
Mata Pamela membulat demi melihat wanita yang berada di depannya sekarang, jantung Pamela berdebar kencang, lututnya gemetaran, badannya lemas seketika
“Emily” ujar Pamela ketakutan seolah ia baru saja melihat hantu
“Apa kabar Pamela?” sahut Emily, wajah Emily tampak tenang, senyumnya anggun dan tak terlihat dendam di wajahnya sama sekali, berbeda dengan wajah Justin yang bengis dan tak bersahabat
“K - kau, kenapa kau ada disini?” Pamela menunjukkan jarinya, suaranya bergetar takut dan terkejut, Pamela memindai Emily dari atas ke bawah, lalu ia terfokus pada kursi roda tempat Emily duduk sekarang, “kau lumpuh?” Tanya Pamela lagi
“Ya aku lumpuh” sahut Emily dengan tenangnya
“Bu, apa kau mengenal wanita lumpuh itu?” Gumam Brianna pelan tapi masih bisa terdengar oleh Justin
“Jaga bicaramu, hormati Ibuku!” Sentak Justin, Brianna seketika ciut lain lagi dengan Pamela yang tersentak kaget
“Apa kau bilang barusan? Dia Ibumu? Artinya dia adalah istri dari Tuan Takanawa?” Cecar Pamela tak percaya
“Iya, dia adalah Nyonya Emily Takanawa, Ibuku” sahut Justin
Pamela terhuyung nyaris tumbang ketika mendengar jawaban Justin, tak ia sangka wanita yang dulu pernah ia singkirkan paksa justru nasibnya jauh lebih baik dari dirinya
“Bu, kau kenapa?” Tanya Brianna yang sibuk memegangi tangan Ibunya yang tiba - tiba saja limbung
“Tidak, ini tidak mungkin!” Pamela menggeleng tak percaya kenyataan pahit yang baru saja ia ketahui, bagaimana caranya Emily bisa seberuntung itu, setelah ia berhasil mengambil suami Emily, Emily justru jatuh ke pelukan seorang Takanawa, pria kaya raya yang kekayaannya nyaris sama dengan keluarga Anderson
“Kenapa kau sampai gemetaran seperti itu Emily? Apa kau menyangka aku akan terpuruk setelah kau mengambil suamiku dulu?” Sinis Emily
Brianna mengerutkan keningnya, “Bu, apa maksud Nyonya itu? Apa dia mantan istri Ayah yang kau ceritakan padaku?” Brianna jelas tak mengerti, Pamela membisu masih shock melihat Emily
“Ibu!” Panggil Bella yang berjalan mendekat ditemani oleh Adam di sampingnya, Pamela dan Emily sama - sama menoleh pada Bella yang datang dengan tersenyum
“Cih, ternyata dia masih belum bisa membenciku! Lihatkah dia bahkan sampai datang menemuiku kesini, padahal tadi Adam dan Miranda bersikeras menyembunyikan Bella dariku!” Batin Pamela sedikit lega diantara rasa terkejutnya yang luar biasa, Pamela memasang wajah sedihnya, tangannya lalu terbuka lebar menyambut Bella yang semakin dekat, kali ini ia harus memperlihatkan kalau ia menyayangi Bella di depan Adam dan Emily
“Ibu” panggil Bella lagi sambil merentangkan tangannya hendak memeluk
“Bella” sahut Pamela begitu senang karena mengetahui Bella masih bisa ia kendalikan, Bella semakin dekat namun tak berhenti untuk memeluknya, justru Bella melewatinya begitu saja, dan Pamela melongo ketika Bella memeluk Emily dengan erat
“Ibu, kenapa kau tak memberi tahuku kalau kau mau datang?” Tanya Bella pada Emily
Deg…
Hati Pamela bak digodam, jadi Emily lah yang dipanggil Ibu oleh Bella tadi, bukan dirinya
“Bu, kenapa Bella memanggil Nyonya Takanawa dengan panggilan Ibu?” Tanya Brianna semakin tak mengerti
__ADS_1
“Aku terlalu rindu padamu dan cucu Ibu, sayang! Kenapa kau keluar seperti ini, kau masih harus bedrest kan?” Tanya Emily sambil mengelus perut Bella dengan penuh kasih sayang
Pamela malu luar biasa, dengan memberanikan diri ia menoleh pada Adam, “Adam, kenapa kau memperbolehkan Bella untuk bertemu orang lain? Bukankah tadi kau bilang kalau Bella tak bisa diganggu?” Protes Pamela
“Nyonya Emily bukan orang lain untuk Bella, dia sudah seperti Ibu yang tak pernah Bella miliki, mana mungkin aku melarang seorang Ibu bertemu dengan anaknya?” Tohok Adam, hati Pamela serasa tercubit sakit mendengar sindirian Adam
