
“Kau ikut tidak?!” Teriak Adam pada Adrian yang berdiri ragu - ragu tak jauh dari helikopter yang terparkir. Adrian memang memiliki sejarah kelam dengan helikopter, saat ia masih kecil helikopter yang ditumpanginya bersama William jatuh di pegunungan, kematian pilot helikopter menjadi trauma tersendiri untuk Adrian meskipun ia dan William berhasil selamat
Adrian menggigiti bibir bawahnya untuk menenangkan badannya yang gemetaran, “Ah sial!” Umpatnya, ia lalu menghirup dan menghembuskan napasnya, “Baiklah, tak apa - apa Adrian, demi Bella dan si kecil Eve” gumamnya menyemangati diri sendiri, Adrian lalu menyeret kakinya menyusul Adam menuju helikopter
Duduk di samping Adam, Adrian memasang sabuk pengamannya erat - erat lalu memasang headphonenya
“K - Kau yakin Bella ada disana?” Tanya Adrian pada Adam tergagap saat helikopter mulai mengudara, Adrian sampai meremas kakinya sendiri saking takutnya ia terbang dengan helikopter
“Itu yang dikatakan sopir taksi yang mengantarkan penumpang wanita dengan ciri - ciri mirip Bella” sahut Adam
“Berapa banyak sopir taksi yang ditanyai oleh asistenmu si Wang itu?” Tanya Adrian lagi pada Adam, Adrian mencoba untuk mengalihkan fokusnya dari laju helikopter yang membuatnya takut dan gugup
“Semua sopir taksi di seluruh armada kota, cukup untuk membuat Wang hanya tidur satu jam beberapa hari ini” sahut Adam
“Sial! Canggih dan cepat sekali dia!” Ucap Adrian memuji ketangkasan Wang, Adrian lalu menatap Adam lekat - lekat untuk membaca ekspresi wajah Kakaknya itu, Adrian khawatir jika pertemuan Adam dan Bella justru adalah pertemuan yang akan membuat Bella luka karena Adam akan meninggalkannya
”Kenapa ekspresinya sulit sekali dibaca? Apa yang kau pikirkan Kak?” Batin Adrian penasaran
Perjalanan itu ternyata tak lama, kurang lebih dua jam saja
“Pantas saja tak ada yang bisa menemukan Bella meskipun ia kabur tak terlalu jauh, ternyata dia bersembunyi di hutan belantara seperti ini” ucap Adrian ketika helikopter baru saja mendarat di sebuah ladang yang dipenuhi rerumputan, pohon - pohon besar berdiri kokoh memagari, tempat itu memang lebih cocok dilabeli sebagai hutan
“Apa kita masih jauh dari alamat yang di informasikan oleh sopir taksi itu?” Tanya Adrian pada Adam
“Aku sengaja meminta pilotnya untuk menurunkan kita agak jauh dari titiknya, karena kalau Bella sampai melihat helikopter ini dia pasti tahu kalau aku yang datang, dan aku yakin dia akan kabur lagi” ucap Adam, Adrian mengangguk mengerti
Saat turun dari helikopter, suara deru baling - baling helikopter berlomba dengan suara tiupan angin, Adam dan Adrian melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki
Sementara itu di pondok tepi danau Pamela baru saja selesai menyiapkan makanan, menyajikannya di meja dan menunggu Bella selesai mandi
“Ayo kita sarapan sayang” ucap Pamela saat Bella keluar dari kamar mandi
“Aku tak selera makan, Bu” sahut Bella lesu
__ADS_1
“Makanlah, Bella… ingat kau harus menyusui Eve” titah Pamela
“Nanti saja Bu, aku ingin berjalan - jalan dulu di tepi danau, beritahu aku kalau Eve bangun dari tidurnya” ucap Bella lalu berjalan keluar dari pondok, Pamela hanya bisa menghela napas dan menatapi sendu punggung anaknya
Bella menapaki geladak kayu yang sudah berlumut itu, ia lalu duduk di ujungnya seperti hari - hari sebelumnya, tatapannya tetap kosong meratapi hidupnya yang getir, sesekali ia ayunkan kakinya menyapu air danau yang tenang, angin sepoi - sepoi menghanyutkan, kadang menenangkan ketika hatinya sedang kuat, tapi kadang menyesakkan ketika bayangan wajah itu menghantui, wajah Adam.
Geladak itu sedikit berayun, suara derap sepatu beradu dengan lantai kayu samar terdengar, lambat tapi pasti.
