
Bak kesetanan, begitu melihat Justin Adam maju ke depan menggeser tubuh Adrian, tanpa basa basi ia menarik kerah kemeja Justin membuat Justin terangkat bangkit, lalu
Buuuggg….
Bogem mentah kembali membuat Justin terhuyung dan mendarat di lantai kayu, darah segar mengucur di ujung bibirnya
“Sial” Gumam Justin sambil menyeka cairan merah yang mengalir akibat dua kali bogeman, tapi Adam tak puas sampai disitu, bagai hewan buas yang terlepas dari kekangannya Adam kembali meninju Justin membabi buta
Pamela berjengit ngeri dan memalingkan muka, sedang Bella menatap nanar suaminya yang sedang menyerang Justin tanpa ampun
Adrian mencoba melerai Adam dengan menarik tangannya, “Kak sudah!” Cegah Adrian, tapi Adam tak menggubris ia tak peduli pada wajah Justin yang sudah babak belur
“Dia sudah menodai Bella! Dia pantas mati!” Geram Adam emosi, mata Adam merah, buku jarinya sudah lecet dan berlumur darah, percampuran darahnya dan darah Justin
“Kalau kau membunuhnya kau sama berengseknya dengan dia, Kak!” Sentak Adrian sambil menarik kedua lengan Adam dari belakang, tapi kekuatan Adrian kalah oleh amarah Adam
“Biarkan… biarkan dia membunuhku!” Ujar Justin lemah, wajahnya terangkat sebentar namun terkulai kembali, dan tinjuan Adam kembali mendarat di pipinya yang nyaris tak berbentuk lagi
Bella menyeka air matanya yang berderai, ia lalu menguat - nguatkan hatinya untuk menepis dendam dan amarahnya sebelum Adam benar - benar menghabisi Justin
“Adam, berhentilah!” Ujar Bella pada Adam yang sedang gelap mata, Adam seperti ada di dunianya sendiri tak mendengar apa pun dan sibuk melukai Justin
“Adam! Sudah! Hentikan Adam!!!” Pekik Bella, pekikan Bella mampu menghipnotis Adam untuk seketika berhenti, dengan napas terengah dan tangan yang berlumuran darah Adam bangkit dari tubuh Justin yang ditindihnya dari tadi
Justin bukan seperti Justin yang biasanya tampan dan klimis itu, akibat ulah Adam wajah mulusnya penuh darah, beberapa bagian sudah ada yang membengkak, darah mengucur deras dari luka yang menganga membasahi kemeja warna putih yang sedang ia pakai membuat noda merah itu terlihat kontras
Wajah Justin mendongak sebentar, satu matanya yang masih normal menatap Adam, sedang satu mata yang lain terpejam karena kelopak matanya luka cukup dalam, Justin lalu meludah mengeluarkan darah dan potongan giginya yang patah, “Pukul aku lagi! Pukul!” Tantang Justin dengan suara yang semakin lemah
Adam hendak maju lagi, tapi Adrian buru - buru menjegal Kakaknya itu, “Kalau kau menghajarnya lagi, dia bisa mati Kak!” Bisik Adrian memperingatkan Adam, meski belum puas memberi pelajaran untuk Justin tapi Adam mendengarkan omongan Adrian, ia kemudian mengepalkan tinjunya untuk meredam kemarahannya
“Apa maumu?” Tanya Bella dingin pada Justin, mendengar suara Bella Justin sekuat tenaganya mencoba bangun dan mendudukkan dirinya
“Bel… Bella… aku minta maaf” ucapnya sambil susah payah merangkak ke arah Bella, Adam gerak cepat mengamankan Bella di belakangnya
