
“Sayang, apa maksudmu? Itu Bella!” Terang Miranda
“Suruh dia keluar, aku tak ingin melihatnya!” Titah William sambil menunjuk Bella, Bella dan Adam terkejut bukan main melihat kilat kemarahan di mata William, ada apa hingga Wiliam semarah itu pada Bella?”
“Tuan William tolong tenang, kondisi anda belum stabil!” Erick mencoba menurunkan tangan William yang masih teracung menunjuk wajah Bella, sedang Bella gemetar ketakutan, tak pernah ia melihat William semarah itu sebelumnya pada siapa pun, apa salah dirinya hingga Tuan William murka?
Melihat wajah istrinya yang memucat, Adam sigap memeluk Bella
“Sayang, kau kenapa? Apa salah Bella? Apa kau lupa kalau dia menantu kesayangan kita?” Miranda mencoba mencari tahu apa yang membuat suaminya itu sampai membentak Bella, padahal ia tahu betul betapa William menyayangi Bella
William menoleh tajam pada istrinya, “Kau tak tahu apa yang dia sembunyikan?” Ia lalu menoleh lagi pada Bella, “Dia! dia…” William tak mampu lagi melanjutkan kata - katanya karena dadanya terasa panas dan sesak, wajahnya kian memerah, keringat membanjiri wajahnya
“Tuan! Saya mohon anda tenang dulu!” Dokter spesialis jantung yang tengah menangani William tampak cemas melihat kondisi William
“Nyonya Miranda, untuk sementara jangan ajak pasien berkomunikasi dulu, biarkan Tuan William beristirahat!” Ujar Erick, Erick lalu menjatuhkan pandangannya pada Adam, “Ajak istrimu keluar, Adam! Keberadannya disini hanya akan memperparah kondisi Ayahmu!” Perintahnya
Adam menghela berat napasnya, sejujurnya ia tak suka Bella harus keluar dari ruangan itu dengan perasaan yang tak nyaman, Adam tahu kalau saat ini Bella pasti sedang sedih karena perlakuan Ayahnya, tapi mengingat kondisi Ayahnya mau tak mau Adam mematuhi anjuran Erick, “Baiklah” sahut Adam, Adam lalu membimbing Bella menuju keluar kamar
Diluar kamar masih ada Pamela dan Brianna, mereka segera memburu Bella dan Adam, melihat mata Bella yang basah mereka mengira kalau William kenapa - kenapa
Pamela membulatkan matanya, mulutnya terbuka lebar, Ya Tuhan, apa Ayahmu…. “
“Daddy sudah sadar dan sedang ditangani, tolong jangan berpikir macam - macam!” Tandas Adam memotong ucapan Pamela, Adam lalu menggandeng Bella menuju kamar mereka, Adam tak ingin kalau Pamela maupun Brianna tahu apa yang baru saja terjadi pada Bella. Sesampainya di kamar mereka di lantai dua, Adam mendudukkan Bella di kamar tidur, sedang ia duduk disampingnya
“Sayang, atas apa pun yang Daddy ucapkan tadi, aku benar - benar minta maaf” ucapnya pilu melihat Bella yang berwajah sendu dan muram
“Menurutmu, apa maksud Daddy tadi Adam?” Tanya Bella
“Entahlah, untuk menanyakan langsung pada Daddy juga rasanya mustahil melihat kondisi Daddy tadi, tapi kau jangan khawatir, aku akan mencari tahu” sahut Adam menenangkan Bella
“Aku takut Adam, aku takut sekali dibenci oleh Ayahmu! Sudah cukup aku dibenci oleh Ibu kandung dan Kakakku sendiri, aku tak ingin Daddy yang sudah ku anggap Ayahku sendiri menjadi orang yang membenciku juga!” Bella terisak, Adam membawa Bella ke dalam rengkuhannya
“Akan ku pastikan itu tak pernah terjadi sayang! kau menantu kesayangan Daddy, bahkan kau sudah seperti putri kandungnya sendiri, aku yakin ini hanya kesalah pahaman” tutur Adam, “Dengar Bella, aku akan mengantarmu kembali ke hotel karena untuk sementara aku pasti akan sibuk menjaga dan menemani Daddy, aku tak ingin kau berada disini berdekatan dengan Ibu dan Kakakmu” tutur Adam
__ADS_1
“Aku tak apa Adam, sungguh!” Bella meyakinkan Adam agar ia bisa tetap berada disana, sulit untuknya jauh dari Adam apalagi saat ia sedih seperti ini
“Bella, aku tak akan tenang mengetahui kau dikelilingi orang - orang yang mungkin ingin mencelakaimu lagi, tolong mengertilah sayang” rayu Adam, meski berat Bella mengangguk menyetujui, “Baiklah” sahutnya
