
"Baiklah kalau begitu. Oh iya, semangat ya buat besok, semoga kita bisa menampilakan yang terbaik," kata Netra.
"Iya, semangat juga," kata Sandy.
*****
Hari upacara pengumuman kelulusan tiba. Upacara kelulusan itu diadakan di sebuah gedung megah dengan interior yang cukup mewah. Di dalamnya terlihat beberapa kursi berbaris rapi dan di sekelilingnya dipenuhi dengan stand makanan. Di bagian tengah terdapat karpet untuk setiap orang berjalan memasuki aula gedung itu. Aula gedung itu terlihat sudah setengah penuh.
Dua orang pria tampan berjalan melewati karpet itu. Semua pandangan tertuju pada mereka. Mereka bersinar layaknya dua orang putra mahkota yang dikelilingi oleh rakyatnya yang memujanya. Mereka adalah Radit dan Sandy, dua pria tampan yang menjadi primadona di sekolah ini. Jas berwarna dongker, kemeja putih dan dasi berwarna hitam membuat penampilan Sandy terlihat menawan dan kharismatik. Sedangkan jas berwarna merah hati, kemeja hitam dan dasi kupu-kupu membuat Radit terlihat imut dan menarik. Mereka akhirnya mendapatkan tempat duduk yang nyaman di bagian depan.
Tak lama berselang, seorang gadis cantik mengenakan gaun berwarna peach pink melewati karpet itu. Semua mata tertuju padanya. Semua merasa pangling dengan kecantikan yang tidak pernah ia tunjukkan sebelumnya. Gadis itu adalah Netra.
Netra mengenakan gaun peach pink yang pernah diberikan Bunda Anna dulu. Ia memang berniat ingin memakainya di hari spesial dan hari ini adalah hari spesial menurutnya. Dengan menggunakan sepatu berhak cukup tinggi, Netra terlihat sangat imut dan cantik. Warna gaun itu kontras dengan warna kulitnya. Rambutnya yang dibiarkan tergerai indah dan kalung pemberian ibunya dulu yang ia kenakan membuat penampilannya menjadi begitu sempurna.
"Kuharap tidak ada hal buruk yang terjadi di hari spesial ini," kata Netra dalam hati sambil memejamkan mata. Setelah itu ia melanjutkan mencari tempat duduk yang dirasa nyaman untuknya. Semua orang masih memandangnya kagum tidak terkecuali Sandy dan Radit. Mereka tertegun melihat kecantikan Netra.
"Ra, di sini saja," panggil seseorang dari arah depan. Orang itu adalah Radit. Netra segera berjalan ke arah sana. Radit dan Sandy memang sengaja menyisakan satu kursi di antara mereka untuk teman wanitanya itu. Tatapan yang tadinya kagum melihat Netra, sekarang berubah menjadi tatapan iri karena Netra bisa dekat dengan kedua pria tampan itu.
"Ra, kamu terlihat sangat cantik hari ini," kata Radit.
"Benarkah? Terima kasih," kata Netra.
"Iya, gaunnya cantik, riasan wajahmu juga natural menambah kecantikan alamimu," kata Radit lagi. Pujian Radit terdengar seperti gombalan bagi Netra.
"Dasar tukang gombal. Tapi terima kasih ya. Gaun ini dibelikan Bunda Anna dulu saat kita jalan-jalan setelah selesai ujian seleksi. Bunda Anna yang memilihkannya untukku. Dan riasan ini juga Bunda yang melakukannya," kata Netra.
"Selera Bunda memang sangat bagus, aku bangga menjadi anaknya," kata Radit.
"Dasar," kata Netra.
"Cantik, Ra. Seperti biasanya," kata Sandy.
Netra yang tidak terbiasa mendengar pujian dari Sandy langsung malu dan memerah pipinya.
"Umm, teman-teman, sepertinya aku harus ke kamar mandi dulu," kata Netra menahan malunya.
"Yaudah, Ra. Tapi jangan lama-lama, acaranya akan segera dimulai," kata Radit.
"Iya," kata Netra sambil pergi ke arah lorong yang menuju kamar mandi.
Di kursi tamu bagian belakang, terlihat ada Nenek Sari, Bunda Anna, Ayah Pras, Tante Sarah, dan Om Herman yang menghadiri acara ini, walaupun sebenarnya Sandy tidak menginginkan kedua orang tuanya itu datang. Baginya kedatangan kedua orang tua Radit sudah seperti kedatangan orang tuanya.
"Terima kasih, Anna. Raraku terlihat sangat cantik hari ini," kata Nek Sari.
