Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
85


__ADS_3

Jessie duduk bersimpuh di bawah kaki Ayahnya yang duduk terdiam tak bergeming disamping Emily yang masih terpejam


“Maafkan aku Pa… maafkan aku” Rintih Jessie sambil menyentuh kaki Ayahnya, Takanawa menggeser kaku kakinya memecah tangis Jessie kembali karena Jessie tahu saat ini Takanawa sangat murka padanya


“Aku.. aku tak pernah merasakan kekalahan setelak ini seumur hidupku, dan ini karena kau Jessie!” Tekan Takanawa dengan wajah menyamping tak sudi menatap anaknya itu


“Aku mohon maafkan aku, selama ini aku sudah cukup tersiksa karena dosaku, sungguh aku benar - benar menyesal” Tutur Jessie sambil terisak penuh penyesalan


“Memaafkanmu tak akan mengubah apa pun, Jessie! Kakakmu dilukai oleh Adam, dan aku tak bisa berbuat apa pun karena perbuatanmu!” Sinis Takanawa skeptis, Takanawa lalu bangun dari duduknya, mengalihkan tatapannya ke pemandangan kota diluar lantai 3 rumah sakitnya itu, satu tangannya ia tumpu di kaca sedang tangan yang satunya mengepal meredam kemarahannya


“Kau…. “ Takanawa menggeram dan mengeraskan rahangnya, “Kau sebaiknya tinggal di luar negeri dan jangan pernah berpikir untuk kembali lagi kesini!” Tandas Takanawa pada Jessie, Jessie hanya bisa pasrah menangis terisak di lantai


“Papa, apa yang kau lakukan?!” Justin di ambang pintu ruangan mencecar Ayahnya, langkahnya terseok saat ia mulai mendekati Jessie dan membantu membangunkannya, wajah Justin yang masih memar penuh luka itu tampak kebingungan melihat Jessie yang sudah pulang dari luar negeri bahkan sedang dalam kemurkaan Takanawa


Saat melihat Justin raut Takanawa berubah lembut, kemarahannya sedikit mereda, “Kau sudah sadar?” Tanyanya


“Jessie sudah mengakui kesalahannya Pa, dan dia sangat menyesali perbuatannya! Tolong Pa, tolong…. jangan usir dia dari sini dalam kondisi Mama yang sedang membutuhkan kita semua” Tutur Justin memelas, sambil ia dekap Jessie yang menangis pilu


Mendengar itu Takanawa kembali berang, ia segera memalingkan mukanya, “Ibumu tak membutuhkan anak seperti dia, Justin!” Sengit Takanawa


“Kalau begitu kau juga harus mengusirku, Pa!” Tandas Justin, pandangannya nanar… kubangan bening sudah mulai menggelayut di matanya. Jessie mendongak menatap Kakaknya, “Kak, apa maksudmu? Apa - apaan kau?” Bisik Jessie


Justin melepas dekapannya pada Jessie, “Pa, akulah yang membuat Mama seperti ini! Aku penyebab Mama bunuh diri!” Ucap Justin dengan suara bergetar


“Apa? Apa maksudmu Justin?!” Cecar Takanawa sedikit membentak


Justin menguatkan tekad untuk membuka semuanya pada Takanawa, akan ia terima apa pun konsekuensinya, dia merasa pantas menerima hukuman atas kejahatannya.


...****************...


Kediaman Anderson menghangat kembali setelah sempat mencekam karena penangkapan Adam, wartawan yang tadinya riuh memadati area depan gerbang tinggi pelataran Anderson perlahan mundur karena tak satu pun keluarga Anderson yang angkat bicara bahkan setelah Adam dibebaskan


Bella mengucap syukur banyak - banyak melihat Adam di depannya tanpa kekurangan satu apa pun, bahkan raut Adam terlihat lega seolah ia tak hampir menjadi pesakitan penghuni hotel prodeo


Bella bermuram durja lagi mengingat kejadian itu, ia menyalahkan dirinya sendiri atas peristiwa yang menimpa Adam, seandainya saja ia tak kabur, seandainya saja ia terus terang dari awal soal Justin, tentu Adam Anderson tak akan pernah merasakan dijemput para polisi di depan semua karyawannya sendiri


