
Bella mencari - cari Adam saat ia bangun dari tidur dan membuka matanya, tapi sayang Adam sudah tak berada di samping Bella, Bella bergegas beringsut turun dari tempat tidurnya, lalu keluar dari kamar.
“Apa kau melihat Adam?” Tanya Bella pada seorang pelayan yang tengah membersihkan koridor di depan kamar Bella
“Selamat pagi Nyonya, maaf Nyonya.. Tuan Adam sudah berangkat ke kantor sekitar satu jam yang lalu” sahut pelayan itu sopan
“Adam sudah berangkat? Bella menilik jam besar di dinding depan kamarnya, “padahal baru jam 7 pagi, kenapa dia sudah berangkat? Adam bahkan tak pamit padaku” gumam Bella sendu
“Apa Nyonya perlu sesuatu?” Tanya pelayan itu lagi, Bella menggeleng cepat, “tidak, terima kasih” sahut Bella, langkah Bella lunglai kembali ke dalam kamarnya, Bella benar - benar bingung dengan sikap Adam, ia mengingat - ingat apa kesalahannya sehingga suaminya itu bersikap dingin, tapi entah apa karena bahkan kemarin malamnya mereka bercinta penuh gairah
Bella mengelus perutnya, “Semoga Papamu hanya capek ya sayang” setitik air mata Bella jatuh, bagaimana tidak ia yang sedang cinta - cintanya pada Adam tiba - tiba saja diacuhkan, Bella khawatir Adam kembali pada sikapnya saat mereka awal menikah dulu
****
“Bu, apa kau tahu? Adam berangkat pagi sekali tadi, dia sepertinya terburu - buru, wajahnya juga tampak sedih, kira - kira apa yang terjadi padanya ya Bu? Apa dia bertengkar dengan Bella?” Cerocos Brianna membangunkan Ibunya
Pamela menguap masih setengah sadar, “ck…. untuk apa kau pikirkan mereka bertengkar atau tidak! Yang harus kau lakukan adalah susul Adam ke kantornya, minta uang darinya seperti rencana kita kemarin” sewot Pamela
“Ah iya, kau benar juga Bu!” Brianna bergerak cepat mempersiapkan dirinya secantik mungkin untuk menemui Adam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Apa Adam sudah berangkat, Bella?” Tanya Miranda saat tak mendapati anaknya di meja makan
“Iya Mom, pagi sekali tadi” sahut Bella sendu, Miranda bisa melihat kesedihan di wajah Bella, namun tak ingin ia tanyakan sekarang berhubung ada Adrian dan Pamela disana
“Lalu Brianna, dimana dia? Apa dia tak ikut sarapan?” Miranda beralih pada Adrian
“Brianna ada janji sarapan bersama temannya, dia baru saja berangkat” Pamela yang menyahut mewakili Adrian, sedang Adrian acuh, ia tak peduli Brianna sedang dimana dan dengan siapa
“Ah baiklah” ujar Miranda, mereka semua lalu melanjutkan makannya dalam keheningan
Selepas sarapan Miranda menyusul Bella ke kamarnya
“Apa ada yang sedang kau pikirkan Bella?” Tanya Miranda sesaat setelah Bella membukakan pintu dan mereka berdua duduk di sofa
Bella menjadi tertunduk lesu, “tidak ada Mom” sahutnya
“Bagaimana bisa kau bilang tidak ada apa - apa sementara wajahmu sedih begitu? Dengar sayang, sangat tidak baik kalau kau bersedih saat sedang hamil seperti ini” telisik Miranda, Miranda lalu menggenggam tangan menantunya itu, “jika kau ada masalah dengan Adam, segera selesaikan! Kau harus paham bagaimana suami itu, dia tak akan mau terbuka dengan apa yang dirasakannya, jadi kau lah yang harus mencari tahu” tutur Miranda lagi, Bella mendongak dengan mata yang berkaca - kaca
“Begitu kah, Bu?” Tanya Bella, Miranda mengangguk
“Harus seperti itulah pasangan, saling mengerti dan memahami” sahut Miranda, Bella mengangguk - angguk paham, memang benar apa yang disampaikan Miranda, ia memang harus membicarakannya dengan Adam
__ADS_1
***
Bella tergesa bersiap, ia berdandan cantik pagi ini, sengaja untuk membuat Adam terkesima padanya
“Kita temui Papamu ya sayang” ucap Bella pada anaknya dengan ceria, Bella lalu berangkat ke kantor Adam diantar oleh sopirnya Miranda, Miranda memang tak mengizinkan Bella menyetir sendiri mobilnya, Miranda dan William sangat protektif pada Bella dan kandungannya
