
Setelah Justin mencuri ciumannya, Bella tak ingin berlama - lama di rumah Emily, berdalih khawatir Eve kelelahan, Bella memohon pada Adam untuk segera pulang ke rumah mereka, Bella bahkan tak mengindahkan keinginan Emily agar mereka bermalam disana, Bella khawatir jika beberapa jam saja disana bisa membuat Justin menciumnya apalagi jika Bella sampai bermalam, bisa - bisa Justin melakukan hal yang lebih nekad
“Tak biasanya kau ingin segera pulang dari rumah Mama Emily, apa terjadi sesuatu tadi?” Selidik Adam saat mereka sudah berada di mobil
“Aku hanya lelah Adam, terlalu banyak acara beberapa hari ini! Aku juga khawatir Eve kelelahan lalu jatuh sakit” sahut Bella
Adam diam tak menyahut, ia merasa ada sesuatu yang tak beres telah terjadi mengingat perubahan suasana hati Bella yang tiba - tiba, namun Adam memilih tak menyelidiki lebih lanjut, ia akan bersabar menunggu Bella menceritakannya sendiri
Pagi harinya di kediaman Anderson sarapan berlangsung dengan hangat, pembicaraan keluarga itu pagi ini berkisar tentang persiapan acara pernikahan Adrian dan Anna yang akan dilangsungkan dalam waktu kurang dari sebulan lagi, saat sedang bercengkrama tiba - tiba saja sosok Justin datang, senyumnya sumringah menyapa semua anggota keluarga Anderson, apalagi ketika dia melihat Bella yang menjadi gelisah sampai memalingkan mukanya saat melihat Justin
“Duduklah Nak! kebetulan sekali kami baru saja mau bersantap pagi, suatu kehormatan jika mau bergabung bersama kami!” Titah William, mempersilakan Justin duduk tepat di samping Bella, kini Bella duduk diapit oleh Justin dan Adam, Bella bingung tak tahu harus berbuat apa, ia tak bisa lagi ramah pada Justin seperti biasanya, tapi bersikap acuh pun akan mengundang tanya tanya terutama untuk Adam
“Selamat pagi Bella” ucap Justin memecah kebingungan Bella, seolah tak terjadi apa pun diantara mereka tadi malam Justin memperlakukan Bella seperti biasa, manis dan penuh kasih sayang layaknya pada seorang adik, Justin bahkan membantu menyendok makanan untuk Bella, memenuhi piring Bella dengan berbagai macam makanan berdalih kalau Bella tengah menyusui, Adam membiarkan saja Justin melakukan semua itu karena beranggapan kalau perhatian Justin tak lebih dari seorang Kakak
“Makanlah.. ini sangat baik untuk ASImu” ucap Justin lembut, nada bicara yang terdengar lain di telinga Bella, dihantui bayangan saat Justin menciumnya Bella mulai panik
“Aku tak ingin makan apa - apa!” Sentaknya pada Justin, merasa menjadi pusat perhatian karena baru saja membentak Justin, Bella segera bangkit dari duduknya dan berjalan cepat meninggalkan ruang makan
“Apa yang terjadi dengan Bella?” Bisik Miranda kebingungan
“Aku akan bicara padanya!” Ucap Adam sambil bangkit dari duduknya
“Ah…. Maafkan sikap Bella, Justin! Mungkin dia hanya kelelahan akibat pesta terus menerus!” Ucap William tak enak hati pada Justin
Justin mengangguk dan tersenyum, “Tidak apa - apa, Tuan William! Adikku itu memang sedikit manja jika ia sedang kelelahan” sahutnya, dalam hati Justin mengerti kenapa Bella bersikap demikian, satu sisi ia menyesali perbuatannya, tapi di sisi lain ia tak bisa melupakan sensasi ciumannya dengan Bella, ia rela melakukan apa pun agar bisa merasakan bibir hangat Bella lagi
__ADS_1
Di kamar pasangan Adam dan Bella, Adam baru saja masuk ke kamarnya dan menghampiri Bella yang duduk di tepian ranjang, Adam lalu duduk di samping Bella dan dengan penuh kelembutan Adam menarik istrinya itu ke dalam pelukannya
“Kau ingat apa yang pernah kita janjikan saat kau mengakui perasaanmu padaku?” Tanya Adam, Bella menghela napasnya namun senyum di wajahnya yang tadi kusut kembali terbit mengingat janji yang pernah mereka berdua buat
“Bahwa kita tidak akan merahasiakan apa pun satu sama lain” sahut Bella
“Kau masih ingat rupanya!” Ucap Adam senang, pria itu lalu melepas pelukan mereka dan kini menatap Bella penuh cinta, “Jadi katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi antara kau dan Justin? Kenapa kau tiba - tiba kasar padanya?” Cecar Adam
Deg…
Mendapat pertanyaan seperti itu terang saja hati Bella bak di godam, ia akan menjawab apa pada Adam?
