Transaksi Di Atas Ranjang Suami

Transaksi Di Atas Ranjang Suami
Part 81


__ADS_3

Justin menatap Ibunya yang masih tak sadarkan diri bahkan sudah di ultimatum koma itu, Emily terlambat di tangani sehingga ia kehilangan banyak darah, seandainya Justin tahu lebih awal kalau Ibunya berniat mengakhiri hidup tentu semuanya tidak akan menjadi seperti ini, tapi siapa yang menyangka Emily bisa senekad itu? Jauh dari bayangan seorang Emily yang selalu tegar bisa berpikir pendek, Emily adalah figur yang selalu berpikir positif terhadap apa pun yang menimpanya termasuk kakinya yang menjadi lumpuh


“Beban apa yang sedang Emily tanggung sampai dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri?” Gumam Takanawa sendu saat baru saja masuk ke ruangan tempat istrinya di rawat


Justin tergugu, duduk lemas di kursi tepat di samping Ibunya, Takanawa menghampiri berdiri tepat di samping Justin, di usapnya pelipis Emily, jarinya lalu turun ke pipi yang sebagian besar tertutup masker oksigen, pipi yang begitu pucat


“Aku khawatir kalau penyebab ia putus asa adalah perselingkuhanku dulu, mungkin dia memaafkan tapi ternyata dia tak pernah bisa melupakan” tutur Takanawa pilu, pria yang biasanya sangat berwibawa itu kini meneteskan air mata penyesalan. Hening sebentar, hanya suara mesin ventilator dan mesin penunjang hidup Emily lainnya yang terdengar


“Seandainya aku bisa mengulang waktu, tentu aku tak akan pernah membiarkan diriku mengkhianati wanita sebaik Emily, aku tak peduli meskipun cintanya hanya untuk David, karena kesetiaan dan baktinya tetap untukku” ucap Takanawa lagi lalu tersedu, Takanawa segera menutup wajahnya dengan sapu tangan, tak ingin isak tangisnya terdengar


Hati Justin bak dirajam, hancur tak berbentuk karena Justin sadar betul dialah yang membuat Ibunya seperti itu, jelas Emily terpukul ketika mendengar Justin sudah menodai adiknya sendiri yang sudah bersuami


Lamunan Justin buyar saat suara ponsel Takanawa berbunyi nyaring, Takanawa buru - buru menyeka air matanya dan berdehem menetralisir suaranya yang serak, Takanawa lalu keluar dari ruangan itu tak ingin sampai menganggu Emily


Tangan Justin perlahan menyentuh jemari Ibunya, menggenggamnya lembut, “Maafkan aku Ma, aku sudah menghancurkan hidup orang - orang yang ku sayangi” nelangsa Justin


Tak lama Takanawa kembali masuk ke dalam ruangan itu dengan tergesa, “Justin, mereka sudah menemukan Bella! ” ucapnya dengan terengah setelah tadi ia setengah berlari kembali ke ruangan Emily begitu mendapat kabar dari William, William dan Emily memang tidak mengetahui apa penyebab kepergian Bella, oleh karena itu ketika mereka mendapat kabar dari Adrian bahwa Bella sudah ditemukan, mereka segera membagi kabar bahagia itu pada Takanawa yang juga ikut mencari Bella


Tubuh Justin membeku, jantungnya berdegup kencang antara lega dan juga takut


“Kenapa kau diam saja?! Cepat temui adikmu! Aku yang akan menunggu Ibumu disini!” Titah Takanawa ketika Justin diam tak bergeming


“Sebaiknya aku tak kesana, sudah ada Adam bukan?” Kilah Justin, sungguh ia tak sanggup menghadapi Bella atau siapa pun sekarang


Takanawa yang menyayangi Justin layaknya anak sendiri menelisik sikap Justin yang tak seperti biasanya, Takanawa merasa ada sesuatu yang tengah terjadi antara Justin dan Bella


Layaknya seorang Ayah yang selalu mendukung putranya, Takanawa menepuk - nepuk pundak Justin, “Jika kau ada masalah selesaikanlah! lari dari masalah tidak akan menghasilkan solusi, lihatlah penyesalan Ayahmu ini, jika saja dulu aku menyelesaikan masalahku dengan Emily dan bukan malah lari pada perempuan lain, Emily mungkin tak akan lumpuh dan mungkin tak akan berakhir disini” tutur Takanawa sendu


Justin ingin sekali memberi tahu kalau dia lah sumber mala petakanya, dia yang membuat Emily mencoba bunuh diri, tapi lidahnya kelu, entah bagaimana Takanawa akan menerima kenyataan itu dalam situasi seperti ini? Belum cukup kah ia menghancurkan hidup Bella dan Emily?


