Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 75


__ADS_3

Bella perlahan membuka matanya yang terasa berat, kalau saja bukan karena suhu dingin yang menerpa tubuhnya ia malas sekali untuk bangun, selain matanya yang sangat mengantuk badannya pun terasa lemas. Tangan Bella perlahan meraba - raba selimut yang entah sudah kemana pantas saja ia merasa kedinginan. Tak jua dapat menemukan selimutnya, Bella kemudian mencoba memeluk dirinya sendiri, namun Bella sedikit terkejut kala kulit bertemu kulit, apa ia tak memakai baju?


Meskipun kepalanya sakit dan berat, Bella memaksakan dirinya untuk beringsut bangun


“Ssshhh… rasanya aku memakai baju tadi, kenapa aku tiba - tiba telanjang begini?” Gumamnya seraya memijit pelipisnya, matanya memicing mencari tahu apa yang terjadi pada tubuhnya, dan benar saja Bella tanpa busana, tangannya kemudian mencari - cari lagi selimut dan segera ia pakai untuk menutupi bagian atas tubuhnya, Bella yang perlahan bisa melihat normal kemudian mengedar memperhatikan sekitar, dan begitu terkejutnya ia saat melihat punggung kekar seorang pria duduk di pinggiran tempat tidur membelakanginya, polos tanpa baju sama sepertinya


“A - Adam… dia sudah pulang? Hemmm.. nakal sekali dia, dia bahkan masih menginginkannya padahal aku sedang sakit” Gumam Bella dalam hatinya lega sekaligus senang, menduga kalau Adam menggaulinya saat ia sedang terlelap tidur tadi, Bella lalu mengucek matanya yang masih sedikit blur membuat pandangan di depannya semakin jelas, dan saat yang bersamaan wajah yang sangat familiar itu menoleh padanya


Duaarrrrr…


Hati Bella bak di godam ketika menyadari bahwa Justin lah pria setengah telanjang di depannya, tapi apa yang Justin lakukan disini? Dan kenapa ia tak memakai baju sama sepertinya? Kepala Bella mendadak pusing dengan berbagai macam pertanyaan yang muncul di kepalanya


Bella meremas selimutnya sekuat tenaga saat bayangan perbuatan Justin padanya melintas, “Tidak…. Tidaaaaaak!!!!!” Bella mulai panik menyadari apa yang sudah terjadi padanya dan Justin, seketika jantung Bella seolah terhenti, badannya lemas, dunia bak runtuh dan menimpanya


“Kau sudah bangun? Bagaimana kondisimu sekarang?” Tanya Justin begitu lembutnya, ia tak peduli pada raut wajah Bella yang panik


“Apa yang kau lakukan disini Kak? Apa yang sudah terjadi antara kita?!” Sentak Bella histeris sambil sibuk menutupi tubuhnya, tak membiarkan Justin melihat sejengkal pun tubuh polosnya


“Ssttt.. tenang Bella, jangan panik!” Justin merangkak ke atas tempat tidur mendekati Bella yang duduk gemetaran, “Kau tak ingin membangunkan semua orang dan melihat kita seperti ini kan?” Ujar Justin sambil membelai helaian rambut Bella yang berantakan, Bella menepisnya dengan kasar


“Apa yang sudah kau lakukan padaku Kak?” Sengit Bella penuh kemurkaan


“Apa kau tak ingat sama sekali apa yang sudah terjadi pada kita?” Timpal Justin semakin berani


“A - apa maksudmu Kak?” Bella tak berani menduga - duga, wajahnya yang pucat semakin memucat saja


“Aku mencoba memberikan Eve adik, Bella” jawab Justin tanpa ada perasaan bersalah sekali pun, wajahnya yang tampan menerbitkan senyum terbaiknya, senyum yang tak lagi teduh di mata Bella

__ADS_1


Seribu belati terasa sedang merajam hati Bella sekarang, hancurlah sudah hidupnya, kebahagiaannya, harga dirinya. Tangisnya sudah tak dapat dibendung, air mata yang mengalir deras menjadi wakil sumpah serapah dari lidahnya yang kelu, meski badannya lemas Bella mencoba bangkit dari tempat tidurnya, badannya yang sempoyongan dan nyaris terjatuh membuat Justin refleks ingin menangkapnya tapi Bella tergesa mundur


