
Halo semua👋
The Other Side hadir kembali nih dengan cerita yang lebih menegangkan😲
Selamat Membaca😊
*****
Semua orang terlihat berpakaian hitam-hitam. Mereka menangis. Terlihat Radit, Sandy, Bunda Anna, Ayah Pras, Nenek Sari, dan kedua orang tua Sandy di sana. Mereka semua sedang berduka karena ditinggal oleh seseorang yang mereka sayangi. Di batu nisan itu terukir nama Netra Ayu Permata.
Tidak ada yang menyangka Netra akan pergi secepat ini meninggalkan mereka semua. Penyesalan terbersar dalam hidup Radit dan Sandy adalah tidak mempercayainya hingga akhir hidupnya. Netra yang tewas secara tragis ini meninggalkan luka terdalam bagi banyak orang, terutama Sandy.
Netra memang masih bisa diselamatkan ketika dibawa ke rumah sakit. Namun, takdir berkata lain, Netra harus pergi selamanya meninggalkan mereka semua.
"Ra, harusnya aku yang ada di sini, Ra. Kenapa? Kenapa menyelamatkanku?" kata Sandy yang tidak bisa menahan tangisnya. Baru kali ini mereka melihat Sandy sesedih ini. Tante Sarah, mamanya Sandy merasa hal yang sama terjadi ketika ayah Sandy meninggal dunia.
"Seharusnya dulu aku tidak bertindak kasar dengan Rara, dia pasti tidak ingat apa yang terjadi dulu. Bahkan dia seperti tidak mengenaliku," kata Tante Sarah dalam hati.
"Sandy, kamu ga boleh menyalahkan diri kamu terus menerus seperti ini, Rara mengorbankan nyawanya untukmu pasti ada alasannya," kata Bunda Anna mencoba menenangkan Sandy.
"Seandainya saat itu aku tetap berhati-hati seperti yang Rara bilang, mungkin saja kami masih bersama," kata Sandy lagi.
"Pasti ada alasan mengapa Rara menyelamatkanmu. Setidaknya, hiduplah dengan baik demi Rara," kata Bunda Anna lagi.
Radit yang melihat hal itu merasakan kepedihan yang sama dengan yang dirasakan Radit. Saat itu dirinyalah yang paling menentang omongan Netra. Ia tidak dapat menyangkal jika ia juga termasuk bagian dari kematian Netra. Jika ia sedikit menurut pada Netra, mungkin hal ini tidak akan terjadi.
"Sandy, sebaiknya kamu ikut mama dan ayah ke luar negeri. Melihat apa yang menimpa Rara, mama tidak bisa membiarkan kamu sendiri di sini," kata Tante Sarah.
"Apa? Setelah aku membunuh Rara secara tidak langsung, Mama ingin aku kabur dari sini? Mama keterlaluan," kata Sandy.
"Sandy, mama hanya tidak ingin membahayakan keselamatanmu," kata Tante Sarah lagi.
"Sampai kapan pun, Sandy ga akan pernah ikut mama," kata Sandy.
"Sarah, aku akan menjaga Sandy, kamu tidak perlu mengkhawatirkannya. Sandy sudah seperti anakku sendiri," kata Bunda Anna mencoba melerai pertengkaran antara ibu dan anak ini.
__ADS_1
"Sudahlah, Ma, kita lebih baik atur kepulangan kita ke Amerika. Sampai kapan pun, anakmu itu ga akan pernah mau ikut denganmu," kata Om Herman yang akhirnya bersuara.
"Mengapa anaknya Tante Ira sangat benci ke Sandy, padahal ayahnya sama sekali tidak menyayangi Sandy. Aku juga yakin pasti dia meninggalkan Tante Ira dan tidak peduli ke anaknya," gumam Radit.
"Kamu berbicara tadi?" tanya ayahnya Radit.
"Ngga kok, Yah. Radit hanya sedih karena Radit, Rara harus jadi seperti ini," kata Radit.
"Sudahlah, nenek tau maksud baik Rara. Kalian tidak perlu menyalahkan diri kalian sendiri," kata Nenek Sari.
"Nek, kalo nenek kesepian, Radit dan Sandy akan menemani nenek di rumah nenek ya," kata Radit.
