Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 71


__ADS_3

Adam dan Adrian sampai dalam waktu nyaris bersamaan, bertemu di depan rumah kedua pria tampan itu panik merangsek masuk, kini keduanya berjalan bersisian disambut para pelayan yang berjejer rapi


“Apa yang terjadi, Kak?” Tanya Adrian pada Adam, panggilan kehormatan setelah selama ini ia memanggil Adam cukup dengan namanya saja


“Mommy hanya bilang kalau Daddy drop, kita tanyakan langsung pada Justin saja setelah dia sampai nanti, bisakah kau menghubunginya?” Tanya Adam, mendengar nama Justin disebut Adrian meradang kembali


“Aku akan hubungi Erick saja, dia yang paling tahu riwayat kesehatan Daddy” kilah Adrian,


“Tapi Adrian….. ah ya sudahlah! Siapa pun dokternya yang penting Daddy segera ditangani!” Adam kembali menatap Adrian dengan seksama setelah ia melihat wajah Adrian sekilas tadi, “Kenapa dengan wajahmu? Kau habis berkelahi?” Cecarnya


Adrian menyentuh luka hasil tinju Justin, “Hanya kecelakaan kecil! Aku tak apa!” Sahut Adrian, ia lalu fokus pada ponselnya untuk menghubungi Erick


Sesampainya di kamar William, Adam masuk lebih dulu sedang Adrian masih sibuk menghubungi Erick


“Apa yang terjadi Mom?” Tanya Adam saat melihat Ayahnya terkulai tak berdaya di atas tempat tidur


“Adam!!” Miranda bangkit dan menghambur memeluk anak sulungnya, “Entah apa yang terjadi padanya, kami sedang minum teh bersama saat Ayahmu tiba - tiba saja ambruk” sahut Miranda diselingi isak tangisnya


“Tenanglah Mom, Daddy akan baik - baik saja.. Adrian sedang menghubungi Erick!” Sahut Adam dengan lembutnya ingin menenangkan hati Ibunya


“Erick? Kenapa Erick? Dokter keluarga kita sekarang adalah Justin, kenapa kau tak memanggil Justin?” Cecar Miranda lagi - lagi sambil terisak


“Adrian yang menginginkannya, Mom!” Sahut Adam yang lalu fokus pada William, setelah ia duduk di samping William Adam menggenggam erat tangan Ayahnya itu seolah ingin memberikannya kekuatan, ia lalu menghempaskan punggungnya ke senderan kursi, menetralisir napasnya yang tak terengah, pandangannya lalu mengedar mencari sosok Bella


“Dimana Bella, Mom? Apa dia tak menemanimu?” Tanya Adam, Miranda mengusap air matanya yang tak jua berhenti mengalir


“Entahlah Adam, dia hanya melihat Daddy sebentar lalu keluar dan belum juga kembali” sahut Miranda, Adam mengerutkan dalam keningnya, “Apa yang terjadi pada Bella? Biasanya ia sangat peduli pada kondisi Daddy” batin Adam


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di kamarnya, Bella sedang bimbang berjalan mondar mandir, saat ini ia ingin sekali menemani William tapi ia tahu Justin akan segera datang untuk memeriksa William, Bella tak mau bertemu Justin setelah apa yang terjadi. Penasaran Justin sudah datang atau Belum, Bella mengintip lewat jendela kamarnya, mencari - cari mobil mewah yang biasa dikendarai Justin


“Bukannya itu Erick?” Gumam Bella, “ya Tuhan syukurlah Erick yang memeriksa Daddy!” Ucap Bella lega saat melihat Erick membawa tas perlengkapan di tangannya, Bella lekas keluar dari kamarnya menuju kamar William


“Adam!” Sapa Bella pada suaminya saat melihat Adam sedang duduk di sisi William, Adam bangkit tak lupa menyunggingkan senyumnya untuk Bella, ia senang melihat istrinya, sedikit membuat Adam lebih baik di tengah perasaan cemasnya


”Bagaimana Daddy?” Tanya Bella setelah ia dalam pelukan Adam


“Entahlah, kami masih menunggu kedatangan Erick” sahut Adam, Bella bertanya dalam hatinya kenapa bukan Justin yang mereka panggil untuk memeriksa Erick? Ya Tuhan apa mereka sudah tahu apa yang telah Justin lakukan padanya? Batin Bella

__ADS_1


“Adam, kenapa Erick? Bukannya dokter pribadi kita sekarang Kak Justin?” Bella bertanya dengan perasaan was - was luar biasa


“Aku yang memintanya, Bella! Erick lebih tahu tentang riwayat kesehatan Daddy dibanding Justin!” Adrian menjawab pertanyaan Bella ketika ia dan Erick baru saja sampai di kamar William, Erick tak basa basi pada semuanya, ia langsung memeriksa kondisi William, sedang Adrian menelisik wajah Bella yang tak berseri seperti biasanya, mendung menggelayut di paras jelita itu, kalau lebih teliti lagi mata Bella sayu tak bercahaya


