
Pamela mengedarkan pandangannya pada sekeliling rumah Anderson yang masih sepi, beberapa pelayan di belakang Pamela sibuk membantu membawa beberapa koper baju miliknya
“Apa Tuan William dan Nyonya Miranda ada?” Tanya Pamela pada salah satu pelayan yang berada disana
“Semua sedang ada di rumah Nyonya” sahut pelayan itu sopan, Pamela tersenyum senang karena artinya Adam juga sedang berada di rumah
“Nyonya Pamela, kau datang?!” Miranda yang baru saja memasuki ruang tamu kaget bukan kepalang melihat besannya yang datang tanpa berita, bahkan dengan membawa serta banyak barang dengannya
“Ku harap kau tidak keberatan karena aku datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu Nyonya Miranda, aku sangat merindukan putri - putriku, terutama Bella” Pamela mengatur ekspresi wajahnya seolah - olah ia sedang bersedih
Miranda mendengus, “baiklah… aku tak keberatan, aku bisa mengerti Nyonya Pamela” sahut Miranda tak senang, Miranda tahu kalau kedatangan Pamela akan membuat Bella tak nyaman
“Ngomong - ngomong dimana Adam berada?” Tanya Pamela sambil memindai sekelilingnya, mencari - cari sosok target alasan kedatangannya
Kening Miranda berkerut, “Adam? Kenapa kau mencari Adam?” Miranda heran karena untuk kedua kalinya Adamlah yang dicari oleh Pamela bukan Adrian atau bahkan kedua putrinya, Miranda mencium ada sesuatu yang tak beres
“Aku membawakan banyak hadiah untuk Adam, aku sengaja mampir ke toko merek ternama tadi, aku yakin Adam akan menyukainya” Pamela mengambil alih dua tas belanja besar bermerek mewah dari pegangan pelayan yang masih setia berdiri di belakangnya, dengan antusias Pamela menunjukkannya pada Miranda, Miranda sekilas bisa melihat beberapa kotak jam tangan dan sepatu di dalamnya
“Ah, terima kasih.. tapi aku tak yakin Adam akan suka dengan barang selain yang dipilihkan olehku atau Bella” sahut Miranda tanpa basa basi, memang seperti itulah adanya, dari dulu karena konsentrasinya yang tinggi pada perusahaan Adam nyaris tak punya waktu untuk memperhatikan penampilannya, Mirandalah yang mengatur semua untuknya, dan sekarang setelah Adam menikah dengan Bella dengan hubungan yang semakin membaik, Bella lah yang diminta Adam untuk memilihkan keperluannya
“Benarkah?” Pamela tercengang, ah sia - sia saja ia mengeluarkan uang sebanyak itu untuk membeli hadiah untuk Adam, padahal tujuan Pamela adalah untuk mendapatkan simpati Adam
Miranda menghela napasnya, “Tapi nanti kau bisa menanyakannya langsung pada Adam, ku harap kau tak sakit hati jika Adam menolaknya” ujar Miranda lagi tak ingin Pamela sampai tersinggung
pucuk dicinta ulam tiba tak lama Adam dan Bella turun dari kamar mereka sambil bergandengan tangan mesra, nyaris menginjak anak tangga terakhir ketika Bella melihat Pamela, langkahnya terhenti dan pegangan pada tangan Adam semakin erat, Adam mengikuti arah tatapan Bella, ia lalu menghela napas begitu melihat Pamela yang sedang tersenyum sumringah padanya
“Tidak apa - apa, ada aku” ucap Adam sambil merengkuh Bella, Bella mengangguk pelan, mereka lalu kembali menuruni anak tangga terakhir dan berjalan mendekati Miranda dan Pamela
“Bella, anakku! Ya Tuhan, kau tahu Bella aku sangat merindukanmu!” Pamela memburu Bella, lalu agresif hendak memeluknya, tapi Adam sigap merengkuh Bella lebih dulu memasang badan agar Pamela tak bisa memeluk istrinya
“Bella sedang tak sehat, ku harap kau mengerti Nyonya Pamela” ucap Adam melindungi Bella, ia tahu kalau Pamela tak tulus, Pamela sedang memasang topengnya sekarang
“Kau sakit Bella?” Pamela lagi - lagi berpura - pura peduli, ekspresi cemas yang ia buat - buat kentara sekali, Bella sungguh muak melihat sandiwara Ibunya
“Aku baik - baik saja, ada Adam yang selalu memperhatikanku, kau jangan khawatir Bu!” Tandas Bella
Pamela mengeluarkan senyum terbaiknya, “Adam memang pria yang luar biasa bukan?”
