
Pagi itu keluarga Grey sarapan bersama sambil menikmati lagu klasik yang di mainkan gramophone.
"Hari ini hari besar, semuanya sudah siap Peter?" tanya Nyonya Mary
"Yup mom, Lana sudah menyiapkan semuanya. Pagi ini aku akan mengeceknya kembali,"
"Bagus! Aku tahu aku bisa mengandalkanmu sayang."
Tuan Grey makan dengan diam, mendengarkan pembicaraan ibu dan anak itu.
"Kau tidak ikut ke labirin Grey?" tanya Nyonya Mary
"Mungkin aku akan ikut dengan Peter, memeriksa peserta labirin," ucap Tuan Grey
"Yah sebaiknya begitu, pastikan masih ada bagian bagus yang bisa di jual. Harga jantung sekarang sedang meningkat, orang-orang berani bayar mahal untuk itu,"
"Akan kupastikan kau mendapatkan jantungmu,"
Tuan Grey mencium istrinya kemudian berlalu meninggalkan Nyonya Mary yang melanjutkan sarapannya. Peter melangkah memasuki ruang kantin rumah sakit, berjalan menghampiri Lana
"Apa yang kita dapat?" tanya Peter
"Tiga orang tuna wisma dan dua orang berandalan,"
"Berarti kita hanya bisa dapat beberapa kantong darah, satu dua pasang mata, jantung dan jika beruntung bisa jadi dua ginjal."
"Pola hidup orang-orang seperti mereka tidak sehat, jarang yang punya ginjal yang bagus,"
"Kau ingin aku menambahnya?" tanya Lana
"Tidak perlu, bulan ini tidak terlalu banyak permintaan. Kau sudah siapkan perlengkapannya?"
"Iya, para pemburu juga sudah siap."
"Sempurna! Undangan sudah bisa di buka siang ini, beri makanan apa saja yang mereka mau."
Peter kemudian berlalu meninggalkan Lana, kembali ke ruangannya. Tuan Grey menyambutnya dengan segelas minuman, Peter menerimanya dan ikut duduk dekat ayahnya.
"Bagaimana? Semua beres?"
"Iya, Lana sedang bersama mereka,"
"Berapa banyak?"
"Lima, tiga tuna wisma dan dua berandalan,"
"Hmm ... lumayan," Tuan Grey mengangguk mendengarkan
__ADS_1
"Kau sudah periksa kesehatan mereka?"
"Lana sudah melakukannya, tapi kita tidak bisa berharap banyak,"
"Kabari ibumu, biar dia bisa membuka undangan untuk malam ini."
Malam itu beberapa mobil mewah milik pengusaha-pengusaha sukses kota Lovelock terparkir di halaman parkir rumah sakit Lovelock Surgery Hospital.
Beberapa mobil golf datang menjemput, membawa mereka melintasi taman mini golf, terus menuju taman labirin dimana Keluarga Grey telah menanti.
"Selamat datang di Labirin Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya, malam ini ada dua pemain yang baru bergabung, Tuan Hudson dan Tuan Andew." Nyonya Mary menjabat tangan kedua orang yang di sebukan namanya, kemudian maju ke depan memberikan kata sambutan pada para tamu
"Baiklah, seperti biasa sebelum memulai aku akan menjelaskan aturan mainnya."
"Setiap pemain bebas memilih pesertanya yang akan berlomba untuk bisa keluar dari Labirin, masing-masing peserta akan memasuki pintu yang berbeda. Bebas memilih jalur mana yang dia anggap tepat untuk keluar dari Labirin."
"Bagian menariknya adalah mereka tidak hanya berlomba tapi juga harus melewati lima pemburu. Para pemburu adalah Silent Killer, memiliki senjata yang berbeda, panah, belati, kapak, pedang dan Shuriken."
"Pemain yang pesertanya bisa menyelesaikan permainan kurang dari satu jam adalah pemenangnya, bagaimana? Anda semua mengerti?" para tamu tampak menganggukan kepala.
"Baiklah kalu begitu, para pemain silahkan memilih peserta yang anda inginkan." Nyonya Mary menunjuk layar di belakangnya yang menampakkan lima orang peserta.
Terlihat dua orang pemuda jalananan, seorang berambut model mohak dan seorang lagi berambut warna merah. Tiga peserta lain tampak lebih tua tapi tubuh mereka masih terlihat tegap. Satu bertubuh agak kurus, satu bertubuh sedang dengan kepala botak, terakhir tubuhnya padat berisi dengan kumis dan cambang di wajahnya.
"Tentukan pilihan anda dan pasang taruhan anda sekarang, permainan akan di mulai dalam lima menit."
Beberapa pemain yang sudah menentukan pilihan kemudian menaiki balkon, sisanya masih mencari peserta yang mereka anggap tepat.
Taruhan yang mereka mainkan tidak terlalu besar hanya lima juta, tapi bagi keluarga Grey keuntungan dari permainan ini tidak hanya uang, mereka juga bisa mendapatkan organ tubuh para peserta dan itu artinya uang lebih.