Adam tersenyum sebelum ia mengecup kening Bella, “kau jangan khawatir, aku akan kembali ke hotel sore hari nanti! agar kau tak kesepian, aku akan memerintahkan Anna untuk menemanimu disana”
“Baiklah Adam” sahut Bella, ia lalu mengeratkan pelukannya pada Adam
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Bella memindai kamar hotel president suite mewah itu, tapi semewah - mewahnya kamar itu tanpa Adam semuanya terlihat membosankan, Bella lalu menghempaskan dirinya di sofa empuk ruang tamu, pikirannya kembali bergerilya pada kejadian di kediaman Anderson tadi, sampai terakhir Bella pamit pada William saat Adam akan mengantarkannya ke hotel, sikap William tak juga berubah, William justru terlihat semakin marah ketika Bella menghampirinya
“Ya Tuhan, Daddy kenapa?” Lirih Bella, air matanya kembali turun, namun tak lama karena ia segera menyekanya, ia ingat betul pesan Adam tadi agar ia tak menangis lagi apalagi sampai stress
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adam tak tinggal diam, setelah ia mengantarkan dan memastikan Bella telah aman di hotel, Adam segera memanggil asisten Wang untuk datang ke rumahnya, kini keduanya tengah berada di ruang kerja Adam, ruangan teraman di rumah itu karena hanya bisa dimasuki oleh Adam
“Tunjukkan padaku, dimana saja teknisi kita memasang CCTVnya!” Perintah Adam pada asisten Wang, Asisten Wang yang duduk di depan layar laptop dengan cekatan mengetik sesuatu di atas keyboardnya, beberapa saat kemudian tampak sudut - sudut berbagai ruangan yang dipasangi CCTV, semenjak kejadian Bella yang nyaris keguguran akibat seseorang memasukkan sesuatu ke dalam makanannya, Adam diam - diam berinisiatif memasang CCTV di banyak titik ruangan rumahnya saat rumah sedang kosong.
Adam menggangguk puas, “sekarang perlihatkan padaku rekaman CCTV dari tadi malam hingga pagi ini di depan ruang kerja Daddy” titahnya lagi, Asisten Wang paham apa tujuan bosnya, ia lalu segera memutar rekaman yang dimaksud
Adam lamat - lamat menatap rekaman CCTV itu, sejauh ini tak ada yang terlihat masuk ke dalam ruang kerja Ayahnya, tak lama William yang masuk, dan beberapa menit setelah itu Adrian yang menyusul. Mata Adam terbelalak saat menyadari kalau yang terakhir ditemui William adalah Adrian, tapi apa yang Adrian beritahukan pada William hingga William sampai terkena serangan jantung lagi?
“Perbesar saat Adrian masuk tadi, fokuskan pada barang yang ia bawa” titahnya, Asisten Wang mengangguk paham lalu melaksanakan apa yang Adam perintahkan
Adam memicingkan matanya, memastikan barang apa yang dibawa oleh Adrian, Adam lalu mengepalkan tinju menahan amarah karena ternyata barang yang dibawa Adrian adalah foto Adrian dan Bella yang sedang berpelukan mesra dalam ukuran besar, foto yang sama dengan yang pernah Adrian perlihatkan padanya, hanya beda ukuran saja, tampaknya Adrian memang sengaja mencetak foto itu dalam ukuran besar agar Ayahnya bisa melihat dengan jelas
“Berengsek! Tega - teganya kau membuat Ayahmu sendiri jatuh sakit dengan menebar cerita masa lalumu Adrian!” Gumam Adam meradang, “ini tak bisa dibiarkan, Bella tak boleh menjadi korban lagi!” Gumamnya lagi, Adam lalu melangkah dengan cepat keluar dari ruang kerjanya untuk menemui Miranda yang sedang menemani suaminya yang masih terbaring lemah, Adam lalu mengajak Miranda untuk bicara di kamar Adam, menghindari ada orang yang akan menguping pembicaraan mereka
“Adam, ada apa ini?” Tanya Miranda saat mereka telah berada di kamar Adam, mereka berdua mendudukkan dirinya di sofa
“Mom, aku tahu apa penyebab Daddy sampai drop!” Tutur Adam
__ADS_1
“Apa itu Adam?” Cecar Miranda
“Ini semua karena Adrian, Mom!” Sahut Adam, Miranda terkejut bukan main, tapi ada sedikit keraguan di hatinya, “Untuk apa Adrian melakukannya, Adam? Apa mungkin ia sampai tega membuat Ayahnya sendiri serangan jantung lagi?”
