The Other Side

The Other Side
See You Soon


__ADS_3

Di sisi lain, Tante Sinta dan Netra sedang makan malam. Netra sengaja membuka cerminnya dan meletakkannya di atas meja.


"Tante, ada yang mau aku tanyakan," ucap Netra sambil mengambil potongan daging di depannya.


"Ya, tanyakan saja," jawab Tante Sinta sambil memegang gelasnya dan siap meminum.


"Apa tante menyukai ayahku?" tanya Netra. Tante Sinta tersedak mendengar pertanyaan itu dan pantulan Netra di cermin pun juga kaget mendengarnya.


"Uhuk, maksud kamu apa?"


*****


Tante Sinta langsung menatap tajam ke arah Netra. Sedangkan pantulannya di cermin hanya memperhatikan obrolan mereka.


"Ah tidak, aku hanya penasaran mengapa tante mau menyelamatkanku padahal tante seperti tidak peduli denganku ataupun nenek dulu," jawab Netra santai.


"Ya, kamu itu kan keponakan tante. Udah jadi kewajiban tante buat nolong kamu," jawab Tante Sinta mencoba kembali cool dan memakan potongan daging di depannya.


"Apa maksudnya? Kenapa tiba-tiba ia membicarakan hal itu. Ah sepertinya aku pernah bermimpi. Iya aku ingat Tante Sinta saat itu cemburu dengan ibu sampai menamparnya. Apa, apa mimpi yang dulu itu karena dia? Apa ini yang dia maksud rencananya makanya dia sengaja membiarkan aku mendengarkan semuanya?" pikir pantulan itu.


"Oh iya tante, apa tante juga tau tentang Tante Ira?" tanya Netra kembali.

__ADS_1


"Anak ini, sebenarnya dia tahu seberapa banyak," batin Tante Sinta.


"Tante?" panggil Netra karena Tante Sinta hanya terdiam.


"Apa urusanmu bertanya itu?' jawab Tante Sinta.


"Ya, aku hanya bertanya saja. Aku mendengar kalau Tante Sinta bersahabat dengan Tante Ira," kata Netra.


"Apa? Tante Sinta dan Tante Ira bersahabat? Apa berarti Tante Sinta tau dimana keberadaan anaknya Tante Ira? Aku yakin ini rencana dia. Dia sengaja bertanya banyak dan membiarkan aku tahu dengan sendirinya apa yang terjadi," batin pantulan Netra.


"Ya, memang benar. Tau darimana kamu?" tanya Tante Sinta menaruh curiga.


"Ah penguping yang baik ternyata. Ya, kamu benar. Anna bersama suaminya, Pras, menemuiku untuk menanyai Ira. Tapi untuk apa aku menjawab pertanyaan orang yang aku tidak kenal. Ah tidak-tidak, aku salah. Aku mengenal baik Pras ternyata. Siapa sangka bahwa dia orang yang pernah aku temui dulu saat aku menyukai Mas Salman, ayahmu," ucap Tante Sinta dengan penuh percaya diri.


Rasa sesak memenuhi dada Netra. Ia tidak sanggup mendengar hal itu. Netra ingat mimpi dimana Tante Sinta dan Ibunya bertengkar. Ternyata itu adalahnya kenyataan.


"Tenangkan dirimu, Netra,"


"Rara? Kenapa? Apa kamu terkejut karena aku, tantemu sendiri menyukai ayahmu?" ucap Tante Sinta lagi dengan lebih menekan Netra.


"Tidak, aku sudah mengetahuinya sebelumnya," ucap Netra mencoba tenang.

__ADS_1


"Apa? Apa nenek tua itu yang memberitahumu juga?" tanya Tante Sinta sewot.


"Tidak, nenek bahkan tidak pernah memberitahu apa pun tentang masa laluku. Demi kebaikanku katanya. Oh ya sepertinya aku sudah mengerti alasan tante sangat membenci ibuku dan nenek," ucap Netra.


"Tante terbakar api cemburu karena ayahku lebih memilih menikah dengan ibu dan nenek juga menyetujuinya. Tante berpikir bahwa tantelah orang yang lebih dahulu menyukai ayahku dan berpikir bahwa ibu telah merebutnya dari tante. Tapi nenek membela ibu, sehingga tante juga sangat membenci nenek dan menganggap nenek bersikap tidak adil kepada tante. Apa semua deduksiku benar?" tanya Netra dengan santai.


Tante Sinta hanya terdiam sambil menahan emosinya.


"Ah iya dan satu hal lagi. Aku mengerti alasan tante menyelamatkanku. Bukan hanya karena aku keponakan satu-satunya yang tante miliki. Tapi karena wajahku mengingatkan tante dengan ayahku. Tante menyelamatkanku, hidup denganku, dan merasa bahwa ayahku ada di sisi tante sekarang," lanjutnya.


"Dan," Netra terdiam sejenak. Tante Sinta mulai melirik ke arahnya.


"Alasan lain tante menyelamatkanku adalah," Netra sengaja memberi jarak antar ucapannya.


"Tante tau dalang di balik penembakan itu," ucap Netra menyelesaikan ucapannya.


Wajah Tante Sinta menunjukkan emosi kaget. Ia tidak menyangka Netra akan mengucapkan hal itu. Darimana Netra tau akan dirinya hingga dia bisa menyimpulkan hal yang demikian, pikirnya. Di lain sisi pantulan di cermin Netra juga menunjukkan hal yang sama.


------------------‐


Maaf semua pembaca, author harus hiatus dulu nih. Dan gatau sampe kapan hiatusnya karena kondisi author. Makasih atas supportnya, semoga author bisa balik lagi dan membawa cerita yang kalian suka. Sampai sini dulu ya teman-teman. Semoga kalian selalu mendukung author

__ADS_1


__ADS_2