Para pemburu memasuki labirin terlebih dahulu, mereka sengaja di tempatkan secara acak. Para peserta sudah siap di depan pintu, para pemain duduk dengan tegang, mengawasi peserta pilihan masing-masing.
Peter melontarkan kembang api ke udara sebagai tanda permainan di mulai. Pintu-pintu di buka, para peserta pun mulai berlarian. Pada menit pertama kedua pemuda tampak lincah menelusuri jalur labirin, mereka saling memanggil untuk menandai keberadaan mereka. Rupanya keduanya membentuk tim, bekerjasama menemukan jalur yang tepat.
Pemain yang bertaruh atas mereka tertawa senang, yakin kandidatnya akan menang. Pada belokan berikut si rambut merah memilih jalur kanan, rupanya sang pemburu dengan senjata kapak ada di sana.
Si pemuda berlari panik, berusaha menerobos tanaman di sampingnya agar berpindah jalur, sang pemburu sudah semakin dekat.
"Hendry!" si pemuda menjerit memanggil kawannya
"Sam di mana kau!"
"Tolong aku Hendry!" sang pemburu berada tepat di belakang si rambut merah.
Para pemain menyaksikan dengan tegang saat si pemburu dengan sigap menancapkan benda di tangannya ke punggung si pemuda.
"Lari!" jerit si rambut merah sesaat sebelum tubuhnya roboh ke tanah.
__ADS_1
Kematian pertama, selanjutnya di susul si pria berkepala botak, sebuah anak panah menancap di kening tembus hingga otak kecilnya.
Beberapa pemain yang bertaruh atas mereka menggeleng kecewa, sementara yang lain menertawakan kekalahan lawannya. Mereka terus mengawasi peserta yang tersisa.
"Lihat dia terjebak seperti seekor tikus!" seru seseorang sambil menunjuk peserta yang bertubuh kurus yang hanya berputar di tempatnya, ragu untuk mengambil langkah maju atau mundur.
"Sial!" umpat seorang pemain, rupanya dia bertaruh pada pria berjenggot yang saat itu sedang di eksekusi oleh sang pemburu dengan senjata pisau.
Entah faktor keberuntungan atau kepandaian mengatur strategi dua orang peserta berhasil menemukan jalan keluar yang tepat, si pemuda berambut mohak dan si pria kurus mencapai garis finish bersamaan.
Suasana di balkon menjadi ricuh, masing-masing pemain merasa pesertanyalah yang menang.
"Tenang Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya, aturannya adalah hanya boleh ada satu pemang."
"Jadi ...," Nyonya Mary menjentikkan jarinya, seorang pemburu melemparkan sebilah pisau pada masing-masing peserta.
"Mereka akan bertarung, yang menang adalah pemenangnya!"
Semua pemain merasa puas dengan aturan yang mereka anggap adil itu.
Si pria kurus memungut pisau dan menggenggamnya erat, si rambut mohak mulai menyerang.
Si pria kurus yang ketakutan melayangkan pisaunya ke sembarang arah, membuat si pemuda agak kewalahan mencari celah. Tapi kemudian si pria tua lengah, pandangannya beralih sepersekian detik.
Si pemuda tidak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia lalu menendang wajah si pria kurus, membuatnya jatuh tersungkur, si pemuda lalu menancapkan benda pipih miliknya ke punggung pria kurus.
"Kita sudah dapat seoramg pemenang!" seru Nyonya Mary, beberapa pemain tampak kecewa, pemain yang menang tampak saling menyulang minuman.
"Terima kasih sudah berpartisipasi Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya." Nyonya Mary membungkuk memberi hormat pada para pemain.
"Kami yang harus berterima kasih Nyonya Grey! Sungguh permainan yang sangat menarik."
Para pengusaha kota Lovelock yang menjadi pemain tak berhati nurani itu kemudian memasuki ruang perjamuan yang telah di sediakan.
Lana menghampiri si pemenang.
"Berikan hadiahku, aku ingin pergi dari sini secepatnya," ujar si pemuda
"Kenapa terburu-buru? Kau belum menikmati hidangan penutupnya."
Lana memberi isyarat agar si pemuda mengikutinya, dengan ragu-ragu si pemuda mengikuti langkah Lana dari belakang. Salah seorang pemburu mendekati si pemuda, menusuknya dari belakang tanpa ragu lalu menyeret tubuh si pemuda ke salah satu ruangan.
Ternyata permainan ini tidak ada pemenangnya. Menang atau kalah mereka akan tetap mati. Aku mengikuti langkah sang pemburu, di dalam ruangan.
Beberapa orang sibuk mempreteli mayat para peserta. Aku terhenyak di tempat, apakah ini bisnis keluarga Grey sebenarnya?
Benarkah Forever Young Foundation berdiri kokoh di atas tumpukan tulang dan genangan darah para korbannya?
__ADS_1