Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 47


__ADS_3

Adrian masih melajukan kendaraannya dengan cepat, sudah hampir dua jam ia menyetir tanpa tujuan, yang akhirnya ia hanya berputar - putar di sekitar perusahaan dan kediaman orang tuanya, ia kini sadar kalau seluruh kehidupannya hanya dihabiskan di dua tempat itu, dan keduanya kini tak mungkin ia masuki lagi.


Adrian meringis merasakan badannya yang ngilu akibat pertarungannya dengan Adam tadi, Adrian belum sempat mengobati luka - lukanya yang tak sedikit, bahkan ada beberapa yang darahnya sudah mengering, Adrian kini melajukan pelan mobilnya, lalu menepi di depan sebuah klinik kecil tak jauh dari belakang perusahaan yang kini mutlak dimiliki Adam itu. Hujan mulai turun ketika Adrian keluar dari mobilnya, pria itu lalu bergegas hendak membuka pintu klinik, namun sayang pintu itu terkunci, di bagian atas pintu kaca itu pun tergantung papan bertuliskan tutup, Adrian lupa kalau hari sudah larut malam


“Sial!” Umpatnya, Adrian lalu mengedarkan pandangannya, malam semakin gulita seiring dengan hujan yang semakin deras, Adrian kembali meringis saat air hujan menerpa wajahnya yang lebam dan penuh luka. Adrian sungguh tak sanggup kalau ia harus menyetir lagi, di bawah guyuran hujan Adrian lalu duduk di bangku depan klinik itu


Entah kapan berkumpulnya air mata yang kini berlomba keluar dari mata Adrian karena kini ia terisak menangis, tak pernah ia bayangkan sebelumnya kalau ia akan sampai di titik ini, tak ada tempat atau orang untuknya pulang. Hatinya pun membenarkan kalau semua ini terjadi karena perbuatan - perbuatan licik dan jahatnya. Tapi hal yang paling membuat dadanya sesak adalah ketika ia mengenang Bella, masih jelas bayangan Bella yang merintih saat ia terjerembab jatuh akibat hempasan tangan Adrian, dan kini entah bagaimana kondisi Bella serta anaknya


“Bodoh! Bodoh! Bodoh!” Ucap Adrian sambil memukul - mukul kepalanya sendiri mengingat betapa ringan tangannya saat menghempas Bella tadi, ia yakin Bella semakin membencinya sekarang


Adrian menengadah karena tiba - tiba saja hujan tak terasa lagi, betapa kagetnya ia ketika melihat seorang wanita tengah memayunginya


“Tuan Adrian? Apa yang kau lakukan disini?” Tanya Anna, ia tak sengaja melihat Adrian sedang duduk termenung di bawah guyuran hujan lalu memukul - mukul sendiri kepalanya saat hendak membeli obat di apotik klinik yang sama dengan yang Adrian datangi tadi


“Kau Anna kan? Kau sekretarisnya Adam?” Adrian meyakinkan pandangannya yang buram karena air mata dan hujan


“Iya Tuan” sahut Anna, wanita itu lalu menelisik wajah Adrian yang babak belur, “kau kenapa Tuan? Apa kau baru saja di rampok?” Tanya Anna


Adrian menggeleng, “Bukan apa - apa” sahut Adrian sambil memegang wajahnya yang semakin terasa sakit, Anna mengerti kalau mungkin tadi Adrian berniat berobat di klinik itu hanya saja klinik itu sudah tutup


“Apa kau punya kotak obat di mobilmu? Biar aku membantu mengobati lukamu” ujar Anna, Adrian kembali menggeleng


“Tidak perlu, aku akan mengobatinya sendiri! Kau pergilah, sudah terlalu malam untuk seorang wanita berjalan sendirian!” Sahut Adrian


Kening Anna mengernyit, “Aku tak salah dengar kan? Dia punya rasa khawatir juga pada seorang wanita? Aku pikir dia hanya seorang buaya serakah dan egois” batin Anna


“Tidak apa - apa Tuan, kau adalah wakil CEO perusahaan sekaligus adiknya Tuan Adam, artinya kau adalah atasanku juga” ucap Anna bersikukuh, Adrian menimang sebentar, ia memang tak mungkin mengobati luka - lukanya sendiran, ia tak tahu caranya apalagi tangan dan tubuhnya kini gemetaran


“Maaf kalau aku merepotkan” ucap Adrian lalu ia bangkit dan memimpin jalan Anna menuju mobil, Adrian mengambil alih payung dari tangan Anna melihat Anna agak kesulitan memayunginya karena tubuh Adrian yang jauh lebih tinggi, kini mereka berdua di bawah payung yang sama, keduanya lalu masuk ke dalam mobil Adrian


Anna bisa melihat tangan Adrian yang gemetaran ketika mencari kotak obat di laci dashboard mobil lalu menyerahkannya pada Anna, Anna segera mencari obat yang ia perlukan untuk Adrian, kemampuannya tentang pengobatan cukup mumpuni berhubung Adam menuntut sekretarisnya untuk serba bisa