“Ceritakanlah Nak, bagaimana kau bisa keluar semudah itu dari tuntutan Takanawa!” Titah William begitu penasaran


“Sudahlah sayang, yang penting Adam sudah kembali pada kita” Sanggah Miranda yang tak berhenti - hentinya memeluk Adam, Miranda menghilangkan semua rasa takut dan cemasnya dalam rengkuhan Adam

__ADS_1


“Kak! Aku yang akan memberi tahu mereka, atau kau sendiri yang akan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi?” Sambar Adrian, memecah suasana riang di tengah keluarga itu kini semua pandangan tertuju pada Adrian yang berdiri menantang


“Ada apa lagi ini Adrian? Apa ada masalah lain yang belum kami ketahui?” Selidik William, disusul wajah - wajah keheranan Bella, Miranda, dan Anna. Adam menghela berat napasnya, tak ia sangka Adrian akan mengungkit tentang Jessie secepat itu


“Adam!” Miranda menegur Adam yang justru tampak ragu, Adam menjatuhkan pandangannya pada Bella orang yang akan paling terluka setelah mendengar ceritanya, ingin Adam kubur saja kisah itu seandainya Takanawa tak mencoba menyeretnya ke penjara


“Adam?” Tanya Bella saat mendapati tatapan Adam yang dalam padanya


“Bella, maafkan aku karena kau harus mendengar ini” Sahutnya, Bella semakin tak mengerti, ia lalu menoleh pada Adrian meminta penjelasan tapi Adrian fokus berkacak pinggang menunggu Adam membuka mulut


“Jessie lah yang mencoba membunuhku dulu!” Ucap Adam


“Apa?!” William terlonjak dari duduknya dengan mata melotot, sedang Miranda mengelus - elus dadanya yang bergemuruh, Bella bak digodam hatinya ia membeku tak bicara apa pun bahkan berkedip saja tidak, Anna cepat tanggap duduknya pindah ke sebelah Bella lalu menggenggam tangannya untuk memberi kekuatan


“Kau tidak bercanda kan Adam? Apa maksudmu itu Jessie Takanawa? Adiknya Justin?” Cecar William


“Iya Dad! Dia anak bungsu Takanawa, adik dari bajingan tengik yang hampir memperkosa Bella!” Sambar Adrian berapi - api


“Ya Tuhan” Gumam William lalu terduduk lemas


“La - lalu, apa karena itu akhirnya Takanawa mencabut gugatannya dan kau bebas, Adam?” Tanya Miranda tergagap, masih shock akan kenyataan yang ia terima, Adam mengangguk namun tatapannya tetap pada Bella memastikan istrinya itu masih bisa mengendalikan diri, karena Adam tahu tak akan mudah untuk Bella menerima ini dalam waktu nyaris bersamaan, setelah peristiwa dengan Justin lalu kini insiden yang menyangkut Jessie, adik angkat Bella.


“Dad, aku tak berniat memenjarakan Jessie!” Sahut Adam


“Tapi kenapa Adam? Anak itu nyaris membuatmu dikubur! Apa kau tak tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku hampir mati melihatmu terbaring tak berdaya, Adam!” Giliran Miranda yang terbakar amarah


“Aku tahu Mom, aku tahu… “ Ucap Adam sambil menggenggam tangan Ibunya, “Tapi Mom, kita sudahi semua dendam sampai disini. Justin dan Jessie sudah merasakan akibatnya, itu sudah cukup!” Tutur Adam, “Terlebih… “ Adam kembali melihat Bella yang sedang mengusap air matanya sebelum ia berucap kembali, menyadari Adam sedang menatapnya Bella tahu ada hal penting yang ingin Adam sampaikan lagi


“Bicaralah, Adam!” Titah Bella


“Terlebih saat ini Nyonya Emily sedang koma, beberapa hari yang lalu dia mencoba membunuh dirinya sendiri” sahut Adam


Telinga Bella berdenging, pandangannya menggelap, kepalanya berputar cepat membuatnya limbung lalu tak sadarkan diri, Miranda histeris melihat menantunya jatuh pingsan, sedang Adam sigap memburu tubuh Bella lalu menggendong menuju kamarnya.