Kantor Adam sudah mulai ramai, karyawan satu persatu berdatangan, kehadiran Bella disana disambut dengan sopan oleh para karyawan yang berpapasan dengannya, siapa yang tak kenal Bella, selain istri pemilik perusahaan, Bella juga adalah direktur keuangan perusahaan itu
Bella bergegas masuk ke dalam lift khusus direksi yang akan membawanya menuju lantai 30, tempat dimana ruangan Adam berada, sesampainya disana Bella celingukan mencari sosok Anna yang biasanya duduk di depan ruangan Adam
“Dimana Anna? Apa dia belum datang?” Gumam Bella, Bella lalu melanjutkan langkahnya menuju ruangan Adam, pintu ruangan yang terbuka sedikit membuat Bella bisa mengintip ke dalam, dan betapa terkejutnya Bella saat ia melihat Brianna sedang berdiri di samping kursi Adam, posisi Brianna tertunduk, keduanya sama - sama fokus sedang melihat secarik cek yang Adam sedang tanda tangani, lengan Brianna dan Adam tanpa sengaja beberapa kali bersentuhan
Bella meradang, jadi ini penyebab Adam tiba - tiba acuh padanya, apakah Adam akan sama dengan Adrian yang meninggalkannya karena Brianna? Tak bisa mengendalikan emosinya, Bella merangsek masuk membuat Adam dan Brianna sama - sama kaget
“Bella” gumam Adam, Bella melangkah mantap mendekati keduanya, lalu
Plak…
Satu tamparan mendarat mulus di pipi Brianna, membuat wanita itu terhuyung ke belakang, “apa yang kau lakukan” sengit Brianna
“Jangan pura - pura tidak tahu Brianna! Kau sengaja datang kesini untuk mendekati dan merayu Adam kan? Kau benar - benar murahan Brianna! Bahkan kau mau merebut suami adikmu sendiri!” Sengit Bella, jarinya menunjuk - nunjuk wajah Brianna
“Kau kenapa Bella? Kau salah paham!” Brianna bersandiwara seolah ia polos tak berdosa
“A - Adam, adikku salah paham! Ini tak seperti yang dia pikirkan” ucap Brianna sambil menangis pada Adam yang berdiri terpaku ditempatnya, wajah Adam begitu dingin dan datar entah apa yang sedang berada dalam kepala Adam sekarang
“Keluar!” Titah Adam pada Brianna
“T - tapi Adam… “ Brianna jelas enggan pergi dari Adam dalam keadaan seperti ini, Brianna khawatir Adam akan salah paham
“Keluar!” Sentak Adam, Brianna ciut, dengan tangan memegangi sebelah pipinya yang memerah akibat tamparan Bella, Brianna keluar dari ruangan Adam
“Berengsek kau! Berengsek!” Bella hendak memburu menyerang Brianna lagi, rasanya ia ingin menjambak - jambak rambut kakaknya itu, Adam sigap memeluk Bella dari belakang menahan Bella sekuat tenaga
“Lepaskan aku Adam! Lepas!” Sentak Bella meronta - ronta
“Tenangkan dirimu Bella!” Titah Adam, Bella berbalik menatap Adam
“Tenang? Tenang katamu?! Bagaimana aku bisa tenang saat kau tiba - tiba saja acuh padaku dan pagi ini aku melihat kau sedang bersama dengan wanita yang ingin merebutmu dariku?” Sengit Bella
“Tak terjadi apa - apa antara kami Bella!” Bantah Adam
“Lalu kenapa kau dingin padaku? Kenapa? Apa salahku Adam?” Bella mencecar Adam dengan matanya yang sudah basah, Adam mana tega melihat Bella berurai mata begitu
__ADS_1
Adam memegang kedua bahu Bella dan menatap Bella lamat - lamat, “Bella, apa yang tidak kau ceritakan padaku soal masa lalumu?” Tanya Adam, ini harus selesai sekarang juga, Adam tak ingin masalah ini sampai berlarut - larut
“Masa lalu? Apa maksudmu?” Bella tak mengerti apa yang Adam tiba - tiba tanyakan itu
“Apa dulu kau pernah berhubungan dengan Adrian?” Selidik Adam
Deg…
Darimana Adam tahu soal itu, apa Brianna yang memberi tahunya? Bella lalu tersenyum sinis pada Adam, “jadi ini yang membuatmu berubah sikap padaku? Kau menyimpulkan sendiri tanpa tahu apa kebenarannya?” Sengit Bella, “ya Adam, aku pernah mencintai Adrian, tapi itu dulu! Sebelum aku tahu kalau dia mengkhianatiku bersama Kakakku sendiri”
Deg..