“Aku akan mulai, Tuan” ujar Anna, Adrian lalu menghadap Anna, pasrah ketika wajahnya mulai Anna obati, sesekali Adrian meringis ketika obat mengenai lukanya yang menganga


“Astaga, dia demam! Wajahnya sampai memerah, sudah berapa lama ia di bawah hujan tadi?” Batin Anna, “apa yang harus ku lakukan? Apa sebaiknya aku menghubungi Tuan Adam? Tapi bukankah itu akan membuat Tuan Adam semakin khawatir mengingat saat ini ia juga sedang di rumah sakit?” Batin Anna lagi, ia memang mendengar dari asisten Adam kalau Bella nyaris keguguran dan sedang di rawat di rumah sakit


“Tuan, apa tidak sebaiknya kau ke rumah sakit? Aku rasa lukamu cukup parah dan badanmu juga demam tinggi” ucap Anna, Adrian cepat - cepat menggelengkan kepalanya

__ADS_1


“Jangan bawa aku ke rumah sakit, aku tak apa - apa, sungguh!” Sahut Adrian, bukannya apa tapi ia tak tahu Bella di rawat di rumah sakit mana sekarang, ia khawatir jika bertemu dengan anggota keluarganya disana


“Lantas kau mau kemana Tuan? Kau perlu istirahat dan diobati dengan benar!” Cerocos Anna, ia pun bingung kemana akan membawa Adrian, sempat terpikir untuk mengantarkannya ke hotel, tapi datang ke hotel hanya berdua dengan suami wanita lain tengah malam buta tentu akan menimbulkan salah paham untuk siapa pun yang bertemu mereka, belum lagi wajah Adrian yang babak belur tentu akan membuatnya menjadi bahan berita, maklumlah Adrian dan keluarganya sangat terkenal di kota itu


“Bagaimana kalau aku mengantarkanmu pulang ke kediaman Anderson, Tuan?” Tawar Anna lagi, tapi seperti tadi Adrian menggeleng


Anna berdecak kesal, “Kemana aku harus membawa Tuan Adrian?” Batinnya bingung


“Tuan, apa kau mau tinggal di apartemenku untuk malam ini? Kau demam tinggi Tuan, kau harus mengganti bajumu yang basah, mengobati lukamu, dan beristirahat Tuan” tandas Anna, mau bagaimana lagi, ia pun tak mungkin meninggalkan Adrian dalam kondisi seperti ini, meskipun ia tahu Adrian sering berbuat jahat pada Adam dan Bella, tapi jiwa kemanusiaan Anna tak membiarkan dirinya untuk mengacuhkan Adrian


Adrian masih bisu, ia berpikir berulang - ulang, namun kemudian ia mengangguk, “Sekali lagi maaf karena aku merepotkanmu” ujarnya


Anna hanya bisa menghembuskan napasnya, sebenarnya ini menjadi beban untuknya, ia pun merutuki dirinya yang lupa membeli obat pereda sakit datang bulannya hingga ia harus nekad menerobos hujan dan berjalan tengah malam untuk membeli obat itu, sialnya klinik terdekat dari apartemennya sudah tutup dan ia malah bertemu dengan Adrian


“Biarkan aku yang mengemudi Tuan, kau istirahatlah” ujar Anna saat melihat Adrian hendak melajukan mobilnya


“Kau bisa mengendarai mobil?” Tanya Adrian terkaget


“Menjadi sekretaris Tuan Adam harus bisa melakukan semua tugas Tuan, itu sebabnya Tuan Adam tidak pernah memilih sekretarisnya berdasarkan wajah, tapi pada kemampuannya” sahut Anna, Adrian mengangguk mengerti, agak tersindir juga sih karena bertolak belakang dengan dirinya yang selalu menilai pekerjanya berdasarkan rupa dan kemampuan untuk menjadi penjilat baginya


Adrian dan Anna lalu turun dari mobil, bertukar posisi, masuk kembali ke dalam mobil dengan posisi Anna yang sudah di belakang kemudi dan melajukan mobil Adrian, tak lama mereka berkendara hanya sekitar beberapa menit karena apartemen Anna memang tak jauh dari kantornya


“Kumuh sekali” batin Adrian, seumur - umur ia tak pernah masuk ke tempat sekecil itu


“Ku harap kau tak keberatan tidur di apartemen kecil malam ini, tapi kau jangan khawatir, ada dua kamar disini, jadi kau tak perlu tidur di sofa” ujar Anna yang melihat Adrian sedang memandang sekeliling apartemennya


“Apa gaji yang Adam berikan padamu sangat kecil sampai kau tinggal di tempat seperti ini?” Tanya Adrian


Anna menghela napasnya, kesal sih tapi ia menyabarkan dirinya, “Tuan Adam memberiku gaji yang besar, tapi aku masih memiliki Ibu dan 3 orang adik yang masih bersekolah, dan semuanya harus ku biayai sendiri! Lagipula aku merasa apartemen ini cukup untukku” tandas Anna sambil menyodorkan teh hangat pada Adrian, Adrian menerimanya dan menggenggam cangkir teh hangat itu untuk menghangatkan tangannya yang dingin


