
"Kamu pasti bisa kok, bagaimana kalo kita belajar bersama untuk tes masuknya?" Radit menyampaikan idenya semata-mata hanya agar Netra tidam kehilangan harapannya.
"Iya? Benarkah kita bisa belajar bersama?" Netra mulai kegirangan.
"Setuju kan San?" tanya Radit ke Sandy yang masih asik merapihkan dokumen-dokumen teman sekelasnya.
"Iya," kata Sandy. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan jadwal belajar bersama untuk menghadapi tes masuk sekolah tersebut sekaligus ujian nasional di sekolahnya.
*****
Beberapa bulan berlalu dan tidak terasa ujian masuk ke sekolah internasional itu sudah tinggal sebulan lagi. Netra, Sandy, dan Radit sudah mempersiapkan hal itu dengan matang selama mereka belajar kelompok. Netra sudah memantapkan pilihannya untuk masuk di kelas bahasa, Sandy sudah pasti ia akan masuk ke MIPA, dan Radit ia juga akan masuk ke kelas bahasa demi perjanjiannya. Sebenarnya Sandy merasa aneh karna Radit tiba-tiba berubah haluan. Sepanjang pertemanannya, ia tau bahwa Radit memiliki bakat di bidang MIPA, tapi kenapa sekarang ia harus berpindah haluan mengikuti Netra.
"Dit, kau yakin dengan pilihanmu? Ujian masuk kita tinggal sebulan lagi, bahkan aku yakin nilai ujian masukmu akan bisa menyelamatkanmu dan masuk ke kelas MIPA," kata Sandy. Radit benar-benar tidak menceritakan tentang perjanjiannya dengan sosok malam itu pada siapa pun. Bahkan ia tidak pernah cerita tentang penyebab sakitnya ke pada Sandy atau Netra. Sewaktu ditanya oleh Sandy dulu, ia hanya menjawab bahwa ia sakit karna kelelahan dan kurang makan.
"Dit? Ada yang kamu sembunyiin?" tanya Sandy yang mulai curiga dengan Radit. Radit masih diam. Di sana hanya ada Radit dan Sandy karena Netra kebetulan sedang ke toilet. Radit tidak bisa lebih lama lagi membohongi sahabatnya itu. Ia merasa sangat bersalah karna sudah menutupi hal tersebut dari sahabatnya.
__ADS_1
"Sebenarnya .." Omongan Radit tercekat karena kehadiran Netra yang tiba-tiba.
"Hayo, kalian pasti lagi ngomongin aku kann," kata Netra sambil mengagetkan mereka berdua.
"Huft, mungkin bukan hari ini," pikir Radit.
"Ngga," kata Sandy.
"Dingin banget." Netra menjawab dengan ketus.
"Oh iya Dit, kamu udah nentuin mau masuk kelas apa?" tanya Netra yang mendekati Radit.
"Ih yang bener. Masa masuk kelas yang sama denganku sih." Kata Netra sambil mencubit tangan Radit.
"Aw, ih Ra apa sih mainnya cubit-cubit. Sakit tau," kata Radit.
__ADS_1
"Makanya jawab yang serius." Netra mulai kesal dengan Radit.
"Aku serius. Untuk ujian masuk nanti aku bakal pilih kelas bahasa. Lagipula tipe soal kelas bahasa, sosial, dan MIPA akan sama," jawab Radit santai. Memang tipe soal untuk berbagai kelas akan sama, sistem akan menilai dan mengurutkan berdasarkan kelas yang dipilih oleh penjawab.
"Tapi tetep aja, nilai kamu lebih cocok masuk ke kelas MIPA. High class kayak Sandy. Kelas bahasa dan kelas sosial kan kastanya di bawah kelas MIPA." Sesaat setelah Netra berbicara itu, Sandy langsung melirik ke arahnya.
"Ra, di dunia pendidikan mana ada kasta begitu. Jangan mengarang." Sandy menyela.
"Tuh, dengerin Sandy Ra. Semua kelas tuh setara, ga ada yang lebih tinggi atau lebih rendah," kata Radit menceramahi Netra.
"Ih, iya iya deh. Aku ngaku kalah. Tapi aku masih butuh penjelasan nih Dit. Kenapa sih tiba-tiba pindah haluan gitu?" kata Netra sambil menyilangkan tangannya.
"Haha, kalian berdua ini kenapa sama sih. Aku mau masuk kelas bahasa ya karena aku suka, ga ada maksud lain. Kamu pasti tau kan San, aku suka mempelajari bahasa." Tidak dapat dipungkiri Radit memang sering dan suka mempelajari bahasa. Sampai saat ini, Radit bahkan bisa berbicara dalam 3 bahasa selain bahasa indonesia, yakni bahasa inggris, bahasa jerman, dan bahasa arab.
"Huft, iya iya deh kalo gitu. Sandy pasti cuma cemburu aja kalo nanti kamu barengnya sama aku. Haha. Secara kalian ini kan udah saling menempel satu sama lain." Perkataan Netra membuat Radit ikut tertawa. Sedangkan Sandy hanya melirik dingin ke arah mereka berdua.
__ADS_1
"Jangan cemburu ya, hatiku cuma untukmu," kata Radit sambil menunjukkan love sign ke Sandy.
"Huft." Sandy hanya bisa menghela napas melihat kelakuan sahabatnya yang semakin menjadi-jadi.