“Jika memang kau dan Justin punya masalah, apa tidak sebaiknya kau selesaikan baik - baik? Bagaimana pun dia Kakakmu, Bella.. dan dia sudah banyak membantumu, kau tak boleh melupakan bagaimana kebaikan dan pengorbanan Justin untuk menolongmu dulu” Ucap Adam lagi yang membuat amarah Bella sedikit surut, pelan kebaikan - kebaikan Justin berlomba muncul di kepalanya, tentu tak adil jika Bella melupakannya begitu saja, tapi masalah ciuman itu pun tak bisa di kesampingkan, atau apa Justin khilaf? Ya mungkin saja Justin terbawa suasana dan emosinya sendiri sehingga ia nekad melakukan itu, batin Bella mulai melunak
“Kau marah - marah karena ingin kucium?” Goda Adam saat ciuman mereka terlepas, begitu pun dengan baju atasan Bella yang sudah lolos entah kemana, gerakan tangan Adam begitu cepat dan tak Bella sadari, namun memang itulah yang Bella inginkan agar jejak bibir Justin di bibirnya hilang tak berbekas. Bella kembali memagut bibir Adam, memasukkan lidahnya untuk bertaut dengan lidah Adam, Bella membiarkan saja tangan Adam yang bergerilya ke daerah - daerah sensitifnya, Bella pun meloloskan erangan dan desahannya, ia totalitas melayani Adam untuk mengubur semua ingatannya tentang kejadian malam tadi dengan Justin. Dalam hati Bella penuh harap, semoga Justin memang hanya khilaf dan tak lagi mengulangi kesalahan yang sama sehingga mereka akan bisa dekat seperti dulu, layaknya seorang adik dan Kakak
...----------------...
Kegelisahan pun tengah dirasakan Brianna dengan alasan berbeda, Brianna yang masih cantik dan molek meskipun dalam seragam tahanan itu marah bukan main ketika melihat tayangan tentang kelahiran Bella, darahnya mendidih tatkala melihat Adam yang semakin tampan dan gagah tertawa bahagia bersama Bella yang menggendong buah hati mereka
“Hei bangunlah! Pengacaramu ingin bertemu denganmu!” Seorang sipir membuyarkan lamunan Brianna, dengan kaki gemetaran menahan amarah yang teramat Brianna melangkah gontai untuk menemui pengacara yang selama ini membantunya
“Tuan Adolf, ada apa kau ingin bertemu denganku?” Tanya Brianna enggan saat menemui pengacarannya di ruang tunggu
“Cih.. kau masih saja sombong meskipun kau sudah jatuh miskin!” Sinis pengacara bertubuh tambun dan berperut buncit itu, “Aku kesini untuk memberi tahumu kalau mulai hari ini aku berhenti jadi pengacaramu” Tandas pria itu sambil menyodorkan selembar kertas, Brianna terhenyak kaget, ia dengan segera membaca kertas itu
__ADS_1
“Apa maksudmu? Lantas siapa yang akan membelaku nanti? Sidangku akan segera digelar!” Sentak Brianna tak terima
“Ck…. Aku tak peduli! Kau bisa mengajukan pengacara gratis pada pemerintah! yang pasti aku tak ingin bekerja tanpa dibayar, dan kau sudah lama tak membayarku!” Sengit pengacara itu tak mau kalah, habislah harapan Brianna untuk segera bebas, untuk mencari pengacara lain jelas tak mungkin, ia sama sekali tak punya uang lagi, sementara Tuan Adolf adalah pengacara termurah diantara pengacara handal di negara itu
