
“Tolong! Tolong! Siapa pun tolong aku!” Pekik Brianna tanpa menghentikan larinya yang tunggang langgang, napas Brianna terengah dengan wajah memerah, peluh sudah banjir di pelipisnya, sialnya pagi itu tak banyak orang yang melewati tempat Brianna berlari pagi, bahkan Adam yang ia buntuti pun tak terlihat batang hidungnya padahal niat Brianna tadi adalah agar ia bisa lari pagi bersama Adam
Brianna masih panik berlari sekuat tenaganya, tak ia pedulikan lagi hujan yang mulai turun dengan derasnya, makhluk berbulu hitam dengan taring runcing dan gonggongan yang menyeramkan jauh lebih menakutkan Brianna dibanding apa pun, entah mimpi apa ia tadi malam hingga pagi ini ia diincar dengan gigih oleh anjing tinggi besar mengerikan itu
“Ya Tuhan tolong aku, aku mohon!” Lirih Brianna putus asa karena sepanjang jalan yang dibentengi pohon - pohon besar itu ia tak juga menemukan seorang pun, jalan yang biasa dipakai untuk lari pagi itu lengang, mungkin karena hujan yang mengguyur membuat orang enggan untuk keluar rumah. Brianna nyaris tak kuat lagi, perutnya sudah mulai terasa keram, dadanya sesak, jantungnya berdetak tak beraturan, lari Brianna sudah mulai melambat karena kakiknya pun sudah mulai tak karuan, hingga makhluk ganas itu dengan mudah menyusulnya
Dan bruuuggg…
Makhluk yang tak kenal lelah mengejar Brianna itu menerjang hingga badan Brianna terjungkal
“Tolong!” Upaya Brianna lagi saat anjing itu mulai melancarkan serangannya, Brianna lalu mulai meraih apa pun di sekitar jalan yang mulai basah dan berlumpur berharap ada yang bisa ia jadikan senjata untuk melawan binatang yang siap mengoyaknya
“Ibu, tolong aku Bu! Tolong! Aaaaahhhhhhh!” Pekik Brianna memilukan saat taring tajam milik anjing itu mulai menancap menembus celana olahraga hingga mengoyak kulit kakinya, aliran air hujan mulai diwarnai warna merah darah Brianna, wanita itu sekuat tenaga meronta mencoba melepaskan gigitan kuat anjing buas yang mulai memangsanya, tangis Brianna pecah meraung - raung ketika ia harus merelakan kaki mulusnya sobek dan kini luka menganga besar. Perih, pedih, takut, putus asa bercampur - campur menjadi satu
Priiit… Priiiit…
Suara peluit samar - samar terdengar diantara suara gemericik air hujan dan petir yang sesekali menyambar. Secercah harapan muncul di hati Brianna, mungkin ada orang di sekitar sini yang bisa menolongnya, Brianna menoleh ke kiri dan ke kanan dengan sisa tenaganya, “Tolong! Siapa pun disana tolong aku!” Teriak Brianna lagi
Entah dari mana datangnya suara peluit itu karena sampai saat ini tak ada satu orang pun terlihat, tapi yang pasti gigitan anjing di kaki Brianna melemah, lalu tak lama lepas setelah suara peluit itu berbunyi kembali, anjing itu lalu pergi begitu saja seolah suara peluit itu merupakan panggilan untuknya. Brianna lega, tapi kemudian ia meringis dan memekik saat mencoba menggerakan kakinya, darah segar tak berhenti mengalir dari sana
...----------------...