“Kasian sekali kau Bella, kau pasti tertekan memikirkan kelakuan Justin!” Batin Adrian prihatin. Erick selesai memeriksa William, berbicara sebentar dengan Adam lalu menghubungi temannya yang dokter spesialis jantung


“Adam, aku akan memeriksa Eve dulu” pamit Bella pada Adam, suaminya mengangguk setuju karena memang sudah cukup lama Bella berada disana, Bella keluar diikuti oleh Adrian diam - diam


“Bella!” Panggil Adrian ketika mereka ada di lorong antara kamar, sepi disitu karena para pelayan tengah berjejer di depan kamar William menanti perintah Miranda atau anggota keluarga yang lain sewaktu - waktu


“Apa kau ada yang ingin kau bicarakan denganku?” Tanya Bella bersahabat, Bella memang sedang mencoba bersikap baik pada Adrian karena Adrian sudah membantunya, Adrian juga semakin berubah baik


“Kau dan Justin, apa kalian baik - baik saja?” Tanya Adrian memancing reaksi Bella, dan benar saja apa yang Adrian perkirakan, Bella berubah gugup dan kelihatan sekali tak nyamannya ketika disinggung masalah Justin


“Aku…. “ Bella tertunduk menyembunyikan kesedihannya


“Bella, aku tahu apa yang terjadi antara kau dan Justin” ucap Adrian, Bella terkejut bukan main, ia mendongak menatap Adrian dengan mata yang nyaris keluar dari kelopaknya


“Kau jangan takut! Aku tahu itu bukan keinginanmu, Justin yang memaksakan kehendaknya!” Ucap Adrian, tak tega ia melihat Bella yang badannya gemetaran dan air mata mulai membasahi pipinya yang putih


“Tolong Adrian! Tolong jangan beritahu Adam!” Pinta Bella memohon, Adrian menghela napasnya dalam - dalam


“Ini perbuatan Justin! Tadi aku mendatanginya, dan aku bilang padanya untuk tak melakukan ini lagi pada Kakak iparku!” Jelas Adrian, Bella terperangah mendengar pengakuan Adrian, ia tak menyangka lagi - lagi Adrian membantunya


“Aku… aku… “ Bella tak mampu berucap, hanya isak yang keluar dari mulutnya


“Bella, aku pikir lebih baik kau menceritakannya pada Adam” ucap Adrian


“Dan membuat Adam murka lalu menghancurkan keluarga Takanawa? Bagaimana nasib Mama Emily nanti? Kau tahu sendiri bagaimana Adam!” Sanggah Bella, “Biarkan aku yang menyelesaikannya sendiri, Adrian!” Tambahnya


“Apa yang akan kau lakukan, Bella?” Selidik Adrian, Bella menggeleng pelan


“Aku belum tahu, Adrian! Untuk sekarang tolong rahasiakan ini pada siapa pun terutama Adam! Lagipula Daddy sedang jatuh sakit, jangan menambah masalah dengan menceritakan ini” ujar Bella, Adrian sebenarnya tak setuju dengan ide Bella untuk menyelesaikannya sendiri, ia khawatir kalau Bella tak mampu menghadapi Justin, tapi mungkin tak ada salahnya memberi Bella kesempatan mencari jalan keluar, sambil ia menunggu William membaik hingga ia bisa menceritakan apa yang terjadi pada Adam


“Baiklah! Tapi ingat kalau kau tak sanggup menghadapinya sendirian, beritahukan padaku, jangan membuat dirimu kesulitan sendirian! Kau mengerti?!” Tandas Adrian, Bella hanya mengangguk samar pada Adrian


***Selang beberapa saat kemudian, baik Erick maupun dokter spesialis jantung yang di dapuk untuk menangani William telah selesai dengan pemeriksaan mereka, dari raut mereka Adam, William, Miranda, dan Bella bisa tahu kalau William sedang tidak baik - baik saja


“Apa kalian tahu kalau belakangan ini Tuan William melakukan pengobatan untuk penyakit jantungnya?” Tanya Erick pada Adam sekeluarga, Adam bersitatap dengan Miranda

__ADS_1


“William tak pernah cerita kalau ia sedang dalam pengobatan, ia menjalankan aktivitasnya seperti biasa, setiap hari ia berangkat ke perusahaan dan setelah itu ia pulang!” Tutur Miranda yang kebingungan


Adam disamping Miranda menggeleng, “Mom, Daddy jarang sekali datang ke kantor” ucap Adam lirih karena menyadari kalau Ayahnya tengah sakit dan berjuang sendirian tanpa ingin memberi tahu anggota keluarga


