
Takanawa murka melihat kondisi anak kesayangannya yang tak berdaya dengan wajah penuh lebam dan luka
“Apa yang terjadi pada Justin? Kenapa dia bisa seperti ini, hah?” Bentak Takanawa pada para dokter bawahannya yang menangani Justin
“Kami tidak tahu, Tuan.. tadi pria yang mengaku sebagai asisten Tuan Adam Anderson yang mengantarkan, dan sekarang orang tersebut sedang menunggu di kantor Tuan” jelas salah seorang dokter. Dengan wajah memerah karena marah yang teramat, Takanawa membelai lembut kepala Justin
“Rawat anakku baik - baik, kalau sampai ada penanganan yang salah aku pastikan kalian tidak akan bisa menjadi dokter lagi!” Ancamnya yang membuat para dokter itu menciut ketakutan, Takanawa lalu beranjak tergesa
Saat sampai ke ruangannya ia langsung menerabas masuk, tak ada basa basi atau sekedar sapaan untuk Wang yang berdiri teguh menunggu
“Siapa yang melakukan ini pada Justin? Apa hubungan kau dengan apa yang terjadi pada anakku?” Cecar Takanawa, sebelum menjawab Wang menundukkan kepalanya sopan
“Saya diminta Tuan Adam untuk menyampaikan kalau Tuan Adamlah yang melakukan pemukulan terhadap Tuan Justin” sahut Wang tenang, Takanawa terbelalak kaget ia sampai mendekati Wang
“Siapa kau bilang barusan? Adam Anderson yang melakukannya?” Cecar Takanawa memastikan ia tak salah dengar, anggukan Wang yang mengiyakan menyulut kemurkaan Takanawa
Braaaak…
Ia menggebrak meja kerjanya sendiri dan memandang sengit pada Wang, tapi Wang tak gentar.. pria berjas rapi itu tetap berdiri tegap dengan ekspresi dingin
“Apa yang anakku lakukan sampai bosmu melukainya separah itu, hah?” Bentak Takanawa
“Hanya itu pesan yang disampaikan Tuan Adam, saya yakin Tuan Adam akan segera menemui anda” sahut Wang, “Kalau begitu saya permisi” ujar pria dengan perawakan tinggi itu lalu mengangguk sopan dan berjalan menuju pintu keluar
“Tunggu!” Ujar Takanawa yang menghentikan langkah Wang, Wang cepat berbalik
“Ada yang bisa saya bantu, Tuan?” Wang tetap tenang meskipun ia melihat kilat kemurkaan di mata Takanawa
“Katakan pada Adam kalau dia sudah menabuh genderang perang, aku dan keluargaku tak akan tinggal diam! Aku berjanji atas nama putraku kalau aku akan menghancurkan keluarga Anderson!” Sengitnya dengan tinju terkepal, rahangnya mengeras dan mata menyalang merah, lagi - lagi Wang mengangguk sopan dan tenang
“Baik Tuan” sahutnya lalu kembali melangkah meninggalkan ruangan Takanawa. Sepeninggal Wang Takanawa terhuyung, ia memapah dirinya dengan berpegangan pada pinggiran meja lalu duduk di kursi kerjanya yang terbuat dari kulit, tangannya gemetaran ketika memijit pelipisnya yang berdenyut
“Emily masih koma dan sekarang Justin! Ya Tuhan apa yang terjadi pada keluargaku?” Rintihnya, merasa butuh kekuatan Takanawa lalu meraih ponsel yang berada di saku jas putih kedokterannya, termenung karena ragu sebentar sebelum ia meyakinkan dirinya untuk menghubungi Jessie, anak bungsunya yang sedang menimba ilmu di luar negeri. Awalnya Jessie menolak untuk pulang mengingat sejarahnya dengan Adam, tapi setelah mendengar Emily koma dan Justin terbaring tak berdaya, Jessie mengiyakan permintaan Takanawa untuk pulang ke rumahnya, Takanawa tak menjelaskan lebih lanjut penyebab Emily koma atau Justin yang babak belur karena mendengar Jessie yang menangis histeris, Takanawa akan menunggu hingga anak perempuannya itu sampai dulu untuk menjelaskan semuanya.