"Itu semua memang kecantikan alami Rara, Nek. Ia memang begitu cantik, aku hanya memolesnya sedikit untuk menambah kecantikannya," kata Bunda Anna.
"Gaun yang kamu berikan juga sangat cocok dengan Rara. Ia memang sengaja ingin memakainya di hari yang spesial. Dan menurutnya hari inilah hari yang spesial," kata Nek Sari.
"Hari ini bertepatan dengan hari ulang tahunnya kan?" tanya Bunda Anna.
"Ya, dan nenek sudah menyiapkan hadiah yang spesial untuk Rara," jawab Nek Sari.
__ADS_1
"Radit dan Sandy juga sudah sibuk menyiapkan hadia dari kemarin untuk Rara. Semoga hari ini adalah hari yang baik untuknya," kata Bunda Anna.
Di perjalanan menuju kamar mandi, Rara menabrak seseorang berpakaian serba hitam di sana. Ia hanya meminta maaf dan meneruskan perjalannya ke kamar mandi. Ia masih terbayang wajah Sandy yang tadi memujinya. Bahagia rasanya.
"Eh tunggu, kenapa orang tadi berpakaian serba hitam di acara seperti ini ya? Bukankah harusnya memakai warna yang cukup cerah karena hari ini hari yang berbahagia," pikir Netra yang baru menyadari keanehan saat tiba di kamar mandi.
"Apa sebaiknya aku cari orang itu ya nanti setelah ke sana?" tanyanya pada dirinya sendiri.
Netra segera menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan segera kembali ke aula. Di sana dilihatnya Sandy sedang memberikan sambutan di atas panggung.
"Sandy terlihat selalu bersinar. Pasti sekarang ia menjadi perwakilan siswa-siswi kelas XI untuk sambutan karena peringkat teratas," pikir Netra yang melihat Sandy.
"Ah, harusnya aku mencari orang itu. Dimana ya dia? Seharusnya mudah mencarinya karena pakaiannya yang berbeda dari yang lain, tapi tidak ku sangka ternyata banyak juga pria yang mengenakan jas hitam yang membuatku sulit mencarinya. Ah iya, aku juga tadi tidak sadar apa dia pria atau wanita. Dari yang kuingat sih dia itu seorang wanita," batin Netra.
"Tunggu apa mungkin, itu dia," pikir Netra. Ia segera menuju ke kursinya dan menemui Radit di sana.
"Ah Netra, kamu melewatkan momen penting tadi. Sandy merupakan siswa dengan nilai ujian tertinggi loh, bahkan dari sekolah-sekolah lain. Sandy benar-benar mengangkat martabat sekolah ini. Pantas saja ia diperlakukan seperti pangeran di sini. Haha," kata Radit.
"Oh iya, wah Sandy memang hebat. Eh tunggu, bukan itu. Ada hal yang lebih penting," kata Netra.
"Apa yang lebih penting?" tanya Sandy yang tiba-tiba sudah ada di belakang Netra.
"Ini, ini gawat. Kita harus waspada. Tadi di perjalanan menuju kamar mandi aku menabrak orang dengan pakaian serba hitam. Itu ciri khas dari peneror kita kan, Tante Ira," kata Netra.
"Ra, di sini banyak sekali orang yang juga berpakaian serba hitam. Kamu seharusnya ga perlu begitu khawatir. Beberapa hari ini juga Tante Ira kan tidak pernah ada lagi," kata Radit.
"Tapi, apa salahnya kita berjaga-jaga kan," kata Netra.
"Ra, lebih baik kita pikirkan penampilan kita dulu ya," kata Radit lagi.
"Ra, tenang ya, tidak akan ada hal buruk yang terjadi padaku atau kalian," kata Sandy.
"Panggilan kepada perwakilan kelas untuk segera menuju sisi kanan panggung. Sekali lagi panggilan kepada setiap perwakilan kelas, silakan menuju sisi kanan panggung," kata MC acara tersebut.
"Yaampun aku demam panggu. Bagaimana ini?" kata Netra.
"Dasar kau ini, sudah tenang saja. Lebih baik kita bertiga segera ke sana ya," kata Radit.
"Iya," kata Netra.
Sesampainya di sana sudah ada beberapa orang lainnya yang menunggu, tidak terkecuali Tari yang sedang duduk manis sambil mendengarkan musik di ponselnya.
"Halo Tari," sapa Netra.
"Oh, hai Rara, Radit, Sandy. Kalian baru sampai?" tanya Tari yang melepas headsetnya.
"Iya," jawab Sandy.
Netra segera duduk di samping Tari disusul dengan Radit kemudian Sandy. Sebenarnya Netra sengaja duduk di sebelah Tari karena tidak mau Sandy yang duduk di tempat itu.
