
“Sialan! Kenapa pria tua itu tidak mengangkat teleponku?!” Teriak Brianna jengkel, ia lalu merogoh dompet di tas tangannya yang mahal, wajahnya memprihatinkan ketika melihat isi dompetnya yang hanya 2 lembar uang kertas
“Bagaimana aku bisa hidup dengan uang kecil begini?” Keluhnya, “Lalu kemana pengacara tua bangka itu? Kenapa dia sulit sekali dihubungi beberapa hari ini? Apa dia sudah bosan padaku?!” Cerocosnya sambil membanting dirinya ke atas kasur
“Kemana lagi aku harus mencari uang?” Brianna menerawang menatap langit - langit kamar apartemennya, matanya bergerak ke kiri dan ke kanan mencari akal, ia lalu terlonjak duduk saat mengingat sesuatu
“Aku ingat, Tuan Takanawa masih punya janji padaku! Dia bilang akan memberikanku uang lagi kalau dia berhasil menyeret Adam ke penjara! Yaahh meskipun pada akhirnya Adam bebas dari tuntutan, tapi paling tidak Tuan Takanawa sudah bisa membuat Adam ditangkap polisi kan?” Ucapnya bermonolog, wajahnya berubah ceria merasa ada jalan keluar dari himpitan ekonominya
Brianna berdehem saat mulai memanggil Takanawa lewat ponselnya, menunggu dengan sabar hingga beberapa kali bunyi sambungan
“Sial! Kenapa dia tak menjawab panggilanku juga? Tak mungkin dia masih berduka kan? Sepertinya dia bukan pria yang mencintai istrinya sendiri!” Ujar Brianna mulai kesal lagi, demi pundi - pundi yang ia harapkan Brianna mulai menghubungi Takanawa lagi, namun seperti tadi Takanawa tak juga meresponnya
”Aaaarrggghhhh!!!” Brianna membanting ponselnya lalu mengacak - acaknya rambutnya sendiri, wajahnya terlihat marah dan frustasi
“Awas kau Takanawa, kau pikir bisa mengacuhkanku begitu saja?! Kau tak akan bisa mengingkari janjimu padaku, berengsek!” Geramnya
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Seperti kesanggupan Adam sebelumnya, esok harinya ia mengantar Bella ke rumah Emily meskipun dalam hatinya Adam ragu mengingat masih ada Justin disana
“Rumah ini terasa berbeda sekali sekarang” Gumam Bella sendu saat mereka memasuki foyer rumah Takanawa, Bella terlihat sekali sedihnya saat ia memandangi foto keluarga Takanawa dengan formasi lengkap, dan yang paling menyita perhatiannya adalah Emily, di foto itu Emily tersenyum lebar memperlihatkan kehidupannya yang bahagia
“Apa aku yang menyebabkan semua ini, Adam? Aku yang masuk ke dalam kehidupan mereka dan membuat semua kekacauan terjadi, jika saja aku tak mengenal Justin, mungkin Mama Emily masih ada sekarang” Tutur Bella pilu
“Hei.. hei.. apa yang kau bicarakan itu, heuh?” Cecar Adam sambil mencari manik mata di wajah Bella yang tertunduk, Adam menarik lembut dagu Bella membuatnya mendongak, “Kau tak salah apa pun Bella, kau hadir atau tidak dalam kehidupan mereka tak akan mengubah apa pun, jangan menyalahkan dirimu sendiri sayang!” Ucap Adam menghibur Bella
__ADS_1
“Entahlah Adam, tapi rasanya aku yang telah merenggut kebahagiaan keluarga ini!” Tutur Bella lagi kali ini sambil mengusap air matanya yang hendak menetes
“Bukan kau yang merebut Emily dari kami, Bella!” Sanggah Takanawa yang baru saja muncul, “Aku, Justin, dan Jessie lah yang membunuh Emily! Kau tak bersalah sama sekali!” Tandas Takanawa lagi, wajah Takanawa tampak pucat, rambutnya yang sebagian memutih berantakan
“Apa kau baik - baik saja, Tuan?” Tanya Adam khawatir, Takanawa tersenyum miris, “Bagaimana aku baik - baik saja jika tak ada Emily?” Keluhnya
Adam menghela napasnya dalam - dalam, Bella ia rengkuh erat - erat untuk menguatkan hatinya
“Apa aku bisa menemui Jessie?” Tanya Bella pada Takanawa, Takanawa agak terhenyak mendengar permintaan Bella
“Kau masih ingin menemui Jessie setelah apa yang dia lakukan pada Adam?” Takanawa terheran - heran dengan sikap Bella, terlebih sepertinya Adam pun tak keberatan
“Sebaiknya kita melupakan apa yang sudah terjadi, Tuan” Tandas Adam, Takanawa merasa tertampar, malu sekali dirinya yang sempat berniat memenjarakan Adam
“Terbuat dari apa hati kalian sampai kalian dengan mudahnya memaafkan anak - anakku yang sudah mencoba menghancurkan kehidupan kalian?” Mata Takanawa berkaca - kaca penuh haru