“Ya Tuhan, William” Miranda terisak dalam pelukan Adrian yang gerak cepat merengkuhnya


“Aku baru saja mendapat informasi ini dari rumah sakit Justin setelah melihat obat - obat yang dikonsumsi Tuan William, kondisi jantung Tuan William memburuk, dia tidak boleh lelah dan stress” terang Erick


Masih dalam pelukan Adrian, Miranda menatap nanar suaminya yang terbaring, “Tapi kenapa dia tak ingin memberi tahu tentang kondisinya pada kita, Adrian? Kenapa?” Ratap Miranda


“Mom tenanglah, aku yakin kalau Daddy hanya belum menemukan waktu yang tepat untuk memberi tahu kita” hibur Adrian, ia lalu menjatuhkan pandangannya pada Bella yang berdiri berdampingan dengan Adam, Adrian tahu meskipun raga Bella disitu tapi pikirannya melayang jauh pada masalahnya dan Justin


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


“Kak, bisakah kita bertemu?” Bunyi pesan Bella pada Justin yang telah Justin baca berulang - ulang, senyum Justin lebar bagai mendapat angin surga, tak Justin sangka Bella tak menghindarinya justru malah mengajaknya bertemu


“Jemput aku di taman kampus” pesan Bella lagi yang baru masuk sukses membuat Justin bangkit berdiri dan langsung menyambar kunci mobilnya, hati Justin berbunga yakin kalau perasaannya berbalas, ia tak peduli kalau mereka bersaudara, lebih tak peduli lagi jika hubungan mereka disebut perselingkuhan, baginya yang penting pada akhirnya Bella akan menjadi miliknya


Entah secepat apa Justin mengendarai mobilnya hingga ia sampai di tempat yang telah mereka sepakati bersama dalam waktu singkat, Justin membenar - benarkan coat yang ia pakai, cuaca yang sedang sangat dingin membuatnya harus memakai pakaian yang tebal, tapi tetap saja penampilan Justin mempesona, rambutnya yang klimis dan wangi maskulin yang sebemerbak semakin membuat pria jangkung itu menarik perhatian


Justin tergesa menghampiri Bella yang sudah terlihat dari jauh, ia tak ingin membuang waktu bahkan sedetik pun untuk segera menemui wanita yang menguasai hatinya itu, saat itu Bella tampak anggun dengan celana dan sweater berwarna hitam, lengkap dengan sepatu heels berwarna senada, rambutnya ia cepol memperlihatkan lehernya yang putih dan jenjang


“Bella, kau sudah lama menunggu?” Tanya Justin sambil duduk bersebelahan dengan Bella, di bangku taman tempat mereka sering bicara menghabiskan sore dulu


“Tidak, apa kau sibuk hari ini?” Sahut Bella dingin, Justin merasakan tatapan yang berbeda dari Bella, tapi ia kesampingkan karena perasaan bahagianya yang membuncah


“Kau punya seluruh waktuku, Bella” sahut Justin sambil menatap takjup wanita cantik di depannya, ingin sekali ia rengkuh, ia cium, ia sentuh tapi ia harus tahan - tahan karena ia belum tahu apa maksud Bella mengajaknya bertemu


“Kau masih ingat tebing di tepi laut itu kan Kak? kau pernah mengajakku kesana saat aku sedang patah karena Ibuku” ucap Bella


“Aku tak mungkin lupa setiap tempat yang kita kunjungi, Bella” sahut Justin


“Aku ingin kesana Kak” ucap Bella, Justin mengernyitkan keningnya mendengar permintaan Bella, mengingat cuacanya yang sangat dingin, Justin tak mengerti kenapa Bella ingin kesana, tapi tentu saja Justin tak akan menolaknya, Justin beranggapan mungkin Bella ingin mengenang lagi tentang mereka disana


Tak membuang waktu lagi, keduanya menuju tempat yang Bella maksud, selama perjalanan tak sepatah kata keluar dari mulut Bella, Bella hanya mengangguk atau menggeleng ketika Justin bertanya sesuatu padanya, tapi lagi - lagi Justin tak terlalu mempedulikannya


Saat sampai, Bella segera turun dari mobil Justin, membuka heels yang membungkus kakinya dan berjalan bertelanjang kaki menuju sisi tebing, Justin mengikuti Bella dari belakang lalu berdiri di sampingnya. Angin dingin dan suara deburan ombak yang menghantam karang membuat Justin dibuai suasana


“Apa kau ingin menyentuhku lagi, Kak?” Tanya Bella tanpa menatap Justin, pandangannya lurus ke hamparan laut yang mulai menghitam dibayangi mendung, Justin tak percaya apa yang dia dengar, Bella ingin Justin menyentuhnya? Apa Bella telah jatuh dalam perasaan Justin?

__ADS_1


Bersambung…


__ADS_2