
Akhirnya Ramona tersadar dari pingsan, aku segera menghampirinya.
"Dimana aku?" tanya Ramona
"Di salah satu ruang baseman rumah sakit." jawabku
Ramona berusaha menggerakkan kaki dan tangannya yang terikat.
"Mereka sudah mengobati lukamu tapi mereka menahanmu di sini."
"Maaf Ramona aku tidak bisa melepaskan ikatanmu, aku akan mencari jalan untuk menolongmu. Apa kau bisa bertahan?"
"Yah kakiku terasa perih tapi aku rasa aku bisa bertahan,"
"Baiklah aku akan mencari bantuan,"
"Laila, temukan adikku Sam. Dia bisa membantu kita,"
"Aku akan mencarinya tapi pertama aku harus membereskan ibu Peter, dia menginginkan matamu,"
"Baiklah Delilah, aku percaya padamu,"
"Kau ingin para hantu menjagamu?"
"Tidak! Aku lebih baik sendiri,"
"Yah aku pergi sekarang."
Aku dan beberapa hantu bergegas ke rumah Peter, sudah lewat tengah malam saat kami tiba di sana. Sepertinya Peter belum pulang, dokter Grey sedang berada di ruang kerjanya.
Kami segera memasuki kamar Nyonya Mary, dia tampak sedang tidur. Kami pun mulai beraksi, perlahan selimutnya di tarik beberapa kali membuat Nyonya Mary tidak tenang. Hantu yang lain berdiri dekat lemari, jendela dan pintu, memainkannya hingga menimbulkan suara-suara yang akhirnya membuat Nyonya Mary terbangun.
Beberapa sosok bayangan seolah perampok bergerak kesana kemari, dengan pandangan yang kabur Nyonya Mary berusaha melihat jelas siapa yang ada di dalam kamarnya.
"Siapa di sana?" Nyonya Mary bertanya sambil tak henti menggosok matanya.
"Grey? Peter? Apa itu kamu?" bayangan-bayangan itu tak menjawab, mereka hanya bergerak mendekati Nyonya Mary.
Perlahan dia menarik laci paling bawah di samping tempat tidur dan mengeluarkan sepucuk pistol.
"Berhenti di sana atau kutembak kau!" teriak Nyonya Mary tapi bayangan itu semakin mendekat, dia melepaskan tembakan pertama.
Dokter Grey yang mendengar suara tembakan bergegas ke kamar dan mendapati istrinya sedang menggenggam pistol.
__ADS_1
"Turunkan pistolmu!" tapi Nyonya Mary yang tidakĀ melihat jelas merasa itu adalah perintah dari para perampok, dia kembali melepaskan beberapa tembakan ke arah suara.
"Mary!" dokter Grey berteriak memanggil istrinya sebelum kemudian tubuhnya jatuh ke lantai dan perutnya mengeluarkan darah.
Beberapa asisten rumah tangga yang mendatangi kamar segera menghubungi Peter dan rumah sakit. Peter yang sedang dalam perjalanan pulang tiba lebih dulu.
"Apa yang terjadi?" asisten rumah tangganya hanya menunjuk ke dalam kamar.
"Peter kaukah itu?!" tanya Nyonya Mary
"Iya Mom, turunkan senjatamu. Ada apa ini?"
Peter masuk ke dalam kamar, memeriksa denyut nadi ayahnya yang sudah makin lemah. Dia membalik tubuh ayahnya, mereka sempat bertatapan beberapa detik saat akhirnya dokter Grey menghembuskan nafas terakhir. Peter berjalan menghampiri ibunya lalu meraih pistol di tangannya.
"Tadi ada beberapa orang masuk ke kamar Peter, mereka membuka lemariku, mencari sesuatu, mereka perampok Pet." Nyonya Mary berbicara dengan cepat karena panik.
Peter memberi perintah pada para asisten rumah tangga untuk mencari perampok yang di maksud ibunya tapi mereka tidak menemukan tanda-tanda ada yang menerobos masuk ke dalam rumah. Mayat dokter Grey sudah di bawa ke rumah sakit, polisi pun tidak menemukan adanya tanda-tanda kekerasan di tubuh dokter Grey, kejadian ini murni kecelakaan.
Seharian Peter sibuk mengurus pemakaman ayahnya, Nyonya Mary mengurung diri di kamar. Dia tak berhenti menangis dan mengutuk dirinya atas keteledoran yang telah merenggut nyawa suaminya, Lana yang menemani mencoba menenangkannya.
"Dia tidak seharusnya mati! Gara-gara mata sialan ini aku membunuh suamiku." ratapnya
"Tenangkan dirimu Nyonya Grey, kita akan melakukan operasinya segera setelah masa berkabungmu usai,"
"itu terlalu lama Lana!"
Mobil dari pemakaman tiba, peti yang berisi mayat dokter Grey di turunkan lalu di letakkan di tempat yang telah di siapkan di ruang tamu. Para tamu berdiri memberi hormat.
"Nyonya, mayat dokter Grey telah tiba, sebaiknya anda keluar." Lana membantu Nyonya Grey naik ke atas kursi roda.