Takanawa mengangguk, “Jessie ada di kamarnya, temuilah dia.. kau benar, dia memang sedang hancur sekarang, sudah beberapa hari ini dia mengurung diri di kamar” Jelas Takanawa, Bella menjatuhkan pandangannya pada Adam meminta izin suaminya itu, anggukan Adam membuat Bella lekas beranjak menuju kamar Jessie
“Bisa ikut denganku? ada yang ingin ku bicarakan” Pinta Takanawa pada Adam, Adam manut lalu berjalan beriringan menuju ruangan kerja Takanawa
“Duduklah” Titah Takanawa pada Adam, mereka berdua mendudukkan diri di sofa, Takanawa cekatan menuangkan teh hijau untuk mereka berdua
Takanawa menyesap tehnya pelan menikmati aromanya yang menenangkan, “Kau tahu Adam, beberapa hari ini aku mempelajari tentangmu, tentang sepak terjang dan keberhasilan dirimu menjalankan bisnis raksasa Anderson group” tutur Takanawa sambil menatap Adam lekat dengan pandangan takjup penuh puji, “Dan ku akui kau membuatku sangat kagum, di usiamu yang masih muda kau sudah berhasil mempertahankan dan mengembangkan bisnis hingga sampai sebesar ini” tambahnya
Adam meletakkan cangkir teh yang baru ia sesap, “Kau terlalu memuji Tuan, perusahaanku masih sangat kecil jika dibanding dengan perusahaanmu” Elak Adam merendah
__ADS_1
Senyum Takanawa semakin lebar, bangga melihat Adam layaknya seorang Ayah yang tengah menatap anaknya yang telah sukses, “Kau tampan, sangat kaya, sukses, dan kau rendah hati… aku tak akan mempertanyakan lagi kenapa Bella lebih memilihmu dibanding Justin dulu” Tandas Takanawa, Adam meresponnya dengan tersenyum
Takanawa lalu bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah meja kerja lalu membuka lacinya, tangannya meraih sebuah file holder dengan kertas - kertas di dalamnya, Takanawa merenung sejenak lalu ia mantap membawa file itu ke depan Adam
“Bacalah” Titah Takanawa sambil menyodorkan file itu pada Adam, Adam menerimanya dengan sopan lantas mulai membuka file itu, membacanya dengan sangat teliti
“Kau ingin menjual semua perusahaanmu padaku dengan harga semurah ini?” Adam nyaris tak percaya dengan apa yang baru saja ia baca, baginya tidak mungkin perusahaan gurita itu bernilai kecil seperti yang Takanawa tawarkan di surat perjanjian
“Aku ingin memulai hidup baru dengan Jessie dan Justin di luar negeri, tak ada kesempatan lagi untuk kami hidup tenang disini” Ucap Takanawa, Adam tersentak kaget
“Kau… akan pindah?” Cecar Adam, Takanawa mengangguk
“Tinggal disini membuat hidupku sesak, semuanya penuh dengan kenangan Emily, aku tak akan bisa melanjutkan hidupku jika terus disini, tapi aku pun tak bisa melepaskan perusahaan pada orang yang tak becus! Oleh karena itu aku ingin menjual perusahaanku padamu” Jelas Takanawa
Adam menghela napasnya, menelisik kertas yang ada di tangannya, rasanya tak masuk akal jika perusahaan sebesar itu bisa ia beli dengan harga sangat murah
“Aku bisa membelinya dengan harga normal, kau tak perlu melakukan ini Tuan!” Tolak Adam sopan
“Aku tahu Adam, kau bahkan bisa membeli perusahaan yang lebih besar dari perusahaanku, tapi sungguh itu adalah harga terbaik yang ingin kuberikan dan aku tak ingin ditawar - tawar lagi, aku hanya ingin kau berjanji agar kau membuat perusahaan ini lebih besar lagi” Tutur Takanawa bersikukuh
”Tapi kau memiliki Justin, dia bisa melanjutkan jejakmu untuk membesarkan perusahaan” Sanggah Adam
“Setelah semua yang terjadi? Beberapa hari ini dia bahkan menghabiskan waktunya di makam Emily, butuh waktu untuknya bangkit lagi.. dan begitu dia sudah siap aku akan memberikannya perusahaanku yang lain, tak sebesar ini tapi jika dia secerdas kau, aku yakin dia bisa membesarkannya” Jelas Takanawa lagi
Kukuhnya Takanawa membuat Adam tak bisa berkutik lagi, “Baiklah Tuan, aku akan meminta asistenku untuk mengurus segala sesuatunya besok” Putus Adam mengalah pada keinginan Takanawa
__ADS_1
“Terima kasih” Ucap Takanawa tulus, lega karena ia yakin perusahaannya akan berada di tangan yang tepat
(Bersambung…. )