“Apa Eve bangun, Bu?” Tanya Bella tanpa menoleh ke belakangnya, ia masih sibuk dengan bayangan Adam yang seolah memenuhi permukaan danau, timbul dan tenggelam
Tak ada sahutan, hanya suara langkah yang semakin mendekat, langkah yang panjang dan berat diiringi semerbak wangi parfum yang Bella kenal betul, wanita itu menghela napasnya dalam - dalam menyangka jika ia sudah setengah gila karena sampai mencium wangi parfum Adam
“Adam… hiks” ucapnya terisak sambil menekuk lututnya
“Aku disini” ucap Adam, sekian detik kemudian tubuh Bella membeku, tangisnya berhenti, wajahnya mendongak, nalarnya tak berputar ketika ia mendengar suara barito itu, Bella perlahan menoleh takut - takut jika itu memang Adam
Deg…
Bella terbelalak melihat tubuh tinggi tegap di depannya, Bella perlahan berdiri dengan badan gemetaran menatap suaminya itu tak berkedip. Ibarat adegan dalam sebuah film, keduanya membeku saling memandang
Kini Adrian dan Pamela yang menggendong Eve menyaksikan pertemuan Adam dan Bella dari kejauhan
“K - Kau disini?” Bella masih tak percaya apa yang dia lihat di depannya
“Ya” hanya itu yang Adam ucapkan
“Adam, aku…. “
“Aku kecewa padamu Bella!” Ucap Adam
Perih… hati Bella seolah teriris sembilu, “Jadi kau sudah tahu” gumam Bella pelan lalu menunduk, tak lagi ada nyali untuk menatap suaminya itu, siapalah ia kini selain wanita kotor
Adrian geram melihat Kakaknya, ia hendak melangkah untuk menasihati Adam tapi Pamela menjegalnya, “Biarkan mereka bicara berdua dulu” ucap Pamela
__ADS_1
“Ma - maafkan aku Adam, kau pantas kecewa padaku, aku memang kotor, hina” lirih Bella tanpa menatap Adam sedikit pun, hanya air mata yang deras mengalir mewakili hatinya yang teramat sakit
Mata Adam berkaca - kaca, “Aku kecewa padamu, aku benar - benar kecewa” ucapnya geram, Bella hanya bisa pasrah mendengar ucapan Adam yang menghujam dadanya
“Kalau begitu untuk apa kau disini, Adam? Apa kau ingin membawa Eve?” Cecar Bella, dengan serta merta Bella berlutut dan menangkupkan tangannya memohon pada Adam, “Tolong Adam, aku mohon jangan ambil Eve dariku, aku mohon! aku tahu aku kotor.. aku hina, tapi bagaimana pun aku Ibunya Eve, berikan aku kesempatan untuk merawat anakku” ucap Bella dengan bercucur air mata
Adrian menitikkan air matanya ketika melihat tubuh Bella yang ringkih itu berlutut ketakutan meminta belas kasih Adam, “Ya Tuhan, apa yang kau lakukan Kak? Apa kau tega melihat Bella seperti itu?” Batinnya merutuki Adam yang berdiri di tempatnya tak bergeming
Netra Adam semakin merah dan membasah, “Aku kecewa karena kau pergi dariku, Bella! Aku kecewa karena kau ternyata tak mengenalku dengan baik!” Tutur Adam dengan suara bergetar, Bella memberanikan diri mendongak perlahan, ada ucapan Adam yang ia tak mengerti
“M - maksudmu apa Adam?” Tanya Bella tersedu, Adam melangkahkan kakinya mendekat pada Bella
“Kau tak mengenalku dengan baik, Bella! Kau lari dariku ketika kau memiliki masalah, apa kau tak menganggapku ada?” Sengit Adam
“Adam, aku… “
“Kau pikir aku akan membuangmu karena Justin menodaimu begitu? Kau pikir sedangkal itu pemikiran dan cintaku?!” Cecar Adam lagi, kini pria tampan dengan tubuh kekar itu ikut berlutut dan menatap Bella yang terpaku di tempatnya dengan ekspresi bengong, tak percaya apa yang dia dengar
Adam mengambil helaian rambut Bella yang mengayun dibawa angin, lalu dibelainya lembut kepala Bella, meski secinta apa pun tetap saja tatapan Adam dingin mengintimidasi, sudah jadi karakternya memang akibat ditempa berbagai macam masalah berat sejak ia remaja dulu
“Jangan pernah lari dariku, Bella! Apalagi hanya karena kau merasa sudah tak layak bagiku!” tandas Adam sambil menangkup wajah Bella, ekspresi Bella berubah cepat dari yang seperti orang kebingungan kini ia mengerutkan keningnya
“Hanya?….. Hanya??? Itu tidak sepele Adam! Aku sudah kotor! Justin, Kakakku sendiri sudah menodaiku!” Tandas Bella dengan bibir gemetaran menahan air mata yang nyaris meledak lagi
“Lalu kenapa? Itu bukan salahmu Bella! Kau pun tak menginginkannya! Lantas kenapa aku harus menyalahkan tubuhmu?” Sahut Adam, ada angin kesejukan dalam ucapan Adam untuk hati Bella yang sedang terbakar
“Tapi… tapi bagaimana kalau aku hamil, Adam? Bagaimana kalau rahimku mengandung anak Justin?” Sengit Bella frutasi sambil ******* - ***** perutnya, Adam meraih tangan Bella dan menggenggamnya erat - erat
”Maka itu akan jadi anak kita, adiknya Eve.. salah satu penerus keluarga Anderson” sahut Adam begitu menenangkan, Bella tak dapat menahan air matanya lagi, ia menangis sejadi - jadinya, bukan karena sedih tapi karena bahagia yang teramat karena Adam masih mau menerimanya
Adam memeluk Bella penuh sayang, dilindunginya Bella dari hawa dingin dan patah hatinya
Di ujung lain geladak kayu itu, Pamela menangis haru sedang Adrian menghela lega napasnya, “Kau memang benar - benar laki - laki sejati, Kak!” Gumamnya bangga
__ADS_1
(Bersambung)…