
Kehadiran Eve memberikan kebahagiaan yang besar untuk semua orang, pesta demi pesta digelar merayakan kehadiran bayi mungil cantik itu, William dan Miranda mengundang seluruh kerabat dan relasinya, lalu bergantian Emily dan Takanawa yang mengundang keluarga besar dan teman - teman mereka untuk memperkenalkan cucu kebanggaan mereka
“Sebenarnya kemana perginya Jessie, Kak Justin? Apa dia bahkan tidak ingin menemui Eve?” Tanya Bella pada Justin yang tengah menimang Eve di tangannya saat Bella tengah beristirahat sebentar di kamar yang Emily siapkan untuknya, sampai saat ini Bella memang tidak tahu kalau Jessie mengasingkan diri setelah ia pernah mencoba membunuh Adam, Justin hanya mengatakan jika Jessie memutuskan untuk kuliah di luar negeri, tepatnya di negara manapun Justin tak pernah memberikan jawaban pasti.
“Dia sedang sibuk - sibuknya kuliah, Bella!” Sahut Justin dengan mata tetap fokus pada Eve yang sesekali menggeliat di lengan kekarnya, hanya Eve yang bisa memalingkan perhatian Justin dari Bella
“Apa susahnya dia menghubungiku meskipun hanya untuk satu menit, Kak? Kau tahu… Aku merasa dia berubah, tidak seperti Jessie yang aku kenal dulu! Apa dia memang mencoba menghindariku? Atau dia ada masalah?” Cecar Bella tak puas akan jawaban Justin
“Dia pasti sedang sibuk belajar dan beradaptasi di lingkungannya yang baru sayang, kau tak perlu khawatir!” Adam yang baru selesai berbasa basi dengan tamu undangan pesta mencoba meredam rasa penasaran Bella, lalu mengambil alih Eve dari buaian Justin, meski Justin tak rela berpisah dengan bayi yang baru menginjak umur dua minggu itu, tapi apa boleh buat.. Adam yang paling berhak atas Eve dan Bella.
Bibir Bella mengerucut, “Aku merasa tak seperti itu! Biasanya Jessie tak pernah lupa menghubungiku bahkan sekedar mengirimkan pesan, tapi sekarang tiba - tiba saja dia pergi tanpa pamit, Adam! Bahkan aku sudah tak bisa menghubungi nomor ponselnya!” Keluh Bella, Adam dan Justin sekilas saling tatap.. mereka berdua memang sengaja menutupi alasan kepergian Jessie, bahkan pada Emily dan Takanawa sekali pun.
Tak lama Emily datang dengan tergesa menjalankan kursi rodanya, “Bella, Adam! Disini kalian rupanya, segera bersiaplah.. para tamu mencari kalian!” Ucapnya sumringah, ini kali pertama ia bisa merasakan lagi bahagianya berpesta pora setelah bertahun - tahun hidup tenggelam dalam kesedihan akibat perselingkuhan suaminya dan kelumpuhan kakinya
“Aku dan Adam akan segera kesana, Ma!” Sahut Bella segera, tak ingin merusak suasana bahagia keluarganya
“Bersiaplah dulu sayang, nanti Papa akan menjemputmu!” Ucap Adam pada putri kecilnya yang setelah ia kecup kemudian ia serahkan pada Bella
“Justin, bantu Bella mempersiapkan Eve.. banyak sekali wartawan diluar yang ingin mengambil foto cucu cantik Mama itu, Mama ingin dia terlihat menawan!” Titah Emily pada Justin sebelum kemudian ia dan Adam beranjak terlebih dahulu untuk menemui para tamu, mungkin Emily melihat raut wajah Justin yang sendu dan tatapan matanya yang tak lepas dari Bella sehingga ia memberikan waktu pada Justin dan Bella untuk berdua saja, walau Emily yakin betul tak akan ada yang terjadi antara mereka karena sudah jelas kepada siapa cinta Bella berlabuh