“T - Tuan, tolong pertimbangkanlah lagi, aku sangat membutuhkan bantuanmu!” Brianna melunak sampai memohon - mohon, tapi Tuan Adolf tak bergeming ia sibuk mengeluarkan semua berkas yang berhubungan dengan Brianna lalu meletekkannya dengan kasar di atas meja
“Tuan, tolonglah! Aku mohon… “ ucap Brianna lagi, kali ini ia memberanikan diri memegang tangan Tuan Adolf yang menggembung, sontak saja pria setengah baya itu bak tersengat listrik, ia menegang dengan jantung berdegup kencang
“Tuan Adolf, jika aku tak bisa membayarmu dengan uang.. aku bisa membayarmu dengan yang lain kan?” Goda Brianna semakin berani meskipun dalam hatinya ia jijik setengah mati, tapi persetan sudah dengan harga diri dan selera tinggi pada seorang pria, baginya kebebasan adalah harga mati karena ia tak sanggup lagi hidup dibalik jeruji besi itu
Brianna menoleh ke kiri dan ke kanan, memastikan jika tak ada yang memperhatikan interaksi mereka berdua, waktunya memang tepat karena sipir penjara sedang sibuk bercerita, mungkin mereka merasa tak ada yang perlu diawasi dengan seksama. Yakin tak ada yang melihat perlahan Brianna melepas satu kancing baju atasnya, memperlihatkan bra berwarna hitam dengan daging berkulit putih bersih yang menyembul, Tuan Adolf bukan hanya tegang sekarang, ia sampai berkeringat dan menelan salivanya berkali - kali
“Kau mengerti apa yang ku maksud kan Tuan Adolf?” Goda Brianna lagi mendesah merayu, mati sudah rasa malunya
“A - aku mengerti! Aku akan berusaha semampuku untuk membebaskanmu, kau jangan khawatir!” Sahut Adolf tak berdaya hanya mampu mengusap keringat yang penuh di wajahnya dengan sapu tangan
“Bagus Tuan! Aku janji kau akan bisa menikmati apa pun yang kau inginkan setelah aku bebas nanti, sepuasmu Tuan!” Rayu Brianna sambil memilin - milin rambutnya dan menggigit dengan sensual bibir bawahnya. Adolf sudah mabuk kepayang, pikirannya melayang pada adegan saat ia akan menikmati tubuh molek Brianna, siapa yang mampu menolak janda cantik Adrian Anderson? Tak akan ada kesempatan dua kali untuknya mendapat tawaran semenggiurkan ini
“Aku jamin kau akan segera bebas, kau tunggulah dengan tenang!” Adolf segera memasukkan lagi berkas - berkas Brianna ke dalam tas kerjanya, ia ingin cepat - cepat mencari cara agar Brianna segera bebas, ia sungguh tak sabar untuk menaklukkan Brianna di atas ranjang
Sepeninggal Adolf, Brianna tergesa masuk ke kamar mandi, ia memuntahkan semua isi perutnya demi apa yang baru saja terjadi yang membuatnya mual setengah mati, tak pernah ia bayangkan sebelumnya harus menggoda pria tua tambun yang berbau badan tak sedap itu, sangat jauh berbeda dari mantan suaminya yang tampan, kaya, dan wangi! Apalagi jika dibandingkan dengan Adam, pria yang masih merajai hatinya
“Aku melakukan semua ini untukmu, Adam! Aku akan keluar dari sini apa pun yang terjadi, dan setelah itu aku akan berusaha untuk mendapatkanmu bagaimana pun caranya!” Gumamnya dalam hati
Bersambung….
__ADS_1