“Kalau kau mau, kau bisa mengganti baju dengan baju pamanku, ada beberapa helai yang ia tinggalkan disini” ucap Anna sesaat setelah ia melihat baju Adrian yang basah kuyup


“Aku tak keberatan, aku tak sempat membawa apa pun dari rumah tadi” sahut Arrian lalu wajahnya menunduk sendu


Anna mengerutkan keningnya, sebenarnya ia penasaran dengan omongan Adrian barusan, tapi ia memilih untuk tak mau tahu


“Mandilah dulu Tuan, ada handuk bersih di kamar mandi, aku akan menyiapkan bajunya di kamar itu!” Anna menunjuk salah satu pintu kamar yang bersebelahan dengan pintu kamarnya

__ADS_1


“Baiklah” ujar Adrian, ia lalu meletakkan cangkir tehnya di atas meja dan beranjak masuk kamar mandi


“Ya Tuhan, dosa apa yang telah ku perbuat hingga aku harus menolong pria itu?” Gumam Anna frustasi


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Bu, tolong! Ada kecoa di kamarku! Tolong Bu, aku takut sekali!!! Pekik Brianna di tengah malam buta itu, Pamela yang sudah nyaris tidur tergesa menuju kamar Brianna, mulai malam itu mereka mau tidak mau menempati rumah yang dibelikan Adam, rumah sederhana yang terletak di belakang perumahan mewah


“Brianna bisakah kau tak berteriak - teriak begitu? Apa kau ingin tetangga sampai mengusir kita dari sini karena membuat kegaduhan?” Bentak Pamela pada Brianna yang sedang berdiri gemetaran di pojok kamarnya


“Bu tolong! Ada kecoa di atas tempat tidurku tadi, kau tahu kalau aku sangat takut pada serangga itu kan Bu?!” Panik Brianna sambil menunjuk tempat tidurnya yang kecil, bahkan besarnya tidak sampai setengah dari tempat tidur yang ia biasa tiduri di rumah Anderson


Mendengar nama serangga menjijikkan itu Pamela berjengit dan panik, seketika ia mundur mendekati Brianna, dengan mata awas memandangi sekeliling kamar karena kecoa itu bisa ada dimana saja, “Dimana terakhir kau melihatnya Brianna?” Tanya Pamela panik


“Astaga Bu, kau takut juga? Lantas siapa yang akan menolongku kalau kau juga takut?!” Cerocos Brianna


“Apa kau pikir aku sudi menyentuh atau berdekatan dengan serangga menjijikkan itu hah?” Sentak Pamela, ia lalu perlahan melangkah hendak keluar kamar Brianna


“Bu, kau mau kemana?” Rengek Brianna sambil menarik baju Ibunya


“Aku tak sanggup berada disini Brianna, kau hadapilah kecoa itu sendirian!” Sahut Pamela sambil berbisik seolah kecoa itu bisa mendengar mereka


“Aku ikut Bu! Aku takut sekali!” Rengek Brianna lagi, keduanya kini berjalan mengendap - endap hendak keluar kamar, Pamela bernapas lega ketika ia sudah berada di depan pintu kamar, namun tiba - tiba kecoa itu terbang dan hinggap persis di pintu kamar


“Aaaaaarrggggghhhhhhh” Teriak Pamela dan Brianna bersamaan, mereka urung keluar dan berlomba lari ke sudut kamar tempat mereka bersembunyi tadi, mereka tidak lagi berdiri, keduanya kini jongkok sambil menelungkupkan wajah mereka


“Kenapa kita harus tinggal di rumah kumuh yang banyak dihuni serangga begini Bu? Kenapa kita tidak kembali ke rumah kita saja?” Bisik Brianna


“Ck… Aku sudah menjual rumah itu!” Sahut Pamela


“Apa?” Brianna memekik saking terkejutnya, Pamela menarik tangan anaknya


“Sssstt… diam! Jangan berteriak, bagaimana kalau kecoa itu terbang kesini? Kau tidak boleh bersuara atau tiba - tiba bergerak!” Bisik Pamela lagi


“Kapan kau menjual rumah kita Bu? Dan kau kemanakan uangnya?” Cecar Brianna, juga dengan berbisik


“Aku pakai uangnya untuk berjudi di Las Vegas saat aku liburan ke luar negeri waktu itu, aku pikir peruntungan masih berpihak padaku seperti dulu, tapi sialnya aku kalah besar! Semua uangku habis!” Tuturnya

__ADS_1


“Apa kau bilang Bu? Apa kau gila?” Brianna lupa dengan pesan Ibunya tadi karena saking terkejutnya ia sampai berdiri dan menghardik Ibunya


Dan saat itulah, sang kecoa terbang menuju arah Brianna lalu hinggap di rambut Pamela, “aaaaaaaaarrghhhhh” keduanya kembali berteriak kencang.


__ADS_2