Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Ketika Rahasia Terbongkar


__ADS_3

“Apa dia sudah tak punya hati? Meskipun dia sangat marah padaku apa dia tak sudi sekedar menjemputku di rumah sakit?” Sewot Brianna bersungut - sungut ketika ia menginjakkan kakinya yang masih terpincang di kediaman Anderson


“Itu salahmu sendiri! Harusnya kau berpura - pura saja masih mencintainya dulu sampai semua misi kita tercapai! Kalau sudah begini bukan hanya kau yang susah, tapi Ibu juga!” Timpal Pamela tak kalah sewotnya, Pamela yang sedang kerepotan memapah Brianna menyikut anaknya itu agar diam saat ia melihat Miranda dan William


“Hei kenapa kau tak memberi tahu kami kalau hari ini kau keluar dari rumah sakit?” Tanya Miranda yang langsung memburu Brianna membantunya untuk berjalan


“Apa Adrian tidak menjemputmu? Kenapa kalian hanya pulang berdua saja?” Tanya William saat ia tak melihat wajah Adrian


“Ah, sudah tidak apa - apa, Adrian pasti sedang sangat sibuk” ujar Pamela gugup, jika sampai besannya itu tahu apa penyebab kemurkaan Adrian, bisa habis ia dan Brianna


Miranda menggelengkan kepalanya, “Adrian tidak sibuk, hari ini malah ia tidak berangkat ke kantornya, seharian ini ia hanya berdiam diri di kamar” tutur Miranda


Brianna menelan salivanya, jika sekarang Adrian berada di rumah bisa - bisa Adrian membuka kesalahannya di depan William dan Miranda, mau tidak mau ia harus membujuk rayu Adrian dulu agar Adrian tak buka mulut


William menangkap kegelisahan menantunya, “apa kalian bertengkar Brianna?” Tanya William penasaran


“T - tidak, sama sekali tidak Dad! Hahahha.. aku tidak ingin merepotkan Adrian makanya aku tidak memintanya untuk menjemputku” Brianna sebisa mungkin berpura - pura seolah tak terjadi apa - apa


William hanya bisa mengangguk - angguk meskipun ia tak yakin kalau Brianna jujur, “syukurlah kalau begitu! Sebaiknya kau segera ke kamarmu untuk beristirahat, kau masih belum benar - benar pulih!” Titah William


Brianna mengangguk, bersama Pamela ia mulai tertatih berjalan menuju kamarnya, saat mereka baru saja hendak meniti anak tangga untuk naik ke lantai dua, Bella muncul dari taman belakang, Bella berjalan tertunduk sambil mengelus - elus perutnya, ia tak sadar jika Pamela dan Brianna berada disana dan sedang memperhatikannya


”Bu, ayo! Aku ingin segera istirahat!” Berbeda dengan Pamela yang matanya membulat terhenyak kaget, Brianna acuh tak peduli pada Bella


Kepala Pamela menggeleng - geleng, mulutnya membuka lalu menutup, “enggak! ini ga mungkin!” Gumam Pamela tak terima


“Apa yang tidak mungkin Bu?” Tanya Brianna, ia lalu mengikuti arah pandang Pamela yang masih terfokus pada Bella


“D - dia hamil Brianna!” Sahut Pamela menggeram marah


“Apa?” Brianna refleks kaget, ia lalu memelankan suaranya khawatir Miranda dan William yang kini sedang sibuk bercengkrama mendengar omongannya, “apa Bu? Bella hamil? Darimana Ibu tahu?”