“Bu, kau disini?” Brianna yang baru saja sampai di kediaman Anderson bersama Adrian memburu Ibunya, Pamela menoleh pada Brianna dan memberikan senyum terbaiknya, senyum tulus tanpa kepura - puraan
“Ibu sangat merindukanmu dan Bella, itu sebabnya Ibu kesini, bahkan Ibu berencana untuk menetap selama beberapa hari agar bisa berkumpul denganmu dan Bella” ujar Pamela
“Benarkah Bu? Aku senang sekali jika Ibu tinggal disini bersamaku” Brianna girang bukan kepalang, sementara Bella mendengus kesal, mendengar Pamela akan tinggal bersamanya meskipun hanya untuk sementara membuat Bella merasa sesak
”Apa itu untuk Adrian Bu? Tanya Brianna saat melihat dua jinjingan besar tas belanja bermerek terkenal yang teronggok di lantai
“Oh itu untuk Adam” sahut Pamela, Brianna terkejut bukan main, “apa maksud Ibu? Apa ini bagian dari rencananya? Ya, aku yakin ini adalah bagian dari rencana Ibu, tidak mungkin Ibu mau menghabiskan banyak uangnya untuk membeli barang - barang semahal itu untuk orang lain tanpa tujuan” batin Brianna, sedang Adrian mengumpat dalam hatinya yang meradang
“Oh.. hahaha, jadi ini untuk Adam? aku senang karena Ibu sangat perhatian pada Adam” ujar Brianna ikut mendukung apa yang dilakukan oleh Ibunya yang Brianna yakini demi mencari simpati Adam
__ADS_1
“Brianna, apa maksudmu?” Bisik Adrian geram, Adrian tak mengerti kenapa tiba - tiba Pamela perhatian pada Adam dan kini Brianna pun sama
“Tidak perlu membuat keributan Adrian, aku tak menginginkan hadiah - hadiah itu, kau boleh mengambil semuanya jika kau mau” ucap Adam membuat Adrian semakin terpacu kemarahannya, Adam lalu menggandeng tangan Bella yang berdiri terpatri di tempatnya, ada luka yang terukir di raut wajah istrinya itu, luka yang selalu Adam lihat setiap kali Bella bertemu Pamela, “aku lapar, apa kau mau membuatkan pasta untukku?” Tanya Adam pada Bella sambil membimbing Bella untuk beranjak dari tempat itu
Miranda hanya bisa menghela napas melihat sikap kontra Adam pada Pamela, Miranda sebenarnya bertanya - tanya kenapa sikap Adam tak pernah baik pada Pamela, apa yang sebenarnya Adam ketahui selain fakta bahwa Pamela pernah memanfaatkan Bella untuk kepentingannya? ”Aku harus tanyakan apa yang sebenarnya terjadi, kenapa Adam terlihat begitu membenci Pamela?” Batin Miranda
“Adam suka pasta?” Tanya Pamela membuyarkan lamunan Miranda
“Ah iya, tapi hanya pasta buatan Bella” sahut Miranda, Pamela tersenyum ketika ide muncul di kepalanya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Masih pagi ketika suara gaduh terdengar di dapur mewah kediaman Anderson, beberapa pelayan tampak khawatir tapi tak bisa berbuat apa pun ketika Brianna membuat dapur porak poranda
“Ya Tuhan Brianna, apa kau tidak pernah belajar memasak sekali pun? Sudah tiga kali kau memasak dan semuanya gagal!” Sewot Pamela yang tengah mengawasi anaknya itu berjibaku dengan peralatan masak
“Kau saja yang berlebihan Bu! Padahal semua masakanku sudah enak, tak kurang apa pun!” Sanggah Brianna bersungut - sungut karena dari tadi tak satu pun hasil masakannya dianggap layak oleh Ibunya
