Netra yang berusaha membangunkan Sandy.


"Biar bunda yang bawa Sandy ke rumah sakit. Kalian berangkat sekolah ya. Kalian harus ujian. Nanti biar bunda yang bicara sama wali kelas Sandy," kata Bunda Anna sambil menelpon ambulans.


"Dit, Sandy kenapa Dit? Sandy..." Netra mulai menangis melihat Sandy yang tidak berdaya.


"Ra, kita harus tetep ujian. Kita gabisa ninggalin ini. Setelah ujian pergi ke rumah sakit buat jenguk Sandy," ucap Radit.


"Radit bawa Rara, kalian bisa telat kalo lebih lama lagi," kqta Bunda Anna.

__ADS_1


"Ayo biar ayah antar supaya kalian ga telat," kata Ayah Radit.


Sepanjang jalan, Netra menangisi Sandy. Radit hanya menenangkannya sambil menggengam tangannya.


"Ra tenang ya, Sandy ga bakal kenapa-kenapa kok. Kamu tau kan dia anak yang kebal apa pun," kata Radit menenangkan. Mereka sampai di depan sekolah. Mata Netra yang sembab menjadi pusat perhatian saat mereka berdua masuk ke sekolah.


"Loh kok mereka berdua, Sandy mana deh Sandy?" bisik teman mereka.


"Eh liat Netra tuh, sama Sandy sama Radit lengket. Tapi ternyata dia milih Radit ya. Jahat juga Radit ninggalin temennya demi cewe kayak Netra," bisik yang lainnya.


"Huft, mereka berbisik atau berteriak sih, bahkan aku masih bisa denger dari sini," kata Radit yang sudah siap menutup mulut mereka yang menggunjing Netra.


"Dit," cegah Netra sambil menggelengkan kepalanya.


"Fokus sama ujian kita," lanjutnya.


Waktu ujian dimulai sebentar lagi, Bunda Anna terlihat datang ke ruang guru untuk mengabari kondisi Sandy. Netra yang melihat bunda ingin sekali menemuinya untuk menanyai kabar Sandy. Tapi ia dicegah oleh Radit karena ujian akan segera dimulai. Kedua pengawas ujian masuk ke kelas mereka sambil membawa amplop soal. Netra sudah tidak peduli dengan ujian ini. Hasil belajarnya seperti sia-sia sekarang. Yang ia pikirkan hanyalah keselamatan Sandy. Ia mengerjakan ujian dengan tidak fokus dan tidak tenang memikirkan kondisi Sandy saat ini.


Waktu ujian selesai, mereka berdua segera pergi ke rumah sakit dimana Sandy dirawat. Bunda Anna sudah berada di depan sekolah mereka untuk menjemput dan mengantarkan mereka ke rumah sakit.


"Loh kok bunda yang jemput? Ayah kemana? Sandy siapa yang jagain di sana?" tanya Radit sambil memakai seatbeltnya.


"Tadi bunda titip Sandy ke Mbok Yati sama Mang Parman. Ayah kamu lagi ada urusan penting di perusahaan jadi gabisa jemput dulu," jawab Bunda Anna.

__ADS_1


"Bun kondisi Sandy gimana?" tanya Netra.


"Rara tenang aja ya, Sandy ga kenapa napa. Kita banyak berdoa aja ya buat keselamatan Sandy," kata Bunda tenang.


Mereka akhirnya sampai ke rumah sakit dan segera pergi ke ruangan di mana Sandy dirawat. Sandy terlihat sangat lemah dan tidak berdaya di atas kasur. Dokter yang mengurusnya bilang bahwa ada seseorang yang sengaja memasukan obat keras ke tubuh Radit. Obat ini bisa menyebabkan berbagai macam masalah kesehatan, salah satunya kelumpuhan sementara.


"Saat ini Sandy masih dalam kondisi koma. Kami akan berusaha sebaik mungkin untuk menyembuhkannya," kata dokter yang kemudian pergi.


"Sandy..kenapa jadi gini? Siapa yang mau jahat sama kamu?" Netra mendekati Sandy sambil menangis. Air mata yang sedari tadi ditahannya tumpah begitu saja saat melihat Sandy yang tidak berdaya.


"Ra, tenang ya. Sandy pasti bakal sehat lagi kok," ucap Radit.


"Sandy. Yaampun nak kenapa bisa jadi begini," kata seorang wanita yang tiba-tiba masuk ke ruangan itu. Diikuti oleh seorang pria. Netra berpikir kalau mereka berdua adalah orang tua Sandy.


"Yati, Parman, kenapa anak saya bisa kayak gini? Emang kalian semua gaada di rumah?" tanya wanita itu.


"Maaf Bu, kami tidak bisa menjaga Den Sandy. Saat itu, kami dibekap dan dibius oleh seseorang yang misterius. Kami ga tau siapa orang itu. Maafkan kami," ucap Mang Parman


"Maaf? Sekarang liat ini anak saya jadi begini. Apa kamu bisa ngembaliin nyawa anak saya kalo sampe dia meninggal?" ucap wanita itu sambil memarahi asisten rumah tangga dan tukang kebunnya.


"Supri mana? Dia juga harus bertanggung jawab atas hal ini. Dia supir sekaligus satpam. Harusnya dia yang jaga Sandy," bentak wanita itu lagi.


"Supri harus pulang kampung karena ibunya sakit. Jadi di rumah hanya ada saya, Den Sandy, dan Parman, Bu," jawab Mbok Yati.

__ADS_1


"Udah Ma, Sandy juga cuma koma. Kamu ga perlu khawatirin dia kayak gitu," kata si pria.


"Cuma? Bisa bisanya dia bilang cuma koma? Siapa sih orang ini," pikir Netra.


__ADS_2