The Other Side

The Other Side
Kembali Lagi


__ADS_3

Dua hari berlalu. Netra benar-benar tidak ingin bertemu dengan Radit atau Sandy. Ia belajar sendirian dengan sungguh-sungguh selama dua hari ini.


Tring..tring..


Nama Sandy terlihat di layar telepon. Ini ketiga kalinya handphone Netra berdering karena telepon dari Sandy. Netra sengaja tidak mengangkat telepon dari Sandy karena ia masih tidak siap menghadapi Sandy.


"Duh berisik banget sih. Tadi Radit yang dateng ke rumah sekarang Sandy nelponin terus. Huft. Biarin aja lah," kata Netra sambil melanjutkan belajar.


*****


"Ra, angkat dong. Aku bener-bener ngerasa bersalah banget," ucap Sandy sedih.


"Hmm, mungkin aku coba sekali lagi. Kalo ga diangkat juga aku bakal dateng ke rumahnya," ucapnya lagi sambil menelpon kembali Netra.


"Iya halo? Kenapa?" kata suara di seberang. Netra akhirnya mengangkat telepon dari Sandy.


"Ra.. aku..." kata-kata Sandy belum selesai namun Netra sudah menyelaknya.


"Iya aku udah maafin. Udah ya, mending kita fokus sama ujian yang tinggal sehari lagi. Good luck," kata Netra


"Ra..tung..."


Tut..tut.. Sambungan telepon terputus. Rara yang menutup telepon itu.


"Rara pasti marah berat ke aku. Dia ga pernah sedingin ini. Apa ini rasanya jadi Rara dan Radit menghadapi sikapku yang dingin selama ini. Huft ujian sebentar lagi tapi aku justru malah buat masalah. Huft," kata Sandy yang kebingungan sekarang harus berbuat apa.


Teng Nong..Teng Nong..

__ADS_1


Suara bel rumah Sandy berbunyi. Mbok Yati segera membukakan pintu rumah. Ternyata Radit yang datang. Ia langsung masuk ke dalam dan menuju ke kamar Sandy.


"Tok tok tok. Do you want to build a snowman?" kata Radit sambil menirukan adegan khas Anna di film Frozen.


"Huft. Masuk aja Dit," kata Sandy tidak berselera meladeni candaan Radit.


"Haha. Kau ini. Kenapa makin ga bersemangat gini sih. Dua hari kemaren teleponku direject. Dan sekarang giliran aku main ke sini malah dicuekin," kata Radit seperti seorang pacar yang posesif.


"Aku kepikiran Rara," kata Sandy singkat. Seketika suasana di antara mereka hening.


"Ah sudah, Rara bukan orang yang pendendam kok. Lagian kamu udah ketemu Rara emang? Udah coba hubungi dia?" kata Radit menghibur.


"Aku udah coba telepon dia dari kemaren tapi selalu direject. Tadi diangkat sih. Cuma dingin banget," kata Sandy .


"Ketulah, lagi sih reject telepon aku. Huh," kata Radit merajuk.


"Iya. Maaf. Aku ga bisa berpikir tenang Dit. Apalagi kamu tau kan sehari kita ujian dan pengumuman ujian masuk SMA Internasional Tunas Bangsa.. Aku ga bisa fokus." Sandy terlihat kebingungan.


"Mau kemana?" tanya Sandy.


"Udah ikut aja." Radit menarik tangan Sandy. Sandy hanya bisa pasrah dan ikut Radit.


"Loh, kok ke rumah Rara?" tanya Sandy.


"Kalian ini, kayak anak kecil. Masa cuma karna kejadian kecil kemaren, pertemanan kita dipertaruhin. Dan kamu Sandy, masa cuma berani minta maaf dari jauh. Sekarang samperin Rara dan minta maaf langsung," kata Radit mengomelinya seperti orang tua.


"Umm, Rara gaakan mau ketemu aku Dit," jawab Sandy.

__ADS_1


"Huft, oke tunggu," kata Radit sambil menuju pagar rumah Rara.


"Rara, kamu ada di rumah?" tanya Radit. Netra yang sedang berada di kamarnya mendengar Radit datang langsung bergegas keluar dan menemui Radit. Namun, ia tidak menyangka ternyata Radit mengajak Sandy. Sesaat ia melihat Sandy, ia langsung berbalik dan hendak kembali menutup pagar rumahnya.


"Ra, tunggu," cegah Sandy sambil memegang tangan Netra


"Kalian kenapa kesini? Seharusnya kalian mempersiapkan diri buat ujian besok kan," kata Netra dingin.


"Ra, aku minta maaf. Aku..." Netra langsung menyelak kata-kata Sandy sambil tetap memunggui mereka berdua.


"Aku udah bilang tadi kalo aku udah maafin kamu San." Tanpa disadari, air mata Netra mulai menggenang di matanya. Ia teringat kejadian hari itu. Bentakan Sandy membekas di ingatannya.


"Ra, liat aku. Liat ke sini," pintah Sandy.


"Mending sekarang kalian pulang dan pikirkan ujian kalian dulu," kata Netra yang masih menahan air matanya itu.


"Ra, dengerin dulu penjelasan Sandy," kata Radit.


"Ra, aku ga sengaja melakukan itu. Kejadian itu, seakan aku pernah merasakannya dan merasa pernah kehilangan sosok yang aku sayangi. Namun, aku ga ingat apa-apa tentang itu. Kejadian kemarin seolah membawa memori buruk yang bahkan ga pernah kuingat," kata Sandy yang sekarang berada di depan Netra.


"Mulai sekarang, kita berteman lagi ya," tambahnya. Air mata Netra mulai menetes. Tidak dapat dipungkiri bahwa ia memang tidak bisa bermusuhan lama dengan Sandy. Perasaan yang selalu nyaman saat berada di dekat kedua temannya tidak dapat ia rasakan selama dua hari kemarin.


"Iya. Ayo berteman lagi," kata Netra sambil mengusap kedua matanya.


"Radit, makasih ya, udah nyelametin pertemanan kita," kata Netra lagi.


"Apapun akan kulakukan buat ngejaga kamu Ra," ucap Radit dalam hati.

__ADS_1


"Iya. Nah karna aku udah berbuat baik sama kalian, traktir aku makan ya. Sekarang kita bakalan makan bareng beneran loh. Jangan ga jadi lagi kayak waktu itu hehe. Perutku udah lapar nih," kata Radit sambil menarik kedua tangan temannya itu.


"Iya," kata Netra dan Sandy berbarengan.


__ADS_2