The Other Side

The Other Side
Bermain


__ADS_3

Bunda Anna mengajak Netra ke butik langganannya. Banyak sekali pakaian yang Bunda Anna rekomendasikan ke Netra. Bahkan tidak jarang Bunda Anna meminta Netra untuk mencoba pakaian tersebut. Memang selera Bunda Anna cukup bagus menurut Netra. Tapi tidak mungkin ia memborong semua pakaian yang dipilihkan untuknya. Akhirnya, Netra memilih satu dress cantik berwarna peach. Warna yang kontras dengan warna kulit Netra yang kuning langsat.


*****


"Loh Rara kok malah minta dibungkus? Gamau dipake langsung aja?" tanya Bunda Anna yang melihat Rara meminta pegawai toko untuk membungkus pakaiannya.


"Gausah bunda. Ini nanti Rara pake di acara spesial aja hehe," kata Netra.


"Ya udah kalo gitu. Ah iya Rara abis ini kita ke toko make up ya, kebetulan make up bunda udah mah abis nih. Rara juga mau beli?" tanya Bunda Anna.


"Um bunda, sebenernya Rara belom pernah pake make up. Paling biasanya cuma pake bedak bayi sama lip balm aja biar bibirnya ga kering," kata Netra yang terlihat sedikit malu.


"Serius Ra, tapi kalo diliat emang muka kamu udah cantik alami sih jadi ga perlu banyak polesan ya," kata Bunda Anna sambil memegang wajah Netra.


"Bunda memujinya terlalu berlebihan nih. Hehe. Bunda terlihat lebih cantik kok dari Rara," kata Netra yang tersipu malu.


"Oke Ra, tapi biar bunda belikan bedak yang umum aja ya, dengan lip balm yang biasa Rara pakai. Sekalian bunda belikan lip mate, serum, toner, sabun cuci muka yang biasa Rara pakai, ..." Kata-kata Bunda Anna terpotong.


"Ah bunda. Rara sangat berterima kasih karna bunda baik banget sama Rara. Umm, tapi sepertinya Rara belum butuh itu semua bunda," kata Rara pelan.


"Ah Rara maafin bunda. Rara risih ya sama sikap bunda tadi. Maaf ya Ra, ini karna bunda baru kali ini seperti punya anak perempuan, selama ini bunda hanya punya Radit dan Sandy. Bunda berlebihan ya," kata Bunda Anna sedih.


"Ah bunda maaf, Rara ga bermaksud menyinggung bunda." Rara merasa tidak enak ke Bunda Anna.


"Ah sudah, ga apa. Yuk kita pergi. Rara masih mau temani bunda kan?" kata Bunda Anna.

__ADS_1


"Iya bunda. Yuk," kata Rara.


Di sisi lain..


"Ayo San, tembak di sana. Itu, itu. Tembak," kata Radit sambil bermain dengan Sandy dan ayahnya.


"Kalian pasti ga bisa ngalahin ayah," kata Ayah Radit.


"Ah ngga, mana mungkin Sandy kalah dari ayah," kata Radit.


"Yes strike," kata Sandy yang menang dari ayahnya Radit.


"Haah. Padahal ayah dulu paling jago main di sini. Ayah sering loh main di tempat ini dengan sahabat ayah," lata Ayah Radit.


"Ya iya lah, temen ayah itu kecelakaan waktu kamu masih kecil. Kamu pasti inget waktu kecil ada temen ayah yang sering datang ke rumah dan ngasih kamu permen," kata ayahnya.


"Umm, ah iya Radit inget. Om yang baik banget itu. Kasihan sekali om itu kecelakaan," kata Radit.


"Dia juga punya anak, perempuan. Ah ayah lupa nama anaknya. Mungkin dia seumuran kalian. Ayah cuma pernah ketemu anaknya beberapa kali waktu ke rumah teman ayah itu." Ayah Radit mulai cerita tentang temannya itu. Radit dan Sandy hanya mendengarkan ceritanya. Mereka sepertinya sudah lelah bermain dan akhirnya mencari tempat duduk.


"Kalian haus? Biar ayah carikan minum," kata ayah Radit.


"Biar Sandy aja yang cari minum om, om duduk aja sama Radit," kata Sandy. Sandy segera pergi mencari gerai minuman dekat sana.


"Itu dia." Sandy langsung masuk ke salah satu gerai minuman itu.

__ADS_1


"Saya pesan cappuci .." Suara Sandy tiba-tiba terhenti ketika melihat seseorang di depannya. Orang yang tidak pernah ingin ia temui.


"Sandy!" panggil orang itu.


"Maaf saya ga jadi pesen. Permisi," kata Sandy sambil pergi meninggalkan gerai toko itu.


"Apa-apaan ini. Kenapa? Kenapa dia ada di sini? Dia udah janji mau pergi jauh dari sini, tapi kenapa? Kenapa sekarang ada di sini?" umpat Sandy sambil terus kembali ke tempat Radit.


"Loh Sandy, ada apa? Kenapa ga jadi beli minuman?" tanya ayah Radit.


"Maaf om, tadi ada sedikit masalah. Umm mungkin lebih baik kita jemput Netra dan Bunda Anna. Mungkin mereka sudah selesai berbelanja," kata Sandy dengan napas yang masing tersenggal-senggal.


"Biar om telpon dulu." Ayah Radit mengeluarkan hapenya dan langsung menelpon Bunda Anna.


"Iya halo yah?" kata Bunda Anna.


"Udah selesai?" tanya Ayah Radit.


"Belum, kalian tunggu di sana aja ya. Tempat parkir kan juga di sana, biar gausah bolak balik nanti pulangnya," jawab Bunda Anna dan langsung mematikan telponnya.


"Haah, begitulah wanita. Kalo udah belanja ga bisa berhenti," kata ayah Radit.


"Hoaam.. cari lobby tunggu aja deh, mungkin bisa sekalian tiduran," kata Radit sambil menguap.


"Iya kita tunggu di lobby tunggu aja deh," kata Sandy.

__ADS_1


__ADS_2