Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 90


__ADS_3

Nasib tragis yang dialami Justin membuat Takanawa berjuang mati - matian menyelamatkan anaknya itu di meja operasi, cukup baginya kehilangan Emily.. ia tak ingin kehilangan siapa pun yang dicintainya lagi


Jessie dan Bella menunggu dalam diam namun bibir mereka tak berhenti berkomat - kamit menghaturkan do’a, tangan mereka saling menggenggam di bangku depan ruangan operasi. Sedang Adam berada di kantor polisi diminta menjadi saksi aksi keji Brianna, kali kedua Adam menjebloskan Brianna ke penjara, tapi untuk kali ini Adam bertekad memastikan Brianna tak akan bisa keluar untuk waktu yang sangat lama


“Bagaimana Kak Justin, Pa?” Berondong jessie pada Ayahnya yang baru keluar dari ruang operasi, Takanawa sabar membuka tutup kepala dan maskernya


“Operasinya lancar meskipun lukanya sangat dalam, tapi Justin kehilangan cukup banyak darah, sekarang dia sedang di transfusi, sambil menunggu Justin sadar dari pengaruh obat bius.. tolong do’akan terus Kakakmu itu agar kuat, Papa merasa dia sudah kehilangan motivasinya untuk hidup” sahut Takanawa, Jessie dan Bella bingung harus bereaksi apa, antara lega karena operasinya berhasil dan khawatir mendengar mental Justin yang tidak baik - baik saja


“Aku akan bicara pada Kak Justin nanti, Pa” ucap Bella


“Kau?” Takanawa terperangah, Tapi kau dan Justin.. kalian… “ Takanawa tak sanggup melanjutkan kalimatnya tak ingin mengungkit apa yang sudah Justin lakukan pada Bella, Takanawa khawatir Bella trauma


“Kami baik - baik saja Pa” Tandas Bella meyakinkan Takanawa, pengorbanan Justin untuk menyelamatkannya dari serangang Brianna sudah cukup membuat Bella memaafkan semua perbuatan Justin, Takanawa menghela napasnya masih ragu


“Pa, biarkan Kak Bella bicara pada Kak Justin.. kau tahu sendiri kalau Kak Justin selalu mendengar apa pun yang Kak Bella ucapkan!” Rayu Jessie, menimang sebentar Takanawa lalu mengangguk setuju


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sekitar jam 10 malam seorang perawat tergupuh mengabarkan kalau Justin sudah siuman, Adam, Bella, dan Jessie yang saat itu menunggu di ruangan Takanawa sigap mengikuti Takanawa yang melangkah tergesa menuju ruangan tempat Justin di rawat


“Apa yang kau rasakan, Justin?” Tanya Takanawa saat mulai memeriksa kondisi anaknya dibantu dokter yang lain


Justin bergerak lemah, orang pertama yang ia lihat adalah Bella, bibirnya bergerak tanpa bersuara “Maafkan aku” ucapnya, Bella mengangguk dan menyunggikan senyum paham apa yang ingin diucapkan Justin


“Syukurlah operasi berjalan lancar, kau hanya perlu banyak beristirahat, Justin” Tutur Takanawa setelah pemeriksaan sesai, Takanawa lalu menoleh pada Bella


“Bukankah kau ingin bicara dengan Justin?” Tanyanya, Bella menyentuh tangan Adam meminta izin sebelum ia mengiyakan, Adam paham


“Aku tunggu diluar sayang” Tuturnya lembut penuh kasih. Setelah itu semua orang keluar meninggalkan Bella dan Justin, Bella mendekati Justin duduk di sampingnya. Justin syahdu menatap wajah wanita yang membuat dunianya jungkir balik

__ADS_1


“Aku tak tahu bagaimana caranya berterima kasih atas apa yang telah kau lakukan tadi Kak” Tutur Bella berterima kasih atas aksi penyelamatan Justin


Justin mengumpulkan tenaganya untuk berucap, “Cukup dengan memaafkanku Bella” sahutnya lemah nyaris tak terdengar, Bella tersenyum begitu tulusnya


“Aku sudah memaafkanmu Kak, begitu juga dengan Adam” tuturnya menenangkan


Bak semilir angin surga, jiwa Justin yang tadinya tandus dan kering karena rasa bersalahnya yang bergejolak kini sejuk dan damai, kubangan bening berkumpul di mata sipit dengan bulu mata yang lentik itu


“Terima kasih, kau dan Adam orang yang baik.. Tuhan memang menciptakan kalian untuk bertemu dan bersatu” Tutur Justin, berat mengucapkan itu tapi kenyataan tak bisa ia ubah lagi, ia pernah berupaya sekuat tenaga memisahkan Bella dan Adam bahkan dengan cara yang terendah, tapi Justin sadar cinta Adam dan Bella bukan hanya afeksi belaka, melainkan ikatan saling membutuhkan dan melindungi.


