
Meski dokter sudah menyatakan kalau Bella dan kandungannya baik - baik saja, nyatanya Bella belum mau keluar dari rumah sakit, ia meminta dokter untuk memastikan lagi kalau ia dan bayinya baik - baik saja, paranoid Bella memang belum hilang sampai sekarang. Adam dengan sabar menunggui Bella, sambil pelan - pelan terus meyakinkan Bella kalau ketakutannya tak beralasan
Saat Adam dan Bella tengah bercengkrama berdua, Justin dan Emily datang mengunjungi Bella.
“Bisakah kau tak senekad itu, Bella? Apa kau tak memikirkan anakmu? Kau hidup bukan hanya untuk dirimu saja sekarang, tapi untuk anakmu juga!” Berondong Justin, Emily refleks menyikut anaknya sambil menoleh pada Adam, khawatir Adam marah karena datang - datang Justin langsung menumpahkan kekesalannya pada Bella, tapi tak di sangka Adam tenang - tenang saja, Adam memang melihat omelan Justin sebagai bentuk kekhawatiran seorang Kakak pada adiknya
Bella ciut sampai - sampai ia menunduk dan menggigit bibir bawahnya, “Maaf Kak, aku cuma khawatir pada Adam! Mana kita tahu kalau kutukan Ibuku memang akan terjadi” sahutnya
“Ck.. kau itu bodoh sekali Bella!” Geram Justin, Emily lagi - lagi menyikut anaknya itu, “Justin, sudah!” Ucapnya mengingatkan
“Biarkan saja Ma! Dia memang harus diberi tahu, dia terus dihantui perasaan takut yang tak perlu, sampai - sampai dia mengabaikan keselamatan anaknya sendiri!” Cerocos Justin lagi, “Apa kau pikir Ibu dan Kakakmu tidak akan senang kalau sesuatu terjadi pada kau atau anakmu, hah?! Aku yakin mereka akan bertepuk tangan dan tertawa bahagia saat sesuatu yang buruk menimpamu atau anakmu hanya gara - gara sikap paranoid bodohmu itu!” Tambah Justin yang semakin membuat Bella menundukkan kepalanya, Emily kembali menjatuhkan pandangan pada Adam, takut - takut jika pria itu akan murka karena istrinya tengah di berondong oleh Justin, tapi seperti tadi Adam hening dan hanya menatap istrinya dari sofa
“Apa kau ingat berapa kali Ibumu dan Kakakmu ingin mencelakakan kau dan anakmu, Bella? Sudah sering kali!! Apa kau ingin membuat keinginan mereka untuk menyingkirkan kau dan anakmu terkabul begitu?!” Justin tak henti - hentinya mencecar Bella yang diam tak berkutik
“Justin sudahlah! Kasihan Bella, dia pasti sangat lelah sekarang, biarkan dia tenang dulu” pinta Emily
“Tidak bisa Ma! Aku tak akan berhenti sampai dia menyadari kekonyolannya, bukan tak mungkin ia akan melakukan hal yang lebih gila lagi ke depannya gara - gara ketakutannya pada sumpah perempuan biadab itu!” Sahut Justin, Emily menghela napasnya menyadari kalau tak mungkin menghentikan Justin sekarang, kasih sayang Justin lah yang membuatnya seperti itu
“Tapi bagaimana pun dia masih Ibuku Kak, dia yang melahirkanku” gumam Bella
“Dia memang melahirkanmu Bella! Tapi dia bukan Ibumu! seorang Ibu tak akan tega menyakiti anaknya bahkan sehelai rambut pun, sementara dia.. dia bahkan telah mengusirmu, dia juga beberapa kali bilang kalau dia membencimu, dan yang paling fatal dia hampir membunuh anak yang kau kandung, Ibu macam apa itu Bella?!” Sentak Justin membahana memenuhi seluruh ruangan VVIP itu