“Kau tidak lihat bagaimana ia mengelus - elus perutnya yang semakin buncit sambil tersenyum? Apa kau juga tidak lihat badannya yang dulu kurus kering sekarang berisi? Aku yakin dia sedang hamil!” Cerocos Pamela setengah berbisik


“Mungkin saja dia menjadi gemuk karena banyak makan Bu, kau tahu bagaimana Adam memanjakannya kan?” Sanggah Brianna


Pamela berdecak kesal, “aku yakin seyakin - yakinnya kalau dia sedang hamil Brianna!” tandas Pamela, giliran Brianna yang menggeram penuh amarah, sumpah serapah keluar dari mulutnya


“Sialan! Kenapa dia harus hamil anak Adam! Bagaimana ini Bu? Semakin sulit saja aku mendapatkan Adam kalau begini!” Protes Brianna

__ADS_1


“Kita harus melakukan sesuatu Brianna, sebelum William dan Miranda tahu kalau Bella sedang mengandung! Aku yakin Adam dan Bella sengaja menyembunyikan pada semua orang tentang kehamilannya, artinya kita juga harus bertindak sangat hati - hati jangan sampai ada orang lain yang mengetahui kehamilan Bella dan akhirnya rencana kita gagal” ujar Pamela berapi - api, Brianna mengangguk menyetujui, mereka kemudian beranjak kembali menuju kamar Adrian dan Brianna


...----------------...


Brianna menghembuskan napasnya, ia sebenarnya malas sekali berbasa - basi pada Adrian, tapi apa boleh buat mau tidak mau untuk sementara ini ia membujuk Adrian dulu sesuai pesan Ibunya tadi. Brianna yang sudah masuk ke dalam kamarnya perlahan mendekati Adrian yang sedang terbaring di atas tempat tidur, Brianna tahu kalau Adrian sedang tidak tidur, Adrian hanya berpura - pura agar tak harus berkomunikasi dengan Brianna


“Adrian, apa kau masih marah padaku?” Brianna melembut - lembutkan suaranya sambil duduk disamping Adrian, seperti dugaannya Adrian memang terjaga, buktinya kini ia berpaling membelakangi Brianna


“Adrian, tolong maafkan aku! Aku tahu aku salah, tapi apa pun masalahnya sebaiknya kita bicarakan baik - baik, bagaimana pun kita ini suami istri, aku sangat sedih kalau kau marah padaku” rayu Brianna sengaja bersuara manja


Terdengar helaan napas Adrian, “aku tak ingin mendengar apa pun lagi darimu Brianna! Tidak ada yang perlu kita bicarakan lagi, kalau saja Daddy menyetujui perceraian aku pasti sudah menceraikanmu!” Tegas Adrian


Deg…


Bak disambar petir Brianna terpaku mendengar ancaman Adrian, iya ia memang sudah tak mencintai Adrian lagi, tapi bercerai darinya sudah pasti akan membuat hidup Brianna dan Pamela kembali sengsara, sebelum ia mendapatkan Adam tentu saja ia tak boleh bercerai dengan Adrian


“Apa yang kau bicarakan Adrian? Cerai? Demi apa pun aku tak ingin bercerai denganmu dan meninggalkan rumah ini!” Tandas Brianna, siapa yang mau kehilangan fasilitas semewah yang diberikan William dan Miranda


“Kalau begitu mulai sekarang urus hidupmu sendiri dan jangan ikut campur urusanku!” Tandas Adrian, Brianna sih tak keberatan dengan itu semua, memang itu yang ia harapkan tapi ada satu hal yang mengganjal untuknya


“Tapi bagaimana dengan masalah keuanganku Adrian?” Tanya Brianna, Adrian seketika bangkit dari tidurnya, senyumnya sinis pada Brianna


“Kau memang wanita tak tahu malu Brianna! Setelah banyaknya uang yang kau ambil dariku, kau masih berharap mendapatkan uang dariku lagi?” Sengit Adrian penuh cemoohan, “baiklah! Aku tetap akan memberikanmu uang, dengan catatan kau harus menuruti semua kata - kataku, kau mengerti?” Tandas Adrian penuh penekanan