“Kau tega memperkosaku Kak, adikmu sendiri?!” Sengit Bella dengan sisa tenaganya yang ada


“Bella, aku… “


“Kenapa Kak? Kenapa?!” Bella berteriak sekencang yang ia bisa untuk mengeluarkan isi hatinya yang hancur, “Apa kau tak bisa melihatku bahagia? Apa kau senang membuatku hancur? Apa kau memang benar ingin melihatku mati, hah?” Ucapan sengit Bella bersamaan dengan matanya yang nyaris keluar


“Bella, kau tenang dulu.. dengar Bella… “ ucap Justin mencoba menenang - nenangkan wanita yang sedang dibakar angkara murka itu


“Diam kau berengsek! Diam!!!!!!!” Kali pertama Bella mengeluarkan makian kasar, entah kekuatan dari mana, mungkin akibat amarah yang bercokol di hatinya, “Aku menghargaimu sebagai pria terhormat, tapi nyatanya kau lebih rendah dari binatang, Justin!” Sentaknya lagi, kali ini tak sekeras tadi karena tenggorokannya mulai tercekat akibat air mata yang tak berhenti mengalir, Bella melorot di lantai lalu menangis sesenggukan meratapi nasibnya yang mengenaskan, diperkosa oleh Kakaknya sendiri di peraduannya bersama Adam


“Bella, dengarkan aku dulu.. “ Justin mencoba menjelaskan


“Apa kau sudah puas menghancurkan hidupku? Apa kau puas?!” Pekikan Bella bersamaan dengan petir yang menyambar, hujan deras baru saja turun.. mungkin alam pun memahami dunia Bella yang baru saja porak poranda, Justin ikut melantai duduk bersimpuh di depan wanitanya


“Keluar kau bajingan! Keluar!!!!!!” Teriakan Bella membahana merobek hati Justin, iya Justin memang telah memprediksi reaksi Bella, tapi tetap saja makian dari wanita yang begitu ia puja itu mampu meluluh lantakan perasaannya


“Ku bilang keluar kau pria berengsek! Keluar!!” Kedua kalinya Bella mengusir pria itu, dan akhirnya Justin menyerah.. memang sebaiknya ia meninggalkan Bella sendiri dulu agar Bella bisa menenangkan hatinya, setelah itu ia akan memikirkan cara agar Bella bisa menerimanya. Justin berdiri lalu meraih kemejanya yang teronggok di lantai, setelah ia kenakan ia lalu menoleh pada Bella


“Aku melakukannya karena aku mencintaimu” ucapnya, lalu ia melangkah keluar kamar Bella


Praaaang…


Pintu yang baru saja ditutup Justin itu kena hantaman vas bunga yang Bella lempar


“Terkutuk kau Justin! Terkutuk kau!” Pekik Bella, ia tak peduli Justin mendengarnya atau tidak, Bella lalu melanjutkan tangisannya meraung - raung, dengan terhuyung ia lalu melangkah ke kamar mandi dan mengguyur tubuhnya dengan shower, Bella menggosok badannya sekuat tenaga seolah ingin membersihkan kotoran yang melekat, ya dalam pemikirannya ia memang telah kotor, ia ternoda oleh obsesi Kakaknya sendiri, Bella pun merutuki dirinya yang sampai tak menyadari ketika Justin menjamahnya, kenapa ia harus sakit? Kenapa ia harus minum obat sehingga ia tertidur sangat pulas? Penyesalan demi penyesalan muncul beriringan, menjamur dan semakin melukai hati Bella

__ADS_1


“Adam, maafkan aku” Lirihnya pilu


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sudah berjam - jam Bella dibawah guyuran air, badannya yang sudah menggigil dan bibirnya yang memutih pun tak ia pedulikan, pikirannya sudah kacau balau untuk sekedar merasakan demam yang melandanya kembali. Bella jelas semakin panik ketika ia ingat bahwa dirinya sedang ada dalam siklus masa subur, artinya kemungkinan besar ia akan hamil anak Justin, bayangan kehilangan Adam pun semakin nyata muncul di depannya, tak mungkin lagi ia persembahkan tubuh yang tak lagi suci untuk Adam, apalagi sudah ada benih Justin di dalamnya. Suara tangis kembali terdengar menggema di kamar mandi, tangis penuh keputus asaan