”Apa yang Justin katakan memang benar Bella, aku adalah seorang Ibu.. jangankan menyakiti anakku sendiri, bahkan melihatnya bersedih atau menangis sudah membuat hatiku hancur berkeping - keping, itulah kasih sayang seorang Ibu Bella, sedang apa yang Pamela perlihatkan bukanlah sikap seorang Ibu, lantas kau berpikir bahwa sumpah serapahnya akan berlaku untukmu? Tidak Bella! Dosanya padamu sebagai seorang Ibu sudah terlalu banyak, dan Tuhan tak akan mendengarkan kutukan seorang perempuan sepertinya” tambah Emily, membantu Justin untuk meyakinkan Bella
Bella perlahan mendongak dan menatap Emily, “Benarkah itu, Ma?” Tanya Bella meyakinkan dirinya, Emily mengangguk dan tersenyum penuh kasih sayang
__ADS_1
“Percaya padaku Bella, apa yang Ibumu ucapkan tak lebih dari usahanya untuk kembali menyakitimu, jangan biarkan dia menang Bella! Jangan biarkan dia merusak kebahagiaanmu!” Tambah Emily, Bella termenung mencerna kata - kata yang dilontarkan Justin dan Emily, dan perlahan senyum lega terbit di wajahnya
“Iya, aku percaya kalau kutukan itu tak akan terjadi karena dia tak pernah menyayangiku sebagai seorang Ibu, dan Tuhan Maha tahu tentang itu!” Gumamnya, Emily saling tatap dengan Justin sambil tersenyum penuh kelegaan, Justin lalu menoleh pada Adam, Adam pun mengangguk antusias mendapati Justin dan Emily berhasil meyakinkan istrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adrian menatap bengis Pamela yang berjalan terseok digiring dua orang sipir di belakangnya, sumpah demi apa pun Adrian sungguh membenci perempuan yang pernah menyandang status sebagai mertuanya itu
Saat Pamela duduk di depannya tatapan benci Adrian semakin menjadi - jadi, sedang Pamela tampak antusias, ia menduga jika sampai Adrian datang mengunjunginya pasti ada yang kerja sama yang ingin Adrian tawarkan, dan sebagai imbalannya kali ini Pamela ingin meminta pengacara yang paling handal agar bisa mengurangi hukumannya atau bahkan membebaskannya dari penjara itu, sungguh ia sudah tak sanggup hidup di balik jeruji besi yang diisi para penjahat dengan berbagai kisah kejam mereka
“Adrian! Tolong aku, keluarkan aku dari sini.. aku janji akan melakukan apa pun yang kau minta!” Pinta Pamela dengan memelas
Adria tersenyum miris melihat betapa putus asanya Pamela, “Kau pikir aku datang kesini untuk bernegosiasi denganmu? Ck… naif sekali kau sampai berpikir kau masih berguna untukku!” Tohoknya
“Apa yang kau katakan pada Bella tempo hari saat ia mengunjungimu disini?” Cecar Adrian
Pamela tersenyum sinis mendengar pertanyaan Adrian, “Wah.. wah.. kau datang jauh - jauh kesini hanya untuk menanyakan itu?” Sinisnya
“Hei jawab saja pertanyaanku!” Sengit Adrian, Pamela berdecak kesal
“Aku mengutuk agar dia, Adam, dan anak mereka mati mengenaskan!” Sengit Pamela, “Itu semua karena kesalahannya sendiri, tega - teganya dia menjebloskan aku dan anakku ke penjara!” Tambahnya dengan ekspresi menakutkan
Adrian menghela napas dan bersedekap, ia lalu tersenyum miris, “Selama ini kau selalu membenci Bella dengan alasan yang menurutku tak masuk akal, dan kau malah menyayangi Brianna, putrimu yang hanya mementingkan dirinya sendiri!” ucap Adrian, Pamela acuh tak acuh ia malah sibuk memainkan kukunya yang sudah panjang dan kotor berwarna kehitaman
“Kau tahu apa yang putri kesayanganmu itu lakukan, Pamela?” Sinis Adrian,
__ADS_1
Pamela memutar malas bola matanya, “Memangnya apa yang Brianna lakukan, hah?” Sengitnya
