
”Jangan cari aku lagi Adam, aku sudah kotor” tulis Bella di secarik kertas itu, Bella tahu kalau Adam pasti akan melacak GPS mobilnya, ia sengaja meninggalkan kertas itu di mobil agar Adam bisa membacanya
“Sudah kotor? Apa maksud Bella? Apa dia selingkuh dariku?” Batin Adam
“Apa itu Kak?” Tanya Adrian ketika melihat ekspresi kebingungan Adam sambil memegangi kertas
“Bella bilang kalau dia sudah kotor dan aku tak perlu mencarinya lagi, aku tak mengerti Adrian apa maksudnya kalau dia sudah kotor?” Tutur Adam penuh kebingungan, sedang Adrian paham maksud Bella, ia yakin seyakin yakinnya sekarang kalau Justin telah berbuat sesuatu pada Bella
“Berengsek kau Justin! Apa yang telah kau lakukan pada adikmu sendiri? Apa kau telah menodainya?” Geram Adrian dalam hatinya, “Adam harus tahu soal ini, jangan sampai ia salah paham pada Bella” batinnya lagi
“Kak, ada yang ingin ku sampaikan padamu” ucapnya
Adam memijit pelipisnya yang terasa sakit, “Apa yang ingin kau katakan?” Tanya Adam
“Ini ada hubungannya dengan Bella, Kak.., dan Justin” terang Adrian
Adam menatap Adrian lekat - lekat, “Apa hubungannya Justin dengan semua ini?” Cecar Adam
“Maaf karena aku baru memberi tahukannya sekarang, Bella yang melarangku untuk memberi tahumu karena dia tak ingin kehilangan kau, Kak” tutur Adrian, Adam semakin tak mengerti arah pembicaraan Adrian
“Adrian, jelaskan padaku apa yang terjadi?” Cecar Adam, dengan menghirup napas dalam - dalam dulu Adrian lalu menjelaskan duduk perkara yang sebenarnya pada Adam, bisa dibayangkan betapa hancurnya Adam mendengar apa yang terjadi pada Bella
“Sialan.. sialan.. sialan!!!!!!!!!!” Pekik Adam sambil memukul - mukul mobil Bella melampiaskan kemarahannya, “Berengsek kau Justin, Berengsek!!!!” Pekiknya lagi, Adam lalu melonggarkan dasinya demi membebaskan dadanya yang terasa sesak
“Kau mau kemana, Kak?” Tanya Adrian ketika melihat Adam melangkah cepat menuju mobilnya
“Aku akan membuat perhitungan dengan bajingan itu!” Sahut Adam, wajahnya merah menahan amarah, matanya berkaca - kaca penuh kubangan bening nyaris jatuh
Adrian buru - buru menahan Kakaknya, “Itu nanti saja Kak, kita harus menemukan Bella dan Eve dulu! Sangat berbahaya kalau mereka hanya berdua saja diluar sana, apalagi Bella sedang sakit sekarang!” Sergah Adrian, Adam mendengarkan omongan Adrian, ia menahan - nahan emosinya yang sudah meledak demi mencari Bella dan Eve. Adam kembali mengedarkan pandangannya ke sekeliling
“Lalu kita harus mencari Bella dan Eve kemana, Adrian?” Ujar Adam gusar saat melihat empat persimpangan jalan, entah ke arah mana Bella melanjutkan perjalanannya
“Apa kau benar masih ingin mencarinya? Apa kau masih menginginkannya bahkan jika ia sudah dinodai oleh Justin?” Selidik Adrian
Adam memandang bengis adiknya, “Apa maksudmu?” Sengitnya
“Aku bicara tentang kebiasaanmu yang membuang barang yang sudah tersentuh orang lain, itu juga yang Bella khawatirkan sehingga dia lari dari rumah” tutur Adrian, Adam tak berucap namun matanya mulai berkaca - kaca
“Jujur pada hatimu sendiri Kak, apa kau masih akan menerima Bella meskipun dia sudah ternoda?” Cecar Adrian lagi, Adam lagi - lagi membisu, Adrian agak kesal dibuatnya, ia khawatir Bella akan dicampakkan oleh Adam
__ADS_1
“Kak!” Cecar Adrian lagi
“Kita harus segera menemukan Bella dan Eve” ucap Adam tanpa mengindahkan omongan Adrian, ia langsung masuk ke dalam mobilnya disusul Adrian yang masih bertanya - tanya, akankah Adam menerima Bella kembali?
