
"San, tolong jaga Rara. Entah ini pertanda baik atau buruk, tapi aku rasa sakitku ini ada hubungannya sama keselamatan Rara," kata Radit sambil memegang tangan Sandy.
"Iya, kamu ga perlu khawatir," jawab Sandy. Setelah itu, Sandy langsung keluar dari kamar Radit dirawat dan segera menghampiri Netra yang sedang mengobrol dengan Bunda Anna. Tidak terasa mereka sudah berada di wilayah parkir mobil. Mereka segera berpamitan dengan Bunda Anna dan segera masuk ke mobil.
*****
"Apa ya maksud Radit yang bilang kalo sakitnya ada hubungannya sama Rara," ucap Sandy dalam hati.
"Ra, kamu beneran ga kenapa-napa kan?" kata Sandy.
"Tadi Radit, sekarang kamu. Kalian berdua kenapa deh? Kan kalian bisa liat kalo aku baik-baik aja," jawab Netra.
"Oh iya San, aku jadi kepikiran deh, kan katanya Putri ada kemungkinan dibunuh ya karena kabarnya dia dibully. Aku penasaran, siapa pembullynya?" tanya Netra yang membuka obrolan.
"Setauku pembullynya kakak kelas," jawab Sandy singkat.
"Ih Sandy, yang lebih jelas dong, aku juga tau pasti yang bully itu kakak kelas. Maksudku tuh dia siapa? Dan sekarang kondisinya gimana? Apa dia masih ada di sekolah itu atau bagaimana lah pokoknya ceritakan saja," kata Netra mulai kesal dengan sikap Sandy yang seperti ini.
"Risa, anak kepala sekolah. Setelah kematian Putri, dia minta pindah ke luar negeri. Dia ga mau sekolah di sini, katanya ga mau ikut depresi sampe bunuh diri kayak Putri. Huh, padahal aku tau kalo dia ada di balik kematian Putri," kata Sandy.
"Apa? jadi Putri beneran dibunuh?" Netra kaget mendengar perkataan Sandy.
__ADS_1
"Huft, iya, rumor itu udah tersebar seminggu setelah kematian Putri. Ada orang yang mengaku melihat Risa di TKP," jelas Sandy.
"Hmm, tapi syukurlah kalo dia udah ga sekolah di sini. Walau aku ngerasa pembully masih banyak di sana, tapi aku yakin mereka itu sebenarnya baik. Mungkin aja mereka cuma iri sama yang dibully," kata Netra sambil tersenyum.
"Hmm" Sandy tersenyum melihat Netra yang seperti itu. Tidak lama akhirnya mereka sampai di depan rumah Netra.
"Makasih ya udah nganterin aku. Biar aku panggil nenek sekalian kamu pamit pulang," kata Netra sambil masuk ke dalam rumah.
"Nek, nenek?" panggil Netra sambil berkeliling mencari neneknya. Ia agak sedikit curiga karna melihat barang yang tidak tertata sebagaimana mestinya. Sesekali ia mengambil barang yang ada di lantai.
"Astaga nenek!" Netra langsung berlari ke neneknya yang terlihat sedang pingsan. Dari luar Sandy mendengar teriakan Netra dan langsung masuk ke dalam.
"Ra, ada apa?" tanya Sandy.
"Nek, kenapa jadi gini? Siapa yang udah lakuin ini ke nenek?" kata Netra sambil menangis.
"Ra, tenang dulu ya," kata Sandy.
"Kenapa semua ini terjadi? Kemarin Radit, sekarang nenek? Kenapa? Kenapa bisa semua ini terjadi di waktu yang berdekatan." Tangisan Netra semakin dalam. Tiba-tiba Sandy teringat ucapan Radit untuk menjaga Netra karna mungkin semua yang terjadi ada hubungannya dengan keselamatan Netra.
"Dit, kenapa kamu ga mau cerita sejujurnya yang terjadi sih. Aku benar-benar gatau benang merahnya dimana," batin Sandy.
__ADS_1
"Ra, sebentar lagi nenek pasti sadar kok. Kamu tenang aja ya." Sandy berusaha menenangkan Netra yang kini menangis semakin keras. Tak lama kemudia Nek Sari segera sadar dan Netra langsung memeluk neneknya itu.
"Nek, kenapa bisa gini? Siapa yang jahatin nenek sampe nenek pingsan begitu?" tanya Netra sambil menangis di pelukan neneknya.
"Loh kok Rara bisa mikir gitu? Nenek jatuh sendiri kok pas mau ngambil barang di atas lemari dapur," kata Nek Sari berusaha berbohong.
"Nek? beneran? Nenek ga bohong sama Rara kan?" Netra melepaskan pelukannya dan melihat ke arah nenek.
"Nenek beneran cuma terjatuh aja Ra. Rara ga perlu khawatirin nenek ya," kata Nek Sari sambil mengelus rambut Netra. Netra sadar neneknya itu menyembunyikan sesuatu darinya, tapi ia berusaha tidak berprasangka buruk ke neneknya itu.
"Eh ada Sandy juga ya, kalian baru pulang dari rumah sakit?" tanya Nek Sari yang melihat Sandy berdiri di samping kasurnya.
"Iya nek, tadi mau sekalian pamit. Terus denger Netra teriak tadi jadi ikut masuk dan ternyata nenek pingsan. Nenek bener baik-baik aja kan?" kata Sandy.
"Iya nenek gapapa kok," jawab Nek Sari.
"Oh iya hari udah semakin gelap, aku pamit pulang dulu ya nek, Ra," kata Sandy sambil pergi ke luar kamar.
"Rara temani Sandy sampe depan sana, kan ga sopan tamu disuruh pulang sendirian," kata Nek Sari.
"Iya nek, Rara ke depan dulu ya." Rara pergi ke luar untuk menemani Sandy sampai ia pulang.
__ADS_1
"Rara sepertinya mulai curiga."