Pamela berdecak kesal, lalu menghampiri Brianna yang sedang kerepotan membuat saus pasta untuk kesekian kalinya, “dengar Brianna, apa kau akan menyajikan pasta gosong seperti masakanmu yang pertama? Atau pasta asin seperti masakanmu yang kedua? Atau seperti ini, pasta yang terlalu pedas? Bagaimana Adam akan menyukainya?” Sewot Pamela lagi setengah berbisik
“Baiklah, baik.. demi Adam aku rela wajahku harus berminyak dan baju mahalku berbau masakan” sahut Brianna antusias
“Huuuussss.. pelankan suaramu! Apa kau ingin ada yang mendengarmu?” Pamela cemas menoleh ke belakangannya, memastikan tak ada siapa pun yang mendengar pembicaraannya dan Brianna, bisa - bisa semua rencananya gagal, beruntung para pelayan sedang sibuk mempersiapkan berbagai macam hidangan di meja makan untuk santap pagi
“Cepat selesaikan Brianna, sebentar lagi waktunya sarapan, hidangan ini harus tersaji di meja Adam sebelum makanan yang lain” titah Pamela
**Satu persatu anggota keluarga Anderson turun dari peraduannya masing - masing kecuali Adrian, pagi sekali Adrian sudah berangkat memenuhi keinginan Brianna untuk memakan kue kesukaannya yang jarak tokonya agak jauh dari kediaman Anderson, salah satu skenario yang dibuat oleh Brianna memang agar Adrian tak ikut sarapan bersama pagi ini, Adrian tak boleh tahu kalau ia memasak untuk Adam
Semua keluarga Anderson sudah berkumpul di meja makan, para pelayan sigap menuangkan air putih di gelas dan memastikan kalau kebutuhan semua orang telah terpenuhi baru mereka mundur dan kembali ke pekerjaan mereka yang lain
“Hei kenapa Adam saja yang mendapat pasta pagi ini? Aku juga ingin!” Seloroh William saat melihat menu makanan Adam yang berbeda dari lainnya, Adam pun mengerutkan keningnya, siapa yang memasak pasta untuknya karena Bella tak lepas dari pandangannya semenit pun pagi ini
“Ahahaha.. maaf Tuan William, pasta itu memang khusus dimasak hanya untuk Adam” ujar Pamela
“Jam berapa kau bangun Bella? Bahkan sepagi ini kau sudah menyiapkan makanan untuk Adam” ucap Miranda menyangka bahwa Bella lah yang sudah memasak untuk Adam, senyum Miranda untuk Bella redup tatkala melihat tatap kebencian di mata Bella pada Brianna, “ada apa ini? Kenapa belakangan ini Bella seperti lebih membenci Brianna?” Batin Miranda penasaran
“Bukan Bella yang memasak, tapi Brianna, lihatlah dia sampai berkeringat dan bajunya berbau saus pasta demi memasak untuk Adam” sahut Pamela sambil menunjuk pada Brianna yang kini menunduk tersipu malu
“Pantas saja Bella marah, untuk apa Brianna repot - repot memasak untuk Adam sementara suaminya entah sarapan dimana” batin Miranda gusar
William berdehem guna mematikan perasaannya yang juga tak nyaman setali tiga uang dengan Miranda, sedang Adam menggeser piring berisi pastanya ke samping, lalu meraih piring baru dan menyendok salad
Brianna getir melihat pasta yang ia buat dengan susah payah disingkirkan begitu saja oleh Adam, “Ah Adam, apa kau tak ingin mencoba masakanku? Aku sudah berjam - jam memasak di dapur untukmu” rayu Brianna tanpa malu - malu
“Aku tak memintanya” sahut Adam dingin, Adam malah sibuk menyuapi Bella salad, Bella hanya membuka mulutnya namun tatapannya tak beralih dari Brianna
“Adam, cicipilah sedikit! Aku yakin kau akan suka!” Pamela turun tangan meyakinkan Adam