"Kau sudah siap, Ri?" tanya Radit.
"Ah aku sangat gugup, sepertinya aku akan mengacaukan panggung ini," kata Tari.
"Tidak perlu gugup, Sandy yang akan menyempurnakan penampilanmu," kata Radit lagi.
"Oke, karena sambutan dari kepala sekolah telah selesai, sekarang kita masuk ke acara yang ditunggu-tunggu. Apalagi kalau bukan, penampilan dari setiap perwakilan kelas," kata MC.
__ADS_1
"Ya, kita akan mulai dari kelas VII A ya, kira-kira siapa perwakilan dari kelas VII A?" tanya MC lainnya ke audience.
Audience menjadi ramai mengucapkan nama yang akan menjadi perwakilan kelas VII A. MC segera mempersilakan perwakilan kelasnya untuk maju dan menujukkan penampilannya.
Beberapa kelas telah tampil di acara ini. Mereka menampilkan berbagai macam hal. Ada yang melakukan tarian, nyanyian, drama, berpuisi, bahkan sulap. Netra yang melihat kehebatan siswa siswi di sini menjadi sangat pesimis.
"Walaupun mereka adik kelasku, mereka semua sangat hebat ya," pikir Netra.
"Ya, sekarang kita beralih ke kelas IX A, siapa perwakilan dari kelas IX A, apakah ada yang tau?" tanya MC lagi ke audience.
"Kita panggil saja ya perwakilannya ke atas panggung. Ya kita panggil, Sandy dan Tari untuk naik ke atas panggung," kata MC lainnya.
Sontak audience semakin ramai bersorak karena melihat ketampanan Sandy. Selain pintar dalam dunia akademis, Sandy juga sangat lihat memainkan pianonya. Audience yang mendengarkan suara Tari yang lembut diiringi dengan irama piano Sandy yang hangat menjadi tersentuh hatinya. Mereka hanyut dalam penampilan keduanya.
"Tiba-tiba perasaanku tidak enak, apa yang akan terjadi ya," batin Netra.
"Lihat lurus ke arah samping kananmu," kata suara misterius yang sering Netra dengan. Ia segera menoleh ke arah kanan dan melihat sosok serba hitam itu tengah mengeluarkan senjata seperti pistol dan mengarahkan ke Sandy yang sedang membungkukan badannya ke audience sebagai akhir dari penampilannya.
"SANDYY..." Netra segera menuju ke arah Sandy dan melindunginya.
DOR!!
Terdengar suara tembakan dari arah belakang aula.
Radit yang melihat pelaku segera mengejarnya. Sedangkan Sandy menopang Netra yang jatuh ke dirinya. Gaun cantik berwarna peach pink itu seketika berubah menjadi wana merah darah. Darah segar segera keluar dari sisi kiri tubuhnya. Semua yang berada di sana kaget dan tidak percaya dengan apa yang mereka lihat.
"Kalian semua lihat apa? Telepon ambulance sekarang," Perintah Sandy yang kaget dengan apa yang terjadi.
"Sandy, kau kau sudah janji untuk baik-baik saja, tepati janjimu ya," Setelah berbicara hal itu, Netra langsung tidak sadarkan diri.
Nenek Sari, Bunda Anna, Om Pras, Tante Sarah dan Om Herman yang melihat kejadian itu segera ke atas panggung. Radit kembali dan melihat Netra yang sudah tidak sadarkan diri. Semua orang yang ada di sana menangisi Netra.
"Ra, kenapa kamu melindungiku?" tanya Sandy sambil menangis.
"Kenapa kau bersikap bodoh dengan membahayakan nyawamu untuk membantuku?" Sandy semakin emosional.
"Sandy tenang ya, Bunda sudah telepon ambulans untuk datang kesini. Pasti sebentar lagi akan datang," kata Bunda Anna.
"Bodoh, bodoh, bodoh. Seharusnya tadi kita benar-benar percaya perkataan Netra," kata Radit yang juga menjadi emosional.
Tidak lama kemudian ambulans datang dan membawa Netra ke rumah Sakit. Nenek Sari ikut Netra dalam ambulans itu, sedangkan yang lainnya pergi dengan mobil.
"Aku dimana?" tanya Netra yang melihat kegelapan di seelilingnya.
"Maafkan aku tidak bisa melindungimu," kata suara itu.
[Season 1 selesai]
Terima kasih untuk seluruh pembaca The Other Side yang mengikuti cerita ini sampai Season 1 berakhir.
Ditunggu kehadiran The Other Side Season 2 ya😊
__ADS_1