“Ck… sudah pergilah! Apa pun masalahmu dengan Bella selesaikanlah, jadilah pria sejati Justin!” Titah Takanawa lagi, Justin bak ditampar, bicara tentang kesejatian seorang pria padanya sekarang terasa salah alamat karena pada kenyataannya dia adalah laki - laki pengecut

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Adam meletakkan Eve di kasur setelah putri cantiknya itu terlelap dalam buaiannya, setelah memastikan Eve nyaman.. Adam menciumi pipi mungil Eve penuh kasih sayang


“Selamat malam putri Papa” ucapnya lembut sambil membenar - benarkan selimut Eve, duduk sebentar di tepi tempat tidur Adam kemudian mengedarkan pandangannya ke sekeliling pondok


“Kau betah tinggal disini?” Tanya Adam lalu duduk di sebelah Bella di atas sofa lusuh dan sobek di beberapa tempat itu


“Ini tempat aku menghabiskan musim panas bersama Ayah, Ibu, dan Brianna dulu, Ayah suka sekali memancing di danau dan aku menemaninya sampai sore meskipun pada akhirnya Ayah tak mendapatkan ikan sama sekali” ucap Bella lalu terkekeh mengenang Ayahnya dulu, Adam tersenyum lega melihat Bella bisa kembali ceria meskipun sesekali luka kembali terlihat di matanya


“Kalau begitu bagaimana jika tempat ini di renovasi saja?” Tawar Adam


Kedua alis Bella terangkat, “Tempat ini? Hemmm… Entahlah, sepertinya sudah sulit diperbaiki, Adam!” Sahut Bella ragu sambil mengamati sekeliling pondok


“Kau tenang saja, nanti aku minta arsitek perusahaan untuk mengatur semuanya! Aku ingin kita menghabiskan musim panas disini seperti dengan Ayahmu dulu” Bujuk Adam lagi


Bella mengangguk antusias, “Benarkah Adam? Kau serius akan memperbaiki tempat ini?” Tanyanya memastikan, melihat sebehagia itu wanitanya Adam mengangguk mantap


“Terima kasih” ucapnya haru


Pamela tersenyum simpul melihat Adam dan Bella, tak pernah ia rasakan perasaan setenang ini sebelumnya melihat Bella sudah berada di tangan yang tepat, dengan begitu ia bisa pergi tanpa mengkhawatirkan Bella, waktunya memang tak lama lagi


“Kau menangis?” Tanya Adrian pada Pamela yang tertangkap basah menitikkan air matanya, Pamela memalingkan wajahnya dan cepat mengusap air matanya, ia tak ingin merusak suasana


“Aku sudah memasak, bersiaplah untuk makan malam” ucap Pamela lalu beranjak tanpa menjawab pertanyaan Adrian, Adrian memandangi punggung Pamela yang ringkih, ada sebersit rasa kasihan pada mantan mertuanya itu melihat bagaimana fisiknya sekarang


Saat Adrian dan Adam di meja makan sedangkan Bella dan Pamela sibuk di dapur, Adrian berbisik - bisik pada Kakaknya itu


“Kapan kita akan membawa mereka pulang? Apa kau tak melihat bagaimana Ibu mertuamu? Aku rasa dia butuh pengobatan serius” bisik Adrian, Adam mengikuti arah ujung mata Adrian yang tertuju pada Pamela


“Besok pagi Wang akan menjemput kita, setelah sampai, aku akan meminta Pamela untuk serius mengobati penyakitnya, Wang sudah mengatur semuanya disana” sahut Adam,

__ADS_1


Adrian melongo, “Kau dan Wang bahkan sudah berpikir sampai kesana? Cepat sekali kalian berpikir!” Cerocosnya, Adam hanya tersenyum simpul lalu kembali menyesap teh yang dibuatkan Bella untuknya


Di dapur Bella dan Pamela yang memunggungi Adrian dan Adam pun berbisik - bisik


“Aku senang melihat bagaimana Adam melindungimu, sayang” ucap Pamela, matanya tetap pada saus pasta yang hampir matang, Bella yang sedang memotong - motong paprika menghentikan gerakannya, lalu menghela napasnya pelan, tatapannya lalu tertuju pada perutnya


“Kalau aku hamil, aku ingin menggugurkannya saja Bu” ucap Bella dingin, Pamela kaget bukan main, ia sampai menjatuhkan sendok yang sedang ia pegang, Pamela menoleh sebentar ke belakang memastikan Adam atau Adrian tak mendengar omongan Bella


“Apa yang kau bicarakan Bella?! Bagaimana kau bisa berpikir seperti itu?!” Bisik Pamela mencecar Bella


“Kalau dia hidup, maka aku akan tetap mengenang peristiwa menjijikan itu Bu!” Sahut Bella


“Tapi anak itu tdk berdosa, Bella!” Tandas Pamela, ia lalu memelankan suaranya kembali khawatir pembicaraan mereka terdengar


Tok.. tok


Ketukan di pintu membuyarkan ke empatnya, siapa gerangan yang datang malam hari begini ke tempat terpencil itu


“Apa itu Wang? Bukan kah harusnya dia menjemput kita besok?” Tanya Adrian, Adam mengedikkan bahunya, Adrian lalu bangkit dari duduknya menuju pintu pondok, dan begitu terkejutnya ia ketika melihat siapa yang berada di luar pondok


“Kau!!!! Dasar berengsek!” Pekiknya, lalu


Buuuug…


Adrian melayangkan tinjunya pada Justin, Adam yang melihat Adrian tiba - tiba begitu emosional segera menghampiri adiknya itu, disusul Pamela dan Bella


“Siapa itu, Adrian?!” Cecar Adam pada Adrian yang masih mengatur napasnya, Adam lalu menoleh melihat korban Adrian


“Justin?” Gumam Adam dengan mata terbelalak penuh amarah ketika melihat sosok Justin yang tengah melantai sambil memegangi pipinya akibat serangan Adrian


“J - Justin” Bella lemas dan nyaris limbung saat melihat sosok Justin

__ADS_1


(Bersambung)…


__ADS_2