__ADS_1
Justin lalu dengan telaten menyiapkan gaun berwarna merah muda untuk Eve, gaun yang ia pilih sendiri sebagai hadiah untuk putri dari wanita yang ia cintai itu
“Emmmhh… Kak, sepertinya Eve memakai gaun berwarna putih saja, agar senada dengan gaunku dan jas yang Adam pakai” ujar Bella
“Tidak harus senada dengan kalian tidak apa - apa kan?” Sahut Justin
“Aku rasa mungkin Adam akan tak senang akan hal itu, kau tahu sendiri kan banyak sekali wartawan diluar, Adam sengaja memilih gaun dengan warna yang sama untuk kami sekeluarga, Adam ingin kami terlihat bagus di foto nanti” jelas Bella dengan hati - hati melihat ekspresi tak senang Justin, memang Justin sampai menghela napas menahan cemburunya yang teramat tapi ia redam dalam - dalam, Justin lalu meraih gaun putih di sebelah gaun yang sudah ia siapkan tadi kemudian mulai memakaikannya pada Eve, bayi itu tampak tenang dalam tidurnya, tak terusik gerakan Justin
“Jika saja Ayah masih ada, ia pasti sangat bahagia sekarang karena keluarganya bisa berkumpul, ada anak laki - lakinya, ada anak perempuannya, dan ada cucunya, benar kan Kak?” ucap Bella, sengaja mengingatkan Justin akan status mereka yang sebagai Kakak adik karena Bella masih bisa melihat rasa cinta yang membara di mata Justin padanya, perhatiannya, cara melindunginya pun masih sama dengan dulu, saat mereka belum tahu kalau mereka adalah saudara.
Mendengar omongan Bella Justin yang baru saja selesai mendandani Eve beralih menatap Bella, lalu memegang kedua bahu wanita yang jauh lebih pendek darinya itu, alhasil Bella yang kaget mendapat respon Justin seperti itu spontan mendongak demi melihat mata Justin yang sudah berkaca - kaca, “Cukup Bella! Cukup! Kau tak perlu mengingatkan kenyataan pahit yang ingin aku lupakan! Bisakah kau menganggapku seperti dulu? Bisakah kau melupakan kalau aku adalah Kakakmu?” Sengit Justin
Bella terhenyak mendengar permintaan Justin, kening Bella sampai berlipat, ia tak menyangka kalau Justin ternyata belum juga menerima kenyataan kalau Bella adalah adiknya, “Mana bisa begitu Kak! Kau adalah Kakakku, sampai kapan pun itu tak akan berubah!” Tandas Bella, Justin menipiskan bibirnya demi menahan amarahnya
“Apa yang kau bicarakan, Kak? Sudahlah aku ingin keluar! aku tak mau membuat Adam menunggu terlalu lama!” Bella mencoba menepis tangan Justin dari bahunya, namun pria itu tak bergeming
“Adam! Selalu saja Adam! Apa kau tak bisa melihatku, Bella? Aku yang selalu ada untukmu! aku yang tak pernah menyakitimu! Kenapa kau malah memilih pria yang bahkan nyaris membuatmu ingin mati? Kenapa kau tak memilihku?!” Justin semakin menjadi - jadi meluahkan perasaannya, entah apa yang membuatnya seberani itu, padahal selama ini ia selalu berhasil menahan gejolak perasaannya, sabar mengalah pada kenyataan yang sulit diterimanya
“Ini tidak pantas Kak! Bagaimana pun aku adalah adikmu, lagipula aku mencintai Adam Kak! Tak ada siapa pun yang bisa menggantikan posisinya, baik kau maupun pria lain!” Tandas Bella lagi