“Coba kau dengarkan ini!” Adrian lalu mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi yang berisi rekaman percakapannya dengan Brianna saat ia mengunjunginya di penjara untuk meminta Brianna menanda tangani berkas perceraian
Pamela hening ketika mendengarkan isi rekaman itu, wajahnya yang datar tanpa ekspresi berubah terkejut menakutkan ketika ia mendengar pernyataan Brianna yang meminta Adrian menolong dirinya dibanding menolong Pamela
“A - apa benar ini suara Brianna? Kau pasti bohong, rekaman ini buatanmu sendiri untuk memecah belah aku dan Brianna bukan?” Cecar Pamela
“Apa untungnya aku melakukan itu, hah? Kalian sudah tak ada gunanya untukku! Jadi aku benar - benar tak peduli lagi soal kalian, aku hanya ingin menunjukkan karakter Brianna yang sesungguhnya! Seberapa kecil rasa sayangnya padamu!” Tandas Adrian, mata Pamela tampak berkaca - kaca, demi apa pun ia tak menyangka kalau Brianna ingin mengorbankan dirinya untuk kepentingan Brianna sendiri, sedangkan selama ini Pamela rela melakukan apa pun demi kebahagiaan Brianna
“Kenapa? Apa kau sedih mengetahui bahwa kau tak berarti apa - apa untuk Brianna?” Tohok Adrian ketika melihat Pamela mengusap air matanya, “Apa kau menyesal karena kau telah membenci dan membuang anakmu yang lain yang justru sangat menyayangimu?!” Sinis Adrian lagi
“Apa maksudmu, hah?” Pamela mengerti kemana arah pembicaraan Adrian, tapi dalam hatinya ia menyangkal
“Bella mengunjungimu disini, membawakan kue kesukaanmu meskipun kau berkali - kalinya menyakitinya bahkan berusaha membunuh anak dalam kandungannya, Bella lah yang masih peduli padamu saat Brianna sibuk menyelamatkan dirinya sendiri, kau harusnya bersyukur memiliki anak seperti Bella! Bukan malah menyakitinya lagi dengan mengeluarkan sumpah serapah berharap dia akan mati!” Tandas Adrian, Pamela tak dapat berkata apa - apalagi, bibirnya terkatup rapat lidahnya kelu, hanya air mata yang keluar dari netranya yang semakin cekung
“Kau mungkin tak akan merasakannya sekarang, tapi aku yakin kau akan menyesal ketika Bella sudah menutup hatinya untukmu!” Ucap Adrian sambil bangkit dari duduknya dan meninggalkan Pamela yang masih tergugu
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam menjelang, Pamela tak juga dapat memejamkan matanya di lantai sel yang dingin itu, banyaknya tahanan di dalam sel membuat Pamela mau tidak mau tidur di atas lantai dan hanya beralaskan selimut tipis, tapi bukan karena badan rentanya yang terasa ngilu yang membuatnya tak bisa tidur, melainkan omongan Adrian saat mengunjunginya tadi, kalau dipikir - pikir ucapan mantan menantunya itu memang benar, jelas terlihat siapa yang lebih menyayanginya diantara Bella dan Brianna selama ini
Bella mau mengorbankan dirinya untuk menikah dengan Adam atas permintaannya, Bella juga menutupi pada Adam dan keluarganya tentang Pamela yang menggunakan nama Bella untuk meminta uang pada Adam padahal saat itu Bella sudah menjadi istri Adam, hal yang mudah untuk Bella mengusir Pamela dari rumah yang sebenarnya milik Bella tapi Bella tak melakukannya, Bella justru datang memohon dan bersimpuh meminta belas kasih sayang seorang Ibu dibawah guyuran hujan deras. Mengingat itu tak terasa air mata Pamela merembes keluar membasahi tangan yang menjadi bantalan kepalanya, bayangan Bella berkelebatan di pelupuk matanya, rasa sesal mulai merasuki jiwa dan hatinya.
(Bersambung)
__ADS_1