** Malam itu keluarga Anderson kembali menggelar makan malam bersama setelah berhari - hari mereka absen tak berkumpul, William dan Miranda tampak bahagia larut dalam perjamuan, sementara Pamela sibuk dengan pemikirannya sendiri memikirkan cara untuk menggugurkan kandungan Bella, lain lagi dengan Adrian dan Brianna, jika Brianna mencuri - curi pandang pada Adam, maka Adrian beberapa kali menatapi wajah Bella


Adam meletakkan alat makannya, ia lalu menenggak minumnya dan berdehem, mengerti bahwa Adam berniat mengumumkan sesuatu seluruh anggota keluarga menghentikan kegiatan makannya dan kini fokus menatap Adam


“Mom, Dad, aku dan Bella telah berdiskusi, dan kami memutuskan untuk menempati rumah kami sendiri” ucap Adam


“Apa?” Adrian yang bereaksi pertama kali, ia tak terima jika harus berjauhan dengan Bella, Adam menatap tajam pada Adrian, Adam menganggap bahwa protes Adrian karena ia tidak lagi bisa memantau gerak - gerik Adam dan Bella


William dan Miranda saling pandang, raut sedih terlukis di wajah mereka, “kenapa mendadak sekali Adam?” tanya William


“Aku menghormati keinginan Bella, ini keputusannya, dan aku pikir ini yang terbaik untuk kita semua” sahut Adam


“Lantas, kalian akan tinggal dimana?” Kali ini Brianna ikut bersuara, sebenarnya ia ingin protes keras menentang kepindahan Adam, ia tak ingin berjauhan dengan Adam


Bella tersenyum sinis melihat kecewa di wajah Brianna, “Wah, kau tampaknya tak rela berjauhan dengan kami Kak” sindir Bella, “tenang saja kau sudah tahu betul dimana alamat rumah kami, sekali - kali kau boleh mampir kalau kau mau”

__ADS_1


“Maksudmu?” Tanya Brianna tak paham


“Tentu saja aku dan Adam akan pindah ke rumah yang Adam belikan untukku!” Sahut Bella, Brianna terhenyak ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Pamela yang mulutnya terbuka lebar karena terkejut luar biasa


“Maksudmu, kau akan tinggal bersama Ibu?” Tanya Pamela cemas, ia tak rela Bella menempati kerajaannya, bersama Adam pula, tentu bisa hancur semua rencananya


Miranda kesal mendengarnya, “Adam, Bella, untuk apa kalian pindah dan meninggalkan kami jika hanya untuk tinggal bersama Nyonya Pamela? Bukankah itu tidak adil?” Protes Miranda


Pamela tersenyum lega mendapati Miranda yang tak terima rencana Adam, “Apa yang dikatakan Nyonya Miranda itu betul, tidak adil kalau kalian meninggalkan mereka dan malah tinggal bersamaku”


“Kami tidak akan tinggal bersama Ibu, kami hanya akan tinggal berdua disana” sahut Bella santai sedang Adam lebih memilih untuk diam, ia sibuk menelaah ekspresi wajah Pamela yang berubah - ubah


“Aku tak mengerti Bella! Ibu kan tinggal disana” Pamela semakin khawatir saja


“Iya betul, terima kasih karena selama ini Ibu telah menjaga rumahku, tapi bagaimana pun itu adalah rumah kami dan sudah waktunya kami menempatinya sendiri” ucap Bella puas melihat wajah Pamela yang seketika berubah pucat pasi, “Ibu jangan khawatir, Adam sudah membelikan rumah untuk Ibu” tambah Bella mengerti apa yang dikhawatirkan oleh Ibunya itu


“R - rumah baru?” Pamela bak disiram air dingin di tengah padang pasir, wajahnya yang tadi pucat pasi berseri kembali, Brianna ikut tersenyum antusias mendengar Ibunya mendapat rumah baru dari Adam


