
"Ra, selamat ya. Kita bakal ketemu lagi di kelas bahasa," ucap Radit.
"Hah? Benarkah? Ahh aku senang sekali," ucap Netra kegirangan.
"Selamat ya, Ra," kata Sandy.
"Umm, makasih ya Sandy, Radit udah mau mengajariku dan menemani aku belajar. Aku senang sekali rasanya sekarang," ucap Netra.
*****
Setelah seminggu dirawat, akhirnya Sandy akhirnya diperbolehkan pulang. Ia segera mengurus dokumen yang diperlukan untuk daftar ulang ke SMA Internasional Tunas Bangsa. Ia adalah siswa terakhir yang melakukan daftar ulang, Radit dan Netra segera melakukan daftar ulang sehari setelah mereka melihat pengumumannya. Sebenarnya Netra dan Radit ingin menunggu Sandy pulih terlebih dahulu agar bisa mendaftar ulang bersama. Namun, hal itu mereka urungkan karena waktu pendaftaran ulang saat itu tinggal 3 hari lagi. Sandy mendapat perlakuan khusus karena ia sakit sehingga ia diperbolehkan untuk mendaftar ulang walaupun batas waktunya sudah lewat.
Sandy segera pergi ke sekolah itu bersama supirnya, ia masih belum memberitahu kedua orang tuanya mengenai sekolahnya ini. Bahkan ia memang tidak ingin kedua orang tuanya tau.
"Den, kita sudah sampai," ucap Mang Supri.
"Makasih ya, Mang. Sandy pergi dulu," ucap Sandy. Ia memasuki sekolah itu untuk kedua kalianya. Namun, kali ini berbeda, tidak ada orang lain yang menemaninya.
"Semua berkas telah saya terima. Terima kasih," ucap salah satu guru di sana.
"Oh iya, satu lagi. Kepala sekolah meminta siswa dengan nilai tertinggi untuk mewakili upacara penerimaan. Bisakah kamu menjadi salah satunya? Mengingat nilai ujianmu yang cukup fantastis," tanyanya.
"Baik, saya bersedia," kata Sandy yang kemudian berpamitan untuk pulang.
Ketika ingin pergi dari ruangan itu, seseorang masuk menggunakan pakaian yang serba hitam. Namun, Sandy tidak menghiraukan orang itu dan segera pergi dari sana.
Keesokan harinya, Radit dan Netra datang ke rumah Sandy. Mereka ingin merayakan keberhasilan mereka sekaligus bersyukur karena Sandy sudah kembali pulih. Mereka berdua membawa berbagai jenis makanan dan minuman.
__ADS_1
"Hei lihat. Aku membawakan hadiah untuk kalian berdua. Anggap saja ini hadiah untuk kalian karena mau membantuku belajar," ucap Netra sambil menunjukkan hadiahnya.
"Aku juga ada hadiah untuk kalian berdua," ucap Sandy.
"Apa-apaan ini, kenapa kalian ga ngomong buat tukeran hadiah gini sih. Kan aku jadi malu ga bawa hadiah sendiri," ucap Radit.
"Haha, Dit. Kita gaada janjian dulu kok. Emang pengen ngasih aja," jawab Netra.
"Ini untuk kamu dan ini untuk Sandy. Aku harap kalian suka," ucapnya lagi. Radit dan Sandy segera membuka hadiah dari Netra. Ternyata itu adalah gantungan kunci dengan wajah karikatur mereka bertiga.
"Aku buat sendiri loh, hehe. Kalian harus simpen baik-baik. Awal aja diilangin," kata Netra sambil mengancam halus mereka berdua.
"Haha iya, Ra. Terima kasih ya." Jawab Sandy.
"Oh ini bikinanmu, pantas jelek," ucap Radit sambil berpura-pura menjelekkan hasil karya Netra.
"Nih hadiah dariku, udah gausah marah lagi," kata Sandy. Mereka segera membukanya dan ternyata Sandy memberikan iPad ke mereka.
"San, kamu serius memberikan ini? IPad keluaran terbaru? Aku insecure loh jadinya cuma bisa ngasih gantungan kunci," kata Netra tidak percaya. Sedangkan, Radit seolah sudah terbiasa mendapatkan hadiah-hadiah tidak terduga dari Sandy.
"Ra, Sandy emang begini. Kekayaannya ga bakal habis mau tujuh atau sepuluh turunan. Haha. Terima kasih ya, San," kata Radit.
Terima kasih banyak, San. Aku senang kita bertiga berteman. Ssbelumnya aku tidak pernah punya teman," kata Netra.
"Kalo dipikir-pikir, dulu juga kita cuma sekedar bertemu aja ya. Dan setelah kejadian itu kita jadi semakin dekat," kata Radit.
"Ah iya, aku sangat berterima kasih karna kalian menyelamatkanku waktu itu," kata Netra.
__ADS_1
"Justru kita yang harusnya berterimakasih, Ra, karna kamu hmp hmp ..." Sandy langsung menutup mulut Radit. Ia seolah tau apa yang akan diucapkan Radit selanjutnya.
"Berterima kaish padaku? Maksudnya?" tanya Netra.
"Ah maksudku aku harus berterima kasih karna kamu udah datang ke kehidupanku dan Sandy. Sehingga hidup kami jadi lebih berwarna, gitu," kata Radit yang menyadari bahwa ia hampir kelepasan memberi tau Netra akan hal itu.
FLASHBACK
Sehari setelah Radit daftar ulang ia segera menemui Sandy karena Sandy bilang ada yang ingin ia bicarakan. Radit juga berpikir, mungkin ini saatnya untuk memberitahu Sandy perihal perjanjiannya itu. Ia tidak bisa menutupinya lebih lama lagi. Setidaknya, jika Sandy bisa membantunya untuk menutup rahasia ini rapat-rapat.
"Apa yang mau kamu bicarakan, San?" tanya Radit.
"Kamu masih inget Tante Ira?" tanya Sandy.
"Tante Ira? Siapa?" tanya Radit.
"Tante Tirani, inget?" ucap Sandy.
"Tante Tirani? Iya iya aku inget, ada apa? Bukannya Tante Tirani udah meninggal 5 tahun yang lalu?" kata Radit.
"Aku dapet telepon dari dia. Emang dia ga nyebutin dia siapa tapi aku tau suara itu. Kamu inget Suster Dessy yang ngerawat aku di rumah sakit? Aku yakin dia Tante Ira yang menyamar," kata Sandy.
"Apa? Ga mungkin. Ah lupakan sejenak. Aku juga ingin memberi tahumu sesuatu," kata Radit.
"Kamu tau? Ternyata Rara punya kakak, atau lebih tepatnya kembaran. Mereka emang ga terlalu mirip untuk ukuran kembar, tapi mereka benar-benar kembar. Dan kamu mau tau siapa kembarannya itu? Dia adalah Putri," kata Radit. Sandy seolah tidak percaya dengan perkataan Radit. Namun, ia tau bahwa Radit tidak mungkin berbohong kepadanya.
"Kamu ga bohong kan?" tanya Sandy.
__ADS_1