Menyadari ia yang tak mungkin dicintainoleh Adam lagi, Bella mematri dirinya untuk kuat meninggalkan rumah itu dan seluruh kebahagiaannya, Bella khawatir jika sampai Adam mengetahui lebih dulu apa yang terjadi maka Adam akan menceraikannya dan mengambil Eve darinya, sungguh kehilangan Adam saja sudah seperti kiamat untuknya, apalagi jika ia harus kehilangan Eve


Setelah mengeringkan diri dan memakai baju seadanya, hanya celana training dan jaket yang biasa ia gunakan untuk berlari pagi, Bella kemudian menuju kamar Eve, waktu yang baru menunjukkan jam 3 pagi membuat rumah itu sepi penghuni, pelayan yang ditugaskan oleh William untuk berjaga di depan kamar Bella tadi pun sudah tak ada atas perintah Justin tadi, situasi rumah yang sepi itu memudahkan Bella untuk membawa Eve pergi dari sana


Saat tiba di kamar Eve, Bella hanya melihat salah satu pengasuh yang tengah tertidur di sofa tepat di sebelah tempat tidur Eve, Bella perlahan mendekati Eve lalu meraih putrinya itu dan mengembannya


“Nyonya, anda ingin membawa Nona Eve kemana? Bukankah anda sedang sakit?” Tanya pengasuh Eve yang tersadar dari tidurnya


“Aku sudah membaik, malam ini aku ingin membawa Eve untuk tidur di kamarku, kau istirahatlah di kamarmu!” Titah Bella, ia kuat - kuatkan badannya seolah ia baik - baik saja, bahkan ia sengaja memakai sedikit lipstik tadi untuk menutupi bibirnya yang pucat


“Tapi Nyonya, Nyonya Miranda bilang… “


“Aku bicara pada Mommy tadi, dia yang mengizinkanku untuk tidur bersama Eve malam ini” potong Bella


“Ah, baik Nyonya” patuh pengasuh itu, ia lalu pamit meninggalkan Bella dan Eve, sepeninggal pengasuh itu Bella membaringkan Eve lagi, ia lalu bergegas memasukkan semua keperluan Eve ke dalam tas, cukup banyak yang ia bawa karena ia tak tahu kemana ia akan pergi, ia tak ingin Eve sampai kekurangan apa pun dalam pelariannya. Setelah itu Bella kemudian bergegas menuju garasi rumah, mempersiapkan car seat tempat untuk Eve tidur di kursi penumpang mobil yang akan ia bawa, selesai dengan urusan mobil Bella lalu mulai melajukan mobilnya, saat sudah semakin dekat dengan pos keamanan Bella merapal do’a berharap penjaga keamanan rumah yang sedang berjaga di pos keamanan percaya pada ceritanya bahwa ia dan Eve pergi ke klinik untuk memeriksa Eve yang tiba - tiba terserang flu, beruntung penjaga itu tak curiga pada gerak gerik Bella dan langsung memberikan Bella izin untuk keluar dari kediaman Anderson


Saat sudah mulai menjauh dari surga cintanya bersama Adam, tangis Bella kembali pecah, ia meluapkan kesedihan dan pilunya yang teramat karena harus meninggalkan Adam, cinta sejatinya. Ia pun harus rela berpisah dari William dan Miranda yang begitu mencintainya, semua itu hanya karena nafsu setan Kakaknya sendiri.


Tangisan Bella yang meraung membuat Eve sedikit terusik, bayi cantik dan mungil itu menggeliat kecil dan lalu menangis, Bella serta merta menghapus air matanya, menahan rasa sedihnya demi Eve. Ia lalu menepikan mobilnya di pinggir jalan, diraihnya Eve dalam embanannya, ia lalu menina bobokan Eve dengan lagu yang selalu ia nyanyikan sebagai pengantar tidur Eve, namun tangisannya sekarang terdengar lirih sarat kesedihan.


(Bersambung)…

__ADS_1


__ADS_2