
“Ah sial sekali nasibku!” Gerutu Anna, semalaman ia tak tidur karena merawat Adrian yang demam tinggi, sudah berkali - kali Anna menawarkan pada Adrian agar dirawat saja di rumah sakit tapi Adrian kukuh tak mau, Anna bahkan hampir nekad menghubungi Brianna karena Adrian adalah tanggung jawab istrinya, itu pun urung ia lakukan mengingat bagaimana sifat Brianna, sudah tentu Brianna akan menuduhnya macam - macam
“Hoaammmm” Anna menguap untuk kesekian kalinya akibat ia nyaris tak tidur, sementara ia masih harus membuatkan sarapan untuk Adrian, beruntung ini adalah hari libur akhir pekan jadi ia terbebas dari rutinitas kantor
“Apa itu sarapan untukku?” Tanya Adrian begitu ia keluar dari kamar, Anna yang sedang mengaduk bubur menoleh malas pada Adrian, lalu melanjutkan masaknya
“Duduklah” titah Anna, Adrian manut ia lalu duduk di kursi makan persis di depan Anna, menunggu dengan sabar Anna yang tengah memasak untuknya, tak lama kemudian Anna menyodorkan semangkuk bubur yang masih mengepul
“Makanlah Tuan, setelah kau makan bisakah kau segera pulang? Aku yakin keluargamu sedang mencarimu sekarang” ujar Anna, bukannya tak sopan tapi ia tak ingin mendapat masalah nantinya
Adrian tersenyum miris, Keluarga? Keluarga mana yang menunggu kepulangannya? Istrinya hanya mengharapkan uang darinya? Atau orang tua yang telah mengusirnya? batin Adrian perih
“Tak akan ada yang mencariku” sahut Adrian sambil mulai menyendok buburnya, atas jawaban Adrian Anna mulai menduga - duga, apa Adrian sedang bertengkar dengan keluarganya, tapi ikut campur urusan keluarga Anderson bukan kapasitasnya sekarang, yang penting baginya sekarang adalah Adrian segera keluar dari apartemennya
“Setelah aku sarapan, aku akan segera pergi dari sini, terima kasih karena sudah membantu dan merawatku” ucap Adrian seolah mengerti apa yang Anna pikirkan
“Ah iya, tak masalah” sahut Anna menjadi tak enak hati, Anna bisa melihat raut kesedihan di mata Adrian membuat Anna menjadi tak tega, dan kalau dipikir - pikir lagi mengapa sikap Adrian tiba - tiba menjadi lunak? berbeda sekali dengan sebelumnya yang selalu kasar dan mendominasi, pasti ada alasan kuat dibalik itu semua, Anna masih memperhatikan wajah pucat Adrian yang semakin murung dengan tatapan kosong, lagi - lagi rasa kemanusiaannya tergerak
Anna menimang sebentar, “Tuan, kalau kau tak punya tujuan untuk pulang, kau bisa tinggal disini untuk satu malam lagi” tutur Anna ragu, ia sampai menggigit bibir bawahnya, entahlah keputusan ini tepat atau tidak
Adrian cukup terkejut dengan tawaran Anna, pria itu menatap Anna dalam - dalam sebentar merasakan ketulusan yang pernah ia lihat di wajah Bella dulu, “Aku tak apa, aku tak ingin semakin merepotkanmu, aku bisa tinggal di hotel nanti” ucap Adrian, ia lalu terbatuk kecil, Anna sigap mengambilkan minum untuknya
“Kau masih sakit Tuan, siapa yang akan merawatmu nanti kalau kau tinggal di hotel?” Sahut Anna lagi, Adrian merasa tersentuh dengan perhatian Anna, seharusnya Briannalah yang memperlakukannya seperti ini, tapi apa yang Adrian bisa harapkan dari wanita biang keladi itu
“Anna, kau belum memberi tahu siapa pun kalau aku disini kan?” Tanya Adrian,
Anna menggeleng, “Bukannya tadi malam Tuan yang memintaku untuk tak memberi tahu siapa pun? Apa Tuan berubah pikiran?” Anna antusias, berharap Adam akhirnya menghubungi keluarganya hingga ia bebas dari tugas yang bukan tanggung jawabnya
“Bukan itu maksudku, dengar Anna aku minta kau tak menceritakan pada siapa pun kalau aku tinggal disini bersamamu, termasuk pada Adam atau Bella” ucap Adrian
“Tapi kenapa Tuan? Bagaimana kalau mereka mencarimu?” Cecar Anna
Adrian menatap Anna sungguh - sungguh, “Aku mohon Anna, bantulah aku sekali lagi dengan tidak memberitahukan siapa pun kalau aku disini” Adrian refleks menggenggam tangan Anna, Anna jelas terkejut dan langsung menarik tangannya
“Ma - maaf” ucap Adrian gugup atas kekurang ajarannya barusan, Anna jelas bukan wanita gampangan yang bisa ia sentuh dengan mudahnya, wanita itu memang sederhana tapi terlihat berkelas dan punya prinsip