Adam paham akan keraguan Miranda, Adam lalu berjalan ke arah brankasnya, memasukkan kode dan membuka brankasnya itu, ia lalu meraih sebuah amplop coklat di dalamnya, Adam lalu menyerahkannya pada Miranda
“Bukalah Mom, Mommy akan tahu jawabannya” ucap Adam, Miranda tak sabaran membuka amplop itu dengan hati menduga - duga
“Astaga! Apa ini Adam?” Miranda terkejut bukan main saat melihat foto - foto Bella dan Adrian di dalam amplop tersebut, “apa maksudmu Bella dan Adrian berhubungan begitu?” Cecar Miranda lagi
“Dulu Bella sempat mencintai Adrian Mom, tapi ternyata Adrian hanya memanfaatkannya untuk mendekati Brianna, dan parahnya Nyonya Pamela malah mendukung tindakan Adrian hingga menikahkan keduanya, dan Bella dipaksa untuk menikahiku karena Mom mengajukan syarat agar aku menikah lebih dulu” terang Adam
“Ah iya, Mommy ingat sekarang! Dulu Mommy mengajukan syarat agar kau menikah lebih dulu, syarat yang sebenarnya diinginkan Ayahmu untuk menjegal Adrian, dan tak disangka ternyata Nyonya Pamela malah menawarkan anak bungsunya yaitu Bella untuk menjadi istrimu” Miranda mengingat kembali peristiwa dulu saat ia melamar Brianna untuk Adrian, “Ya Tuhan, Mommy sempat berpikir bahwa Bella adalah wanita yang haus harta karena ia mau menikah denganmu tanpa mengenalmu lebih dulu! Ternyata Bella terpaksa melakukannya” tutur Miranda sendu
“Dipaksa oleh Nyonya Pamela sebagai wujud bakti seorang anak dan sebagai bentuk balas budi pada Brianna karena Brianna yang menjadi tulang punggung keluarga mereka” tandas Adam, matanya nanar merenungi nasib Bella yang malang
“Astaga! Mommy tak menyangka ternyata sejahat itu Nyonya Pamela dan Brianna, terutama Adrian! Tega - teganya dia melakukan itu pada seorang wanita!” Miranda mengumpat ketiganya, melihat Miranda yang sedang terbakar emosi, Adam mempertimbangkan tentang cerita sedih Bella yang lain, tentang bagaimana ia diperlakukan oleh Ibu dan Kakaknya
“Mom, ada yang harus kau tahu tentang Nyonya Pamela dan Brianna” sudah terlanjur basah dengan sangat hati - hati Adam membeberkan bagaimana sesungguhnya sikap Pamela dan Brianna pada Adam yang ia lihat dan dengar sendiri, selama mendengarkan Adam Miranda sampai tak bisa berucap sedikit pun selain membulatkan matanya berkali - kali hingga menutup mulutnya sendiri karena terkejut, saat Adam selesai Miranda bangkit dan tergesa melangkah, tangannya terkepal, wajah dan matanya merah
“Mom, kau mau kemana?” Tanya Adam
“Akan ku hajar wanita tak punya hati itu! Aku tak bisa tinggal diam mendengar seorang anak diperlakukan buruk oleh Ibu kandungnya sendiri!” Tandas Miranda sambil terus melangkah, Adam gegas menyusul Ibunya dan meraih tangannya
“Mom, sebentar! Kau harus tenang!” Ucap Adam
“Lepas Adam! Akan ku jambak rambut nenek sihir itu! Akan ku buat giginya rontok! Aku juga akan mencakar wajah Brianna agar dia tak sombong lagi dengan kecantikannya!” Sengit Miranda sambil menepis tangan Adam, Adam segera meraih tangan Ibunya lagi
“Mom.. Mom! Kau tak boleh gegabah! Ingat kesehatan Daddy sedang menurun, membuat keributan hanya akan memperparah sakitnya Daddy, kau tahu sendiri kalau Daddy tak suka keributan!” Adam mencoba menenangkan Ibunya yang sedang dalam amarah besar, Miranda mempertimbangkan omongan Adam, meskipun dadanya masih bergemuruh hebat tapi Miranda mengakui kalau Adam memang benar, ada William yang sedang tergolek tak berdaya sekarang
“Baiklah, aku berhenti menghajar orang - orang itu demi Daddymu! Lihat saja nanti kalau Daddymu sudah sembuh, aku beri pelajaran orang - orang itu termasuk Adrian!” Tandas Miranda, Adam tersenyum lega
“Kau harus menjaga Bella dan calon cucuku Adam! Mendengar ceritamu tadi aku yakin ketiganya punya rencana jahat pada kehamilan Bella” tutur Miranda gusar
__ADS_1
Adam meraih Ibunya itu ke dalam pelukannya untuk menenangkannya, “kau tenang saja Mom, tak akan kubiarkan apa pun terjadi pada istri dan anakku” ujarnya