__ADS_1
“Permintaan maafmu tak akan bisa mengubah apa yang sudah terjadi, Justin!” Tandas Bella, tak ada lagi embel - embel “Kak”, panggilan kehormatan Bella untuk Justin sebelumnya
“Untuk apa kau datang kesini bajingan?!” Sambar Adrian, rahangnya mengeras, tinjunya mengepal keras, kalau saja Justin belum kepayahan karena ulah Adam tentu ia akan menambahkan luka baru di wajah Justin
Justin tak menghiraukan pertanyaan Adrian, tatapannya masih pada Bella, “Bella.. maafkan aku” ucapnya lagi memelas, kubangan bening merembes dari matanya, bercampur dengan darah segar yang masih menetes dari beberapa luka, bukan sakit karena hantaman Adam yang membuat Justin menangis, tapi karena sakit melihat tatapan kebencian di mata Bella dan mengingat Ibunya yang sedang terbaring koma akibat ulahnya
“Apa kau tak berpikir sebelum menodaiku Justin, hah?!” Bentak Bella dari balik lengan kekar Adam, “Bagaimana kalau aku hamil anakmu? Bagaimana aku bisa memberi tahu anak ini kalau Ayahnya adalah Pamannya sendiri?!” Pekik Bella lalu berakhir dengan tangisan, Adam berbalik menghadap Bella dan membawa Bella ke dalam pelukannya
Justin termangu sesaat, lalu ia menundukkan kepalanya dalam - dalam, “Itu tak akan pernah terjadi, Bella! Kau tak akan pernah hamil anakku” gumamnya
“Hei bicaralah yang jelas bajingan! Kau pikir Bella bisa mendengarmu?!” Bentak Adrian tak sabaran, Justin kembali mendongak
“Malam itu, tak terjadi apa - apa antara kita” sahut Justin pada Bella
“Apa… apa kau bilang barusan?” Cecar Adam mencoba memastikan pendengarannya
“Aku mencoba untuk menjadikanmu milikku, Bella. Tapi saat akan melakukannya, aku tak bisa, aku tak bisa… “ Ujar Justin lalu menangis tersedu
“A - apa dia bilang?” Bella terkesiap, badannya gemetaran, air mata berlomba meluncur dari netranya
“Aku tak sanggup menodai Bella, tapi melihat dia yang paranoid aku berniat membiarkan dia berpikir seperti itu!” Ucapnya
Deg…
Bella meluruh ke lantai, Adam sigap memburunya, “Jadi… jadi dia tak menyentuhku Adam? Dia tak memperkosaku?” Cecar Bella, Adam mengangguk lalu melabuhkan Bella di dadanya
”Ya Tuhan terima kasih!” Ucap Pamela bersyukur banyak - banyak, air mata kesedihannya berganti air mata bahagia
“Syukurlah” Gumam Adrian menghembuskan lega napasnya, berita yang disampaikan Justin benar - benar angin surga untuk semuanya
“Aku sepenuhnya masih milikmu, Adam! Aku tidak ternoda!” Bella menangis dan tertawa dalam waktu bersamaan karena rasa yang tak bisa ia ungkapkan dengan kata - kata
“Kau selalu suci untukku, Bella! Tak peduli bagaimana pun kondisimu!” Tandas Adam sambil menciumi rambut Bella, melihat bagaimana sikap Adam pada Bella, Justin hanya bisa pasrah membaringkan dirinya, ngilu dan kebas mulai terasa di sekujur wajahnya, terasa perih ketika keringat dan air mata menyentuh lukanya yang menganga, pandangannya berkunang - kunang, setelah itu Justin tak mengingat apa - apa lagi.