“Bella sudah aku anggap sebagai putriku sendiri, karena bagaimana pun dia adalah adik dari anakku, Justin” tandas Emily pada Pamela
“Apa maksudmu Emily?” Pamela sudah tak bisa mencerna apa pun di otaknya, semuanya mengejutkan untuknya, Pamela lalu menjatuhkan pandangannya pada Justin yang lagi - lagi menatapnya dengan bengis
“Saat kau merebut James dulu, aku sedang hamil, aku sengaja tak memberitahukannya pada James karena aku tahu dia tak akan berhenti mencariku kalau dia tahu ada benihnya di rahimku, tapi syukurlah keputusanku itu tepat, karena tanpa James pun Justin tetap memiliki seorang Ayah yang menyayanginya” tutur Emily sambil mengelus lengan Justin
Brianna terhenyak kaget, “Ya Tuhan, jadi maksudnya Justin Takanawa adalah Kakakku, begitu?!” Sela Brianna, ia lalu tersenyum bahagia mengetahui kalau pria kaya dan tampan di depannya itu adalah Kakaknya, paling tidak ada harapan di tengah ancaman kemiskinan yang akan melandanya
“Aku bukan Kakakmu dan tidak akan pernah jadi Kakakmu, camkan itu!” Sengit Justin pada Brianna, melihat reaksi Justin senyum di wajah Brianna memudar lalu ia menunduk malu
“Kau sangat menjijikan Bu, bagaimana bisa kau merebut suami sahabatmu sendiri? Apa kau tak punya harga diri?” Sentak Bella membuka suaranya
“A - apa maksudmu?” Tanya Pamela pura - pura tak mengerti, ia tak ingin dipermalukan di depan banyak orang seperti ini apalagi ia melihat William dan Miranda berjalan mendekat ke arah mereka
“Kau jangan pura - pura tidak tahu Nyonya! Kau telah merebut Ayahku dari Ibuku, Bella sudah mengetahui semuanya, jadi hentikan semua sandiwara busukmu itu!” Sentak Justin
“Tidak! semuanya salah paham! Itu tidak benar!” Sanggah Pamela
“Apa kau bilang? Jadi dulu kau sengaja membuat James mabuk agar gampang kau rayu?” Cecar Emily
Bella menggelengkan kepalanya, matanya berkaca - kaca dan air mata mulai merembes keluar, “Kau rendahan Bu!” Ujar Bella penuh emosi, Adam segera mengamankan istrinya dengan memeluknya erat, sedang Justin mengepalkan tinjunya
“Apa itu benar? Kau menjebak Ayahku dulu?” Sentak Justin lagi, Pamela tergugu tak mampu berucap apa - apa
“Ya Tuhan, apa itu benar Nyonya Pamela? Kau melakukan hal serendah itu dulu?” Kali ini Miranda yang bertanya, di sebelah Miranda William tampak sangat terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar
“Tunggu dulu, itu semua tidak benar! Tidak benar!” Sanggah Pamela panik, namun sia - sia karena semua orang kini memandang jijik padanya
“Kenapa kau melakukan itu, Pamela? Kenapa kau tega menjebak James dan memisahkannya dariku?” Cecar Emily pada Pamela, Pamela menelan salivanya berkali - kali demi melegakan tenggorokannya yang tercekat
“Pantas saja Ayah tak bisa melupakan Ibu Emily, ternyata karena Ayah memang tak pernah mencintaimu Bu, karena kau mendapatkan Ayah dengan cara licik!” Sengit Bella lagi, Pamela menoleh tajam pada Bella
“Apa kau bilang barusan hah? Kau bilang James tak pernah mencintaiku?” Sentak Pamela pada Bella, Adam jelas tak rela istrinya itu dibentak oleh Pamela, segera ia maju memasang badan depan Bella
“Ayah tak akan mungkin meninggalkan wanita seperti Mama demi wanita jahat seperti kau Nyonya Pamela, kecuali jika kau menggunakan cara licik untuk mendapatkan Ayah!” Tandas Justin semakin meradang saat ia mengetahui kalau dulu Ayahnya dicurangi
“Cukup! Cukup! Berengsek kalian semua, kalian tidak tahu apa - apa tentang perasaanku pada James! Jadi kalian jangan pernah berani menyudutkanku!” Amuk Pamela sambil mengabsen satu per satu orang dengan bengis
