
"Hahaha, akhirnya datang juga. Apa kamu kekasih Sandy?" tanya seseorang itu.
"Jangan apa-apakan temanku," kata Netra. Mendengar suara Netra, Sandy akhirnya sadarkan diri. Radit yang melihat itu segera mengendap menyelamatkan Sandy. Namun, tiba-tiba...
*****
"Jangan kira aku tidak tahu rencana murahanmu bocah," kata orang itu sambil menodongkan pisau ke leher Radit.
"Radit," teriak Netra.
"Ah, kepalaku," Netra memegang kepalanya. Di sekelilingnya langsung menggelap.
"Ah, aku dimana?" tanya Netra yang kebingungan.
"Di sini sangat gelap, kenapa aku bisa ada di sini?" Netra semakin kebingungan. Ia hanya berkeliling di sekitarnya. Tidak ada apapun yang bisa dia lihat.
"Ah tunggu, sepertinya tadi aku mendengar suara, siapa di sana?" tanya Netra.
"Kamu akan selalu baik-baik saja, aku akan menjagamu. Aku pastikan itu," kata suara itu.
"Siapa kamu?" tanya Netra.
"Kamu akan tau siapa aku," Seketika suara itu menghilang.
"Rara? Kamu gapapa, Ra?" Itu suara Radit.
"Radit, dimana Sandy?" tanya Netra yang sudah sadar dimana dia sekarang.
"Dia perlu perawatan karna pisau yang tadi digunakan untuk menodongku mengenai lengannya," kata Radit. Netra baru menyadari bahwa ia sedang berada di rumah sakit.
"Siapa orang itu, Dit? Apa kamu mengetahuinya?" tanya Netra.
__ADS_1
"Orang itu, sempat kabur, aku masih belum mengetahui identitasnya. Namun, aku bisa mengenali dari suaranya. Itu sangat mirip dengan Tante Ira," kata Radit.
"Bukankah, kata kalian Tante Ira itu sudah tiada? Tidak mungkin bagi orang meninggal untuk hidup lagi bukan?" tanya Netra.
"Iya, aku tau. Aku juga tidak ingin mempercayainya. Tapi, ini, aku benar-benar merasa deja vu. Dia sangat mirip dengan sosok Tante Ira," kata Radit lagi.
"Dit, sebaiknya kita temui Sandy dulu. Aku ingin tau bagaimana kondisinya," kata Netra.
"Iya, dia ada di ruangan sebelah. Aku tadi pagi sudah mengunjunginya tapi dia masih tidak sadarkan diri," kata Radit.
"Kata dokter, luka di lengannya sangat dalam. Ia baru saja mendapat jahitannya semalam," katanya lagi.
"Oh iya, tadi Bunda dan nenekmu sempat ke sini, tapi tadi kamu masih belum sadar jadi mereka pergi lagi. Setelah aku ceritakan semuanya ke Bunda, ia sudah membulatkan tekad untuk mencari siapa orang itu," lanjutnya.
"Radit, terima kasih untuk semuanya, kamu jadi harus menjaga dua orang. Maafkan aku tidak membantu apa-apa," kata Netra yang menyadari dirinya hanya menyusahkan Radit.
"Sebagai gantinya kau harus mau traktir makan ya, hihi," kata Radit.
"Iya, iya deh, yaudah yuk ke tempat Sandy. Sini kubantu berdiri," kata Radit.
"Aku bukan anak kecil, aku bisa sendiri," kata Netra sambil menurunkan kedua kakinya dari kasur rumah sakit.
"Ya sudahlah," kata Radit.
Netra berjalan ke ruangan Radit. Namun, dari luar kaca terlihat pemandangan yang tidak ingin dilihatnya. Tari ada di sana, di samping Sandy, menunggu Sandy sadar.
"Ra, kok berhenti?" tanya Radit.
"Kamu masuk duluan aja, Dit. Aku ingin ke kamar mandi dulu," kata Netra. Radit melihat ke dalam dan seolah tau apa yang terjadi pada Netra. Netra kembali masuk ke ruangannya dan duduk di kasurnya.
"Aku, ga boleh seperti ini. Ini kekanak-kanakan. Lagipula, Sandy hanyalah teman baikku," kata Netra menahan sesaknya.
__ADS_1
"Dit, kok sendiri? Rara mana?" tanya Tari.
"Oh, tadi dia bilang mau ke kamar mandi dulu, Tar," kata Radit.
"Riri aja, kamu kayak baru kenal aku aja," kata Tari.
"Kapan Sandy akan sadar ya?" tanyanya lagi.
"Ya mungkin sebentar lagi. Kata dokter kondisinya udah mulai membaik kok," kata Radit.
"Oh iya, aku ga bisa berlama-lama, Dit. Aku titip salam ke Rara ya," kata Tari sambil bersiap-siap pergi.
"Oke," kata Radit. Tari keluar dari ruangan dan pergi. Tidak lama kemudian, Netra masuk ke ruangan itu.
"Loh, Tari kemana?" tanya Netra yang tidak melihat Tari.
"Oh tadi dia pergi duluan, dia nitip salam ke kamu," kata Radit.
"Oh begitu," kata Netra sambil duduk di seberang Radit.
"Umm, Ra, aku mau nanya sesuatu," kata Radit.
"Apa?" tanya Netra.
"Kamu..." Radit memotong kata-katanya. Netra sudah serius mendengarkan.
"Kamu belum mandi ya?" tanya Radit.
"RADITT..." teriak Netra.
"Haha, bau nih. Gimana Sandy mau sadar kalo ada bau begini," Radit tertawa.
__ADS_1
"Huh, aku ga mau ngomong sama kamu lagi," kata Netra sambil membelakangi Radit.