“Aku tak pernah makan pasta untuk sarapan, sebaiknya lain kali kalian bertanya dulu pada istriku sebelum kalian menghabis - habiskan bahan makanan untuk masakan yang tak akan ku sentuh” sahut Adam semakin dingin, demi apa pun omongan Adam cukup untuk membuat Brianna kembali tertunduk, tapi kali ini bukan karena tersipu malu melainkan karena tertampar sindiran Adam
__ADS_1
Pamela tampak tak terima, alisnya sampai menukik tajam mendengar penolakan Adam, “Ahahaha.. maaf, lain kali Brianna akan mengingat itu” sahut Pamela mencoba mengalah dan meredam emosinya
“Tidak ada lain kali, makanan yang akan ku makan hanya dari tangan Bella atau chef rumah kami” jawab Adam lagi kali ini nadanya lebih tegas
“Adam!” Ujar Miranda lembut mengingatkan anaknya agar lebih sopan, Bella tersenyum sinis lalu menangkup wajah Adam
“Sayang, sangat tidak sopan kalau kau tak mencicipi masakan yang dibuat untukmu, tapi berhubung kau tak suka pasta untuk pagi hari, maka aku yang akan mencicipi pastanya untuk menghormati hasil jerih payah Kak Brianna” sindir Bella dengan ekor mata yang melirik tajam pada Brianna, Adam tak menyanggah dan membawa piring berisi pasta yang sudah hampir dingin itu
“Sialan! Apa rencanamu Bella?” Geram Brianna dalam hatinya saat Bella tampak memainkan pasta yang ia buat dengan sejuta cinta untuk Adam, puas mengaduk - aduk pasta dan membuat tampilan pasta yang tadinya cantik kini berantakan, Bella menyendok sedikit pastanya lalu memasukkan dengan enggan ke mulutnya
Bella meringis, terbatuk kecil lalu sigap meraih air minum di depannya dan menenggaknya dengan tergesa
“Bella, kau tak apa?” Adam khawatir, Pamela dan Brianna saling pandang mulai cemas, kenapa Bella sampai terbatuk seperti itu? Apa ada yang salah dengan pastanya? Batin keduanya bimbang
“Kau kenapa Bella?” Miranda dan William pun ikut khawatir melihat Bella yang masih terbatuk - batuk kecil
“P - pastanya sangat pedas Adam, untunglah bukan kau yang memakannya, kau sangat tidak suka makanan pedas bukan” sahut Bella, Adam mendengus kesal sambil menatap marah pada Brianna, Adam lalu mengangkat tangannya mengkode pelayan yang kemudian tergopoh mendekatinya “buang makanan beracun itu!” Titah Adam dengan sadis tanpa mempedulikan perasaan Brianna yang remuk redam
“Adam sangat tidak suka dengan makanan pedas Brianna, apa yang Adam katakan tadi memang benar, sebaiknya kau tanyakan dulu pada Bella sebelum kau membuat sesuatu untuk Adam” ucap Miranda, Brianna yang mukanya berubah pucat menahan malu hanya bisa mengangguk mengiyakan
“Pedas?” Brianna apa kau memasukkan saus lagi ke pasta itu?” Bisik Pamela, Brianna menggeleng pelan, “tidak Bu” bisiknya
“Sial!! jadi ini hanya sandiwara kau saja agar menjatuhkan Brianna, Bella? Awas kau, tunggu balasanku!” Pamela menyumpah dalam hatinya
“Aku sudah kenyang, aku akan berlari dulu sebentar” ucap Adam pada Bella lalu mengecup keningnya, “jangan terlalu lama Adam, sudah mendung sepertinya hujan akan turun” ujar Bella, Adam mengecup kembali pucuk kepala Bella lalu berpamitan pada kedua orang tuanya sebelum ia beranjak dari ruang makan, meninggalkan Pamela dan Brianna yang sedang merasa kesal karena usaha mereka gagal
...****************...
