The Other Side

The Other Side
Berjanjilah


__ADS_3

"Rara temani Sandy sampe depan sana, kan ga sopan tamu disuruh pulang sendirian," kata Nek Sari.


"Iya nek, Rara ke depan dulu ya." Rara pergi ke luar untuk menemani Sandy sampai ia pulang.


"Rara sepertinya mulai curiga."


*****


"Aku pamit ya Ra. Jangan lupa jaga nenek, aku takut kondisinya sakit lagi," kata Sandy sambil masuk ke dalam mobilnya.


"Iya, hati-hati ya," kata Netra sambil melambaikan tangannya.


"Iya." Radit menutup kaca jendela mobilnya. Di dalam ia tidak langsung menyalakan mobilnya. Ia justru membuka laci mobilnya dan mengambil SIM yang tadi ia tunjukan ke Netra.


"Kalau bukan karna kamu, Dit. Aku ga bakal gunain identitas ini. Bahkan untuk menyentuhnya aku ga bakal sudi," ucap Sandy sambil memasukkannya kembali dan mulai menyalakan mobil.


Sandy segera pulang ke rumahnya. Di sana sudah terdapat orang yang membukakan pagar rumahnya sambil bertanya mengapa ia tidak meminta bantuan supir dan memutuskan untuk membawa mobil sendiri.


"Tidak apa, aku sudah bisa bawa mobil sendiri kok. Mang Parman gausah khawatir," kata Sandy sambil berjalan masuk ke dalam.

__ADS_1


"Oh iya Den, tadi ada telpon dari Tuan." Seketika Sandy langsung berbalik dan melihat ke arah Pak Parman.


"Apa? Papa nelpon? Buat apa sih dia nelpon?" gerutu Sandy.


Di sisi lain, Radit masih berada di ruangan rumah sakit, ia sedikit merasa terganggu dengan kehadiran sosok itu. Semenjak kejadian malam itu, Radit bisa melihat sosok itu dengan jelas. Kebetulan malam itu Bunda Anna sedang pulang untuk mengambil keperluan Radit.


"Kamu mau apa? Jangan cuma berdiri di situ aja. Ngomong aja apa mau kamu, aku bisa liat kamu dari sini," kata Radit sambil melihat ke sosok itu. Sosok itu mendekat ke arah Radit perlahan-lahan.


"Aku cuma mau kamu berjanji untuk menjaga adikku. Jangan sampai ia kenapa-napa. Dia ga punya siapa-siapa lagi. Setelah ini aku ga akan muncul lagi di hadapanmu dan teman-teman lainnya. Aku ga akan mengganggu kalian. Tapi aku mohon, jaga adikku baik-baik. Jaga Rara. Jaga rahasianya. Aku ga mau dia berakhir sepertiku. Dan untuk masalah itu, aku tidak pernah dendam dengan mereka. Tapi semoga mereka mendapatkan balasan yang sesuai dengan perbuatannya," kata sosok itu.


"Kalau itu bisa membuatmu tenang, baiklah. Aku janji akan menjaganya dengan baik. Kamu ga perlu khawatir. Kamu bisa pergi sekarang." Sesaat Radit mengatakan hal itu, sosok itu lebur bagai abu.


Tak terasa seminggu berlalu. Selama itu, Sandy dan Netra menjalankan aktivitasnnya seperti biasa. Mereka juga selalu mampir ke rumah sakit untuk sekedar melihat Radit dan mengecek kondisinya. Semakin hari Radit semakin membaik dan ia diperbolehkan pulang ke rumah setelah seminggu di rawat.


*****


"Permisi, Rara," panggil Radit dari luar rumah Netra.


"Ya ampun, Raditt. Akhirnya kamu udah bisa masuk sekolah lagii. Seneng dehh," ata Netra dengan hati gembira.

__ADS_1


"Iya setelah seminggu dirawat, sekarang kondisiku udah membaik. Yuk berangkat, nanti bisa telat," ajak Radit.


"Iya, pamit dulu sama nenek. Nek? Nenek?" panggil Netra.


"Iya sebentar sayang. Oh Nak Radit udah bisa masuk sekolah ya. Semoga cepet membaik ya kondisinya dan ga sakit-sakit lagi." Kata Nek Sari. Netra dan Radit mencium tangan Nek Sari dan berpamitan. Mereka segera pergi ke rumah Sandy. Sesampainya di sana, Sandy yang melihat temannya itu sudah bisa bersekolah lagi merasa senang. Ia langsung menghampiri Radit dan Netra.


"Dit, akhirnya kamu bisa kembali masuk sekolah," kata Sandy.


"Iya dong, nanti siapa yang jagain kamu kalo aku ga masuk terus. Kan kasian Rara harus jadi pengasuh kamu sementara. Haha," kata Radit sambil merangkul temannya itu.


"Sebal," gumam Sandy.


"Hihi, kalian tuh lucu banget sih," kata Netra.


"Ah udahlah ayo pergi ke sekolah. Nanti telat lagi," kata Sandy sambil mendahului mereka.


"Apa? Telat? Wah kamu gaada aku jadi memburuk ya, San. Kamu tau, Ra, dia itu ga pernah telat dari hari pertama orientasi sampai minggu kemarin. Ya itu karnaku dong," kata Radit yang membanggakan dirinya.


"Kamu pasti butuh aku kan San, pasti dong. Waktu aku sakit aja kamu sedih dan kehilangan banget. Kamu pasti rindu sekali dengan temanmu ini kan? Ya kan?" Radit berbolak-balik ke sisi kiri dan kanan Radit. Sedangkan Sandy menghiraukannya dan terus berjalan saja.

__ADS_1


__ADS_2