
"Hei, biarin aja kamu ya. Nanti kalo jatuh cinta sama cewe baru kamu bisa rasain apa yang ayah rasain. Baru tau rasa kamu," kata ayahnya sebal.
*****
Tring..tring.. Hape ayah Radit berbunyi. Nama Bunda Anna terlihat di layar dan ia langsung mengangkatnya.
"Ayah dimana? Ini bunda udah selesai yuk kita pulang." Suara Bunda Anna dari seberang.
"Ayah di cafe biasa," kata Ayah Radit.
"Oke bunda ke sana ya, pesenin yang biasa dong buat bunda sama Rara. Nanti di take away aja. Udah sore banget soalnya," kata Bunda Anna.
"Oke bos." Ayah Radit menutup teleponnya.
"Mereka baru kelar? Kok mereka kuat ya berjam-jam keliling gitu. Huh kalo aku rasanya pegel banget pengen lepas kaki," kata Radit.
"Ya gitu deh wanita," kata ayah Radit sambil memanggil pelayan untuk memesan minuman untuk Bunda Anna dan Netra. Tidak lama kemudian Bunda Anna masuk dengan Netra sambil membawa banyak tas belanja.
"Bunda beli apa aja sampe berjam-jam gini," kata Radit yang kelepasan berteriak. Orang di dalam cafe langsung melirik ke arah mereka.
"Hush. Nih," kata Bunda Anna sambil menyodorkan tas belanja ke Radit.
"Ini juga buat Sandy." Bunda Anna juga menyodorkan tas belanja ke Sandy.
"Makasih bunda. Tapi ini apa?" tanya Sandy.
__ADS_1
"Titipan Rara," kata Bunda Anna.
"Bunda..." kata Netra lirih.
"Eh, maaf Ra. Duh bunda keceplosan nih," kata Bunda Anna yang jadi tidak enak ke Netra.
"Umm, itu tadi aku cuma pengen ngasih hadiah aja buat kalian, selama ini kan kalian selalu baik sama aku," kaata Netra pelan.
"Rara lucu sekali ya," kata Radit sambil membuka hadiah dari Netra.
"Ra ini bagus banget. Makasih ya," kata Radit melihat hadiah yang diberikan Netra ternyata hodie warna hitam. Saat itu juga ia langsung memakai hodie pemberian Netra.
"Pas banget. Kamu pinter milihnya," kata Radit yang masih excited.
"Sandy ga diliat hadiahnya?" tanya Bunda Anna.
"Rara makasih ya udah nemenin bunda shopping," kata Bunda Anna dari dalam mobil.
"Iya makasih juga bunda udah ngajak Rara jalan-jalan," kata Netra senang.
"Makasih Ra, aku bakal selalu pake hodienya," kata Radit sambil menunjukan love sign.
"Haha Radit." Netra melambaikan tangannya sesaat ketika kaca mobil Radit dinaikan. Dan saat itu Radit merasakan apa yang dirasakan ayahnya.
*****
__ADS_1
Sementara itu di rumah Sandy..
"Loh kirain sama," gumam Sandy.
Kayaknya kamu cocok pake ini. Semoga kamu suka sama hadiah ku ya ^v^
Ini juga biar kamu ga telat lagi kalo ga ada Radit ^.^
"Dasar anak itu," kata Radit sambil tersenyum kecil. Ia membuka kotak jam tangan itu dan memakainya.
"Ternyata seleranya lumayan."
Di rumah, Netra memikirkan apa Sandy suka dengan hadiah darinya. Ia juga sempat khawatir Sandy tadi membuka hadiah darinya di depan banyak orang. Namun ternyata feelingnya benar, untungnya Sandy tidak membuka hadiahnya saat itu juga atau Netra pasti akan malu sekali.
FLASBACK
"Bunda, apa ga sebaiknya kita belikan buat Sandy dan Radit juga. Kesian mereka udah nungguin kita," kata Netra.
"Boleh. Biar bunda belikan," kata Bunda Anna.
"Umm, tapi bunda, boleh ga Rara aja yang bayar. Soalnya Rara pengen ngasih hadiah buat mereka berdua karna udah mau temenan sama Rara. Boleh ya bunda?" Netra memohon ke Bunda Anna.
"Iya gapapa kok. Rara pilih aja ya, bunda mau ke sana dulu," kata Bunda Anna sambil menunjuk koleksi pakaian.
"Ini kayaknya cocok buat Radit. Buat Sandy.. Umm aku coba cari hadiah lain deh," gumam Netra sambil berkeliling.
__ADS_1
"Ah aku ada ide." Netra mengeluarkan sticky notes dan pulpen dari tasnya. Ia mengingat kejadian waktu pertama kali ia terlambat bersama Sandy. Entah mengapa sejak saat itu perasaan Netra ke Sandy semakin tumbuh. Netra sudah tau apa yang harus ia hadiahkan untuk Sandy.