Di dalam mobil keduanya hening, mungkin karena omongan Adrian tadi Adam tak sepatah kata pun berucap ia larut dalam pikirannya sendiri, Adrian pun sama hanya sesekali ia menoleh pada Kakaknya yang memegang kemudi mobil
Adrian berdehem untuk memecah keheningan, “Kemana kita akan mencarinya dulu Kak?” Tanyanya yang melihat kalau Adam melaju tanpa tujuan yang jelas
“Entahlah, yang pasti Bella dan Eve harus ditemukan dulu, terlalu berbahaya untuk mereka berada diluar sana karena Pamela dan Brianna sudah bebas dari penjara, jika mereka sampai tahu kalau Bella sendirian diluar sana bukan tak mungkin mereka akan berbuat jahat lagi pada Bella dan Eve”
Adrian terhenyak kaget, “Apa kau bilang, mereka sudah bebas? Bagaimana bisa?!”
“Pengacaraku bilang ada seseorang yang memberikan jaminan besar untuk kebebasan Brianna” sahut Adam dengan mata lurus menatap jalanan
“Sial!” Umpat Adrian sambil meninju pintu mobil, “Lalu Pamela? Bagaimana dia bisa keluar?”
“Dia divonis kanker otak stadium akhir, menurut dokter yang menanganinya di penjara sisa umurnya bahkan tidak akan sampai enam bulan lagi” sahut Adam lagi, Adrian terkejut bukan main
“Kapan kau mengetahui ini semua Kak?” Tanya Adrian
“Beberapa hari yang lalu, aku belum mengatakan ini pada Bella karena aku tak mau dia khawatir” Jelas Adam, Adrian menghela berat napasnya, rasa iba pada Bella kini menguasai hatinya, kenapa penderitaan wanita itu tak juga berakhir, padahal Bella adalah wanita yang sangat baik dan layak mendapat kebahagiaan
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Justin menatap kosong pemandangan kota yang ia bisa lihat jelas dari ruangannya, wajah tampan campuran Perancis dari sang Ayah dan Jepang dari Ibunya itu tampak putus asa, bagaimana tidak dari tadi tak ada satu pun orangnya yang berhasil menemukan keberadaan Bella dan Eve
Justin meraih ponselnya lalu membuka aplikasi galeri foto, galeri yang di dominasi foto - foto Bella, sudut bibirnya melengkungkan senyum ketika ia melihat wajah cantik Bella di salah satu foto, “Sebentar lagi Bella… tinggal sebentar lagi sampai kau menjadi milikku” ucapnya, Justin lalu menghela napasnya
“Sekarang yang harus aku lakukan adalah menemukanmu dan Eve! Kemana kau pergi Bella? aku telah melacakmu ke semua tempat yang mungkin kau datangi, tapi kau tak ada disana! Dimana kau?” Gumam Justin bermonolog, otaknya berpikir keras menerka - nerka kemana perginya Bella, ia sudah mencari ke semua hotel, ke rumah Bella hadiah dari Adam, ke rumah orang tua Bella, bahkan sampai ke rumah Nyonya Mer, atasan Bella saat bekerja di perpustakaan dulu mengingat Nyonya Mer yang selalu membantu Bella
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di pondok tepi danau, Pamela baru saja menidurkan Eve di sebelah Bella, meletakkan bayi itu pelan - pelan di bawah pengawasan Bella, Bella yang masih demam tinggi hanya bisa terduduk lemah bersandar pada kepala tempat tidur, setelah memastikan cucunya itu tidur dengan aman dan nyaman, Pamela lalu duduk di sofa usang sebelah tempat tidur
“Bella, apa Ibu boleh bertanya sesuatu padamu?” Tanya Pamela penuh kelembutan, Bella sedikit terhanyut dalam buaian kasih sayang yang mulai ditunjukkan oleh Pamela, namun Bella cepat - cepat menyadarkan dirinya sendiri agar tak terlena dan akhirnya kembali tertipu oleh Ibunya
“Apa yang mau kau tanyakan?” Tanya Bella dingin
“Apa yang terjadi padamu? Apa kau bertengkar dengan Adam?” Selidik Pamela, Bella menundukkan wajahnya, tanpa di komando air matanya berkumpul dan menggenang
__ADS_1
“Ceritakankah pada Ibu, paling tidak bebanmu akan sedikit berkurang jika kau membagi masalahmu” tutur Pamela meyakinkan Bella, “Demi nyawaku sendiri dan cintaku pada Ayahmu, aku bersumpah tak akan pernah menyakitimu Bella, aku justru ingin menghabiskan sisa hidupku untuk menyayangimu dan Eve” tambah Pamela mencoba mengusir keraguan Bella pada dirinya