Saat Takanawa selesai menghubungi Jessie ketukan di pintu menyita perhatiannya, sang sekretaris masuk dan mengabarkan kedatangan seorang tamu
“Brianna? Kau bilang namanya Brianna?” Tanya Takanawa, sekretarisnya mengangguk
__ADS_1
“Untuk apa Kakaknya Bella ingin menemuiku?” Gumam Takanawa penasaran
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Keesokan harinya saat sore hari di kantor Adam, Wang memberikan laporan pertemuannya dengan Takanawa dan menyampaikan pesan ancaman dari Ayahnya Justin itu. Adam menghela napasnya
“Bagaimana kondisi Justin?” Tanyanya
“Menurut pengamatan dokter kondisinya semakin membaik, Tuan” Jawab Wang, Adam lalu bangkit dari duduknya membenar - benarkan jas dan dasinya saat Adrian masuk dengan tergesa, tanpa ketuk pintu atau permisi, wajah Adrian tampak panik
“Kak… “ Adrian menghirup oksigen banyak - banyak karena napasnya terengah
“Kau kenapa Adrian?” Tanya Adam
“Di lobby ada polisi yang mencarimu Kak, bukan hanya satu atau dua orang, tapi banyak sekali!” Tutur Adrian terlihat sekali paniknya
“Polisi mencariku? Untuk?” Tanya Adam masih bersikap tenang, Adrian lalu menyodorkan secarik kertas yang ia genggam di tangannya dari tadi
“Ini surat perintahnya” sodor Adrian, Adam mengambil kertas itu lalu membacanya pelan - pelan
“Tolong temani aku ke kantor polisi, Adrian” Pinta Adam, Adrian mengangguk mantap
“Pasti Kak, aku akan menjadi saksimu” sahut Adam sambil menepuk - nepuk bahu Kakaknya itu
Tiba di lobby banyak orang yang sudah berkumpul, bukan hanya para polisi yang jumlahnya puluhan bahkan semua karyawan di kantor puluhan lantai itu menyatu di lobby, meski lobby itu sangat besar tapi tetap saja menjadi sesak karena banyaknya orang yang penasaran tentang apa yang terjadi pada bos besar mereka, kasus apa yang menyeret seorang Adam Anderson? Adam dan Adrian langsung saja dikawal puluhan penjaga keamanan dan bodyguard yang dihubungi Wang, suasana riuh seketika saat Adam berjalan tenang menghampiri para polisi yang menunggunya
“Apa kesalahan Tuan Adam Pak Polisi? Kenapa kau ingin menangkapnya?” Celetuk salah seorang karyawan Adam
“Iya! Tuan Adam tak mungkin melakukan kejahatan! Lepaskan dia!” Sambar Karyawan yang lain yang ditimpali suara seru - seruan agar polisi melepaskan Adam, alhasil lobby itu gaduh kembali
“Tenang semuanya!” Teriak Adrian sambil mengangkat satu tangannya pertanda agar semuanya diam, hening langsung terasa.. tak ada lagi yang berani bersuara
“Dengar, Kakakku tak bersalah! Setelah kami memberi keterangan di kantor polisi, kami akan mengklarifikasi semuanya!” Tandas Adrian lagi, suaranya membahana menyapu lobby yang dibanjiri orang itu
Setelah Adrian diam, salah seorang petinggi polisi maju mendekati Adam
“Tuan Adam, saya tidak akan memborgol anda karena anda bersikap kooperatif, silakan ikut saya ke kantor polisi! Anda bisa di dampingi pengacara” ucapnya, Adam mengangguk tanpa bicara sepatah kata pun, ia langsung berjalan diikuti Adrian dan diiringi puluhan polisi layaknya penjahat besar
__ADS_1
Mendengar kabar penangkapan Adam dari Wang Bella terkejut luar biasa, perasaan tak karuan, takut dan khawatir menyergapnya. Menyampaikan pada Miranda apalagi William pun bukan hal yang mudah, karena mau tak mau Bella harus menceritakan semua yang terjadi pada kedua mertuanya itu, dengan resiko William akan jatuh sakit kembali.