Adrian berjalan mondar mandir tak tenang, hujan sudah turun dengan derasnya bahkan petir sudah menyambar - menyambar tapi Brianna belum juga pulang dari lari paginya
“Kemana dia? Kenapa dia lama sekali?” Adrian gelisah melihat ke luar rumahnya, “apa jangan - jangan ia berteduh menunggu hujannya reda? Ya Tuhan, aku tak bisa tenang” ujar Adrian sambil beranjak mengambil kunci mobilnya, ia lalu mengajak salah seorang asistennya
Hujan semakin deras tatkala Adrian melajukan pelan mobilnya, ia dan asistennya awas melihat sekeliling sepanjang jalan dimana Brianna dan dirinya biasa berlari pagi
“Tuan, di sebelah sana!” Tunjuk asisten Adrian, Adrian mengikuti arah tangan asistennya, matanya memicing mengamati lamat - lamat sesosok perempuan yang tengah berusaha untuk berdiri
“Ya Tuhan itu Brianna!”Adrian menghentikan mobilnya tiba - tiba, suara rem berdecit berlomba dengan petir yang baru saja menggelegar, Adrian lalu segera turun dari mobilnya diikuti oleh sang asisten keduanya menerobos hujan yang seolah tertumpah ruah dari langit
__ADS_1
“Brianna, kau kenapa?” Adrian memburu istrinya yang hampir rubuh karena berdirinya yang tak bisa seimbang, Adrian lalu terbelalak kaget saat melihat kaki Brianna yang mengeluarkan banyak darah dari dagingnya yang sudah tercabik, “apa yang terjadi Brianna?” Adrian tak menunggu jawaban Brianna yang sudah berwajah pucat pasi, ia langsung membopong tubuh Brianna yang gemetaran menuju mobilnya
Sepasang mata memandangi mobil Adrian yang melaju kencang meninggalkan tempat itu dari jauh, senyum puas lalu terbit di wajah tampan Justin, “Good boy Jack! Good boy” ucapnya sambil mengelus - elus kepala anjing yang mulutnya masih berlumuran darah itu
*** Kediaman Anderson pagi itu geger, Adrian tiba - tiba saja datang dengan basah kuyup sambil membopong Brianna yang sama basahnya, tapi yang membuat kehebohan adalah kaki Brianna yang berlumuran darah
“Ya Tuhan Adrian, apa yang terjadi?” Miranda menjadi orang pertama yang melihat keduanya, Miranda berjengit ngeri saat melihat kaki Brianna yang koyak, “Kakimu kenapa Brianna?” Tunjuk Miranda pada kaki Brianna yang tak berhenti mengeluarkan darah
“Brianna butuh dokter Mom!” Hanya itu jawaban Adrian karena ia pun belum mengetahui apa yang terjadi, sedari tadi Brianna tak berucap apa pun, hanya tangis yang keluar dari bibirnya yang gemetaran, tampaknya Brianna masih sangat shock, Miranda mengangguk mengerti lalu panik menyuruh pelayan untuk menghubungi Erick
“Brianna! Ya Tuhan, apa yang terjadi denganmu?” Kali ini Pamela yang baru saja masuk ke ruang tamu berteriak histeris melihat kondisi anaknya yang memprihatinkan, Pamela berlari menuju Brianna yang baru saja Adrian letakkan di atas sofa ruang tamu
“Ambilkan handuk kering dan selimut!” Titah Adrian pada para pelayan yang juga sedang terkejut melihat kondisi Brianna, situasi semakin riuh saat William datang bersamaan dengan Adam dan Bella
“Ada apa ini? Kenapa Brianna sampai mengeluarkan banyak darah begitu?” Panik William, Adam dan Bella pun ikut terkejut melihat darah dari kaki Brianna yang sudah mulai merembes mewarnai sofa berwarna krem
“Aku tidak tahu Dad! Aku menemukan Brianna di jalan dengan kondisi kakinya yang sudah seperti ini!” sahut Adrian lesu sambil membenar - benarkan bantal kursi agar Brianna nyaman bersandar
“Sakit!” Rintih Brianna, tangis Pamela pecah mendengar suara kesakitan anaknya, “apa yang terjadi padamu sayang, kenapa kau bisa begini?” ratap Pamela sambil membantu mengeringkan rambut anaknya dengan handuk yang baru saja disodorkan oleh pelayan, sedang Adrian telaten menyelimuti tubuh Brianna yang menggigil kedinginan
Deg..
“Anjing? Brianna digigit anjing?” Gumam Bella dalam hatinya, “kenapa dia bisa bernasib sama sepertiku?” Batin Bella, lalu mata Bella membulat sempurna “ya Tuhan, Justin! Ini pasti perbuatan Justin!”