__ADS_1
“Kau keteraluan Bu, tidak bukan Ibu! Kau keterlaluan Nyonya Pamela! Aku benar - benar bersyukur kau tak menyayangiku, karena aku tak sudi punya seorang Ibu yang merusak kebahagiaan orang lain!” Sengit Bella berapi - api, demi apa pun ia tak menyangka Ibunya bisa melakukan hal sejahat itu
“Kau! Kenapa kau bicara seperti itu pada Ibumu sendiri hah?” Sentak Brianna pada Bella
Bella tersenyum sinis pada Brianna, “Kenapa baru sekarang kau bilang kalau Nyonya Pamela adalah Ibuku? Apa kau lupa kalau dia ibuku saat kau mengusirku dari rumah milikku sendiri? Saat aku harus menunggu agar ia membukakan pintu dalam hujan berjam - jam, atau saat kau melepaskan anjing penjaga untuk mengejarku?” Sinis Bella, Brianna terdiam tak dapat merangkai kata - kata apa pun
“Kau sangat kejam Pamela, bahkan pada anakmu sendiri!” Tandas Emily pada Pamela yang dadanya turun naik menahan sesak
“Diam kau! Diam kalian semua! Diam!!!!” Teriak Pamela sambil berlari dari sana dengan rasa malu dan terpukul luar biasa
“Ibu, tunggu aku Bu! Tunggu!” Brianna mengejar Pamela yang terus saja berlari, meninggalkan semua orang dalam rasa kecewa, marah, dan kesal
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sepeninggal Pamela dan Brianna, semua orang kemudian masuk ke dalam rumah dan bercengkrama, saling memecah rasa tak nyaman akibat drama yang terjadi tadi
“Aku sungguh berharap kau benar - benar menganggapku seorang Ibu, Bella” ucap Emily tulus sambil menggenggam tangan Bella yang duduk persis di sebelahnya, Justin memandangi keduanya dengan perasaan sedih, bagaimana pun ia tak bisa menerima kenyataan kalau Bella adalah adiknya
“Terima kasih” sahut Bella terharu, “sekali lagi aku minta maaf atas apa yang Ibuku lakukan padamu Ibu Emily, sungguh aku tak mengira kalau Ibuku bisa berbuat sekejam itu padamu dan Ayah” ucap Bella sendu
“Sudahlah Bella, tidak perlu diungkit lagi! Yang penting kita semua tahu kalau ternyata Ayahmu tak bersalah, ia adalah korban dari Pamela juga” Miranda mencoba menghibur menantunya yang terlihat tertekan
“Selama ini aku juga telah salah menilai James, ternyata dia benar - benar setia padaku!” Emily mulai terisak menyesali apa yang telah terjadi puluhan tahun yang lalu, Justin berdiri lalu memeluk Ibunya itu, “Jangan menangis Ma, itu bukan salahmu! Semuanya terjadi karena ulah wanita ular itu” ucap Justin
Adam meraih Bella dalam rengkuhannya, “Kau juga tak boleh larut dalam kesedihan, Bella! Ingat kau sudah berjanji padaku untuk selalu bahagia kan?” Ucap Adam, Justin hanya bisa memalingkan muka melihat afeksi Adam dan Bella, sungguh ia masih saja merasakan cemburu yang bercokol di hatinya
William dan Miranda hanya bisa terdiam prihatin pada polemik yang menimpa Emily dan Bella, baru saja keadaan mereda ketika seorang pelayan gupuh menghampiri
“Maaf Nyonya Miranda, ada surat untuk Nyonya Brianna, apa saya letakkan saja di kamar Nyonya Brianna?” Tanya pelayan itu pada Miranda
“Berikan padaku” sahut Miranda lalu menerima surat itu dengan tangannya, Miranda awalnya akan meletakkan surat itu di meja namun ia tertarik melihat amplop surat itu
“Dari pengadilan? Kenapa Brianna menerima surat dari pengadilan?” Gumam Miranda penasaran
“Pengadilan? Apa dia ada masalah?” Timpal William, yang lain kemudian ikut menanti apa isi amplop yang tengah dibuka Miranda itu, “Awas saja kalau dia membuat masalah dengan hukum!” Gumam Miranda, lalu mata Miranda membulat sempurna
“Ya Tuhan” Ucap Miranda yang refleks berdiri
“Sayang, ada apa?” Tanya William cemas
“Sayang, Adrian.. Adrian ingin menceraikan Brianna” sahut Miranda lesu, ia tahu ini kabar tak baik untuk William karena William tak pernah menyetujui perceraian
“Apa?” William terkejut bukan main
__ADS_1
(Bersambung)….