"Nenek akan baik-baik saja," kata Nenek Sari.
"Lebih baik kita pulang sekarang, pelayat yang lain juga sudah pulang dari tadi, hanya kita yang masih disini," katanya lagi.
"Baiklah, Nek," kata Bunda Anna.
Sandy memutuskan untuk ikut di mobil Radit dan meninggalkan kedua orang tuanya. Ia berharap kedua orang tuanya segera pergi dari sana sehingga ia tidak perlu bertemu mereka lagi di rumahnya.
"Maafkan Sandy, Nek. Karena Sandy, Nenek harus kehilangan cucu satu-satunya Nenek," kata Sandy.
"Tidak apa, anak itu memang selalu menjadi prioritas nenek, tapi sekarang nenek hanya akan menjalani hidup seorang diri, Nenek hanya perlu memikirkan kehidupan Nenek sekarang," kata Nek Sari.
"Nek, nenek ga sendiri, Radit dan Sandy akan temani nenek kok," kata Radit.
"Kalian memang anak baik. Rara sungguh beruntung memiliki teman seperti kalian," kata Nek Sari.
Tidak lama mereka sampai di rumah Netra. Nenek Sari turun dan berterimakasih kepada mereka semua. Ia memang masih dalam suasana berkabung, namun ia harus memastikan soal kematian Netra dan siapa orang yang berniat jahat pada Sandy dan yang lainnya. Sedih dan amarah menyatu dalam diri Nenek Sari. Ia harus segera menemukan pembunuh Netra yang sudah menjadi buronan beberapa hari ini.
"Aku harus menemukannya, bahkan jika harus mati aku harus menemukan dia," kata Nek Sari.
FLASHBACK
Sehari sebelum acara pentas seni dimulai...
__ADS_1
Ting Tong Ting Tong.
Suara bel berbunyi dari depan rumah Tante Sinta.
"Bi, tolong bukakan pintu di depan ya," kata Tante Sinta.
"Baik, Bu," kata pembantu di rumah Tante Sinta.
"Bu, ada dua orang yang mencari ibu," katanya lagi setelah kembali dari luar.
"Menyusahkan, kenapa sih orang harus mencariku pagi-pagi seperti ini," kata Tante Sinta sambil pergi ke depan rumahnya.
"Kamu Sinta kan?" Ternyata itu adalah Bunda Anna dan Om Pras yang datang ke rumah Tante Sinta setelah diberitahu alamatnya oleh Nenek Sari.
"Kalian siapa? Aku tidak pernah mengenal kalian?" tanya Tante Sinta.
"Aku di sini butuh bantuanmu, Sinta," kata Bunda Anna lagi.
"Aku tidak mengenal kalian, kenapa tiba-tiba kalian minta bantuan? Apa ini modus kejahatan baru," kata Tante Sinta sambil menyilangkan kedua tangannya dan menyernyitkan alisnya.
"Aku Anna, ini suamiku Pras. Kamu mungkin tidak mengenalku, tapi pasti kamu kenal dengan yang ada di foto ini," kata Bunda Anna sambil menunjukkan foto Tante Ira.
"Darimana kamu punya foto ini," kata Tante Sinta sambil merampas foto itu.
"Itu tidak penting, aku butuh informasi mengenai dia," kata Bunda Anna.
"Siapa kamu, kamu pikir aku mau memberikan informasi kepadamu. Lagi pula dia sudah mati. Informasi apalagi yang kalian inginkan," kata Tante Sinta ketus.
"Anaknya, kami butuh informasi mengenai anak dari Ira. Kamu adalah teman baik Ira, jadi pasti kamu tau dimana anak Ira," kata Bunda Anna lagi.
"Aku ga punya informasi mengenai itu. Lebih baik kalian pergi sebelum aku berteriak tolong dan semua orang berkumpul di sini," kata Tante Sinta.
"Sudahlah, lebih baik kita pergi dari sini. Kita mencari informasi bukan mencari keributan. Lebih baik kita cari info dari orang lain," kata Om Pras yang sudah geram dengan sikap Tante Sinta.
"Tunggu, sepertinya kita pernah bertemu," kata Tante Sinta menghentikan mereka pergi.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"