The Other Side

The Other Side
Harapan


__ADS_3

"Ah udahlah ayo pergi ke sekolah. Nanti telat lagi," kata Sandy sambil mendahului mereka.


"Apa? Telat? Wah kamu gaada aku jadi memburuk ya San. Kamu tau Ra, dia itu ga pernah telat dari hari pertama orientasi sampai minggu kemarin. Ya itu karnaku dong," kata Radit yang membanggakan dirinya.


"Kamu pasti butuh aku kan San, pasti dong. Waktu aku sakit aja kamu sedih dan kehilangan banget. Kamu pasti rindu sekali dengan temanmu ini kan? Ya kan?" Radit berbolak-balik ke sisi kiri dan kanan Radit. Sedangkan Sandy terus saja berjalan dan tidak menghiraukan Radit.


*****


Tidak terasa setahun telah berlalu. Setelah kejadian sakitnya Radit, tidak ada lagi hal buruk yang menimpa merek. Paling hanya Netra yang terkadang masih bermimpi buruk, namun ia sudah terbiasa dan sudah bisa mengatasinya. Sekarang mereka sedang fokus untuk mempersiapkan ujian nasional yang akan menentukan kemana mereka melanjutkan pendidikannya. Sebenarnya Netra sudah menentukan sekolah yang ia idam-idamkan dari dulu. Sekolah yang populer di antara sekolah-sekolah lain. Namun, baginya, masuk ke sekolah itu sangatlah sulit karena ia tidak sepintar Sandy atau pun Radit.


"Hei melamun apa?" tanya Radit pada Netra yang sedang memikirkan cara agar ia bisa masuk ke sekolah idamannya.


"Dit, mungkin ga ya orang kayak aku bisa masuk ke SMA favorit di jakarta?" tanya Netra.


"Mungkin dong, masa ga mungkin? Kamu mau masuk ke SMA Internasional itu?" kata Radit yang menunjuk kertas yang dipegang Netra.


"Iya, aku mau masuk kelas bahasa, ya kamu tau lah nilai MIPA ku kan ga begitu bagus dan memang aku tidak ada passion di sana," kata Netra.


"Kalau begitu aku juga akan ikut masuk kelas bahasa." Kata-kata Radit barusan membuat Netra tersentak kaget.


"Hah? Jangan! Masa kamu yang punya bakat di bidang MIPA malah harus ikut aku ke bidang bahasa," kata Netra yang masih kaget dengan keputusan Radit. Kebetulan mereka berdua sekarang sekelas dan berpisah dengan Sandy, sehingga obrolan ini terjadi ketika Sandy sedang sibuk di kelasnya sendiri.

__ADS_1


"Maaf Ra, aku masih belum bisa cerita sekarang. Bahkan aku ga pernah cerita tentang perjanjian itu kepada siapapun," batin Radit.


"Hah apanya yang bakat, aku ga ada bakat tuh. Makanya rajin belajar, biar bisa kayak aku," kata Radit yang mulai menyombongkan dirinya.


"Ih nyebelin." Netra memukul Radit dengan buku yang ada di depannya.


"Aw, sakit tau," jerit Radit.


"Biarin," kata Netra yang langsung pergi dari tempat itu.


"Ra, tungguin aku ih." Radit mengejar Netra yang mulai menjauh dari tempat itu.


Di perpustakaan, terlihat Sandy yang tengah sibuk melakukan sesuatu. Tiba-tiba


"Hap. Lalu ditangkap. Haha." Radit mengangetkannya dari belakang, namun ekspresi Sandy biasa saja.


"Dit, aku sedang sibuk, jangan main-main," kata Sandy sambil masih menghiraukan kehadiran Radit dan Netra.


"Ehem, yang udah jadi ketua kelas emang beda ya. Kita ga nyangka loh orang secuek kamu ditunjuk jadi ketua kelas," kata Netra sambil ikut duduk di kursi yang ada di samping kanan Sandy.


"Huft." Sandy hanya menghelakan napasnya. Memang ia tidak pernah ada pikiran untuk menjadi ketua kelas hal yang menyusahkan baginya. Tapi, karena ini adalah pilihan wali kelasnya, ia mencoba menerimanya.

__ADS_1


"Sedang apa sih?" kata Rara sambil mencoba melihat-lihat kertas yang sedang dirapihkan Sandy.


"Ini..." Belum selesai Sandy menjawab ia sudah disela oleh Radit.


"Oh, ini berkas-berkas anak yang mau melanjutkan ke International High School itu ya?" Radit menyela Sandy yang ingin menjawab.


"Iya bener," kata Sandy.


"Sebanyak ini yang ingin bersekolah di sana? Kalo begini mah aku ga bakalan dapet kesempatan buat sekolah juga di sana," kata Netra sedih.


"Loh, kamu mau sekolah di sana juga?" tanya Sandy.


"Iya." kata Netra pelan.


"Kamu pasti bisa kok, bagaimana kalo kita belajar bersama untuk tes masuknya?" Radit menyampaikan idenya semata-mata hanya agar Netra tidam kehilangan harapannya.


"Iya? Benarkah kita bisa belajar bersama?" Netra mulai kegirangan.


"Setuju kan San?" tanya Radit ke Sandy yang masih asik merapihkan dokumen-dokumen teman sekelasnya.


"Iya," kata Sandy. Akhirnya mereka memutuskan untuk mengadakan jadwal belajar bersama untuk menghadapi tes masuk sekolah tersebut sekaligus ujian nasional di sekolahnya.

__ADS_1


__ADS_2