
“Bu, cepatlah! Kenapa jalanmu lambat seperti siput?” Omel Brianna pada Pamela yang tertinggal di belakangnya
“Astaga Brianna, apa kau tak melihat kalau dari tadi sepatu mahalku menginjak lumpur? Bagaimana aku bisa berjalan cepat di atas lumpur dengan sepatu tinggi begini?” Protes Pamela sambil menunjuk sepatu puluhan juta yang kini dipenuhi lumpur
“Ck… siapa yang menyuruhmu memakai sepatu seperti itu di jalanan pemukiman kumuh seperti ini Bu? Apa kau lupa kalau kita tidak tinggal di rumah mewah lagi?” Sewot Brianna
“Ya Tuhan anak ini! Hei, harusnya kau membawa mobil pemberian Adrian itu kemarin malam agar kita tidak harus berjalan begini untuk mencari taksi” gerutu Pamela
“Tenanglah Bu, hari ini akan ku ambil semua yang menjadi milikku! Aku juga akan meminta Adam untuk membelikan rumah baru untuk kita, kalau Adrian tak mau bertanggung jawab lagi atas diriku, maka keluarga Adrian lah yang harus bertanggung jawab!” Tandas Brianna begitu percaya diri
Pamela tersenyum senang mendengar rencana anaknya, “Aku senang karena akhirnya otak kamu itu digunakan Brianna” tandasnya sambil tersenyum lebar
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Brianna dan Pamela terkejut melihat bagaimana ketatnya penjagaan kediaman Anderson sekarang, para pria berbadan besar dan tegap berdiri patuh bukan hanya di pos penjaga keamanan, namun nyaris di semua titik rumah Anderson. Untuk masuk ke dalam rumah saja Brianna dan Pamela sampai harus melewati berlapis - lapis penjagaan dan menunggu lama hingga keluarga Anderson mengizinkan Brianna dan Pamela masuk
“Untuk apa kalian disini?” Sengit Miranda yang tak suka melihat kedatangan Brianna maupun Pamela
“Mom, bukankah aku masih menantu disini? Sudah sewajarnya kalau aku datang kesini kan?” Sahut Brianna semanis mungkin
“Ah, Brianna benar.. lagi pula masih ada putriku yang lain disini, aku ingin sekali bertemu Bella” tambah Pamela, bukan karena khawatir pada Bella sebenarnya, tapi untuk mencari tahu keadaan Bella, siapa tahu anak yang Bella kandung tak selamat, jika itu terjadi ia akan melakukan semua cara agar Brianna hamil anak Adam dengan cara apa pun, meskipun harus dengan cara kotor sekali pun.
Netra Miranda membulat sempurna, besannya itu benar - benar tak tahu malu, Miranda pun menduga - duga apalagi rencana busuk Pamela sekarang, “Saat ini Bella sedang beristirahat total, dia tak boleh ditemui siapa pun!” Tandas Miranda
“T - Tapi, aku ini Ibunya Nyonya Miranda! Aku sangat mengkhawatirkan kondisinya dan calon cucuku” bujuk Pamela
“Ck… Bella dan bayinya baik - baik saja kalau itu yang ingin kau tahu, sekarang pergilah! Aku tak akan mengizinkanmu untuk menemui Bella!” Miranda bersikukuh, alhasil Pamela tak berkutik
“Bayinya Bella selamat? Sial! Kenapa keberuntungan selalu ada di pihak Bella?” Gerutu Brianna, tak lama Adam terlihat menuruni anak tangga, Adam tak kaget melihat Brianna maupun Pamela, ia tahu kedua orang itu pasti akan kembali lagi untuk mengambil barang berharga milik Brianna
“A - Adam” Brianna tergagap saat adik iparnya itu berjalan menghampirinya, ia salah tingkah membenar - benarkan baju dan rambutnya lalu berdiri, semua gerak gerik Brianna tak lepas dari pengawasan sinis mata Miranda, Miranda tak suka melihat bagaimana Brianna mencoba mencari perhatian Adam, “Benar - benar tak tahu malu!” Batin Miranda sewot
“Adam! Bagaimana kondisi Bella? Ya Tuhan, aku sangat mengkhawatikannya!” Pamela ikut berdiri dan langsung mengeluarkan kemampuan aktingnya, kalau saja Adam tak tahu bagaimana sikap Pamela sebenarnya, mungkin Adam akan termakan oleh sandiwara Pamela
“Ada perlu apa kesini?” Tanya Adam tanpa basa basi meskipun ia tahu betul apa niat Pamela dan Brianna datang ke rumahnya, merasa Adam dan Miranda tak bersahabat, Pamela menjatuhkan pandangannya pada Brianna, Brianna menghela napas lalu berdehem mengumpulkan nyalinya