Adam memejamkan matanya mendengar jawaban Bella, pria itu lalu menguat - nguatkan hatinya, “dan sekarang, apa kau masih mencintainya?” Tanya Adam lagi, pertanyaan Adam yang membuat Bella terkejut bukan main, kepala Bella menggeleng - geleng tak percaya apa yang baru saja ia dengar, tatapannya nanar
“Kau masih mempertanyakan itu setelah semua yang kita lalui? Setelah aku mengandung anakmu ini?” Sengit Bella berapi - api
“Tolong jawab Bella” Adam memohon demi melegakan hatinya
Bella miris menatap Adam, “Kau meragukanku disaat aku sudah membuka hati untukmu? Kau pikir gampang melupakan semua yang telah kau lakukan dulu padaku Adam? Dan setelah aku berhasil memaafkanmu, kau dengan teganya mempertanyakan perasaanku pada pria lain?” Air mata kembali jatuh mengalir di pipi Bella
“Bella, aku…”
“Bayangkan bagaimana perasaanku Adam! Tanpa penjelasan atau pertanyaan apa pun kau acuh dan dingin padaku seperti dulu, apa kau tak mengerti Adam aku trauma dengan sikap dinginmu itu, aku trauma!” Pekik Bella membahana memenuhi ruangan itu, Bella melorot terduduk di lantai, ia lalu menangis tersedu, bayangan kelam saat Adrian mengkhianatinya, Ibunya dan Kakaknya membencinya, dan Adam yang menyiksa fisik serta hatinya kembali berputar
Adam ikut meluruh di lantai, ia mencoba untuk memeluk Bella, namun Bella mendorongnya kasar, “kau sama berengseknya dengan Adrian yang mempermainkanku, Brianna dan Ibuku yang bahkan tega hendak membunuhku, kau tidak ada bedanya dengan mereka Adam! Kau jahat!” Dengan ditopang tangannya Bella susah payah bangkit dari duduknya, ia lalu berdiri dan setengah berlari sekuat tenaga keluar dari ruangan Adam, Adam masih terduduk di lantai, mencerna kata demi kata yang meluncur keluar dari mulut Bella
“Bella bilang tadi kalau dia membuka hatinya untukku? Artinya dia mulai mencintaiku! Astaga, kenapa aku bisa sebodoh ini?!” Rutuk Adam pada dirinya sendiri, Adam lalu bangkit dan bergegas keluar ruangannya
“Apa kau melihat Bella?” Tanya Adam pada Anna yang baru saja duduk
“Nyonya Bella baru saja turun menggunakan lift Tuan” Anna bingung melihat Bella yang tadi menangis, dan kini Adam panik mencari Bella, Adam bergegas menuju lift, beberapa kali menekan tombolnya dengan tak sabaran
“Sial! Lama sekali!” Rutuk Adam lagi, Adam tak ingin menunggu, ia bergegas menuju tangga darurat dan mulai menuruni tangganya dengan langkah yang tergesa
Di dalam lift Bella mengusap air matanya, tak ingin jika karyawan melihatnya menangis, cukup Anna saja yang tahu dan semoga Anna mau merahasiakannya, sesampainya di lantai lobby, Bella bergegas keluar menuju pintu keluar, langkahnya tergesa, wajahnya menunduk menghindari siapa pun agar tak menyapanya
Bella melihat ke kanan dan ke kiri jalan ketika ia sampai diluar mencari taxi untuk ia tumpangi, beruntung tak lama Bella menunggu, sebuah taxi berhenti di depannya. Di dalam taxi Bella kembali melanjutkan tangisnya, hatinya sakit luar biasa, hidupnya seolah jadi permainan untuk orang - orang yang ia sayangi
Sementara itu Adam yang menuruni tangga hingga lantai 15, ia kemudian melanjutkan perjalanannya untuk turun menggunakan lift demi menghemat waktunya, keluar dari lift Adam panik mengedarkan pandangannya ke sekeliling lobby, ia lalu bertanya pada resepsionis yang sedari tadi bertugas disitu, resepsionis memberi tahu pada Adam kalau Bella telah keluar dari kantornya beberapa saat yang lalu, Adam cemas berlari keluar kantor menuju tempat parkir, beberapa petugas keamanan patuh mengekori Adam yang berlari begitu saja takut Adam kenapa - kenapa, saat diluar kantor Adam tak melihat batang hidung Bella, Adam meraih ponselnya mencoba menghubungi Bella, sayang ponsel Bella tak aktif
Di dalam taxi, Bella memberanikan diri meminjam ponsel milik sopir taxi karena daya ponsel Bella sudah habis sama sekali, Bella bermaksud menghubungi Justin, hanya ia yang bisa Bella andalkan sekarang
“Justin, ini aku.. Bisakah kau menjemputku di taman kampus?” Suara Bella yang bergetar membuat Justin yang sedang berlatih taekwondo menghentikan kegiatannya
__ADS_1
“Aku berangkat sekarang” sahut Justin tanpa bertanya apa pun. Justin tahu Bella sedang tak baik - baik saja, entah kesedihan apalagi yang sedang menimpa Bella sekarang, batin Justin.