Anna mendengus, ia merasa sangat tertekan sekarang, ia khawatir jika tak menceritakannya pada Adam maka Adam akan menganggapnya bersekongkol dengan Adrian, siapa yang tahu apa yang Adrian rencanakan sekarang, tapi kalau dilihat - lihat lagi Adrian tampak sedang tak berdaya
“Aaaahhhhh” Pekik Anna frustasi sambil mengacak - acak rambutnya sendiri, Adrian menahan tawanya demi melihat wajah lucu Anna yang sedang kebingungan
__ADS_1
“Terserlah lah! Baiklah…… baik, aku akan merahasiakan keberadaanmu disini Tuan, tapi dengan satu syarat, kalau kau punya rencana jahat pada Tuan Adam atau Nyonya Bella, maka aku adalah orang pertama yang akan membunuhmu!” Tandas Anna sambil mengacungkan jarinya, Adrian bisa melihat ancaman Anna yang tak main - main
“Aku tak punya niat apa pun pada mereka, kau jangan khawatir!” Sahut Adrian lalu lanjut menyantap buburnya, mendengar nama Bella Adrian jadi mengingatnya, ah wanita yang tengah digilainya itu, entah bagaimana kabarnya sekarang
“Anna, apa kau mendengar sesuatu tentang Bella?” Tanya Adrian memberanikan diri, Adrian yakin Anna belum mengetahui kalau dialah penyebab Bella masuk rumah sakit, kalau Anna sudah tahu tak mungkin Anna akan menampungnya disitu
Wajah Anna yang tadi tampak garang dan mengintimidasi berubah sendu, “Nyonya Bella masih di rawat, tapi untunglah bayinya selamat” sahut Anna berakhir dengan senyum manisnya yang terbit
“Jadi bayinya selamat?” Wajah Adrian terlihat sekali leganya, yang tadinya pucat kini mulai berseri
Anna menatap Adrian penuh selidik atas pertanyaannya barusan, “Apa Tuan tidak senang mendengar bayi Nyonya Bella dan Adam bertahan?” Tudingnya
“Astaga! Bukan begitu, aku sangat senang mendengarnya, sungguh! Kenapa kau selalu curiga padaku?” Tanya Adrian tak terima
“Tuan, apa kau tak salah bertanya seperti itu padaku? Apa kau lupa apa yang telah kau lakukan pada Tuan Adam dan Nyonya Bella? Maaf kalau aku harus mengatakan ini Tuan, tapi kau adalah orang yang jahat! Kau tak pantas menjadi anak Tuan Anderson yang terkenal akan kebaikan hatinya!” Ucap Anna berapi - api
Deg..
Serasa dihujam pisau belati, hati Adrian sakit luar biasa, “Aku tak pantas menjadi anak Daddy?” Gumamnya pelan, merenungi dirinya sendiri
“Dan asal Tuan tahu, semua orang berpendapat seperti itu! Apa Tuan pikir orang - orang yang mendukung Tuan itu tulus pada Tuan? Ku beri tahu Tuan, dibelakangmu mereka siap menusukmu karena bagi mereka pun kau orang yang jahat! Kau tak punya hati, serakah, arogan, dan tak tahu malu!” Anna semakin tersulut mengupas kebusukan Adrian, entah darimana datangnya keberanian Anna
Anna ciut dan langsung terdiam saat Adrian menggebrak meja di depannya
“Sial! Apa ucapanku keterlaluan?” Batin Anna merutuki dirinya sendiri
“S - saya ke kamar dulu, terima kasih atas sarapannya” ucap Adrian tergagap karena perasaannya sungguh tak karuan sekarang, Adrian lalu masuk ke kamar yang ia tempati, menutup pintunya, dan duduk di pinggiran tempat tidur, setiap kata demi kata yang meluncur dari bibir Anna tadi membekas di hatinya
“Jadi semua orang menganggap aku tak pantas menjadi anak Daddy? Separah itu kah perbuatanku hingga darah yang mengalir dalam tubuhku dari Daddy pun tak bisa membuatku layak untuk jadi anaknya?” Gumam Adrian lirih
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Sayang berhati - hatilah, jangan berjalan terlalu cepat!” Pekik Miranda pada Bella yang berjalan di depannya, Miranda lalu memukul pelan lengan anaknya, “Adam, kenapa kau membiarkan Bella berjalan, harusnya dia memakai kursi roda!” Cerocos Miranda sambil terus saja menatapi menantunya yang kini dipapah berjalan oleh pelayan dan digiring dengan awas oleh William
“Bella yang tak ingin memakai kursi roda Mom! Lagipula Erick tadi bilang kalau Bella sudah bisa bergerak dan beraktifitas seperti biasanya” sahut Adam, siang itu Adam dan Bella baru saja keluar dari rumah sakit dijemput oleh Miranda dan William