“Kau tak tahu Bella, semenjak kedatangan Adrian tempo hari ke penjara, setiap waktu aku menangisi kesalahanku yang telah menelantarkan dan berbuat jahat padamu, setiap saat aku berdoa agar Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menyayangimu sebelum aku mati, dan ternyata Tuhan masih berbaik hati padaku dengan mempertemukan kita disini” tutur Pamela panjang lebar
Bella yang sudah tak dapat menahan air matanya memeluk lututnya sendiri lalu menangis sesenggukan, Pamela sigap bangun dan menghampiri anaknya itu, ia memberanikan diri untuk memeluk Bella erat - erat berharap bisa sedikit meredam sedu sedan putrinya
“Menangislah Nak, menangis sepuasmu! Lepaskan beban yang menyiksa batinmu itu, kau jangan khawatir aku akan berada disini untuk menemanimu” ucapnya, mendengar itu tangisan Bella semakin pecah, refleks ia balas memeluk Ibunya
“Apa yang harus ku lakukan Bu? Kenapa hidupku seperih ini?” Ucap Bella masih dengan tangisnya yang memilukan hati, kontan saja Pamela ikut menangis
“Apa yang terjadi padamu sayang?” Tanya Pamela sambil menciumi rambut anaknya, hal yang tak pernah ia lakukan selama ini
“Bu, aku telah dinodai Justin Bu! Aku dinodai Kakakku sendiri!” Ucap Bella histeris, Pamela tersentak kaget
“Apa kau bilang?” Tanya Pamela memastikan pendengarannya
“Justin memperkosaku saat aku sedang tak sadar, Bu!” Jelas Bella lagi sambil menenggelamkan kepalanya di pelukan Pamela dan menangis terisak disana
“Ya Tuhan sayang, kasihan sekali kau! Aku tak menyangka ternyata Justin sangat kejam! Tega - teganya dia melakukan itu padamu, adiknya sendiri!” Ucap Pamela yang lalu ikut terisak
Pamela mengurai pelukannya lalu menangkup wajah Bella yang basah karena air mata, “Maafkan Ibu, sayang! Maafkan Ibu karena kau telah mengalami banyak penderitaan karena aku!” Tuturnya penuh sesal, Bella tak menyahut malah memeluk Ibunya lagi
“Apa Adam sudah tahu soal ini, Bella?” Tanya Pamela, tangannya mengelus - elus surai anaknya itu, Bella menggelengkan kepalanya
“Aku belum memberi tahunya, Bu! Tapi aku yakin dia sudah mengetahui hal ini, entahlah mungkin Justin yang nekad memberi tahukannya” sahut Bella, tangisnya mereda tapi senggukannya masih bertahan
“Apa kau berpikir kalau Adam tak akan menerimamu lagi setelah apa yang terjadi sehingga kau kabur?” Tanya Pamela
“Aku tak sanggup melihatnya meninggalkanku, Bu! Aku tak sanggup! Tapi aku sudah kotor, aku tak pantas lagi untuk Adam!” Air mata Bella kembali berderai
“Jika dia memang sangat mencintaimu, dia pasti akan menerimamu apa pun yang terjadi, Bella! Bicarakanlah hal ini dengan Adam, menurutku kabur darinya bukan solusi dari masalah kalian!” Tutur Pamela, Bella melepas pelukannya pada Pamela lalu menatap Ibunya itu
“Lantas aku harus menanggung malu atas tubuh kotorku ini, Bu? Dan bagaimana jika aku hamil? Apa aku harus menganggap anak ini sebagai anak Adam juga? Kau tahu.. Ini masa suburku, Bu! Kemungkinan besar aku akan hamil anak Justin!” Ucap Bella sambil mengelus perutnya,
Pamela menatap Iba anaknya dan meraih tangan Bella untuk ia genggam erat, “Aku mengerti sayang… Baiklah kalau begitu, aku akan mendukung semua keputusanmu! Jangan khawatir, ada aku disini.. kita akan memulai kehidupan baru bersama Eve dan adiknya nanti” tutur Pamela, dalam hati ia memanjatkan do’a banyak - banyak agar ia diberikan waktu lebih lama untuk merawat dan melindungi anak cucunya itu
Bella yang sedang rapuh bak menemukan oase di gurun pasir, kata - kata Pamela sedikit menyejukkan hatinya yang sedang patah
(Bersambung)…
__ADS_1