__ADS_1
“Kau tak mencintainya, Bella! Kau hanya merasa perlu memiliki Adam karena Brianna menginginkannya! Ibarat memiliki boneka yang diinginkan anak lain, kau merasa sangat menyayangi boneka itu karena kau tahu ada orang lain yang juga sangat menginginkannya!” Sinis Justin, Bella sontak saja tercengang dengan tuduhan Justin, mulut Bella sampai terbuka lebar
“Darimana kau punya pikiran seperti itu, hah? Demi apa pun aku mencintai Adam, Kak!” Suara Bella semakin meninggi membuat Eve yang tengah tertidur lelap sedikit terusik dan mulai bergerak, Bella lalu memelankan suaranya tak ingin Eve sampai terbangun, “Aku adikmu Kak! Tolong jangan berpikir macam - macam!” Tambah Bella lagi setengah berbisik
“Persetan dengan Kakak adik!” Sahut Justin emosional, tanpa pikir panjang pria itu menarik wajah Bella lalu mendaratkan ciumannya di bibir kenyal Bella, Justin bertubi ******* dan melahap bibir Bella tak peduli adiknya itu meronta dan sekuat tenaga berusaha melepaskan diri, mata Bella sampai membelalak, cacian dan makian keluar dari mulut yang masih dibungkam bibir Justin itu
“Kau gila, Kak!” Bentak Bella saat Justin akhirnya melepasnya, Bella lalu mengusap kasar bibirnya yang penuh dengan jejak Justin, lalu ia tergesa merengkuh Eve dan mendelik tajam pada Justin yang masih mematung di tempatnya sebelum ia keluar dari kamar
Sepeninggal Bella, Justin menyusuri bibirnya dengan jarinya, masih bisa ia rasakan hangatnya bibir Bella, Justin tak peduli dan tak ingin tahu apa yang akan terjadi setelah ini, bisa merasakan bibir Bella yang selama ini ia impikan membuat hatinya puas, sedang Bella yang berjalan tergesa keluar dari kamarnya mulai memelankan langkahnya, ia tak bisa percaya apa yang baru saja terjadi, bagaimana bisa Justin menciumnya padahal sudah jelas kalau Bella adalah adiknya, terlebih ia adalah istri Adam. Mengingat Adam jelas saja membuat Bella merasa bersalah meskipun ciuman tadi bukan atas kehendaknya, Bella menahan - nahan air matanya agar tak tumpah menyadari masih ada pesta yang harus ia hadiri
“Hei sayang, kenapa kau lama sekali?” Tanya Adam ketika Bella baru saja memasuki tempat acara dilangsungkan
“Aku tak tega membangunkan Eve tadi, jadi aku menunggu sampai ia bangun” sahut Bella setenang mungkin, meskipun tak bisa di pungkiri ritme jantungnya bergerak lebih cepat dari biasanya, apalagi ketika melihat bagaimana tatapan Adam yang penuh damba, rasa bersalah semakin saja merajai hati Bella.
“Kau tak datang bersama Justin? Bukankah tadi kalian bersama?” Tanya Adam lagi, seketika wajah Bella memucat layaknya seorang pencuri yang tertangkap basah
”Dia.. dia… maksudku, Kak Justin agak lelah, dia ingin beristirahat sebentar” jawab Bella terbata, demi apa pun mengingat Justin terasa sangat menyakitkan sekarang
“Kau pucat Bella! Apa kau sakit? Apa kau ingin istirahat saja?” Selidik Adam, ah Bella semakin tak karuan rasanya, hatinya bak di godam; apa yang harus ia lakukan sekarang? Rasanya tak mungkin menyembunyikan terus peristiwa tadi pada Adam, Bella tak ingin punya rahasia apa pun dari pria yang sangat ia cintai, tapi membuka tentang apa yang Justin lakukan tadi tentu tak akan membuat Adam senang, entah seberapa besar kemarahannya nanti, dan tentu saja itu akan berimbas pada hubungan baik keluarga Anderson dan Takanawa
__ADS_1
“Ya Tuhan apa yang harus aku lakukan?” Batin Bella
(Bersambung…)