“Begini Adam, aku bermaksud mengambil barang - barangku yang tertinggal” tutur Brianna tanpa basa - basi lagi, percuma saja ternyata bermanis - manis pada Adam dan Miranda, keduanya kompak tak mempedulikan lagi Pamela dan Brianna
“Barang? Barang apa yang masih kau tinggalkan di rumah ini?” Sinis Adam
__ADS_1
“Mobil dan perhiasan - perhiasanku, juga koleksi tas dan semua bajuku” sahut Brianna, mendengar jawaban Brianna Miranda mendengus kesal
“Kau bisa mengambil semua baju - bajumu, tapi tidak dengan mobil, perhiasan, dan juga koleksi tasmu!” Jawab Miranda
“M - maksud Mommy? Aku hanya boleh membawa bajuku? Tapi kenapa Mom? Mobil, perhiasan, dan tas itu kan milikku, pemberian dari Adrian yang masih suamiku” protes Brianna, Pamela menelan salivanya membaca ada sesuatu yang tak beres tengah terjadi
“Adrian memiliki banyak hutang pada perusahaan, dengan keuangan seperti itu dia tak akan mampu melunasinya, karena kau masih berstatus istrinya maka kau yang memiliki kewajiban untuk melunasinya” jawab Adam
Pamela dan Brianna sama - sama terbelalak kaget, “Tidak bisa begitu Adam! Itu semua adalah barang - barangku, tidak ada sangkut pautnya dengan hutang Adrian pada perusahaan!” Protes Brianna dengan suara meninggi
“Hei.. hei.. bukan kah kau sendiri yang bilang kalau kau masih istri Adrian? Apa kau hanya akan mengakuinya sebagai seorang istri ketika ia memiliki banyak uang dan membuangnya ketika ia kesulitan, begitu?” Cerocos Miranda, Brianna tak terima ia sudah membuka mulut ketika Pamela menyikutnya agar diam
“Nyonya Miranda, bukankah sangat tak adil jika Brianna yang harus menanggung hutang Adrian?” Tanya Pamela dengan sedikit membujuk
“Semua uang yang Adrian ambil dari perusahaan diperuntukkan untuk kepentinganmu Brianna! Bahkan semua perhiasan dan koleksi tasmu itu tak cukup untuk menutupi apa yang Adrian ambil dari perusahaan, atau kau ingin melunasi semuanya?” Tohok Adam, Brianna refleks menggeleng, manalah ia sanggup untuk membayar uang yang Adrian ambil dari perusahaan, ia tahu betul berapa jumlahnya
“B - baiklah Adam, aku hanya akan membawa bajuku kalau begitu” pasrah Brianna, apa boleh buat tak mungkin ia melawan Adam dan Miranda, yang ia bisa lakukan sekarang hanya membawa bajunya dan menyelipkan satu atau dua perhiasan tanpa sepengetahuan Adam dan Miranda
“Pergilah!” Titah Adam mengizinkan Brianna dan Pamela memasuki kamar yang mereka huni dulu, namun betapa terkejutnya mereka saat mereka sampai disana
“Ya Tuhan, brankasku!” Pekik Brianna memburu brankas yang sudah terbuka itu, Brianna meraba - raba isi brankas yang telah kosong dengan panik
“Ibu! Tasnya juga sudah tak ada Bu! Adam sudah mengambil semuanya!” Brianna mengamuk sambil membuka semua pintu lemari berharap tas - tasnya hanya dipindahkan atau mungkin ada satu dua tas yang tertinggal, tapi sayang hanya deretan - deretan bajunya yang tersisa
“Apa sudah kau cari ke semua tempat? Mungkin kau lupa menyimpannya!” Ujar Pamela, masih tak bisa menerima kenyataan kalau anaknya itu kini sudah tak memiliki apa pun
“Tidak ada Bu! Semuanya hilang! Adam bahkan tak menyisakan satu pun tasku Bu, bagaimana ini?” Brianna terduduk lemas dan mulai terisak frustasi
“Ya Tuhan, kenapa nasibmu jadi seperti ini Brianna?! Bagaimana kita bisa hidup kalau begini? Bagaimana cara kita untuk mendapatkan uang?” Pamela ikut frustasi di sebelah anaknya
Tiba - tiba saja Brianna menoleh pada Pamela, “Bu, masih ada mobilku! Aku yakin melihatnya di depan tadi!” Ucap Brianna antusias, Pamela tersenyum lebar