“Kau akan menemukan wanita yang sangat cantik dan baik, Kak.. aku yakin itu” ucap Bella optimis


“Apa kau punya teman yang bisa kau kenalkan padaku?” Gurau Justin keduanya tertawa kecil meskipun pada akhirnya Justin kembali meringis merasakan sakit di lukanya


“Kau harusnya jangan tertawa dulu Kak!” Ucap Bella sambil membenar - benarkan bantal Justin, membantunya untuk lebih nyaman


“Lantas aku harus apa Bella? Apa aku harus menangis? Aku lelah menangis berhari - hari setelah kepergian Mama” Sahut Justin, senyum Bella meredup lantas ia tertunduk


“Bukan karena kau Kak, Mama hanya ingin pergi lebih cepat agar bisa beristirahat” hibur Bella


Justin tersenyum miris, “Tak perlu menghiburku Bella, tak perlu menyangkal kenyataan bahwa Mama bunuh diri karena aku, karena ulahku” mata Justin menerawang, kubangan bening meleleh di ujungnya, tangisan penyesalan


Bella menghela pelan napasnya, ia memberanikan diri memegang tangan Justin, tak ada tujuan lain selain untuk membesarkan hati pria yang sedang patah itu, Bella berdamai dengan kesalahan Justin karena pengorbanan yang sudah Justin lakukan, Justin terperanjat ketika tangannya dalam genggaman hangat Bella


“Apa kau akan menyiksaku terus Kak? Apa kau tak kasihan padaku? Aku menyayangimu, dan melihat Kakakku terus menyalahkan dirinya sendiri membuatku tersiksa Kak! aku mohon lupakan semua dan kita bisa memulai semuanya dari awal lagi” Ucap Bella memotivasi


Senyum Justin menghangat, tak sepilu tadi tapi juga belum lepas seperti biasanya, “Ironis bukan Bel? Dulu aku yang selalu meyakinkanmu bahwa semua akan baik - baik saja, dan kini… kau yang bersikukuh kalau aku akan bisa melewati ini” tuturnya lemah lalu terbatuk kecil


Bella panik melihat Justin yang tampak kesakitan, “Sudah Kak, kau jangan bicara lagi.. kau sudah terlalu banyak bicara, sebaiknya sekarang kau istirahat!” Pinta Bella, ia lalu bangun dari duduknya dan membenarkan selimut Justin

__ADS_1


“Selamat istirahat, Kak” Ucap Bella lembut, Bella berbalik hendak beranjak tapi Justin menangkap tangannya


“Bel, apa kau akan meninggalkanku?” Tanya Justin, Bella berbalik dan memberikan senyum terbaiknya


“Aku tak akan kemana - mana, Kak.. aku, Adam, Jessie, dan Papa akan ada di depan, begitu kau bangun dari tidurmu nanti kau akan melihat kami lagi.. jadi sekarang tidurlah” sahut Bella sabar


Justin mengangguk lalu perlahan memejamkan matanya, saat Justin terlihat sudah lelap Bella keluar dari ruangan Justin, di depan ruangan itu Adam berdiri bersandar ke dinding, tangannya bersedekap dan wajahnya tertunduk, Adam tampak lelah. Bella menghampiri suaminya itu


“Kau lelah sayang?” Tanya Bella sambil sedikit berjinjit untuk mengelus rambut Adam, Adam mendongak lalu menatap istrinya, tangannya yang tadi bersedekap ia bawa ke pinggang Bella


“Bagaimana Justin?” Tanya Adam


“Dia sedang butuh dukungan kita untuk melanjutkan hidupnya, Adam” sahut Bella lalu melabuhkan kepalanya di dada Adam yang bidang, tangan berotot Adam mendekap Bella menyamankannya


“Kita akan temani dia melewati masa - masa sulitnya sayang” sahut Adam, Bella tersenyum lega dan bangga mendengar itu, benar kata Justin dia dan Adam memang ditakdirkan Tuhan untuk bertemu dan bersatu, mereka sepemikiran untuk banyak hal, termasuk mudah memaafkan orang yang sudah berbuat jahat pada mereka


“Dimana Jessie dan Papa?” Tanya Bella saat menyadari tak melihat keduanya di sekitar mereka


“Papa dan Jessie sedang membeli kopi dan makanan, itu mereka!” Tunjuk Adam pada Jessie dan Takanawa yang baru saja datang


“Bella, bagaimana Justin?” Tanya Takanawa yang di tangannya penuh jinjingan berisi makanan


“Aku sudah bicara padanya Pa, syukurlah Kak Justin bisa lebih tenang, dan sekarang dia sedang tidur” sahut Bella tampak lega


Jessie dan Takanawa tampak bahagia mendengarnya, secercah harap muncul lagi setelah mimpi buruk mereka


“Baiklah, sebaiknya kita makan malam dulu.. aku yakin kita berempat sudah sangat kelaparan!” Ajak Takanawa, senyumnya mulai terlihat lagi


“Kau benar Pa, cacing di perutku sudah tak bisa diam! Ayo cepat kita makan, aku tak mau nantinya ususku yang dimakan cacing!” Gurau Jessie, tangannya cepat meraih tangan Bella dan membimbingnya ke ruangan Takanawa, Adam tersenyum sedang Takanawa hanya menggeleng - geleng dan tertawa kecil mendengar omongan Jessie, sedikit kebahagiaan menjelang perpisahan mereka yang tak lama lagi.

__ADS_1


(Bersambung… )


__ADS_2