Entah mengapa hati Nyonya Mary terasa gelisah, seperti ada sesuatu yang sedang mengancam keselamatannya. Yah itu karena sepanjang hari para hantu yang berkeliaran di rumah itu tak berhenti membisikkan hasutan-hasutan padanya.
Mereka membuatnya berpikir bahwa para tamu sedang membicarakan dirinya, menganggapnya sudah gila dan berbagai pikiran negatif lainnya. Sepanjang upacara pemakaman dia berusaha duduk dengan tenang, tapi Peter merasakan kegelisahan ibunya.
"Ada apa Mom?" bisik Peter
"Entahlah Pet, aku merasa tidak nyaman. Aku tahu mereka berbisik-bisik bercerita di belakangku,"
"Tidak Mom, itu tidak benar. Tidak ada yang berani melakukan itu."
Peter berusaha menenangkan ibunya tapi Nyonya Mary makin gusar, merasa anaknya sendiri tidak percaya padanya.
"Diam Pet! Aku tahu mereka semua munafik! Pura-pura baik di depanmu!" Nyonya Mary berteriak marah, memundurkan kursi rodanya menjauh.
__ADS_1
Teriakan dan tingkah Nyonya Mary jadi perhatian para tamu, membuat mereka saling pandang dan benar-benar mulai saling bisik.
"Lihat! Kau lihat sendiri Pet! Mereka mulai berbisik! Bergunjing tentangku!"
"Mom hentikan! Kau mempermalukan dirimu!" bentak Peter.
Beberapa orang anggota Peter mengejar Nyonya Mary yang makin menjauh dengan kursi rodanya. Peter merasa bingung dan marah melihat tingkah ibunya tapi juga khawatir karena tahu kondisi mata ibunya yang saat ini sudah parah. Sangat beresiko bila meninggalkannya sendiri.
Salah seorang anggota Peter berhasil mendapatkan Nyonya Mary tapi entah setan apa yang merasukinya, dia tiba-tiba meraih pistol yang terselip di pinggang anggota Peter yang tersembunyi di balik jas. Awalnya dia hanya melepaskan tembakan ke udara.
"Diam kalian!" teriaknya lalu mulai menembak ke arah para tamu.
Suasana pemakaman jadi kacau, anggota Peter yang berada di dekat Nyonya Mary hanya saling pandang kebingungan, apa yang harus di lakukan? Memukulnya sampai pingsan? Tapi ini ibu bos mereka.
Aku dan para hantu tertawa menyaksikan apa terjadi, sungguh kacau!
Aku kemudian teringat pada Ramona. Ah iya aku ingat! Aku harus segera menemui Samuel saudara Ramona. Aku bergegas ke apartemen Ramona, berharap bisa menemukan alamat Sam.
Setelah tiba di sana aku terkejut melihat kondisi apartemen Ramona yang berantakan, sepertinya seseorang telah menerobos masuk dan mencari sesuatu. Aku sedang memeriksa keadaan saat kudegar suara menggeram di belakangku, aku berbalik dan melihat seekor serigala besar berdiri di sana.
"Tenang Sam, ini aku Delilah teman Ramona. Kau ingat aku kan?" Aku berbicara sambil berjalan mundur, berharap Sam memberiku waktu untuk menjelaskan semuanya.
"Dasar hantu! Kalian semua tak bisa di percaya! Dimana kakakku?!" Sam menggeram menampakkan giginya yang tajam
"Dia di sekap di ruang baseman rumah sakit Lovelock Surgery Hospital, aku ke sini untuk mencari alamatmu. Aku butuh bantuanmu." Aku berbicara dengan cepat berharap Sam bisa mengerti yang kuucapkan.
"Kalau begitu tunggu apa lagi? Aku sudah di sini sekarang,"
"Baiklah, ikut aku."
Kami bergegas menuju rumah sakit, sepanjang jalan aku menjelaskan semua pada Sam. Aku berusaha membuatnya mengerti situasi yang sedang kami hadapi dalam waktu singkat, Sam hanya diam mendengarkan.
Setelah sampai di rumah sakit Sam kembali ke wujud manusia, mengikutiku menuju ruangan di mana Ramoba di sekap.
"Sam!" teriak Ramona, senang melihat adiknya. Sam segera melepaskan ikatan Ramona, membantunya untuk duduk.
"Jadi apa rencana kalian sekarang?" tanya Sam
"Bawa Ramona ke tempat yang aman, selanjutnya ...,"
"Selanjutnya kau bisa membantu Delilah, Sam."
Ramona melanjutkan kalimatku sambil mengedipkan sebelah matanya padaku. Yah tadi aku memang akan berkata seperti itu tapi aku segan pada Sam karena kami belum akrab.
__ADS_1
Tanpa buang waktu Sam segera menggendong kakaknya dan membawanya pergi entah kemana, aku belum ke tempat Peter, aku yakin saat ini dia sedang sibuk menjawab pertanyaan polisi akibat kekacauan tadi siang.
Aku berharap itu cukup memberiku waktu untuk mengumpulkan bukti-bukti, saat ini adalah momen yang tepat untuk mengahancurkan Peter karna dia sedang tidak fokus. Aku dan para hantu segera bergerak, saat Sam kembali semua sudah harus siap.