“Lantas apalagi yang kau tunggu Brianna? Ayo segera ambil mobilmu dan kita pergi dari sini!” Pamela tak sabaran segera menggeret anaknya, mereka berdua nyaris berlari menuju halaman depan tempat mobil Brianna terparkir tadi, namun begitu mereka sampai di halaman depan, mereka bisa melihat ekor mobil Brianna yang baru saja keluar melewati gerbang depan
“Brianna, bukankah itu mobilmu? Kemana mereka akan membawanya?” Pamela berteriak panik melihat mobil anaknya dibawa pergi
“Hei, hentikan! Itu mobilku!” Teriak Brianna sambil berlari tunggang langgang mengejar mobilnya yang sudah bergerak pergi, “hei berhenti!” Teriak Brianna lagi, Pamela dibelakangnya sampai membuka sepatunya untuk menyusul Brianna berlari
Adam dan Bella yang tengah berada di balkon kamar mereka terbahak melihat adegan kejar - kejaran Pamela dan Brianna
__ADS_1
“Apa kau sudah puas?” Tanya Adam sambil memeluk istrinya dari belakang
“Cukup menghibur, Adam!” Sahut Bella sangat puas, “Apa kau menyuruh asistenmu untuk menyita mobil Brianna juga?” Tanya Bella
“Iya, aku tak menyisakan apa pun untuk mereka jual, sudah waktunya mereka hidup susah seperti keinginanmu” sahut Adam
Bella menghela lega napasnya, memang itu yang ingin ia lihat terjadi pada Brianna dan Ibunya, merasakan hidup kesulitan
“Masih ada satu kejutan lagi, tunggulah sebentar lagi” ucap Adam
“Kejutan? Apa itu Adam? Apa ini ada hubungannya dengan Ibuku dan Brianna?” Tanya Bella penasaran
Adam tersenyum sambil mengelus perut istrinya semakin membuncit, “Tunggu sebentar lagi sayang, kau akan menyaksikan pertunjukan yang sangat menarik”
Bella mengerutkan keningnya sambil menduga - duga, ia lalu melihat lagi ke halaman bawah dimana Brianna dan Pamela telah kembali, keduanya terengah dengan wajah kepayahan, tak lama sebuah mobil mewah memasuki pekarangan kediaman Anderson dan berhenti tepat di depat Brianna dan Pamela yang menepi, Bella memicingkan matanya mengamati siapa yang baru saja datang itu
“Kejutannya sudah datang sayang” ucap Adam begitu ia melihat mobil yang kini berhenti di halamannya
“Tapi apa maksudmu sayang? Mobil siapa itu?” Tanya Bella tak mengerti, tapi belum sempat Adam menjawab, Bella melihat pria yang keluar dari mobil itu
“Kak Justin” ucap Bella, ia kini mulai paham apa yang Adam rencanakan
Di halaman bawah sana Pamela dan Brianna mengamati sosok Justin, “Siapa itu Brianna? Tampan sekali, sepertinya Ibu sering melihatnya? Tapi dimana ya?” Bisik Pamela pada Brianna
“Ck.. kau itu pelupa sekali Bu! Itu Justin Takanawa, anak Tuan Takanawa pemilik rumah sakit terbesar negara ini” sahut Brianna, “tapi apa yang ia lakukan disini? Apa ia mengenal keluarga Anderson?” Gumam Brianna yang lalu langsung tertunduk malu - malu saat Justin menatap ia lamat - lamat, Brianna tak mengetahui bahwa pandangan Justin penuh kebencian, fakta bahwa Brianna adalah adiknya tak membuat Justin melupakan apa yang telah dilakukan Brianna pada Bella
Justin lalu melayangkan pandangannya pada Pamela, dadanya bergemuruh saat melihat wanita yang tak lagi muda itu, dendam bergejolak dihatinya ketika mengingat penderitaan yang harus Ibunya tanggung karena ulah Pamela, kedua wanita di hadapannya itu membuat Justin benar - benar muak, itu makanya ia menyetujui keinginan Adam agar datang ke kediaman Anderson, Adam sengaja ingin mempertemukan mereka
“Brianna, kenapa dia memandangi kita terus?” Bisik Pamela pada anaknya
“Apa kau masih harus bertanya Bu? Tentu saja dia terpikat kecantikanku!” Sahut Brianna percaya diri
Justin tersenyum sinis sebelum kemudian ia membukakan pintu mobilnya, dan membantu Ibunya untuk turun, lalu mendudukan Ibunya dengan telaten di kursi roda yang telah disiapkan oleh asistennya
Mata Pamela membulat demi melihat wanita yang berada di depannya sekarang, jantung Pamela berdebar kencang, lututnya gemetaran, badannya lemas seketika
“Emily” ujar Pamela ketakutan seolah ia baru saja melihat hantu
(Bersambung)
__ADS_1