“Ck.. tetap saja, dia tidak boleh terlalu banyak berjalan! Mommy sangat mengkhawatirkannya Adam, cukup sudah tiga kali Bella nyaris keguguran!” Tandas Miranda
Adam tersenyum melihat Ibunya yang menjadi posesif, “Aku akan menjaga Bella dan anakku Mom, tenang saja” ujar Adam, Adam lalu mengedarkan pandangannya pada sekeliling rumah yang terasa lebih sepi, hanya jejeran pelayan yang berdiri rapi dan membisu
__ADS_1
“Aku tak melihat Adrian, Brianna, atau Nyonya Pamela, apa mereka sedang tak di rumah?” Tanya Adam, Miranda menghela napasnya
“Mereka tak tinggal di rumah ini lagi, Mommy dan Daddy sudah mengusir mereka bertiga!” Tutur Miranda
“Apa yang kau bilang barusan, Mom? Kau dan Daddy mengusir Adrian?” Adam terkejut bukan main, ia bisa paham kalau Pamela dan Brianna diusir mengingat apa yang telah mereka lakukan pada Bella, tapi kalau sampai mengusir Adrian, Adam tak pernah menyangka orang tuanya akan sanggup melakukannya
“Atas apa yang telah dia lakukan selama ini padamu, pada Mommy dan Daddy, juga pada Bella dan cucu kami, apa menurutmu keterlaluan kalau kami mengusirnya?” Sengit Miranda berapi - api, demi apa pun ia masih sangat marah dengan apa yang telah Adrian lakukan
“Tapi Mom, bagaimana pun Adrian adalah anakmu sendiri, anggota keluarga Anderson! Mengusirnya bukan keputusan yang bijak, Mom!” Sanggah Adam
“Adam! Sudah cukup kau membela adikmu itu, lihat apa yang sudah dia lakukan karena kau selalu mentoleransi apa pun yang dia lakukan! Kali ini Mommy dan Daddy sudah tak bisa menerima kelakuannya!” Tandas Miranda sambil beranjak meninggalkan Adam, Adam menghela napasnya melihat kemurkaan Miranda, pria tampan itu lalu melangkah menuju kamarnya menyusul Bella
Sesampainya di kamar, Adam tersenyum melihat Bella yang tengah duduk di tepi tempat tidur, Adam lalu mendekati istrinya itu, perlahan ia mengangkat kaki Bella yang terjuntai
“Ada sesuatu yang kau inginkan?” Tanya Adam lembut sambil mengusap - usap kepala Bella
“Kau” sahut Bella yang lalu meraih tangan Adam dan menciuminya, “duduklah disini Adam, aku paling senang bersandar di dadamu” pinta Bella
Adam segera beringsut ke atas tempat tidur dan duduk di belakang Bella, membiarkan dada bidangnya menjadi topang kepala Bella, kalau sudah begitu Bella merasa nyaman - senyaman nyamannya, bukan hanya bisa mencuri dengar suara detak jantung Adam yang berdebar kencang, ia juga bisa mencium wangi parfum maskulin dan bisa merasakan hembusan hangat napas Adam, terkadang ia bisa menciumi wangi mint yang menguar dari mulut Adam ketika Adam mengatakan sesuatu padanya
“Apa kau tak merasa kalau Mommy dan Daddy berlebihan? Banyak sekali bodyguard yang berjaga di depan rumah, bahkan di depan kamar kita juga, Adam” keluh Bella
“Mereka mengkhawatirkanmu sayang, mereka tak ingin ada orang berniat jahat yang membahayakanmu dan anak kita lagi” sahut Adam
“Ibu dan Kakakku? Atau Adrian?” Tanya Bella, siapa lagi yang konsisten berniat jahat padanya selain ketiga orang itu
“Kau tak perlu khawatir soal itu, Mommy dan Daddy sudah mengusir ketiganya dari rumah ini” sahut Adam, Bella terhenyak kaget
“Mereka sudah diusir? Apa itu benar Adam?” Tanya Bella meyakinkan dirinya
Adam mengangguk, Mommy baru saja memberi tahukannya padaku” ucap Adam lagi, Bella awalnya terdiam tapi lantas ia tertawa sambil bertepuk tangan bahagia
“Rasakan kalian! Sudah waktunya kalian merasa terbuang tanpa memiliki apa - apa, sama sepertiku dulu saat kalian membuangku, bisa ku bayangkan bagaimana Ibu dan Brianna tinggal di rumah sekecil itu Adam!” Tertawa Bella begitu lepas, seolah ia baru saja mendapat kebahagiaan yang teramat
“Apa kau mau aku membuat mereka semakin menderita?” Tanya Adam, Adam bisa menyelami kepuasan Bella, penyiksaan Brianna dan Pamela padanya memang tak main - main
“Lakukankah Adam! Buat aku semakin bahagia dengan lebih membuat mereka menderita!” Tandas Bella dengan seringai yang sekilas terlihat mengerikan
“Apa pun untukmu sayang” ucap Adam sambil mengecup pucuk kepala Bella
__ADS_1