“Iya rumah baru, besok Ibu sudah bisa mulai menempatinya” ucap Bella lagi, “oh ya agar keamanan Ibu terjaga aku akan mengirimkan penjaga keamanan di rumahku yang Ibu tempati sekarang ke rumah Ibu yang baru” tambahnya, Bella jelas tidak percaya pada penjaga keamanan yang sama jahatnya dengan Pamela dan Brianna itu, beruntung Adam bergerak cepat mengganti orang tersebut dengan penjaga keamanan baru


“Kau sangat perhatian pada Ibumu Bella! Daddy sangat bangga mendengarnya!” Puji William yang membuat Bella tersipu malu, meskipun sebenarnya itu bukan bentuk perhatian melainkan pembalasan dendam, “well, meskipun kami sangat sedih karena harus tinggal terpisah dengan kalian tapi kami menghormati keputusan kalian” tambah William mengalah pada keinginan Adam dan Bella


“Jadi kapan rencananya kalian akan pindah?” Tanya Miranda sendu


“Sekitar seminggu lagi, banyak yang harus dipersiapkan di rumah itu” sahut Adam, sebenarnya ia ingin sekalian memberi tahukan tentang kehamilan Bella sekarang, tapi melihat wajah bengis yang ditunjukkan Adrian sekarang, Adam urung dan memutuskan untuk memberi tahukannya pada William dan Miranda setelah mereka pindah nanti, Adam khawatir jika Adrian bersiasat agar kehamilan Bella gugur


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Pagi sekali Pamela diantarkan oleh sopir Miranda menuju rumah yang Adam siapkan untuknya, sepanjang perjalanan Pamela senyum - senyum sendiri membayangkan rumah megah baru yang akan ia tempati, hatinya semakin berbunga kala mobil mewah yang ditumpanginya itu memasuki kawasan elit


“Bella… Bella, Setelah semua yang kulakukan padanya dan dia masih masih mau membelikanku rumah, dia itu benar - benar bodoh atau terlalu menyayangiku?!” Batin Pamela saat ia mengingat Bella, “dasar anak tolol!” Umpatnya


Pamela membenar - benarkan baju dan rambutnya saat mobil berhenti, wajahnya mendongak ketika keluar dari mobil, semua orang di lingkungan kaya itu harus tahu bahwa ia adalah orang kaya baru disitu. Langkah Pamela anggun mengikuti langkah sopir di depannya yang memimpin jalan menuju rumah baru Pamela, namun dahi Pamela berkerut karena mereka kini keluar dari gerbang besar bagian belakang perumahan elit itu, Pamela semakin bingung ketika ia kini memasuki sebuah kawasan perumahan sederhana


“Kau sepertinya salah! Rumahnya harusnya disana tadi, bukan di daerah ini!” Protes Pamela


“Maaf Nyonya tapi tuan Adam memang memerintahkan saya untuk mengantarkan Nyonya kesini” sahut sopir itu sopan, ia lalu menunjuk sebuah rumah sederhana bercat putih, luasnya bahkan kurang dari seperempat rumah yang ia tempati sebelumnya


“Kau pasti salah! Tidak mungkin rumah ini!” Sewot Pamela, namun protesnya berhenti ketika ia melihat penjaga keamanannya yang dulu keluar dari gerbang rumah itu dan mengangguk hormat padanya

__ADS_1


Wajah Pamela memerah, dengan tak sabaran ia langsung memasuki gerbang dan merangsek masuk ke rumah barunya, mata Pamela terbelalak kala melihat isi rumah sederhana yang jauh dari kata mewah itu, ”tidak, ini tidak mungkin!” Ucapnya dengan mata berkaca - kaca


“Tidaaaaakkkk!!” Pekik Pamela, tangannya lalu menghempas hiasan meja yang tersusun rapi diatas nakas, “berengsek kau Bella, berengsek!!” Teriaknya, “akan ku bunuh kau dan anakmu itu, akan ku bunuh!!!!” Jeritnya lagi membahana


__ADS_2