
"Iya, itu saja, Den Sandy ga boleh makan makanan itu," pikirnya. Ia segera berpura-pura menjatuhkan gelas air minumnya. Dan rencananya berhasil. Sandy tidak jadi makan makanan itu. Ia langsung membersihkan kekacauan yang ia buat dan membuang makanan Sandy. Ia tidak sadar bahwa ada yang memperhatikannya dari kejauhan.
*****
"Oh iya, San. Kita udah nunggu lama loh buat buka pengumuman hasil ujian masuk SMA Internasional Tunas
Bangsa," kata Netra.
"Jadi kalian belom buka pengumumannya?" tanya Sandy.
"Kita nunggu kamu sadar. Rara bersikeras pengen buka bareng-bareng, makanya dia maunya nunggu kamu," jawab Radit.
"Loh, kalo misalkan aku ga sadar sampe hari terakhir daftar ulang, kalian ga bakal buka pengumumannya dong," kata Sandy.
"Ya ngga segitunya sih, aku udah pengen buka dari awal," kata Radit. Netra mencubit Radit.
"Dit," ucap Netra.
"Ya sebenarnya kalo kamu ga kunjung sadar kita bakal buka tepat sehari sebelum batas daftar ulang sih," kata Netra.
__ADS_1
"Kalian seharusnya ga perlu nunggu aku kayak gini. Kalo misalkan aku ga sadar-sadar nanti malah kalian yang nyesel," kata Sandy.
"Ih udah-udah, mending sekarang kita buka bareng-bareng aja," kata Netra sambil menyalakan hapenya.
"Siap?" tanya Netra melihat kedua temannya juga memegang hape masing-masing untuk melihat hasil pengumumannya.
"Ra, Ra. Gimana kalo satu-satu. Kita hompimpa dulu," ucap Radit.
"Ya, biar lebih asik aja liat rame-rame," lanjutnya.
"Umm boleh deh," ucap Netra. Mereka akhirnya hompimpa dan ternyata Sandy mendapat giliran pertama, Radit giliran kedua, dan Netra giliran terakhir.
"Udah sini, yuk San dibuka pengumumannya," ucap Radit sambil mengajak Netra mendekati Sandy. Sandy mulai membuka laman resmi SMA Internasional Tunas Bangsa dan mengetikkan nomor ujiannya. Dan hasilnya berwarna hijau.
"Selamat Sandy, udah aku duga hasilnya bakal hijau dan liat di sini. Wah kamu peringkat pertama, San. Ga heran sih aku," ucap Netra. Kemudian lanjut Radit yang memasukkan nomor ujiannya. Lagi-lagi hasil yang terlihat warna hijau.
"Dit, selamat ya. Kamu peringkat pertama di kelas bahasa tapi nilaimu dibandingkan Sandy ga jauh beda deh. Kalo kamu pilih kelas MIPA pasti kamu berada di peringkat dua setelah Sandy," kata Netra. Dan sekarang saat-saat yang menegangkan untuk Netra. Ia sudah menduga kedua temannya itu pasti lolos seleksi, sedangkan ia pesimis sekali untuk lolos. Perlahan-lahan, Netra mengetikkan nomor ujiannya. Ia memasukkan angka satu persatu. Setelah menyentuh tombol OK ia langsung memejamkan mata. Perlahan ia membuka matanya dan hasilnya ternyata merah.
"Udah kuduga, pasti aku ga bakal lolos," kata Netra sambil meletakkan hapenya di atas kaki Sandy dan berjalan menuju sofa. Ia lemas sekali melihat pengumuman itu.
__ADS_1
"Ra," panggil Radit.
"Ra, tunggu. Ini bukan namamu," kata Sandy sambil melihat ke hape Netra. Data yang muncul bukanlah data Netra.
"Hah? Maksudnya. San?" tanya Netra yang segera menghampiri Sandy.
"Iya, liat sini. Ini bukan namamu, Ra. Kamu salah masukin nomor ujian tadi?" tanya Radit.
"Hah betul kok, sebentar biar aku cek," kata Netra sambil mengambil hapenya.
"Ah iya, benar ini bukan namaku, coba kita ulang ya," kata Netra yang seperti melihat harapan baru. Ia memasukkan nomor ujiannya dengan benar kali ini. Ia segera menutup matanya ketika menyentuh tombol OK. Dan hasilnya...
"Ra, selamat ya. Kita bakal ketemu lagi di kelas bahasa," ucap Radit.
"Hah? Benarkah? Ahh aku senang sekali," ucap Netra kegirangan.
"Selamat ya, Ra," kata Sandy.
"Umm, makasih ya Sandy, Radit udah mau mengajariku dan menemani aku belajar. Aku senang sekali rasanya sekarang," ucap Netra.
__ADS_1