Sekitar dua jam kemudian, Bella berjalan mondar - mandir tak tenang di ruang tamu, hujan sudah turun sedang Adam pulang juga ke rumah, Bella bahkan sudah mempersiapkan segelas minuman hangat dan sehelai handuk hangat untuk Adam karena Bella yakin kalau Adam kehujanan, benar saja Adam masuk tergesa dengan baju olah raga yang setengah basah, bahkan air sudah membasahi kepala Adam, di belakang Adam turut masuk Adrian yang hampir sama basahnya, tangan Adrian tampak penuh membawa banyak tentengan berisi kue kesukaan Brianna
Bella memburu mendekati Adam lalu berjinjit dan sigap menutup kepala Adam dengan handuk, “sudah ku bilang untuk jangan lama - lama bukan, kau keras kepala sekali Adam!” Sungut Bella, “maaf sayang.. hehehe” Adam hanya cengengesan sambil sedikit membungkuk agar Bella tak perlu bernjinjit untuk mengeringkan rambutnya
Adrian melihat adegan kepedulian Bella pada Adam itu, ia lalu tersenyum membayangkan Brianna akan melakukan hal serupa dengan Bella, senyum Adrian sumringah saat melihat Brianna menuruni anak tangga dan menghampirinya, tapi jangankan menyambut Adrian, Brianna justru fokus melihat kemesraan Adam dan Bella
“Sayang, ini kue - kue yang kau inginkan, syukurlah aku berhasil mendapatkannya meskipun harus berkeliling ke beberapa toko” ucap Adrian sambil menyodorkan tentengannya pada Brianna
“Aku sudah tak ingin” sahut Brianna dingin sambil melipat tangan di bawah dadanya, mata Adrian membulat, “tapi bukannya kau sendiri yang bilang padaku kalau kau sangat menginginkan kue - kue ini tadi pagi sampai kau memohon padaku untuk membelikannya? kau bahkan tak mau sopir kita yang membelikan, kau bilang harus aku! Dan setelah susah payah aku membawakannya untukmu dengan mudahnya kau bilang sedang tak ingin?” Sengit Adrian tak terima, Brianna yang masih fokus pada Bella dan Adam lalu menjatuhkan pandangannya pada Adrian
“Aku sudah tak ingin lagi kue - kue itu Adrian! Kau pergi terlalu lama, aku sudah tak berselera lagi!” Ketus Brianna, ia lalu beranjak pergi dari ruang tamu, hati Brianna terbakar cemburu melihat kemesraan Adam dan Bella
Adrian mengeraskan rahangnya, “Brianna! Brianna!” Panggil Adrian pada Brianna yang berjalan menjauh dan menghilang di balik koridor. Adrian menjatuhkan tentengan kue - kuenya
Braaaak..
suara dari kotak - kotak kaca tempat kue - kue mahal yang membentur lantai itu mengagetkan Adam dan Bella, mereka menatap sebentar lalu sibuk pada kemesraan mereka lagi, mereka bukannya tak mendengar percakapan Adrian dan Brianna tadi, tapi mereka memilih tak peduli, “minum dulu agar badanmu hangat” Bella menyodorkan minuman hangat buatannya sendiri untuk Adam yang langsung ditenggak oleh suaminya itu. Tak jauh dari mereka Adrian terduduk dengan lesu, Adrian memindai dirinya sendiri yang nyaris basah kuyup karena ia berjalan dari satu toko ke toko lain demi mencari kue kesukaan Brianna, tapi lihatlah balasan Brianna, jangankan berterima kasih dengan menyambutnya, bahkan untuk sekedar menawarkan handuk pun Brianna enggan. Adrian lalu menjatuhkan pandangannya pada Bella yang masih telaten mengeringkan rambut Adam dengan handuk, Adam tampak nyaman dan bahagia
“Seandainya dulu aku memilih Bella, tentu aku akan bahagia seperti Adam sekarang” sesal Adrian dalam hatinya, Adrian lalu mengingat - ingat bagaimana Bella dulu memperlakukannya, ia tak bisa memungkiri kalau Bella memang memiliki karakter calon istri idaman, dan itu sudah terbukti sekarang
“Bella, apakah cintamu untukku masih ada? Bisakah kita seperti dulu?” Gumam Adrian sambil menatap nanar Bella yang disadarinya semakin hari semakin cantik.
__ADS_1