__ADS_1
Meskipun Justin telah berbuat tega, tapi Adam dan Adrian bukan manusia yang tak punya perasaan, setelah Justin tak sadarkan diri, Adam menghubungi Wang meminta agar paramedis menjemput Justin dengan helikopter, sedang mereka tetap pada rencana mereka untuk pulang keesokan paginya. Ada yang mereka tak sadari saat peristiwa pemukulan itu terjadi, tak jauh dari pondok di balik pepohonan dan semak belukar Brianna mengintip dan merekam semua kejadian dengan ponselnya
Brianna menyeringai ketika ia melihat hasil rekamannya, “Apa yang terjadi pada kalian? Kenapa Adam sampai menyerang Justin habis - habisan, hah?” Gumamnya, ia lalu tertawa terbahak ketika ide gila muncul di kepalanya, “Apa yang akan terjadi jika Tuan Takanawa melihat anaknya dihajar oleh Adam! Ahahahha….” Ucapnya bahagia karena merasa baru saja mendapatkan tiket emas
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
“Bella! Ya Tuhan Bella!!!” Miranda setengah berlari menyambut Bella dan rombongan yang baru saja sampai di kediaman Anderson, “Oh sayang” Miranda memeluk menantunya itu erat - erat seolah tak ingin kehilangan lagi, sedang William di belakang Miranda memburu Eve, lalu menggendong dan menciuminya
“Maafkan aku Mommy, aku sudah membuat semuanya khawatir” ucap Bella masih dalam pelukan Miranda
“Aku tak akan memaafkanmu kalau kau sampai pergi lagi! Apa kau tahu aku sampai tak bisa makan atau pun tidur karena memikirkanmu!” Sahut Miranda sambil terisak, ia lalu melepas pelukannya dan seketika matanya membelalak ketika melihat Pamela, “K - kau!” Tunjuknya pada Pamela yang berdiri tertunduk di samping Adrian
Melihat Miranda yang tak bersahabat, Adrian cepat merangkul Ibunya, “Mom, Mom.. aku akan menjelaskan apa yang terjadi, sekarang biarkan kami makan dan beristirahat dulu!” Ucapnya sambil menggiring Miranda ke meja makan, diikuti oleh William yang juga kebingungan tentang keberadaan Pamela
Di meja makan, Adrian dengan semangat menceritakan semua apa yang terjadi pada William dan Miranda, sedang Bella dan Adam memilih untuk membersihkan diri mereka dulu
Di kamarnya, Adam menatapi tubuh polos istrinya yang hanya berbalut handuk, ia sendiri pun hanya membalut area pinggangnya ke bawah dengan selembar handuk, mereka memang sama - sama baru selesai bilas setelah tadi agak lama berendam berdua penuh keromantisan. Langkah Adam mengayun pelan mendekati Bella yang sedang sibuk memakai skin care, perlahan tangannya turun melingkari pinggang Bella, di kecupnya pundak licin Bella itu banyak - banyak
“Hemmm.. sebentar Adam aku selesaikan dulu ritual untuk wajahku!” Gumam Bella lembut, Adam menghentikan gerakan tangan Bella, membalik tubuh Bella membawa tangannya untuk ia genggam
“Katakan Bella, dimana Justin pernah menyentuhmu?” Tanya Adam sepelan mungkin tak ingin sampai Bella nantinya akan salah paham pada maksudnya
Awalnya Bella memang kaget dengan pertanyaan Adam sampai ia kemudian sadar bahwa pasti Adrian sudah menceritakan semuanya pada Adam, jadi percuma saja kalau ia menyembunyikannya sekarang
“Dia.. dia pernah mencium bibirku, Adam” sahut Bella lalu tertunduk, Adam menunjuk bibir merekah milik Bella, “Disini?” Tanya Adam, Bella mengangguk pasrah
Adam tersenyum, lalu “cup” ia mengecup hangat bibir Bella, Adam melanjutkan aksinya dengan menghisap lembut bibir Bella, agak lama ia lakukan itu hingga tanpa sadar lidah mereka kini sedang berpaut
“Tak ada lagi jejak Justin disana, hanya ada jejak Adam” ucap Adam dengan senyumnya yang lebar, Bella mengerti sekarang apa kemana arah pertanyaan Adam tadi
“A - Adam, waktu itu dia juga sudah membuka bajuku” tutur Bella sambil menggigit bibir bawahnya, Adam kembali tersenyum
“Kalau begitu aku akan membuka semuanya sekarang” godanya sambil membopong Bella ke tempat tidur
__ADS_1
(Bersambung)….