Memang benar Miranda dan William shock pada awalnya, tapi mereka menguat - nguatkan diri mereka karena Adam sedang membutuhkan dukungan dari mereka
“Kau tenanglah Bella, akan ku kerahkan semua pengacara hebat untuk membantu Adam! Tak akan ku biarkan Adam menginjakkan kaki di penjara meskipun hanya untuk satu detik!” Ucap William mencoba menenangkan hati Bella yang sedang terisak di pangkuan Pamela, “Tapi satu hal yang tak aku mengerti, bagaimana polisi bisa dengan gampangnya menangkap seorang Adam Anderson tanpa bukti? Bukankah kau bilang sendiri kalau di pondok itu hanya ada kau, Ibumu, Adam, dan Adrian? Apa kau yakin tak ada orang lain disana?” Selidik William pada Bella
“Aku yakin tak ada seorang pun disana, Tuan William! Hanya aku dan Bella yang tahu tempat itu!” Sahut Pamela, ia lalu terhenyak dengan pemikirannya sendiri yang tiba - tiba muncul, “Atau.. Brianna? Apa Brianna datang kesana tanpa kita ketahui?” Gumamnya
“Brianna? Tunggu, bukan kah dia di penjara?” Tanya Miranda tak mengerti
“Dia sudah keluar dengan jaminan, Nyonya Miranda” sahut Pamela lalu wajahnya berubah sendu, melihat itu Miranda tak bertanya lebih lanjut, ia tak ingin membuat Pamela yang sedang sakit keras itu bertambah sedih
“Aku rasa kecurigaan Nyonya Pamela sangat masuk akal, jika dia keluar dari penjara tentu ia akan membalas dendam pada Bella mengingat bagaimana karakternya, dan mungkin dia tahu kalau Bella melarikan diri ke pondok itu, biasanya orang licik seperti dia selalu mendapat ide segar untuk mencelakai orang lain” ucap William lupa kalau Pamela adalah Ibu dari wanita yang tengah dia bicarakan itu, Miranda menyikut suaminya itu memperingatkan
“B - baiklah.. sekarang kita semua harus fokus pada bagaimana cara untuk menyelamatkan Adam” ucap William lagi mengalihkan topik setelah sadar kalau ia mungkin telah menyinggung Pamela
Di rumah sakit, Jessie yang baru saja sampai menangis histeris melihat kondisi Ibunya, Takanawa memeluk anaknya itu menenangkan. Melihat anaknya sudah mulai tenang, Takanawa lalu membawa Jessie untuk melihat Justin di ruangan yang lain, tak sehisteris saat melihat Ibunya tapi Jessie tetap saja terpukul melihat kondisi Kakaknya yang babak belur
“Papa memberikan obat penenang pada Kakakmu agar dia bisa beristirahat, syukurlah kondisinya semakin membaik sekarang” ucap Takanawa
“Apa yang terjadi Pa? Siapa yang melakukan ini pada orang sebaik Kak Justin?” Tanya Jessie sambil menatap nanar Justin
“Adam, Adam Anderson!” Sahut Takanawa
“A - apa?” Jessie tak percaya apa yang ia dengar
“Tapi jangan khawatir, aku sudah meminta polisi untuk menangkapnya! Aku akan membuatnya membusuk di penjara!” Sengit Takanawa
Deg..
Jessie tersentak kaget mendengar itu, “T - Tidak Pa, Kak Adam tak boleh dipenjara!” Histerisnya lagi, Jessie jelas khawatir kalau penangkapan Adam justru akan jadi bumerang buatnya, bagaimana kalau pada akhirnya justru Adam akan buka suara tentang perbuatan Jessie pada Adam dulu
“Jessie, kenapa Adam tak boleh di penjara, hah? Kenapa kau membelanya? Apa kau tak melihat bagaimana kondisi Kakakmu karena perbuatan Adam?” Bentak Takanawa
Jessie tergugu, apa yang harus ia lakukan?
(Bersambung)…
__ADS_1