...****************...


Plakkkk…


Tamparan Takanawa telak mengenai luka di wajah Justin yang mulai mengering, alhasil darah segar kembali merembes mengenai perbannya

__ADS_1


Belum puas, Takanawa meraih kerah baju pasien yang Justin kenakan lalu mencengkramnya, “Tak ku sangka kau sehina itu, Justin! Apa yang kau pikirkan, hah?! Aku tak mendidikmu untuk menjadi bajingan dan pecundang seperti itu, berengsek!” Sentak Takanawa lalu menghempas Justin begitu saja, melihat itu tangis Jessie semakin deras karena Justin terlihat mengenaskan


Takanawa menggusar rambutnya frustasi, “Berengsek kalian berengsek!!!!!!” Pekiknya membahana, mendengar teriakan Takanawa beberapa dokter dan perawat bergegas hendak masuk ke ruangan Emily, tapi melihat Takanawa yang sedang murka mereka urung, lalu mundur kembali ke tempatnya masing - masing


Selesai melepas kemarahannya, Takanawa lalu mendudukkan dirinya di kursi, rambutnya ia remas kuat - kuat. Sedang Justin dan Jessie hanya bisa duduk menunduk di lantai, tak berani menatap Ayahnya. Kebisuan antara mereka terurai saat tiba - tiba saja Emily kejang - kejang


“Emily!” Ucap Takanawa khawatir


“Mama!” Jessie dan Justin bangun dari lantai dan segera menghampiri Ibu mereka


“Apa yang terjadi, kau kenapa?” Takanawa panik sambil memeriksa istrinya, Justin yang juga sangat panik membantu Takanawa


“Ma! Mama!” Pekik Jessie histeris melihat Ibunya yang tak berhenti kejang


“Tidak… Tidak… bertahanlah sayang, bertahanlah” Gumam Takanawa ketakutan, ia lalu menoleh pada Justin “Panggil dokter yang lain! Cepat!” Titahnya, Justin yang mengerti apa yang akan terjadi pada Emily tak mengindahkan Ayahnya, ia sibuk saja menangani Emily dengan air mata berderai


“Justin, dengarkan aku! Panggil dokter yang lain! Cepat Justin, Cepat!!!” Sentak Takanawa, Justin mengalah.. ia menatap Ibunya sebentar lalu bergegas keluar


Tak lama para dokter kembali lagi bersama Justin, dan segera memeriksa Emily, seorang dokter menghampiri Takanawa


“Tuan, biar kami yang mengatasinya! Keluarlah Tuan, anda sedang tak stabil untuk menangani Nyonya Emily” tuturnya, Takanawa menggeleng kuat - kuat


“Bantu aku saja, cepat!!” Sahut Takanawa, sekuat tenaga Takanawa mengerahkan kemampuannya, Justin tegang memperhatikan monitor denyut jantung Emily yang semakin melemah, dan lama kelamaan menghilang


“Tuan… “ seorang dokter memberi tahu Takanawa, Takanawa bergegas menekan - nekan dada Emily


“Bangun sayang, aku mohon bangun!” gumamnya penuh harap


“Siapkan alat pacu jantungnya!” Titah Takanawa, Justin bergegas menunaikan perintah Takanawa tak membiarkan dokter lain yang melakukannya


Kini Ayah dan anak itu bahu membahu mencoba mengembalikan kehidupan Emily, hingga beberapa saat kemudian seorang dokter menyentuh bahu Justin


“Hentikan Tuan, biarkan Nyonya Emily beristirahat dengan tenang” tuturnya, Justin tak hirau


“Hentikan Justin, Ibumu telah tiada” Tutur Takanawa, Justin melepas alatnya lalu terduduk lesu di lantai penuh penyesalan


“Mama!!” Pekik Jessie histeris, setelah itu ia memburu memeluk Ibunya yang terbaring kaku tak bernyawa lagi.


(Bersambung)….

__ADS_1


__ADS_2