“Kenapa ini bisa terjadi pada anakku? Apa salahnya?!” Ratapan Pamela semakin menjadi - jadi, “dia tadi hanya ingin berlari pagi bersama Adam! Tapi kenapa dia pulang dengan kondisi seperti ini?” Rintihnya lagi
Adrian yang tak mengetahui niat awal Brianna lari pagi tersentak kaget, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Adam dengan wajah yang sangat tak bersahabat, Adrian lalu bangkit dan berdiri dengan dada yang membusung menantang Adam
“Kau pasti tahu kalau Brianna mengikutimu untuk lari pagi tadi kan? Lantas kenapa kau membiarkannya sendiri? Seandainya kau sedikit saja peduli pada adik iparmu sendiri, ini semua pasti tidak akan terjadi!” Sentak Adrian pada Adam, Adam hanya berdiri tenang dan menatap dingin Adrian
“Kenapa kau menyalahkan suamiku, hah?!” Bella balik menyentak Adrian, ia maju dan berdiri di depan Adam melindungi suaminya itu, “melindungi Brianna itu adalah tugasmu Adrian, bukan tugas Adam! Jadi jangan berani - berani menyalahkan Adam atas apa yang terjadi pada Brianna, aku tak akan membiarkan siapa pun menyudutkan suamiku atas kesalahan yang dia tidak perbuat!” Tandas Bella dengan mata yang menyiratkan kemarahan. Adam dibelakang Bella tersenyum penuh arti, hatinya hangat mendapat pembelaan dari Bella
__ADS_1
Miranda dan William sibuk berbisik - bisik, “lihatlah sayang, Bella manis sekali bukan? Terlihat sekali rasa cintanya pada Adam” bisik Miranda pada William yang mengangguk - angguk bangga akan sikap menantunya itu
“Adrian, kau keterlaluan! Tidak sepantasnya kau menyalahkan Adam! Adam tidak salah apa pun dalam hal ini!” Giliran Brianna yang membentak Adrian dengan sisa tenaganya, jika dari tadi ia tak berucap dan terbaring lemas, tapi kalau menyangkut soal Adam jelas ia tak bisa tinggal diam
Adrian menatap Brianna tak percaya, dalam hal ini Adrian sedang membelanya, tapi lihatlah apa yang dilakukan Brianna, ia justru mempermalukan Adrian di depan semua orang membuatnya seperti orang bodoh, tidak bisakah Brianna bersikap seperti Bella yang membela suaminya? Adrian mengepalkan tinjunya lalu tanpa basa basi ia beranjak dari ruang tamu, berpapasan dengan Erick yang baru merangsek masuk
“Ada drama apalagi ini?” Gumam Erick pelan saat melihat wajah penuh amarah Adrian yang bahkan tak menyapanya, Erick mengedikan bahunya acuh lalu kembali berjalan masuk ke ruang tamu. Sesampainya disana Erick terkejut bukan main melihat kondisi Brianna
“Digigit anjing? Kenapa kisahmu sama persis dengan Bella?” Cerocos Erick tanpa basa basi, omongan Erick dicerna oleh Pamela, “apa ini karma karena Brianna pernah sengaja membuat anjing penjaga mengejar Bella?” Batinnya
“Lukanya sangat serius, jauh lebih parah dibanding luka Bella dulu! Kita harus segera membawanya ke rumah sakit” ucap Erick, pria itu lalu meraih ponselnya untuk menghubungi rekannya sesama dokter, luka Brianna harus ditangani beberapa dokter sekaligus
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brianna sudah berangkat ke rumah sakit di dampingi oleh Pamela, Adrian, dan Miranda, sedang Adam bergegas berangkat ke kantornya setelah mendapat laporan bahwa ada hal penting yang harus ia selesaikan dari asistennya
Di rumah kini hanya ada Bella dan William serta para pelayan yang sedang sibuk membersihkan darah di sofa dan lantai
“Noda darah di sofa itu tak akan hilang, buang saja sofanya dan hubungi toko langgananku, suruh mereka mengantarkan sofa terbaru siang ini!” Titah William yang langsung dipatuhi oleh pelayannya
William lalu menoleh pada Bella yang berdiri di sebelahnya, “Aku sangat menghargai apa yang kau lakukan tadi untuk Adam, Bella! Kau membela suamimu dan melindungi kehormatannya, kau tahu aku tak pernah sebahagia ini mengetahui bahwa Adam sudah mendapatkan pendamping yang terbaik” tutur William sumringah
“Kau jangan khawatir Daddy, aku akan selalu berdiri di sisi Adam apa pun yang terjadi” ucap Bella penuh keyakinan, ya iya mulai yakin kalau Adam telah membuatnya jatuh cinta. Bella pamit dengan sopan pada William saat ponselnya berdering, nama Justin muncul di layar ponselnya, Bella tergesa berjalan menuju halaman belakang lalu memindai sekelilingnya begitu sampai disana, memastikan tak ada orang yang akan mendengar percakapannya dengan Justin
“Justin, apa kau yang melakukannya?” Tuding Bella langsung ke intinya
Di seberang sana Justin menerbitkan senyumnya yang penuh kepuasan, “Kau suka kejutan yang aku buat pagi ini?” Tanyanya
Wajah penasaran Bella perlahan berubah menjadi seringai, “aku sangat menikmatinya Justin, terima kasih” ucap Bella bahagia, “ucapkan terima kasihku juga untuk Jack karena dia telah melakukan tugasnya dengan baik” lanjutnya
“Dia akan lebih senang kalau kau mengucapkannya langsung! datanglah ke rumah Bella, Ibuku ingin sekali mengelus kandunganmu, bahkan Jessi sudah sibuk berbelanja baju - baju bayi untuk anakmu nanti” tutur Justin penuh harap
__ADS_1
Bella terenyuh mendengar penuturan Justin, ia merasa punya keluarga, “Baiklah, beberapa hari lagi aku akan berkunjung ke rumahmu sekaligus untuk menyusun rencana berikutnya, kau masih mau membantuku kan Justin?” Tanya Bella
“Apa pun yang kau mau dan inginkan, akan aku penuhi Bella” sahut Justin meyakinkan, Bella tersenyum merasa hatinya menghangat, “terima kasih” ucapnya tulus.